
Hari ini Elang ada pekerjaan ke luar kota, yaitu ke Bali. Nada yang sudah tahu, menjadi sedih karena dia merasa badannya sudah tidak enak. "Mas, kenapa harus ke Bali disaat Nada sedang menunggu kelahiran. Nada merasa waktunya sudah dekat, Mas." Nada merengek memohon supaya Elang jangan pergi.
"Sayang, Mas mohon, ini cuma sehari. Mas akan ada rapat pertemuan dengan para pengusaha seBali. Besok malam juga Mas pulang. Jangan khawatir, ya. Di sini ada Bi Narti, Bi Ijah yang jagain kamu. Dan Pak Nanang serta Usep menjaga kamu juga."
"Bagaimana dengan Sya, apakah dia mau?"
"Akan aku bujuk, ini cuma sehari. Tolong dong, Sayang, jangan resah begini. Baby kita ini lahirannya seminggu lagi, dia pasti ingin nunggu Papanya sampai dia lahir. Maka dari itu, kamu jangan sedih, ya." Elang membujuk dengan sepenuh hati. Kalau keadaan Nada tidak sedang hamil besar, Elang ingin membawa dia dan Sya.
Namun pada akhirnya Nada melepaskan dan mengijinkan Elang pergi ke Bali untuk urusan bisnis. "Mas janji akan telpon setiap jam," bujuknya lagi mencium bibir Nada sekilas.
Membujuk Nada sudah, sekarang Elang harus pandai membujuk Sya. Kalau Sya sih perkara mudah, asal ada Nada di rumah, maka Sya tidak akan terlalu berat hati ditinggal Elang.
"Sya, anak Papa yang tampan, soleh, Papa malam ini ijin akan pergi ke Bali bersama Om Bintang. Oleh karena itu, Sya, jangan nakal selama papa tinggal. Papa juga titip Bunda jangan sampai Bunda sedih. Selama Papa pergi, Sya boleh bobo malam dan siang sama Bunda."
"Papa, apakah Kak Rafa pergi ke Bali juga?"
"Tidak Sayang. Kak Rafa, kan sekolah sama seperti Sya. Jadi, Sya tidak usah merajuk karena tidak diajak ke Bali sama Papa. Sya, jagain Bunda ya, sebab Bunda siang dan malam menjaga adik bayi dalam perut. Sya, janji ya sama, papa," bujuk Elang masih belum menyerah.
"Oke, deh kalau Bunda tidak ikut, dan Bunda mau tidur sama Sya, Sya ijinkan Papa pergi." Akhirnya si bocah tampan menggemaskan ini mau juga dibujuk Elang sang Papa.
"Makasih, ya Sayang, atas pengertiannya." Elang mengecup pucuk kepala Sya dengan penuh rasa kasih sayang.
Malam itu juga Elang pergi bersama Bintang Negara sang sahabat. "Hati-hati, Mas!" seru Nada sembari memeluk tubuh Elang.
"Mas pergi ya, Sya. Jagain Bunda. Insya Allah besok malam Papah pulang kalau tidak ada halangan." Elang memangku Sya membawanya dalam rangkulan bersama Nada. Nada terlihat berkaca-kaca melepas kepergian Elang suaminya.
Malam harinya tiba, Elang dan Bintang terbang ke Bali dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Ngurah Rai, Bali.
Seperginya Elang, rumah terasa sepi, namun doa dalam hati maupun saat sholat selalu Nada panjatkan untuk keselamatan suaminya, Elang.
"Ya Allah, selamatkan suami hamba di manapun berada. Semoga kami bisa berkumpul kembali dalam keadaan sehat walafiat aamiin."
"Sya, malam ini kita tidur bersama. Nanti Bunda ceritakan dongeng Nabi lagi, ya. Sya maunya kisah Nabi siapa?"
"Perahu Nabi Nuh saja Bunda," seru Sya antusias. Melihat Sya senang seperti ini, Nada menjadi ceria. Kepergian Elang tadi yang membuat dia murung, kini sedikit terlupa.
"Anak Nabi Nuh dan istrinya, tidak mau mengikuti perintah atau ajakan Nabi Nuh, mereka tidak mempercayai di tanah yang gersang dan tidak ada hujan, kok bisa tenggelam. Mereka mentertawakan Nabi Nuh dan para pekerja yang sedang membuat perahu besar untuk mengangkut kaumnya." Nada menjeda sejenak ceritanya.
__ADS_1
"Tiba-tiba badai datang, kaum Nabi Nuh yang patuh dan taat mengikuti perintah Nabi Nuh lalu masuk ke dalam perahu besar yang sudah selesai tepat waktu sebelum badai benar-benar datang. Istri Nabi Nuh dan Kan'an anaknya tetap tidak mau ikut masuk perahu Nabi Nuh."
"Dan, akhirnya badai mampu menenggelamkan kaum Nabi Nuh yang tidak taat akan perintah Nabi Nuh, termasuk istrinya dan Kan'an anaknya." Nada mengakhiri ceritanya, bersamaan dengan itu, Sya pun tertidur dengan nyenyak. Nada lega, kini tinggal dirinya mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Sejak Elang pergi, sampai jam 12 malam ini, Nada sama sekali belum bisa tidur. Dia merasa badannya sudah tidak enak bergerak dan sudah terasa engap. "Ya, Allah selamatkan suami hamba, dan sehatkan hamba di sini." Nada selalu berdoa dan berzikir di dalam hatinya.
Besok tiba, pagi-pagi sekali Elang sudah menghubungi Nada. Dengan bahagia Nada segera mengangkat vidio call dari Elang. Sebelum pergi ke sekolah, Sya juga sempat bicara dengan Elang. Elang bilang pulangnya nanti malam sekitar jam 10 malam kalau tidak ada halangan.
Nada sedikit riang setelah mendapat telepon dari Elang. Semangatnya bangkit lagi. Dan pagi ini dia sengaja ke taman belakang untuk melihat bunga-bunga dan memetiknya untuk dipajang di ruang tengah, setelah Sya pergi ke sekolah.
"Assalamu'alaikum!" Dari taman belakang terdengar suara orang mengucapkan salam. Nada membiarkan, sebab ada Bi Narti atau Bi Ijah di dalam. Nada masih anteng memetik bunga Dahlia kesukaannya seraya bersenandung.
Menyudahi kegiatan di taman belakangnya, Nada segera ke dalam rumah. Nada membersihkan diri sebelum naik tangga dan masuk ke kamarnya.
"Ohh, itu, Non. Nyonya. Sekarang Nyonya sedang di ruang tengah menikmati teh sama camilan. Dan sekarang Nyonya semakin sehat dan agak gemukan, Non." Bi Narti memberitahukan dengan binar bahagia.
"Syukurlah, Bi, saya ikut bahagia."
Nada langsung ke ruang tamu dulu sebelum naik dan masuk kamar. "Ibu, apakabar Bu? Ibu sudah kembali normal?" Nada langsung menghampiri mertuanya yang sedang duduk santai sambil minun teh dan camilannya pagi ini, dan mencium tangannya. Di matanya, Bu Sri kini sedikit berbeda. Sehat dan gemukan.
"Nada," sahutnya seraya menerima uluran tangan Nada.
"Bagaimana, Bu, kakinya sudah benar-benar sehat?" Nada bertanya dengan penuh bahagia.
"Beginilah, seperti apa yang kamu lihat," ujar Bu Sri.
"Kalau begitu, Nada ke atas dulu ya, Bu, soalnya Nada mau mandi, tadi habis dari taman bunga belakang," lapor Nada pada Bu Sri. Bu Sri mengangguk tanpa menoleh. Bu Sri memang sedikit berubah, walaupun belum sehangat yang Nada inginkan. Keakraban dan keceriaan antara Nada dan Bu Sri seakan belum tercipta *chemistrynya*.
"Ahhhh." Sebelum langkah kakinya menjauh, Nada tiba-tiba mengerang. Nada menahan perut bagian bawahnya yang terasa sakit dan keram, Nada berdiri sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya dan dikeluarkannya kembali. Bu Sri menatap Nada cemas.
"Nada, kamu kenapa?" tanya Bu Sri heran menghampiri. Nada diam, karena menahan rasa tidak enak di perut. Wajahnya memperlihatkan rasa sakit dan cemas.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bu. Hanya rasa sakit akibat keram saat ini muncul tiba-tiba," ujar Nada setelah beberapa menit tidak menjawab.
"Jangan-jangan kamu mau melahirkan Nada, aduhhh kenapa Elang ini keluar kota pas kamu mendekati lahiran?" Bu Sri nampak kebingungan.
"Ijahhhh, Nartiii, bantu Nada ke atas tangga," teriak Bu Sri memanggil kedua ART di rumah Elang. Bi Ijah dan Bi Narti buru-buru menghampiri dan memapah Nada ke atas tangga.
"Aku akan menelpon Elang, biar dia segera pulang," ujar Bu Sri sambil mengutak-atik Hpnya. Namun rupanya HP Elang sama sekali tidak aktif.
"Ihhhh, Elang ini, HP tidak aktif pula. Istri mendekati lahiran malah keluar kota," rutuk Bu Sri kesal. Baru kali ini Bu Sri terlihat cemas melihat kondisi Nada.
Di kamar, Nada dibantu Bi Narti dan Bi ijah duduk di ranjang.
"Non, apa sebetulnya yang Non Nada rasakan? Bibi tahu sedikitnya tentang tanda-tanda melahirkan."
"Rasa keram di perut ini Bi, tidak enak. Dan kadang-kadang ada rasa mulas."
"Rasa mulasnya sering atau kerap, Non?"
"Tadi saat di bawah saja, Bi. Sekarang tidak muncul lagi. Yang dirasakan sekarang hanya keram. Tapi ini perlahan hilang setelah saya duduk dan tarik nafas," terang Nada membuat Bi Narti dan Bi Ijah saling pandang mencurigakan.
"Non, sekarang alangkah lebih baik Non Nada bersih-bersih dulu mungpung keram sama mulasnya tidak muncul lagi. Sementara itu, kami akan mempersiapkan baju bayi dan sedikit keperluan Non Nada." Nada langsung patuh dan segera ke kamar mandi. Nada pun punya firasat jika dirinya sedang mengalami gejala akan melahirkan.
Selesai mandi dan berpakaian, Nada segera menghubungi Elang, namun setelah beberapa menit HP Elang tidak aktif. Nada sedikit kecewa dan sedih. Bi Narti yang melihat nampak prihatin.
"Non alangkah baiknya, Non Nada cepat hubungi bapak atau adiknya Non Nada biar mereka datang ke sini. Saat Den Elang tidak ada, tenaga lelaki sangat dibutuhkan, Non," desak Bi Narti memberi saran. Nada setuju dengan saran Bi Narti. Lantas ia mengambil Hpnya dan bermaksud menghubungi Bapaknya atau Nadly adiknya.
"Bi, tolong hubungi Bapak saya, nama kontaknya Bapak, perut saya kembali sakit, " perintah Nada pada Bi Narti. Bi Narti segera melaksanakan perintah Nada dan mulai menghubungi. Telepon tersambung, dan di sebrang sana sudah ada yang mengangkat.
"Assalamu'alaikum! Ada apa, Nak?"
"Wa'alaikumsalam, Pak, maaf saya Bi Narti, ARTnya Non Nada. Non Nada meminta Bapak datang ke rumah, soalnya Non Nada sekarang mengalami tanda-tanda akan melahirkan. Di rumah, Den Elang kebetulan tidak ada dan belum pulang dari luar kota. Katanya sih nanti malam jam 12, tapi sampai kini Hpnya tidak aktif." Bi Narti memberitahu panjang lebar.
"Baiklah, Bu. Saya akan segera ke sana," ujar bapaknya Nada dan segera menutup sambungan telpon.
"Non, Bapaknya Non Nada akan segera menuju ke sini, Non Nada sabar dulu, ya." Bi Narti membujuk. Nada hanya mengangguk seraya mengusap pelan perutnya yang mulai panas. Bi Narti berinisiatif memberi ketenangan untuk Nada, dengan mengusap-usap punggungnya.
__ADS_1
"Non, semua keperluan Non Nada untuk melahirkan sudah saya dan Ijah siapkan. Sekarang, Non Nada tenang dulu, tarik nafas dan rileks dulu," saran Bi Narti. Nada berbaring merilekskan tubuhnya supaya rasa sakit itu berkurang.