"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Pulang dari Rumah Sakit


__ADS_3

Back To POV 1 (Nada)


Dua hari sudah aku dirawat di RS, dan sekarang aku sudah dibolehkan pulang oleh Dokter. Mas Elang yang setia mendampingi selama aku dirawat nampak sedikit rona bahagia ketika aku sudah dibolehkan pulang oleh Dokter. Wajah yang biasanya tampan klimis dan segar itu, kini pucat dan tirus, guratan kesedihan nampak jelas walaupun berusaha memperlihatkan senyuman bahagia. Jelas semua itu hanyalah untuk menutupi rasa bersalah. Rasa bersalah atas kepergianku, dan ketika pulang mendapatkan aku dalam keadaan harus melewati perawatan di RS dan tiba-tiba mendapat kabar aku harus di kuret karena keguguran.


Shock dan kecewa pasti, namun mau bagaimana lagi? Manusia hanya merencanakan , namun tetap Yang Maha Kuasalah yang menentukan takdir kita. Aku mendesah membuang segala kesedihan hati yang seketika mendera. Mengingat kembali hal yang aku alami ini. Kehamilan yang aku inginkan, namun aku tidak sempat mengetahuinya. Padahal saat berada di Jogja aku sering merasakan sakit kepala dan mual, namun aku merasa yakin bahwa itu hanya sakit kepala biasa, dan reda setelah diberi minum teh jahe hangat.



Bahkan, saat tante Mirna menyarankan aku periksa ke klinik karena dia merasa heran sudah 3 kali melihat aku sakit kepala dan mual, aku menganggap itu sakit kepala biasa dan aku tidak menghiraukan saran dari tante Mirna. Seandainya saja saat itu aku langsung mengikuti omongan tante Mirna, mungkin saja aku lebih hati-hati dan menjaga kandunganku dari segala kemungkinan bahaya. Nasi sudah jadi bubur, menangis dan meratapi juga semua tidak akan kembali.



Aku masih menangis saat Mas Elang bersiap akan membawaku pulang dan membantuku menduduki kursi roda. Rasa nyut-nyutan di dalam perutku terasa saat tubuhku berdiri. Mungkin karena luka di rahimku belum kering.



Mas Elang membawaku keluar dari ruang rawat dan mendorong roda menuju parkiran mobil. Dengan telaten dan hati-hati Mas Elang memasukkan aku ke dalam mobil dan meletakkan kembali kursi roda di teras rumah sakit, kemudian Mas Elang menyusul dan masuk ke dalam mobil. Mobilpun mundur perlahan, kemudian maju dan keluar dari pelataran parkir Rumah Sakit Harapan Semua.



Aku menatap wajah Mas Elang dari sudut mata. Betapa aku terharu melihat kesetiaannya menunggu aku di rumah sakit, dan tiada lelah bulak balik ke apotek lalu ke ruangan, belum lagi ke ruangan Dokter lalu ke ruangan rawat lagi. Begitu besar pengorbanannya demi kesembuhan aku.



Kadang terlintas rasa sesal yang dalam, kenapa aku begitu egois dan pergi saat pertengkaran itu, hanya karena hatiku tidak merasa dibela dan diraba perasaannya oleh Mas Elang. Jika saat itu aku tidak pergi, maka aku tidak akan mengalami hal terpahit ini.



Aku membuang muka pelan saat Mas Elang akan menoleh ke arahku. Mas Elang merasa dimata-matai lalu ada senyum terbit di bibir tipisnya. Bibir yang selalu membuat aku terpesona. Aku langsung menenggelamkan wajahku dan menatap ke luar jendela.



Jika ingat kejadian yang tidak aku sangka dan aku alami ini, tiba-tiba aku sedih lagi dan air mata mengalir lagi. Sebetulnya aku sudah merasakan sakit kepala sejak di Bandara Adisujcipto, Yogyakarta. Dan saat di dalam pesawat ketika ada guncangan pesawat take off sama landing, di situ aku merasakan perutku keram-keram, namun aku menahan rasa sakit itu sampai di rumah. Dan setelah aku sudah berada di dalam rumah lalu mendapati Mas Elang dan Sya berada di taman belakang, tidak sengaja aku mendengar perbincangan mereka yang membuat hatiku makin teriris.

__ADS_1



"Sayang... sudah sampai!" seru Mas Elang mengejutkan aku yang sedang asik melamun. Aku kaget dan melihat sekitar, dan rupanya memang mobil Mas Elang sudah berada di depan rumah. Pak Nanang yang membukakan pintu gerbang saja tidak aku sadari.



Mas Elang turun dan memutar menuju pintu mobil yang aku duduki. Aku dipapahnya menuju pintu masuk. Di sana sudah ada Sya dan Bi Narti yang juga menunggu kedatanganku.


"Non Nada, Den Elang.... !" Bi Narti menyapa kami hormat.


"Bunda....!" disusul teriakan Sya seraya menghampiri ke arahku, namun Mas Elang dengan cepat mencegah Sya supaya jangan merangkul.


"Sya... jangan....!" pekik Mas Elang, seketika langkah kaki Sya yang tertatih tertahan diantara cekalan Bi Narti. Mas Elang segera membawaku ke atas menaiki tangga lalu menuju kamar.


Sya mengikuti dari belakang dibantu Bi Narti. Lalu ikut masuk juga ke dalam kamar, raut mukanya tidak berseri. Sya kemudian duduk di sofa kamar kami dengan muka yang cemberut. Mungkin karena tadi tidak dibolehkan Mas Elang untuk merangkulku. Terlebih lagi kaki Sya masih terlihat sakit saat melangkah tadi.



"Sya... sini sayang.... !" Aku mencoba mengajak Sya mendekat ke ranjang walaupun dengan suara yang masih lemah. Mas Elang menatapku seakan tidak mengijinkan, namun aku menggeleng tanda tidak setuju. Akhirnya Mas Elang membiarkan Sya menghampiriku.



"Sya... hati-hati... perut Bunda sakit!" tegur Mas Elang memperingatkan Sya.


"Memang perut Bunda kenapa....?" Rasa penasaran Sya belum berhenti.


"Bunda, habis kehilangan dede bayi. Jadi Sya harus hati-hati sama perut Bunda, jangan sampai memukulnya ya!" peringat Mas Elang. Sya mengerutkan keningnya masih menyimpan ketidakpahaman, maklum masih bocah, belum mampu mencerna semua apa yang orang dewasa katakan.


"Bunda kehilangan bayi, kenapa?" Sya masih memberikan pertanyaan.


"Tadinya, Sya akan punya adik. Tapi karena Allah masih sayang sama dede bayi, jadi dede bayinya diambil lagi sama Allah," ujarku menjawab pertanyaan Sya.


"Allah sayang dede bayi ya Bunda, kalau begitu Sya juga mau disayangi Allah, biar Sya diambil Allah....!" Ujar Sya kegirangan.

__ADS_1


"Sya....!" tegur Mas Elang seraya menggoyang-goyangkan telunjuknya, merasa tidak setuju dengan ucapan Sya. Karena Sya tidak paham maksud Mas Elang, Sya malah tersenyum bahagia bikin gemas.


"Sya... kalau dede bayi, cara Allah menyayanginya beda. Tapi kalau Sya mau disayangi Allah, maka Sya harus nurut sama Papa dan Bunda, belajar yang baik dan ibadah yang rajin, maka Sya akan disayang sama Allah kaaapan saja." Aku menimpali memberikan jawaban yang sekiranya dipahami Sya, walaupun pelan-pelan.



"Jadi, Sya harus apa supaya disayangi Allah, Bunda?"


"Kan tadi Bunda sudah bilang, kalau Sya ingin disayangi Allah maka Sya harus patuh dan nurut apa yang dikatakan Papa dan Bunda, harus rajin belajar, dan rajin ibadah dan banyakkk lagi," jelasku walau disertai ringisan sebab perutku terasa nyeri.


"Begitu ya Bunda....?"


"Iya, sayang. Ngomong-ngomong mana kaki Sya yang sakit? Apakah masih sakit?"


"Masih, sedikit Bunda," seraya memperlihatkan kaki kanannya yang sakit karena keseleo.


"Syanya jangan lari-lari dulu ya, biar sakitnya cepat hilang dan Sya bisa berjalan normal kembali," ujarku sembari meraih tangan Sya.


"Mas... kenapa Sya bisa sakit kakinya?" Aku bertanya dan berharap Mas Elang mau jujur tentang apa yang membuat Sya sakit di kakinya. Sebelum menjawab, Mas Elang nampak menghela nafasnya dalam, seperti enggan untuk berkata yang sebenarnya.



"Mayang... dia tiba-tiba datang ke sekolah Sya, dan memaksa membawa Sya ke dalam mobilnya. Saat Mas kejar dia sudah melajukan mobilnya, namun beberapa detik kemudian, tiba-tiba Sya terjatuh dari dalam mobil Mayang." Mas Elang bercerita mengenang kejadian saat Sya mengalami kecelakaan.



"Mas panik dan langsung membawa Sya ke RS. Dan saat itu benar-benar Mas sedang diuji bertubi-tubi. Kamu pergi, Sya kecelakaan gara-gara Mayang, dan kamu belum ketahuan keberadaannya. Mas stress memikirkan semua itu. Saat itu Mas seakan tidak ada sandaran. Namun saat Mas melihat siapa yang datang siang itu adalah kamu, saat itu dunia seakan kembali berpihak pada Mas, namun kebahagian itu kembali luruh bersamaan Dokter memberi kabar bahwa kamu hamil tapi keguguran," lanjut Mas Elang nampak sedih menatap kosong ke depan sambil berkaca-kaca.



"Jadi... wajah tirus dan badan Mas Elang kurus seperti ini, gara-gara memikirkan semua masalah itu?" Aku menatap lurus wajah Mas Elang yang kini menatap tajam wajahku tajam. Aku tersipu malu, bagaimanapun ditatap tajam seperti itu aku tidak mampu menahannya. Mas Elang malah tertawa melihat aku kalah dalam adu tatap untuk yang ke beberapa kali.


__ADS_1


"Iya... salah satunya yang paling menyita Mas adalah kepergian kamu. Maka untuk itu, Mas mohon jangan pergi-pergi lagi," peringat Mas Elang sembari mencubit hidungku membuat aku geli.


__ADS_2