"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Ketika Mas Elang Pergi


__ADS_3

Tiba-tiba Mas Elang bersimpuh dan menengadah menatap lekat wajahku penuh permohonan.


"Sayang... dengarkan sekali ini saja! Mas mohon, pulanglah bersama Mas hari ini. Mas minta maaf atas kesalahan Mas yang selalu mengabaikan perasaanmu. Maafkan Mas ya!"


Baru kali ini aku mendengar Mas Elang memohon minta maaf atas kesalahannya, dan bersimpuh di hadapanku. Ini merupakan moment yang sejak tadi aku tunggu. Ingin melihat Mas Elang meminta maaf dan menyadari kesalahannya. Dan ini baru saja dia lakukan di detik-detik terakhir Mas Elang mau kembali ke kota asal. Bukan aku egois, tapi sisi perempuanku ingin sekali-kali dimengerti seorang lelaki bernama suami.



"Nada terima maaf Mas Elang, tapi Nada mohon untuk kali ini ijinkan Nada di sini beberapa hari saja. Nada minta pengertian Mas Elang." Mas Elang diam seakan berpikir, raut wajahnya diliputi sedih dan kecewa. Aku sempat tidak tega melihatnya, namun hati kecilku ingin membiarkan Mas Elang benar-benar tercambuk agar bisa lebih menghargai perasaan istri, bukan hanya pandai membujuk untuk kembali lalu masalah selesai.



"Ok... Mas ijinkan kamu di sini untuk beberapa hari. Walau... sejujurnya Mas tidak rela meninggalkan kamu di sini." Akhirnya Mas Elang memberi ijinnya, walau aku tahu hatinya tidak rela.



"Makasih Mas atas pengertiannya," ucapku seraya memeluk tangan Mas Elang. Mas Elang berdiri lalu membenahi pakaian yang melekat di badannya.


"Ya, sudah tunggu apalagi. Kita check out sekarang dari hotel," ucapnya sendu dan beranjak membereskan pakaian bekasnya ke koper yang dibawa dari rumah. Aku bingung dengan maksud Mas Elang. Maksudnya, tunggu apalagi kemana?


"Kenapa bengong, bukankah kamu mau tinggal beberapa hari lagi di sini? Aku akan mengantarmu ke rumah Om Zainal dan Tante Mirna," ucap Mas Elang menjawab kebingunganku tadi atas ucapan Mas Elang.



Aku berdiri dan bersiap mengikuti Mas Elang meninggalkan kamar hotel, namun beberapa detik kemudian ada suara telpon masuk ke HP Mas Elang.


"Assalamu'alaikum, Sayang... iya Papa akan segera pulang." [Mas Elang]


"Papa janji kan bawa Bunda....!" [Sya] suara Sya terdengar jelas membuat hatiku bergetar, merasa bersalah seketika.


"Nanti Papa telpon balik ya, Papa sedang siap-siap. Sya, mau oleh-oleh apa?" Mas Elang berusaha mengalihkan fokus Sya supaya tidak mengingat aku Bundanya.


"Sya, mau Bunda, Papa!" Sya terdengar merengek.


"Ok, sudah dulu ya sayang. Papa segera pulang." Telepon segera ditutup, lagi-lagi Mas Elang berusaha mengalihkan fokus Sya supaya tidak memikirkan aku. Bukan salah Mas Elang bersikap seperti itu, sebab akulah yang menolak ikut pulang.


Telepon dari Syapun langsung ditutup Mas Elang. Ada yang terasa menohok hati, ketika Sya meminta aku sebagai oleh-olehnya. Rasa kasihan seketika muncul.


__ADS_1


"Ayo... aku antar kamu pulang. Dan... ini simpan, bisa kamu gunakan apa saja." Ajaknya dengan sikap yang tiba-tiba datar, sembari menyelipkan kartu ATM ke dalam tas sandangku.


"Mas....!" sapaku.


Mas Elang tidak menyahut lagi, dia seolah sibuk memasukkan barang-barangnya ke koper, serta tidak memberi aku kesempurnaan untuk bicara.


"Bagaimana ini, Sya menginginkan aku. Apakah aku harus ikut Mas Elang sekarang atau nanti saja? batinku.


Aku menjadi bingung sejak mendengar Sya ditelepon menginginkan aku pulang. Aku harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan?



Setelah check out dari hotel, Mas Elang langsung memesan grab dan mengantarkan aku ke rumah Tante Mirna. Sepanjang jalan tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut kami. Kami sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing.



Tiba di rumah Om Zainal dan Tante Mirna. Mas Elang langsung disambut baik oleh Tante Mirna, sedangkan Om Zainal sedang berbelanja sayuran di pasar. Mas Elang langsung saja mengatakan maksud kedatangannya yaitu mengantar aku dan menitipkan aku untuk beberapa hari tinggal di sini.



"Saya titip Nada, Tante. Jika Nada sudah ingin pulang, maka saya akan jemput kembali. Saya minta maaf jika Nada selama di sini merepotkan Tante," ucap Mas Elang.




"Mas pergi dulu ya... jaga diri kamu di sini. Jangan ngerepotin Tante dan Om." Seketika ucapan terakhir Mas Elang membuat aku sangat sedih, seperti ada duri yang menusuk ke dalam dadaku, sesak dan sakit. Saat akan menggapai tangan Mas Elang dia sudah menjauh dan beranjak keluar rumah. Perasaan kecewa tergambar jelas di sana.



"Saya pamit Tante! Assalamu'alaikum!" ulangnya bersamaan dengan grab yang datang dan Mas Elang segera menaikinya tanpa melambai lagi ke arahku. Grabpun berjalan menuju Bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Sedihhhhh..... itulah yang aku rasakan saat Mas Elang menjauh pergi, juga sikap Mas Elang yang dingin saat aku menolak pulang. Padahal saat itu ingin aku berteriak ikut pulang, namun kerongkonganku seakan tercekat.



Seperginya Mas Elang, aku langsung masuk kamar lalu menguncinya. Aku menangis dan rasanya ingin berteriak. "Mas Elang bawa Nada pulang....!" Namun aku hanya mampu berteriak dalam hati. Sementara di luar kamar Tante Mirna mengetuk pintu pelan memanggil namaku dan merasa khawatir, namun aku tidak menggubris aku terlalu kecewa dengan sikap aku sendiri yang terlanjur egois.



Mendengar Sya tadi menginginkan aku, jujur saja aku ingin ikut pulang dan berharap tanganku ditarik oleh Mas Elang. Namun Mas Elang sudah terlanjur menyimpan rasa kecewa dengan penolakanku tadi, jadi dia bersikap dingin dan sedih.

__ADS_1


"Maafkan Bunda Sya, maafkan Nada Mas... Nada sudah menjadi istri yang tidak patuh. Yang jelas Nada menyayangi kalian berdua." Tangisku pecah di balik bantal dan rasa sesalku tiba-tiba muncul, kenapa tadi tidak memaksa ikut pulang dengan Mas Elang. Aku sungguh sangat menyesal, jika tadi tidak mendengar Sya berbicara seperti itu, mungkin aku tidak sesedih dan semenyesal ini.


Karena saking lamanya menangis, aku merasa lelah dan ngantuk akhirnya aku tertidur.



Sore menjelang, aku terbangun dari tidurku. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 5 sore. Alangkah terkejutnya aku, rupanya aku tidur sangat lama. Dari siang tadi sampai jam 5 sore baru terbangun. Pintu mulai terdengar diketuk. Aku perlahan bangkit menuju pintu. Di depan pintu, Dina sudah berdiri dengan membawa sepiring makanan.



Dina masuk kamar dan meletakkan nampan berisi nasi beserta lauknya untukku. "Kak... sejak tadi kami ketuk pintu, Kakak nggak bangun-bangun. Mama sampai khawatir. Tapi Mama sama Papa sudah pergi ke angkringan, mereka nyuruh Dina ngetuk pintu kamar Kakak supaya Kakak bangun dan ngasih makanan, soalnya kata mereka Kakak belum makan dari pagi tadi." Sejenak aku termenung dan mengingat kejadian tadi setelah Mas Elang pergi.



"Makasih banyak, Din. Kakak sudah bangun nih. Maaf ngerepotin kalian semua. Tapi sebelum makan, Kakak mau ke kamar mandi dulu. Mau basuh muka dan ambil wudhu," ucapku menyela seraya berjingkat ke kamar mandi meninggalkan Dina yang masih di dalam kamar.



Setelah sholat Asar, aku mengajak Dina makan namun ternyata Dina sudah makan, akhirnya aku makan sendiri di kamar ditemani Dina adik sepupuku yang manja padaku.


"Kak... apakah Kakak tidak sedang sakit? Tadi Mama bilang khawatir sama Kakak, sebab Kakak sejak tadi mengurung diri."


"Kakak baik-baik saja kok. Kakak tadi hanya mengantuk saja. Jadi tidurnya kayak kebo." Aku memberi alasan yang tentunya bukan itu alasan sebenarnya. Aku lihat Dina mengangguk-angguk mencoba paham maksudku.


"Hari ini, Kakak gak usah ke angkringan. Tadi Mama berpesan seperti itu."


"Kenapa....?"


"Karena Mama bilang, Kakak lagi sakit."


"Tapi, Kakak nggak sakit kok. Kakak pengen ke angkringan biar tidak mumet pikiran," ucapku setengah memaksa.


"Memang pikiran Kakak kenapa sih Kak, kok bisa mumet? Kakak punya masalah ya sama suami Kakak? Soalnya Dina lihat sejak Kakak datang ke sini, Kakak seperti sedang ada masalah. Terus yang Dina heran, kalau tidak ada masalah nggak mungkin Kakak meninggalkan suaminya lama-lama."


Perkataan Dina barusan seakan menyindirku, namun aku tahu ABG satu ini tidak bermaksud demikian, hanya jiwa keponya sedang meronta-ronta. Pikirannya sudah jauh memikirkan masalah pernikahan. Kemarin saja Dina bertanya tentang Mas Elang itu galak atau tidak, sampai dia bilang tidak mau menikah dengan lelaki dewasa jika galak, lebih baik menikah dengan yang seumuran atau berondong. Dina... Dina... jiwa kepo tentang pernikahannya benar-benar alami.



Dan ini lagi, Dina bisa-bisanya mencurigai aku, jika tidak ada masalah kenapa juga aku tinggalkan lama-lama? Benar yang dikatakan Dina, sepupuku yang masih ABG ini kayaknya mengawasi pergerakan dan gestur tubuh aku. Sehingga dia bisa tahu kalau aku sedang ada masalah. Haduhhh... Dina benar-benar calon detektif cinta.

__ADS_1


__ADS_2