
Mas Elang memelukku dengan erat dari belakang. Dan debaran jantungku sampai terdengar detakannya. Mas Elang menyadarinya sehingga aku merasa malu.
"Kenapa jantung ini berdetak kencang?" Mas Elang berujar sambil meletakkan tangannya tepat di dadaku yang semakin berdebar. Aku malu rasanya mukaku terasa panas dan memerah seperti kepiting rebus. Ahh... rasanya ingin pergi dari tempat ini. Aku merasakan pertemuan ini seakan flashback ke masa saat pertama kali bertemu dengan Mas Elang dulu. Debaran jantungku saat itupun sangat kencang.
Mas Elang semakin mengeratkan pelukannya, kepalanya dia tenggelamkan di tengkukku sehingga aku merasa geli. Lalu tangannya meremas kedua tanganku dan menggosoknya sehingga rasa hangat kini mulai aku rasakan. Kini kedua tangannya melingkar di pinggangku, aku terkunci oleh kungkungannya. Tiba-tiba sebuah kecupan hangat mendarat di pipi kiriku pelan dan lama lalu menuju bibirku dengan posisi masih seperti tadi. "Aduh....!" kejutku!
Pelan namun pasti Mas Elang merubah posisi tubuh kami, aku dibaliknya sehingga kami saling berhadapan. Lalu mata Mas Elang memindai seluruh wajahku, aku jadi sangat malu. Tanpa menunggu lama wajah itu semakin dekat dan debaran jantung ini semakin cepat. Ciuman itu mendarat tepat di bibirku kembali dengan posisi wajah saling berhadapan. Mas Elang mengecupnya lama seakan menunggu respon dariku. Akupun semakin terbuai sehingga ciuman itu kini saling berbalas.
"Kita lanjutkan aktifitas ini di kamar, di sini dingin. Tidak baik untuk kesehatan kamu," ujarnya serak seraya mencubit kecil hidung bangirku. Mas Elang menuntunku pelan, membawaku ke kamar kami. Namun sebelumnya Mas Elang mengunci dulu pintu kamar Sya dan mematikan lampu, diganti dengan lampu meja yang remang-remang.
"Ayo sayang..., Mas sudah kangen?" ucapnya sambil membuka pintu penghubung kamar lalu menguncinya. Pintu ini akan dibuka kuncinya jika kegiatan panas kami selesai. Aku sudah menduga apa yang akan terjadi, hasrat Mas Elang semakin menggebu dan segera membawaku ke atas ranjang.
"Minumlah dulu....!" titahnya tanpa ku bantah. Dan pertautan kami malam ini terjadi begitu dahsyat, Mas Elang memintanya sampai dua kali dan tenaganya semakin prima dan kuat. Kami terkulai lemas saat sama-sama merasakan sebuah kenikmatan. Mas Elang menatapku lekat lalu menautkan kembali bibir kami. Aku sungguh bahagia, malam ini benar-benar merasakan cinta Mas Elang lebih besar dari biasanya.
"Makasih sayang... malam ini kamu hebat, rasanya seperti saat pertama kali kita melakukannya. Kamu begitu menggairahkan tidak pernah mengecewakan. Mas mohon, jangan pergi lagi dari Mas seperti yang kamu lakukan kemarin," ucapnya berterimakasih dan memohon. Lalu mengecup kedua mataku dengan lembut. Betapa aku semakin mencintainya walau kadang Mas Elang tiba-tiba menyakitiku secara verbal.
Hari berlalu, hari ini merupakan hari kelulusan Sya dari TK Bahagia. Pihak sekolah mengundang para wali murid untuk menghadiri acara kelulusan. Kali ini aku yang akan mendampingi Sya di hari kelulusannya, aku bahagia sekali diijinkan Mas Elang untuk menghadiri acara kelulusan Sya.
__ADS_1
Dan saat moment pembagian raport dan piagam kelulusan serta sebuah penghargaan mulai dibacakan, aku sangat terharu saat Sya dinyatakan sebagai murid yang paling teladan. Aku dan Sya kehadapan semua murid dan para orang tua, ada sebongkah bahagia di dalam dada mengingat bahwa Sya adalah bukti anak korban perceraian namun mampu berprestasi di sekolahnya.
Prosesi pembagian raport dan penghargaan sudah selesai, kini kami para orang tua saling berfoto dan bercengkrama sejenak dan membicarakan kemana anak-anak akan melanjutkan SD. Sya nampak sangat gembira, seraya berlari kecil Sya menghampiri mobil Mas Elang.
"Papaaa....!" jeritnya seraya menubrukkan tubuhnya di dada bidang Mas Elang yang menyamakan tinggi tubuhnya dengan Sya. Mas Elang meraih Sya dan dipangkunya lalu dibawanya masuk mobil. "Anak Papa hebat... dapat penghargaan murid paling teladan. Nah... sebagai hadiah karena Sya telah berprestasi maka hari ini Papa akan ajak Sya makan siang di restoran kita," puji Mas Elang seraya memberikan *privillege* berupa makan di restorannya. Sya senang hati dia bersorak dengan bahagia. "Asikkk... kita makan di restoran Papa," teriak Sya bahagia.
Tiba di restoran yang dimaksud, kedatangan Mas Elang langsung disambut baik oleh para pegawai. Jelas, Mas Elang bosnya di restoran itu. Jadi semua pegawai hormat dan patuh. Sya sangat gembira dan tidak henti-hentinya berceloteh bahagia.
Semua menu istimewa restoran ini hampir semua dikeluarkan. Kami makan dalam suasana yang gembira. Namun tiba-tiba saja saat kami menikmati hidangan yang ada , seseorang yang kami kenal datang dan menatap tajam ke arah kami. "Mbak Mayang....!" gumanku.
"Mayang... apa-apaan kamu? Pergilah jangan ganggu kebahagian kami, dan jangan bikin keonaran di sini. Jika kamu masih lakukan maka aku jamin Sya malah semakin muak denganmu!" ucap Mas Elang geram dengan suara yang berusaha direndahkan, tatapan elangnya yang tajam menyiratkan kemarahan yang besar.
"Aku hanya ingin ikut berbahagia atas kelulusan Sya, aku juga Ibu kandung Sya. Harusnya aku yang ada disini bukan dia, dia hanya ibu tiri," tunjuknya padaku dengan mata melotot, melihat seperti itu Sya sampai ketakutan. Aku langsung menghalangi mata Sya dengan tubuhku supaya tidak melihat wajah murka Mbak Mayang. Mas Elang langsung menarik tangan Mbak Mayang dengan kasar menuju belakang restoran.
"Sayang... urus Sya....!" ucapnya kepadaku seraya menarik tangan Mbak Mayang. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya Mas Elang katakan pada Mbak Mayang.
Aku berusaha meredakan ketakutan Sya dengan mengajaknya makan, aku tuangkan segera Cumi asam manis yang tadi dia mau. "Ayo sayang makan dulu....!" bujukku.
__ADS_1
"Tapi, Sya mau sama Papa... kenapa Papa malah pergi bersama Ibu yang galak tadi?" rengek Sya masih merajuk karena ingin makan bersama Mas Elang. "Papa ada urusan dulu sama Ibu itu, sebentar kok!" bujukku lagi.
Pov Author
Elang menarik tangan Mayang dengan kasar, membawanya ke belakang restoran lalu menghempasnya.
"Mau apalagi kamu menampakkan batang hidungmu di depan kami, sudah cukup kami kau buat sengsara saat kamu tinggalkan dulu. Pergilah, jangan menuntut apapun. Sungguh aku muak melihat wajahmu. Ingat ya, jangan kamu ganggu kami lagi," tegas Elang geram, matanya merah penuh kemurkaan.
"Bisa-bisanya kamu kasar sama perempuan yang telah melahirkan anakmu, ini pasti gara-gara perempuan itu. Aku punya hak atas anakku Elang, jangan kau larang. Dan jangan kau buat anakku malah menjadikan perempuan itu seperti ibu kandungnya, aku tidak terima," sungutnya sama geramnya seperti Elang.
"Tidak akan aku biarkan kamu menemui Sya lagi, dia sudah lupa siapa dirimu. Ini karma bagimu, dan jangan membalikkan karma itu dengan menuding istriku sebagai gara-gara dari semua ini, dia masuk dalam hidupku setelah rumah tangga kita hancur, dan yang menghancurkannya kamu sendiri, kamu bawa lelaki lain dalam rumah tangga kita. Ingat itu! Selamanya akan terekam jelas dalam ingatanku. Maka aku tidak akan pernah melepaskan Sya untukmu," tandas Elang keras.
"Ayolah Elang, coba sedikit rendahkan suaramu. Bukankah dulu kamu begitu sangat mencintai aku, aku rindu akan masa-masa kita dahulu. Bagaimana kalau kita mengulang masa itu, kita kembali rajut kebersamaan kita dan membesarkan Sya bersama!" rayu Mayang seakan-akan percaya diri.
"Cuih... aku tidak akan menjilat ludahku sendiri yang telah jatuh ke lumpur, karena itu sangat menjijikkan. Dan jangan pernah kamu bayangkan itu, karena pantang bagiku kembali pada penghianat. Sekarang kamu dengan mudah mengatakan ingin merajut kebersamaan kita seperti dulu, itu hanya hayalanmu," hardik Elang menggebu-gebu.
"Kamu jangan munafik Elang, kamu pasti masih terkenang masa-masa indah kita, bukan? Jadi ayolah, kita kembali rajut kebersamaan kita, demi anak kita."
"Apa...? jangan mimpi di siang bolong. Tidak sadarkah kamu Mayang, setelah kamu pergi dengan selingkuhan kamu dan kamu ditipu habis-habisan, bukankah kamu sudah menikah lagi dengan suami yang kaya raya itu. Bukankah harta kekayaan yang menjadi tujuan kamu selama ini, sekarang kamu meminta kita merajut lagi masa-masa yang lalu. Atau jangan-jangan karena kamu tidak bisa punya keturunan lagi, lantas kamu maksa-maksa ingin kembali pada kami. Tidak... jangan harap aku bisa memberikan Sya padamu!" tegas Elang.
__ADS_1
"Huhhh... kamu bisa bicara seperti itu sekarang, tapi lihat saja nanti. Kamu akan menyesal Elang. Akan aku hancurkan kamu sehancur-hancurnya, hancur bersama istri barumu!" ancamnya seraya berjingkat dan pergi meninggalkan Elang yang masih diliputi amarah.