"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Tangisan dan Penyesalan Nada


__ADS_3

Nada keluar dari kamar mandi dengan baju yang sudah diganti. Matanya memendar mencari sosok Elang, namun tidak nada. Tidak berapa lama Nada mencium aroma asap rokok yang menyengat dan membuatnya pusing kepala. Nada mencari dari mana asal aroma asap rokok itu. Saat Nada menoleh ke arah balkon, rupanya dari sana asalnya. Nada melihat Elang menatap langit, lalu sesekali mengisap batang rokok dan asapnya sengaja dia permainkan ke udara.



Debaran jantung Nada semakin kencang, tubuh atletis, tinggi, yang sedang membelakanginya itu seolah melihat ke arahnya. Bergegas Nada mengambil mukena yang berada di atas lemari, lalu melaksanakan sholat Maghrib yang hampir habis. Dalam sholatnya Nada tidak mendapatkan khusu, pikirannya bercabang memikirkan sikap Elang yang tiba-tiba dingin. Tentu saja Nada menyadarinya, ini semua ada kaitannya dengan dia yang ketahuan tengah ngobrol dengan lawan jenis. Selama ini Elang memang tidak suka Nada berbicara dengan lelaki lain.



Belum kelar sholatnya, suara pintu keluar balkon berbunyi secara perlahan. Walau perlahan, namun mampu menggugah rasa peka di telinga Nada. Dua menit kemudian Nada mengakhiri sholatnya.



Saat melipat mukena untuk disimpan kembali, Nada merasakan dadanya sesak, perasaannya juga tidak enak. Nada menduga Elang berada di ranjang, padahal Elang keluar dari kamar. Nada tidak tahu apa yang sedang dilakukan Elang. Namun saat matanya mencari lagi sosok yang kini sedang ditakutinya, rupanya Elang tidak berada di ranjang. "Kemana Mas Elang?" tanyanya dalam hati.



Namun kemudian suara pintu kamarnya dibuka, dan muncullah sosok Elang. Nada menghampiri dan bermaksud mencium tangan Elang namun Elang menghindar.



"Aku mau bicara, perihal kejadian yang aku lihat tadi di pesta pernikahan kolegaku," Elang berbicara langsung pada intinya tanpa basa-basi. Nada kini terlihat pias menyimpan rasa takut. Begitulah jika dia merasa bersalah, maka Nada akan memperlihatkan reaksi yang risau dan pias.



"Aku kecewa dengan kamu, bukan saja kecewa karena kamu ngobrol berdua dengan seorang lelaki yang entah siapa, namun ada yang lebih membuat aku kecewa selain itu." Elang menjeda bicaranya sesaat. Sementara Nada bertanya-tanya dalam hati, kesalahan lain apa selain dia ngobrol dengan Nadie teman masa kecilnya yang membuat Mas Elang marah dan kecewa?


__ADS_1


"Selain tidak bisa menjaga kehormatan saat ditinggalkan suami sejenak, ada yang lebih parah dari itu dan itu menyakiti hatiku." Elang berhenti lagi dan mengatur nafasnya. Sementara Nada menduga-duga kesalahan apa lagi yang dia buat sehingga Elang berbicara seperti itu? Menyakiti hatinya? Nada mana sanggup menyakiti Elang secara sengaja.



"Kamu rupanya sudah tidak lagi menganggap mamaku ada, padahal dia ada di depan matamu. Kamu berpura-pura tidak melihatnya dan berjalan begitu saja. Dan yang sangat keterlaluan dan ini menyakiti hatiku, saat kamu kembali dari toilet, kamu sengaja berbelok demi menghindari Mama. Tapi kamu justru ngobrol sama lelaki lain."



Jantung Nada seketika seakan berhenti berdetak, gelagatnya tadi menghindari ibu mertuanya rupanya diketahui Elang. Nada bingung apa yang harus dia katakan dan memberi alasan.


"Nada... tidak sedang menghindari ibu, Mas. Saat itu setelah dari toilet Nada merasa mual dan ingin makan es krim sama sop buah!" Nada memberi alasan sambil menunduk, suaranya sedikit bergetar menyimpan ketakutan.


"Bohong... aku tahu kamu sedang berbohong! Alasan yang dibuat-buat! Kemana adab kamu terhadap orang tua, dan itu Mama aku? Kamu itu terlalu egois, membiarkan dendam dan sakit hati merasuk dalam dirimu. Padahal aku sudah memberi kalian kesempatan dan ruang supaya saling introspeksi, tapi apa yang aku lihat, justru kamu seperti seorang yang pedendam," sangkal Elang penuh penekanan sehingga membuat Nada tidak berkutik lagi. Memberi alasan lainpun percuma, sebab Elang sudah percaya bahwa dirinya sengaja menghindari mertuanya.



Nada makin sesak dia merasa tertekan, sehingga air mata yang sedari tadi ditahan kini mengalir deras di pipinya. Nada akui semua perkataan Elang benar, trauma dan dendam seakan merasuki dirinya ketika tadi secara tidak sengaja melihat ibu mertuanya di pesta pernikahan kolega suaminya.




Nada juga menyesal, mengapa nasihat bapaknya tidak dia pakai untuk selalu menghormati ibu mertuanya walaupun ibu mertuanya menyakitinya. "*Kalau ibu mertuamu* *menghina atau menyakitimu, biarkan saja. Tetap* *hargai dia. Bagaimanapun dia adalah ibu dari* *suamimu*!" Kata-kata bapaknya kini terngiang-ngiang di telinga Nada, jelas dan terasa nyata. Kenapa Nada tidak mengikuti nasihat bapaknya yang jelas-jelas benar? Nada sangat menyesal.



Tiba-tiba Nada berlari dan bersimpuh di kaki Elang. Dia sungguh menyesal telah menghindari ibu mertuanya tadi. Padahal apa susahnya dia menegur atau menyalaminya.

__ADS_1



"Mas... Nada minta maaf, Nada salah. Nada akui Nada salah. Tapi semua itu Nada lakukan hanya semata-mata menghindari ibu supaya tidak berkata-kata yang tidak-tidak lagi di depan teman-temannya yang akan membuat Nada malu. Itu alasan Nada yang sebenarnya, Mas. Nada terlanjur takut jika ibu akan mencemooh Nada lagi. Nada mohon maaf Mas!" ucap Nada memohon dengan suara yang bergetar diiringi isak tangis. Nada berharap alasan Nada yang sebenarnya bisa diterima Elang.



Elang diam mematung seakan tidak mendengar apapun yang dikatakan Nada. Yang jelas perlakuan Nada tadi sungguh menyakiti hatinya. Nada dengan sengaja menghindari Bu Sri yang masih berada di kerumunan itu, dan Nada berbelok ke arah kanan untuk menghindarinya.



Elang melihat dengan jelas, ketika dirinya baru menemukan keberadaan Bu Sri beberapa meter darinya. Saat bersamaan, Elang melihat Nada dari arah toilet menuju arah meja yang tadi mereka tempati, itu menurut keyakinan Elang. Elang berharap Nada menegur Mamanya saat berpapasan tadi, namun dugaan Elang meleset, rupanya Nada berbelok setelah tahu Bu Sri masih ada di kerumunan itu.



Elang kecewa dan sakit hati terlebih Nada malah asik menemani seorang lelaki muda ngobrol. Rasa cemburu dan sakit hati seketika bersarang dalam dada. Elang sangat kecewa benar-benar kecewa.



"Tidak perlu minta maaf sama aku karena semua itu percuma, harusnya kamu minta maaf sama Mama. Aku sudah memberi kalian waktu yang lumayan lama untuk saling introspeksi diri. Dengan waktu 3 bulan tidak saling bertemu, aku pikir dalam hati kalian sudah bisa melupakan segala kekesalan dan sakit hati, namun dugaanku rupanya salah," tegas Elang sembari menepis tangan Nada yang memegang kedua lututnya.



"Mas, maafkan Nada Mas! Nada mohon, Nada sangat menyesal!" pinta Nada memohon namun Elang tidak mau mendengar. Lantas Elang berlalu menuju kamar Sya tanpa menoleh lagi Nada yang masih bersimpuh dengan suara tangis yang kini terdengar.



"Mas... maafkan Nada Mas....!" teriak Nada tidak terima ditinggalkan begitu saja tanpa kata maaf. Nada menghampiri pintu Sya, namun pintu sudah terkunci sehingga Nada tidak bisa membukanya. Nada kecewa dan menggelosorkan tubuhnya di balik pintu penghubung kamar.

__ADS_1



"Nada sungguh minta maaf Mas, Nada salah telah menghindari ibu. Nada sungguh menyesal!" lirihnya masih diiringi isak tangis.


__ADS_2