"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Mencari Nama Bayi


__ADS_3

"Aduhhhh, awww, ahhhh.... " Nada mengaduh dan mengerang di dalam kamar mandinya. Perutnya pagi ini terasa sangat sesak. Saat ini Nada sedang membersihkan diri di kamar mandi setelah pergulatannya semalam dengan Elang. Suaminya itu sejak usia kehamilan menginjak tujuh bulan memang tidak minta tiap hari untuk hubungan. Kadang hanya tiga kali seminggu. Elang pengertian dengan kondisi Nada yang sering keram di perut, dia mengalah tidak terlalu intens minta jatah setiap hari.



Nada bukan tidak kasihan melihat Elang merengek meminta, demi kebaikan sang jabang bayi dan dirinya, terpaksa Nada banyak menolak permintaan Elang. Namun semalam Nada tidak mampu menolak melihat Elang memelas dan sedih. Dan akhirnya terjadilah pergumulan itu. Tapi hasilnya, seperti inilah yang dia rasakan. Mengaduh dan mengerang karena keram di perut.



Nada mencoba duduk di toilet untuk meredakan rasa keram dan tidak enak pada perutnya. Beberapa menit kemudian rasa tidak enak itu sedikit berkurang. Nada segera membilas tubuhnya dengan shower air hangat di kamar mandinya. Saat membilas dan mengusap perutnya, sebuah tendangan berkali-kali dia rasakan di perut bagian kiri dan kanannya.



"Bersabarlah, Sayang. Kurang dari sebulan lagi kamu akan lahir ke dunia, melihat Mama, Papa dan Kak Sya. Kita akan berkumpul dan bergembira. Jadi kamu harus bersabar." Nada bicara pada bayinya sembari mengusap-usap.



"Sayanggg, tidak terjadi apa-apakah di kamar mandi sama dirimu? Mas khawatir, karena kamu belum keluar!" teriak Elang dari kamar. Nada tidak menjawab, dia segera menuntaskan mandinya dan segera menggunakan handuk piyamanya.



Nada keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih membungkus kepalanya.


"Sayang, kok lama?"


"Tadi, perut Nada sempat keram dan rasa tidak enak menjalar di sekujur pinggang, Nada dudukkan dulu di toilet untuk meredam sakitnya," jawabnya seraya duduk di depan cermin riasnya.


"Tapi sekarang sudah tidak keram lagi kan, Sayang?" tanya Elang seraya ingin merangsek memeluk dan mencium pipi Nada.


"Mas, jangan peluk! Nada masih punya wudhu." Terpaksa Elang patuh dengan tolakan Nada. "Sana, ke kamar mandi dan bersihkan badan Mas Elang," titah Nada. Elang patuh dan menuju kamar mandi.


"Mas, hari ini jadwal terakhir diperiksa di Bidan Dina, kan? Nanti pulang dari Bidan Dina kita jalan-jalan dulu di taman kota ya?" Nada menatap Elang yang kini sedang mengirim pesan WA kepada seseorang lalu duduk di sampingnya dengan kepala disenderkan di bahu Elang. Sungguh ini posisi ternyaman berada dekat suaminya. Bermanja-manja dan kadang ingin diusap perutnya.



"Iya, nanti ya sore sesuai jadwal," balas Elang sembari mencium pipi Nada gemas. Elang tahu akhir-akhir ini dikehamilan Nada yang memasuki bulannya, Nada semakin manja dan menggemaskan. Tiba-tiba saat seperti ini, hujan turun disertai angin yang masuk ke dalam jendela.



Elang berdiri menuju jendela dan menutup jendela rapat-rapat, kemudian berlari menuju kamar Sya. Memeriksa Sya yang tadi tengah ditidur siangkan oleh Bi Ijah.



"Bi, temani dia sampai benar-benar nyenyak, di luar hujan, saya takut ada petir." Bi Ijah yang masih di dalam kamar Sya, mengangguk patuh atas perintah Elang. Elang memerintahkan demikian, sebab kalau saat hujan dan ada petir, Sya harus ditemani seseorang supaya saat ada petir tidak shock dan ketakutan.



Elang kembali ke kamar dan menghampiri Nada. "Sayang, di luar hujan angin. Alangkah baiknya kita tidur siang, Mas kebetulan ngantuk nih." Elang mengajak Nada tidur siang dan bergelung dengan selimut. Karena hari ini kebetulan hari Sabtu dan Elang tidak ada kesibukan padat di hari Sabtu.



Mereka kini berada di atas ranjang. Elang memeluk Nada dengan erat dengan posisi menyamping, sedangkan Nada berbaring telentang menghadap langit-langit rumah. Ahhh, sungguh jika tidak mengingat Nada sedang hamil besar dan tidak mudah keram sehabis hubungan, maka dipastikan saat ini Elang telah bersiap merangsek untuk menunaikan hasratnya. Namun sekarang dia harus bisa menahannya, demi kebaikan Nada dan bayinya.



"Mas, sebentar lagi bayi kita lahir, apa Mas Elang sudah menyiapkan nama untuknya?"

__ADS_1


"Mas belum ada nama yang pas, Sayang. Gimana kalau sekarang kita pikirkan sambil kita santai dan berbaring. Kamu siapkan nama lelaki dan aku siapkan nama bayi perempuan."


"Erlangga Rama Perkasa, apakah ini cocok buat bayi kita, Mas, jika dia laki-laki?" Setelah lama berpikir akhirnya Nada menemukan nama bayi laki-laki yang menurutnya cocok.



"Wahhh, bagus, Sayang, gagah dan penuh wibawa. Mas suka, tapi Mas masih memikirkan nama lain nih." Elang masih berpikir keras siapa nama yang pas dan cocok untuk bayi perempuannya kelak.



"Elana Syafa Perkasa, bagaimana? Kamu setuju tidak dengan nama bayi perempuan pilihan, Mas?" Elang memberi sebuah nama yang menurutnya sangat bagus untuk dinilai Nada.



"Bagus banget namanya, Mas. Tapi ada pilihan lain tidak selain Elana?"


"Ada, tapi menurut Mas itu ketuaan dan tidak pas. Tadinya Mas sudah ada referensi yaitu Elda, sama Eliana, tapi kalau Eliana terlalu melebar bukan singkatan Elang dan Nada lagi. Menurut kamu ada yang lebih bagus dari Elana?"


"Eliana terlalu melebar, Elda ketuaan, emmm apa ya?" Nada merenung memikirkan nama yang pas untuk bayinya jika perempuan.



"Apa dong, Sayang, lama amat sih. Kalau lama Mas cium nih." Elang benar-benar mencium bibir Nada yang mencong-mencong sambil mikir. Nada kehabisan nafas, sebab Elang menciumnya penuh semangat.



"Emmm ... lepaskan dulu!" pekiknya seraya mengeluarkan nafas banyak-banyak karena hampir kehabisan nafas gara-gara dibungkam bibir Elang. "Biarkan Nada berpikir dulu," tahannya. Elang kecewa dengan berontaknya Nada melepas pagutan bibirnya.



"Pengen cium dong, Sayang. Mas kangen nih, apalagi berdekatan begini." Nada ketakutan, dia sedikit menjauh dari tubuh Elang.




"Apa-apaan sih, Sayang, sampai dihalangi guling segala? Mas cuma cium saja, bukan mau minta jatah. Mas tidak akan katakan jika kamu masih menjauh," Elang balik merajuk dan tidak mau mengatakan apa arti dari nama bayi perempuan yang dia pilih itu.



Akhirnya karena melihat Elang yang berubah seperti bayi, Nada perlahan mendekat dan menggeser tubuhnya mendekati Elang. Dan tanpa gerakan lambat Elang menangkap tubuh Nada dengan posisi yang benar-benar nyaman, sehingga Nada tidak bisa berontak keluar lagi.



"Diam, atau Mas melakukan hal lain selain memeluk dan mencium bibirmu." Nada menyerah dan takut akan ancaman suaminya itu, yang terlihat semakin tampan dan seksi jika pura-pura galak begini. Akhirnya Nada malah memeluk erat tubuh Elang supaya hasrat liar suaminya tidak berontak.



"Jangan terlalu erat, Mas tidak bisa nafas, Sayang!" peringatnya..


"Ayo, dong, Mas, katakan arti nama anak perempuan yang Mas Elang pilih itu?" Nada semakin penasaran.


"Baiklah, Elana itu gabungan nama depan kita yaitu Elang dan Nada, sementara Syafa artiny suci atau kemurnian. Mas berharap bayi perempuan kita Elana Syafa Perkasa menjadi bayi yang bermanfaat bagi orang di sekitar kita," jelas Elang begitu serius, dan Nada terharu mendengarnya.


__ADS_1


"Ya Allah, bagus banget Mas arti anak perempuan kita," ucap Nada menatap wajah Elang dekat-dekat seakan menantang Elang untuk menciumnya. Elang tidak perlu menunggu lama, dengan cepat dia menyambar bibir manis istrinya, dirasakan dan dinikmati sampai Nada ikut terbawa suasana. Dan keduanya saling membalas dengan rasa bahagia.



Hujan di luar masih lebat, suara desir angin saling bersahutan, membawa suasana semakin romantis. Namun keduanya hanya saling berpagut dan memeluk karena hujan kali ini membuat cuaca semakin dingin.



"Selimutnya jangan sampai tidak menutupi kaki, Mas dingin banget nih," ujar Elang menggigil menunggu Nada membenarkan selimut di kaki.


"Cepat, Sayang, masuklah! Mas kedinginan kalau tidak memeluk kamu." Akhirnya Elang dan Nada siang itu benar-benar tidur berdua berpelukan diiringi hujan lebat di luar sana.


Malam menjelang, waktu yang telah ditentukan untuk periksa kehamilan ke Bidan Dina tiba. Ini menurut Bidan Dina adalah pemeriksaan terakhir. Elang dan Nada bersiap. Sya juga sudah siap dengan gagahnya. Dia bahagia banget mengantar ibu sambungnya periksa kehamilan.



Namun hujan yang sejak siang tadi turun rupanya masih awet. Elang nampak bingung, sebab hujan kali ini disertai desir angin. Ditambah Sya pengen ikut, rasa khawatir Elang bertambah.



"Mas gimana ini, hujannya masih turun?" Elang bingung mendapatkan pertanyaan seperti itu.


"Sabar, Sayang sebentar lagi. Kalau masih turun kita paksakan saja. Berdoa saja tidak akan terjadi hal buruk apa-apa."


"Ihhh, Mas ini malah menakut-nakuti,"


"Mas, tidak menakuti. Hanya bicara fakta dan berdoa minta tidak terjadi apa-apa," sanggah Elang.


"Ayo, ini hujannya hanya gerimis, kita berangkat saja," ajak Elang meraih lengan Nada mengikuti Sya yang sudah antusias duluan.



"Tapi, Mas, anginnya kencang." Nada menahan langkahnya.


"Tapi kalau tidak sekarang, hujan nanti malah lebih besar lagi. Ini pemeriksaan terakhir, Sayang. Mas rasa inj tidak berbahaya, sebab jalan menuju Bidan Dina tidak melalui pohon besar. Menurut Mas sih, Insya Allah aman," ujar Elang sedikit bikin hati lega.


"Ayo, Bunda, kita pergi! Ini hanya desiran angin saja, tidak bahaya," ujar Sya yakin dengan cara ngomong yang sangat lucu.


"Ahhh, Sya, sok tahu kamu sayang. Bunda khawatir kalau di jalan licin dan angin menimpa pohon besar," Nada masih merasa khawatir dengan hujan yang masih gerimis disertai angin.


"Jangan khawatir Bunda, kata Papa tadi jalan menuju ke rumah Bidan Dina tidak ada pohon besar, jadi kemungkinan tidak bahaya," ujar Sya panjang ingatan.


"Iya, Sayang, Insya Allah aman. Ayo, cepat mungpung hujannya sedikit reda." Elang mendahului Nada dan Sya menuju mobil. Bi Narti. dan Bi Ijah menghampiri Nada dan. Sya menyiapkan payung.


"Ayooo! Bi Ijah, Bi Narti, antar Sya dan istri saya menuju mobil?" teriak Elang. Bi Ijah dan Bi Narti sigap dan memayungi Nada dan Sya menuju mobil. Sya dan Nada berhasil masuk mobil. Setelah itu Elang menyalakan mesin mobil, keluar gerbang dan membelah jalanan komplek perumahan itu. Mobil pun melaju menuju rumah Bidan Dina buka praktek.



"Hujan gerimis masih turun, setelah dari periksa dede bayi, kita makan baso di Mas Ojolali ya, Pah," celoteh Sya di saat Elang tengah serius nyetir. Nada tertawa kecil mendengar celetukan Sya yang ingin makan baso setelah dari Bidan Dina.


"*Jadi ada udang di balik batu nih ceritanya*," bisik Nada dalam hati diiringi senyum.



"Papa baru nyadar, itu sebabnya Sya semangat banget ingin Bunda pergi periksa dede bayi ke Bidan Dina, rupanya Sya pengen makan baso Mas Ojolali, ya?" Elang menatap Sya sambil tersenyum menatap bocah tampannya.

__ADS_1


"Sya, Sya, pintar mirip Papah." Elang ketawa bangga terhadap tingkah Sya yang menggemaskan.


Mobilpun tidak lama dari itu sampai di depan rumah Bidan Dina. Mereka semua turun dan memasuki ruang tunggu di rumah Bidan Dina


__ADS_2