"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Pertengkaran 2 (Pergi)


__ADS_3

"Tidak Mas, itu tidak benar. Nada tidak pernah lelah mengurus Sya atau menjaga Sya. Nada sungguh-sungguh menyayangi Sya," ungkapku sekali lagi.



"Lantas kenapa kalau kamu lelah, kamu tidak pergi jauh dari hidupku. Jauh... sekalian sampai aku tidak bisa menemukanmu."



Aku menangis saat Mas Elang berbicara seperti itu, sungguh Mas Elang benar-benar tidak mengerti aku. Kenapa aku tidak pergi jauh sekalian waktu itu, seperti yang Mas Elang katakan barusan? Hanya karena rasa cinta dan kesempatan supaya Mas Elang bisa mengerti perasaanku, itu alasan aku masih disisinya. Tapi Mas Elang rasanya sama sekali tidak merasakan itu dalam diriku. Aku jadi bingung dengan sikap Mas Elang yang seperti ini. Pantas saja Mas Elang dulu bisa ditipu Mbak Mayang, karena Mas Elang memang tidak bisa menilai dan meraba perasaan istri yang sebenarnya. Siapa yang tulus dan siapa yang jahat.



"Mas... Nada juga punya batasan sabar. Nada sudah terlalu sabar dalam menghadapi Mas Elang. Bahkan ketika Mas Elang berulang kali dengan sengaja memperlihatkan urusan ranjang kita di depan Mbak Sonia atau bahkan ibu. Tiap kali melakukan itu, Mas Elang seakan ada unsur kesengajaan supaya perbuatan kita diketahui ibu atau Mbak Sonia, yang akibatnya ibu dengan tanpa dosa menceritakan kegiatan ranjang kita di depan teman-temannya. Sudah berapa kali itu terjadi Mas, dan itu Nada merasa Mas Elang sengaja ingin menyakiti Nada namun melalui mulut ibu," tandasku dengan nafas turun naik. Tidak ada gunanya lagi aku tahan-tahan, sebab Mas Elang seakan sudah tidak mau mengerti lagi.



Mas Elang seakan emosi mendengar ucapanku barusan. Dia mengepalkan tangannya dan kembali menghempas barang-barang yang ada di meja rias, sehingga kini makin berantakan dan isinya sebagian ada yang keluar tercecer kemana-mana.



Aku terhenyak dan takut, dadaku yang seakan sesak tidak sanggup lagi melihat Mas Elang ngamuk seperti itu. Aku segera berdiri dan memungut Hpku yang tadi jatuh terhempas. Yang ada di kepalaku saat ini adalah menjauh dari Mas Elang. Aku meraih tas yang tadi aku gantung di belakang pintu dan keluar kamar melewati Mas Elang yang marah.



Aku Menyelinap dan berjalan tertatih melewati pintu dan menjauhi kamar lalu menuruni tangga dengan tangisan yang kian pilu. Yang ada di kepalaku hanyalah pergi dan pergi.



"Non Nada....!"


"Bunda....!"


Bi Narti dan Sya bersahutan memanggil namaku. Tatapan simpati dan sedih dari keduanya terpancar. Aku menyusut air mataku, ku tatap sejenak kedua orang yang selalu perhatian padaku itu.


"Bi Narti..., titip Sya dan Mas Elang ya!" ucapku sedih, setelah itu aku langsung pergi tanpa menunggu Bi Narti atau Sya berkata-kata. Aku keluar melewati pintu depan, setelah itu aku berjalan agak cepat menuju pintu gerbang.

__ADS_1



Di depan pintu gerbang Pak Nandang menyapaku.


"Non... maaf, mau kemana malam-malam sendiri. Bukankah-tadi baru pulang dengan Den Elang?" tanya Pak Nandang seraya kebingungan.


"Saya pergi dulu Pak Nandang," ucapku seraya berjalan cepat. Setelah melewati pintu gerbang, aku segera mempercepat langkahku dan berharap ada taksi yang bisa ku cegat. Namun taksi yang aku harapkan belum muncul-muncul. Tapi, mungkin nasib baik sedang berpihak padaku. Tiba-tiba di depan ada gojek lewat, dengan cepat aku melambai dan mencegatnya.



Gojek itu berhenti tepat di pinggir jalan dan menegurku. "Maaf, ada apa Mbak, mau ngojek?" tanyanya.



"Iya, Pak. Bisa saya ngojek tanpa aplikasi?" Sejenak Bapak gojek tersebut termenung dan berpikir.


"Bisa, Mbak. Tapi alangkah baiknya lewat aplikasi. Mbak tidak ada aplikasi gojek?" Aku menggeleng cepat.


"Ya sudah, tidak apa-apa Mbak. Mari naik dan ini helmnya." Bapak gojek itu memberi helmnya untuk ku pakai. Gojekpun berangkat, namun tiba-tiba berhenti.




"Ke terminal, Pak!" ucapku repleks. Dan motorpun tanpa menunggu lama bergegas menuju tujuan yang aku sebutkan tadi. Baru beberapa meter dari tempat aku naik gojek, aku seperti melihat mobil ibu lewat. Aku yakin ibu pasti mau ke rumah Mas Elang.



Setengah jam kemudian, gojek berhenti di terminal yang aku tuju. Aku segera turun dan memberikan helmku pada Bapak gojek seraya membayar ongkos gojek.



"Terimakasih banyak Pak," ucapku seraya masuk melewati portal terminal. Dalam terminal ramai orang, aku segera menuju loket pembelian tiket bis. Namun aku bingung mau kemana tujuanku?


__ADS_1


Tiba-tiba saat aku bingung, HP aku berbunyi dan panggilan dari Mas Elang memanggil. Aku enggan mengangkatnya, lalu segera ku rijek saja panggilan itu. Namun beberapa detik kemudian bunyi notif WA terdengar, dan itu dari Mas Elang. Aku membuka dan membacanya.



"Sayang... kamu dimana? Jangan pergi jauh! Aku menyesal bertengkar denganmu tadi, aku minta maaf. Kembalilah!" Isi pesan WA dari Mas Elang.


Aku tidak menjawabnya, kemudian pesan WA masuk lagi dari Mas Elang.


"Pulanglah ke rumah bapak, besok aku datang menjemput. Jernihkan dan tenangkan pikiranmu. Mas mohon jangan pergi jauh meninggalkan Mas. Mas masih membutuhkanmu dan mencintaimu!" pesannya dengan emot sedih.



Aku segera menutup HPku dan mematikannya. Sekarang aku harus fokus untuk pergi meninggalkan Mas Elang, entah untuk berapa lama. Yang jelas kepergianku ini adalah kepergian karena emosi yang sudah tidak tertahan.



Aku segera ke loket pembelian tiket bis. Aku mendapatkan tiket yang berangkat jam 9 malam. Kebetulan hanya butuh menunggu satu jam saja jadwal keberangkatan bus yang aku tumpangi.



Jam 9 malam tiba, bus yang akan aku tumpangi sudah berada di depan halaman terminal. Kami para penumpang yang hampir 75 persen dari muatan penuh, masuk dan menempati tempat duduknya masing-masing. Kebetulan aku menempati tempat duduk yang dekat kaca di sisi kiri.



Bus berjalan perlahan setelah awak bus memeriksa penumpang sudah ada semua sesuai tiket. Di dalam bus, rasa sedihku kian memuncak. Aku tiba-tiba merasa sangat sedih meninggalkan Mas Elang dan Sya. Mas Elang yang sangat aku cintai, dan Sya yang sangat aku sayangi. Namun pertengkaran tadi terlanjur membuat hatiku hancur karena sikap Mas Elang yang tidak pernah mengerti perasaanku.



"Assalamu'alaikum, Tante ini Nada. Besok Nada mau ke rumah tante. Tante ada di rumah?" Pesan WA terkirim pada tante Mirna adik perempuan bapak satu-satunya yang kebetulan kini tinggal di Yogyakarta ikut dengan suaminya.



Aku tidak kepikiran pergi ke rumah bapak atau Mbak Marisa. Bahkan ke rumah tante Mirna saja baru kepikiran tadi saat setelah membeli tiket. Kebetulan sudah lama aku tidak bertemu dengan tante Mirna. Saat inilah aku mendatanginya, namun saat keadaan hatiku sedang sedih dan gundah gulana.


__ADS_1


"Dengan suami kamu Nad....? Ya sudah, tante tunggu ya. Tante senang banget kamu akan datang. Hati-hati di jalan." Tante Mirna membalas WAku.


__ADS_2