
"Neng, bangun....! Neng sudah sampai....!" Aku menggeliat sesaat setelah mendengar seseorang seakan membangunkan tidurku.
"Masih malam kan, Mas?"
"Neng... ini saya, Pak Darma. Supir taksi yang ditumpangi Eneng." Pak Darma kini menggoyahkan bahuku dengan hati-hati.
"Pak Darma... aduhh... maaf, Pak! Saya rupanya ketiduran." Aku merasa malu saat yang kudapati adalah Pak Darma, Supir taksi yang sudah beberapa kali menolongku.
"Sudah sampai Neng. Ini benar kan, rumahnya?" Pak Darma mencoba meyakinkan.
"Betul, Pak. Rupanya sudah sampai," ucapku sembari merogoh uang dalam saku rokku yang sengaja ku bawa tanpa dompet.
Pak Darma turun duluan, kemudian Beliau membuka pintu penumpang yang aku duduki.
"Terimakasih banyak, Pak!" ucapku seraya mengangkat tubuh Sya yang sejak naik taksi masih tertidur nyeyak. Aku sedikit heran, kenapa Sya bisa tidur sepuas itu. Apakah efek trauma dan kecapean karena habis menangis sehingga Sya tertidur sangat pulas?
"Ini ongkosnya, Pak. Saya ucapkan banyak terimakasih. Sudah beberapa kali Bapak membantu saya, dan seakan sengaja Allah mengirimkan Bapak untuk membantu saya," ucapku seraya memberikan ongkos taksi ke tangan Pak Darma. Pak Darma sontak mengangkat tangannya dan menolak bayaranku.
"Lho, kenapa Pak? Apakah ini kurang?"
"Tidak, Neng. Itu cukup malah. Tapi saya minta maaf, saya tidak mau dibayar," tolak Pak Darma membuat aku heran.
"Tidak Pak, jangan menolak bayaran saya. Bapak kan butuh setoran untuk menyetor ke Boss Bapak. Kalau tidak mau dibayar, lantas dari mana Bapak akan menyetor?" paksaku.
"Tenang saja Neng. Saya tidak perlu menyetor pada siapapun. Sebab ini taksi adalah milik saya. Ini sebetulnya mobil pribadi saya yang dimodif menjadi taksi. Saya merasa bosan di rumah tidak ada pekerjaan, karena saya seorang pensiunan. Akhirnya saya keluyuran seperti ini dan iseng mencari sampingan dengan taksi saya ini," terang Pak Darma seraya mengangkat tangannya yang menolak uang bayaran dari Nada.
"Saya mohon jangan tolak ongkos dari saya. Saya sudah berulang kali ditolong Pak Darma, jadi untuk kali ini jangan menolak bayaran dari Saya, Saya tidak meminta gratis Pak!" Aku memohon kepada Pak Darma agar menerima bayaran ongkos taksinya.
"Tidak, Neng... Saya bilang tidak usah. Ini untuk terakhir kali deh, lain kali kalau Eneng naik taksi saya lagi, maka saya mau menerima bayaran ongkosnya." Lagi-lagi Pak Darma menolak bayaranku, akhirnya aku menyerah dan menyimpan kembali uang itu ke saku rokku.
"Saya permisi dulu ya, Neng! Ini sudah malam, Neng Nada cepatlah masuk, sayapun mau pergi jika Eneng sudah benar-benar masuk," ujar Pak Darma seraya masuk ke dalam mobilnya, namun belum mau beranjak.
__ADS_1
Aku menghampiri pintu gerbang, lalu menekan bel. Tidak lama kemudian, Pak Nandang membuka pintu gerbang.
"Non Nada.... !" Pak Nandang terkejut melihatku yang memangku Sya, dengan berpeluh lelah.
"Ayo, Pak. Bukankan pintunya. Tolong bilang Bi Narti siapkan air hangat untuk Sya di kamarnya," perintahku.
"Baik Non," ucap Pak Nandang patuh seraya kembali menutup pintu gerbang.
Di depan pintu Bi Narti sudah menyambut. Kemudian Pak Nandang kembali ke depan dan berjaga.
"Non... aduh Non... Alhamdulillah, Non Nada dan Den Sya selamat dan berhasil pulang hari ini. Tapi... Den Elang belum pulang sejak pergi sore tadi. Dia nampak khawatir sama Non Nada. Setelah itu Den Elang pergi. Katanya ingin mencari Non Nada serta memenjarakan Mbak Sonia dan Mbak Mayang." Bi Narti mencerita dengan serius.
Aku tidak bisa merespon dengan baik cerita Bi Narti, sebab pelipisku malah semakin nyeri dan nyut-nyutan. Aku berjalan perlahan menuju kamar Sya dengan langkah yang gontai. Sementara Bi Narti terus mengikuti aku di belakang.
"Biar Bibi yang bukakan."
Pintu kamar Sya berbunyi, kemudian Bi Narti menyalakan saklar lampu dan lampu menyala. Aku langsung menidurkan Sya dengan hati-hati. Tadinya Sya mau aku bersihkan dulu namun melihatnya tidur sangat pulas aku tidak tega membangunkannya.
"Tidak usahlah Bi, biarlah saya yang akan mandi. Bandan saya terasa lengket. Nanti setelah mandi tolong balut luka di pelipis saya, ya, Bi!" ujarku.
"Siap, Non."
Aku beranjak ke kamar mandi dan segera membersihkan diri. Cukup 15 menit aku selesai mandi, lalu berpakaian. Setelah itu melaksanakan kewajibanku yang sudah beberapa jam terlewatkan.
Bi Narti menghampiri saat aku menyudahi shalatku, dengan membawa berbagai alat pembalut luka. Seperti kapas, betadin, alkohol, kain kasa dan plester. Dengan hati-hati dibersihkan, dan diobati, lalu dibalutnya luka di pelipisku.
"Terimakasih Bi, malam ini saya tidur bersama Sya. Takut Sya nanti malam terbangun karena lapar," ujarku. Bi Narti patuh lalu beranjak meninggalkan kamar Sya. Setelah Bi Narti pergi, aku bangkit dan segera mengunci pintu kamar Sya, lalu mematikan lampu dengan menggantikan lampu meja yang dibiarkan menyala.
__ADS_1
Jam hampir menunjukkan pukul 11.30, rasa lelah dan ngantukku sudah tidak bisa aku tahan lagi. Dan aku terlelap di samping Sya dengan memeluk bocah imut itu tanpa mengingat Mas Elang sama sekali.
Tubuhku terasa ada yang memeluk, dan sesekali seperti ada seseorang mencium di keningku berkali-kali. Wangi parfum khas itu langsung mengingatkanku pada sosok yang aku cinta namun aku kesal saat ini. Sudah bisa kutebak, ini pasti Mas Elang. Entah jam berapa Mas Elang pulang, tiba-tiba sudah berada di sampingku dan mencumbuku.
Walaupun aku sudah sedikit tersadar dari tidurku, namun aku tidak ingin membuat Mas Elang merasa dinantikan. Aku pura-pura tertidur dan menantikan reaksi apa yang akan dilakukan Mas Elang. Rupanya, Mas Elang malah tidur di sampingku dengan tangan yang memelukku.
Malam berganti pagi, aku terbangun tepat di jam 6 pagi. Begitupun dengan Sya, dia ikut terbangun. Aku menyesal mengapa semalam tidurku begitu lelap, sampai sholat Subuhku terlewat. Namun Mas Elang yang semalam memelukku, dia sudah tidak ada di sampingku.
"Pagi Sya... Bunda kesiangan nih. Bunda ke kamar mandi duluan ya," ujarku pada bocah yang nampaknya masih ngantuk itu.
Aku segera ke kamar mandi membersihkan tubuhku. Dengan cepat aku kembali dan mengenakan pakaianku, lalu memoles tipis wajahku yang tadi tersapu air. Sekarang giliran Sya yang akan aku siapkan air mandinya.
Beberapa menit kemudian Sya telah siap dan sudah wangi dan tampan. Dia tersenyum bahagia melihat ke arahku.
Tanpa kami sadari, tiba-tiba pintu penghubung Sya berbunyi lalu muncullah sesosok tubuh yang aku kenal. Mas Elang datang dengan membawa dua piring nasi goreng dan dua gelas air putih.
__ADS_1
"Selamat pagi dua kesayangan Papa...! Papa bawakan sarapan pagi nih buat kalian. Sekarang kalian sarapannya di kamar dulu ya. Papa buatkan nasi goreng spesial buat kalian," ucap Mas Elang membuat kami terlongo dan kaget.