
"Mas Elang?" bisikku dalam hati.
"Iya, ini aku, Sayang. Suami kamu!" jawab Mas Elang seolah mendengar bisikan hatiku. Aku menatap tajam lelaki bertopi itu lekat, memastikan benarkah lelaki yang di hadapanku adalah Mas Elang. Perlahan lelaki itu membuka topinya, bak model papan atas sedang mendapatkan endorse sebuah topi bermerek.
Topi mulai menguak, detik itu seluruh jiwa ragaku seakan ikut bergetar. Jantungku berdetak lebih cepat, tarikan nafasku memburu, dan kakiku seakan lemas. Tatapanku dengan lelaki itu yang rupanya benar-benar Mas Elang bertemu, menancap tepat di kornea mata masing-masing. Mulutku ikut bereaksi, sedikit menganga dengan rasa tak percaya.
Apa yang harus aku lakukan? Berlari dan menjauh? Sedang kakiku seakan terkunci, lemas tidak bertenaga.
"Mas Elang.... !" Lagi-lagi hatiku berbisik. Ada kerinduan yang tiba-tiba menyeruak, rasanya saat itu juga ingin aku memeluknya erat dan bermanja. Namun... kini seakan ada gap diantara kita. Mungkin hanya diriku sendiri yang merasakan gap itu, sehingga walaupun aku merindukannya tapi rasa kecewa masih menyelimuti raga.
"Sayang... duduklah....!" ucapnya lembut meraihku seraya mendudukkan tubuhku. Kini posisi kami sangat dekat.
Kata-kata sayang itu sama persis diucapkan saat Mas Elang mencoba merayuku dan meredam rajukku. Begitu lembut sehingga aku sering dibuatnya tidak berdaya. Tapi kini aku seakan meragukan semua. Mungkin saja Mas Elang melakukan itu hanya demi membuat aku kembali dan pulang.
Aku duduk dengan tatapan menunduk dan tidak berani menatap lagi Mas Sakti.
"Tatap aku, Sayang. Kenapa kamu menunduk? Aku suami kamu, tidakkah kamu rindu sama Mas?" tanyanya dengan tatapan yang seakan menghujam. Aku masih menunduk tidak berani mendongak.
Rasa kesal itu tiba-tiba menyeruak dalam dada, kesal tapi rindu, rindu namun gengsi juga marah. Bagaimana menggambarkannya perasaan hatiku? Yang jelas aku merasa tidak sanggup menatapnya.
"Kenapa tidak berani menatap, Mas? Tataplah, Mas! Mas rindu tatapanmu!" selorohnya sembari meraih daguku, aku coba menepis dengan mengalihkan kepalaku ke arah samping.
"Kita pulang, sudah terlalu lama kamu ninggalin Mas. Mas kangen masa-masa kita. Mas ingin selalu berada dekat kamu. Sya juga merindukan kamu, dia selalu menanyakan keberadaan kamu."
Sya? Jika ingat anak itu aku juga sangat merindukannya. Jujur ikatan batin antara kami begitu kuat walau nyatanya kami tidak punya ikatan darah. Aku sayang Sya dan selalu merindukan semua yang ada pada dirinya terutama tingkah gemasnya.
Aku bergeming, membiarkan Mas Elang seolah mengemis cinta dariku. Biarkan saja, akan kulihat sampai dimana perjuangannya. Mas Elang kini mulai meremas jemariku yang aku letak di atas meja makan angkringan. Remasan penuh kerinduan yang penuh hasrat.
"Sayang, pulang ya... kita merajut hari bersama lagi, menanam asa bertiga atau bahkan berempat," seraya meraba perut rataku yang saat itu tak mampu mengelak. Sepertinya Mas Elang mengharapkan keturunan dari rahimku.
"Kita membina lagi hubungan rumah tangga yang lebih baik dari sebelumnya. Mas janji akan lebih menjaga kamu dan menghargai perasaanmu," ucapnya berjanji.
__ADS_1
Terdengar sungguh-sungguh dan meyakinkan, tapi aku masih belum yakin. Aku menarik nafasku dalam dan sedikit mendongakkan kepalaku.
"Kenapa, Mas datang?" Pertanyaan konyol itu terlontar begitu saja, bukankah tadi Mas Elang sudah mengungkapkan maksud kedatangannya kemari.
"Aku ingin membawamu pulang, membawa hal yang selalu bikin aku nyaman, membawa hal yang selalu membuatku tidak segan bermanja. Dan itu semua adalah kamu, kamu yang selalu mengubah hidupku lebih berwarna dan ceria," ungkapnya lagi. Aku menghela nafasku lagi dan lagi. Ungkapan dari bibirnya bisa saja aku terima sebagai bentuk rayuan gombal, namun ada getar kesungguhan disebalik suaranya itu.
"Kita pulang ke hotel, kebetulan Mas menginap di hotel. Ini sudah malam, angin malam tidak baik buat kamu. Mas sudah bicarakan sama Om dan Tante kamu, bahwa kamu malam ini diijinkan ikut bersama Mas." Aku tersentak saat mendengar Om dan Tante mengijinkan aku ikut bersama Mas Elang. Sejak kapan Mas Elang bertemu dengan Om Zainal dan Tante Mirna? Atau... pemantik api itu???
Ini sudah jelas, rasa penasaran aku mengenai pemantik api yang mirip dengan milik Mas Elang di meja ruang tamu rumah Tante Mirna itu, bisa jadi milik Mas Elang. Terjawab sudah! Dan rupanya Mas Elang sudah pernah ke rumah Tante Mirna saat aku sedang tidak ada. Dan Mas Elang bisa datang ke Jogja, kemungkinan besar informasi dari Kak Bintang yang sempat melihat aku waktu itu di pasar Klewer.
"Ayo... Mas sudah diijinkan sama Om dan Tante kamu," ajaknya sambil menyeruput wedang ronde yang tadi aku hidangkan. "Minumlah dulu wedang rondenya, biar tubuh kamu terasa hangat," bujuknya. Aku mengikuti bujukkannya yang kedua yaitu meminum wedang ronde yang aku hidangkan tadi di meja ini.
Tubuhku seketika terasa hangat, melebur bersama rasa hangat dalam hatiku yang tiba-tiba muncul saat melihat Mas Elang menyeruput wedang rondenya. Sekilas aku lihat, wajah Mas Elang sedikit tirus. Terlihat dari rahangnya yang semakin tegas. Apakah kepergianku ini membuat Mas Elang berpikir keras?
Mas Elang sudah menarik tubuhku berdiri, namun aku menahannya. "Mas, mau kemana?"
"Sayang... kita hampiri Tante Mirna dan Dina, kita pamit dulu."
"Tante... Elang bawa dulu Nadanya ya!" ijinnya sembari tersenyum ramah.
"Bawa saja terserah kamu. Tapi hati-hati di jalan ya, El....!" peringat Tante Mirna tanpa mempedulikan aku yang ingin protes.
Dina yang melihat melambaikan tangannya ke arahku seakan ikut setuju aku dibawa Mas Elang.
"Mas... jangan memaksa kayak gini dong. Kalau seperti ini sama saja Mas memaksakan kehendak kamu terhadap Nada," protesku.
Semua tidak ada yang merespon protesku, Tante Mirna, Dina sama saja mendukung keputusan Mas Elang. Dengan langkah terpaksa, aku mengikuti kemana arah Mas Elang melangkah.
Tiba di sebuah hotel bintang 3, Mas Elang membelokkan tubuhnya dan memasuki halaman hotel. Memasuki ruangan Resepsionis, dia bertegur sapa sejenak bersama pegawai hotel, lalu kembali menarik tanganku lembut, mungkin menuju kamar hotel tempat dia menginap.
Tiba di sebuah pintu hotel, Mas Elang berhenti dan membuka pintu itu dengan sebuah kartu. Dan pintu kamar hotelpun terbuka seiring bunyi klik. Mas Elang menggiring tubuhku masuk lalu pintu kamar tertutup otomatis bersamaan dengan bunyi klik lagi.
__ADS_1
Di sinilah kami berdua, rasa canggung tiba-tiba menyergap dalam dada. Mas Elang suamiku, namun rasa canggung yang aku rasa seolah aku bertemu Mas Elang pertama kali. Getaran rasa yang ada bergejolak dua kali lipat, entah apa namanya yang aku rasakan. Yang jelas aku hanya ingin menyembunyikan diri di mana saja asal tidak ketahuan Mas Elang.
Suasana romantis kental terasa saat kami memasuki kamar hotel. Seperti sebuah kejutan, kamar itu sudah berhiaskan bunga-bunga. Untuk apa ini? Bentuk penyambutanku? Terlalu berlebihan, ini seperti malam pengantin saja, yang pernah kami lalui satu tahun yang lalu.
"Ayo... bersihkan diri dulu!" Aku tertegun dengan ucapan Mas Elang, aku menjadi bingung untuk membersihkan diri harus ada baju ganti. Sedangkan aku hanya baju yang melekat di badan.
"Kenapa?"
"Nada tidak bawa baju ganti, Mas," alasanku. Mas Elang tersenyum lalu dia menuju lemari yang berada di kamar hotel itu dan mengambil sesuatu. Sebuah buddy bag bermotif batik diraihnya dari sana lalu diberikannya padaku. Tanpa menolak aku menerima buddy bag tersebut.
"Bersihkanlah diri dulu, atau mau sekalian berdua?" candanya diiringi tawa. Jelas aku merasa geli dengan candaan Mas Elang, aku tahu kemana arah pembicaraannya. Aku segera masuk kamar mandi yang sudah tercium pengharum ruangan beraroma terapi, untuk menghindari aksi Mas Elang yang lebih ekstrim diluar itu. Wangi pengharum ruangan itu sungguh sangat merilekskan.
Selesai mandi, ku buka buddy bag pemberian Mas Elang. Sebuah dress batik selutut dengan tali di sisi kiri dan kanan. Ini lebih mirip handuk lilit yang ada talinya, jika dibuka hanya sekali tarikan saja. Apa-apaan Mas Elang ini, memberitahu dress simple seperti ini, bahkan terlalu simpel.
"Sayang... cepat keluar kalau sudah ya!" peringatnya. Kata-kata sayang yang diucapkan Mas Elang barusan seakan mengguncang seluruh ragaku, membuat aku terpaku dan benar-benar terbuai. Malam ini beda debarannya hanya karena mendengar Mas Elang memanggil sayang, aku seakan merasakan debaran seperti malam pertama.
"Sayanggg!!!" serunya menyadarkan aku dari khayalanku ke masa malam pertama. Aku segera keluar dengan baju dress pemberian Mas Elang. Mas Elang menatapku sekilas lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
Entah kejutan apa lagi yang dibuat Mas Elang, di sebuah meja kecil sudah terhidang candle light dinner.
Mas Elang keluar dari kamar mandi dengan baju piyama batik senada dengan yang aku pakai. Aku pura-pura menatap cermin meja rias dan mengusap wajahku dengan pembersih muka yang disediakan hotel.
Tanpa aku sadari Mas Elang sudah merangkulku dari belakang, meraih pinggang dan mengangkat tubuhku, membawaku menuju meja candle light dinner. Mas Elang mendudukkan aku dengan sangat hati-hati dan penuh perasaan. Suasana malam sungguh sangat romantis. Aku seperti seorang putri malu yang sedang diperlakukan sebaik mungkin.
"Sayang... ini makan malam kita yang kesekian kali, namun ini berbeda. Hanya ada kita berdua di sini, biasanya ada Sya. Aku sungguh menantikan moment ini, makan malam berdua dan romantis berdua," ungkap Mas Elang seraya memutar sebuah musik romantis dari HPnya menyertai candle light dinner kami. Aku seakan terbuai suasana, ku tatap Mas Elang penuh haru. Rupanya kebahagiaanku masih ada pada lelaki perkasa dihadapanku ini. Hanya diperlakukan manis seperti ini saja aku langsung terharu dan terbuai, apalagi jika Mas Elang selalu mengerti perasaanku.
"Sayang... makanlah dulu, setelah ini kita akan berpetualang ke alam surga yang sangat indah. Yang hanya ada kamu dan aku di dalamnya." Kata-kata puitis keluar dari mulut Mas Elang sebelum kami memulai makan malam.
Candle light dinner kami berakhir, dilanjutkan aksi lain Mas Elang yang berdiri dan menuju ke belakang kursi yang aku duduki. Tanpa kuduga Mas Elang mengalungkan sebuah kalung ke leherku, penuh perasaan disertai sentuhan nakal di leher jenjangku membuat aku kegelian.
"Mas, apa ini?" Aku tersentak heran dengan spontan kupegang kalung yang sudah terpasang sempurna itu. Mas Elang membawaku berdiri lalu memutar tubuhku menjadi berhadap-hadapan. Kami saling menatap satu sama lain, getaran dalam dadaku semakin aneh. Ada hasrat besar yang tiba-tiba bergelora, terlebih saat Mas Elang meraih wajahku dan menyatukan kening kami.
__ADS_1
Kami saling merengkuh dengan tanganku berada dilehernya dan tangan Mas Elang berada di pinggangku. Kami berdua berdansa mengikuti musik yang setel dari HP Mas Elang.