"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Sikap Ibu


__ADS_3

Tiba di RS, aku merasa ada rasa was-was yang menjalar dalam dada. Aku menarik nafas dalam sebelum memasuki ruang rawat ibu, hatiku terus berdoa semoga kedatangan aku tidak membuat ibu marah. Sebelum masuk ruang rawat Ibu, Mas Elang menitipkan dulu Sya ke Bi Inah dan dibawa jalan-jalan di taman RS.



Sejenak aku menahan langkah kakiku, namun Mas Elang menariknya pelan membawa aku masuk. Selangkah demi selangkah kakiku melangkah mengikuti Mas Elang. Jarak dua meter dari bed pasien aku berhenti dan menahan kakiku. Mas Elang mendekati ibu yang saat itu tengah tertidur.



Mas Elang menghampiri dan meraih tanganku lalu membawaku duduk di sofa ruang rawat ibu. Aku mencoba menenangkan hati dan pikiranku jikalau nanti ibu bangun dan melihatku.



"Sudahlah, jangan tegang begini!" ucap Mas Elang mencoba menenangkanku. Aku cuma diam seraya menyenderkan kepala di bahu Mas Elang.



Tidak berapa lama Perawat masuk ke ruangan ibu dan berniat memeriksa tensi darah ibu. Namun karena ibu sedang tidur, Perawat itu hanya memberi obat untuk diminum siang nanti.


"Saya permisi dulu ya!" pamit Perawat itu lalu keluar. Kami berdua mengangguk ramah pada Sang Perawat.


Tiba-tiba aku merasakan mual setelah beberapa detik Perawat itu keluar. Bau obat yang tadi dititipkan ke Mas Elang untuk Ibu, tercium oleh hidungku sehingga membuat aku mendadak mual dan ingin muntah. Aku berdiri dan membungkuk, lalu kedua tanganku menahan perut yang seakan tidak kuat lagi ingin mengeluarkan isinya.



Aku berlari kecil ke kamar mandi pasien dengan tangan kiri menahan perut dan tangan kanan menutup mulut. Di kamar mandi itu puas aku keluarkan rasa mual di perutku, namun hanya cairan bening yang keluar. Saking capenya, aku menyandarkan tangan di dinding kamar mandi dengan nafas terengah-engah.



"Kamu kenapa, sakit? Lama banget di kamar mandi?" tanya Mas Elang heran. Aku mengangkat kepala pelan, yang kini seakan berat setelah mengeluarkan rasa mual tadi lalu menatap lemah wajah Mas Elang.


"Nada mual Mas, tadi saat mencium bau obat yang diberikan Perawat, tiba-tiba perut Nada mual," jelasku jujur. Mas Elang mengernyitkan keningnya heran.


"Ya sudah, basuh lagi mulut kamu dan segera ke ruangan Mama," titah Mas Elang seraya ngeloyor duluan ke ruang rawat ibu. Aku keluar dari kamar mandi pasien yang berada dalam ruangan rawat ibu, lalu menghampiri Mas Elang serta duduk di sampingnya.



Kupandangi tubuh Ibu yang terbujur kaku, dengan deru nafas yang sedikit cepat. Hampir setengah jam, dan Ibu belum bangun juga. Kata Bi Inah tadi, Ibu semalam susah tidur sebab merasakan sakit kepala akibat tensinya yang naik lagi. Sekarang agak mendingan karena sudah diberi obat oleh Dokter. Mungkin efek obat, jadi ibu sangat ngantuk.



Aku sekilas melihat tangan Ibu yang bergerak-gerak, dan benar saja ibu bangun. Aku menoel lengan Mas Elang dan memberitahu bahwa Ibu sudah bangun.


"Mas, Ibu, Mas! Tangan Ibu bergerak-gerak, kayaknya Ibu bangun," beritaku seraya berdiri dan menarik lengan Mas Elang. Mas Elang langsung bangkit dan menghampiri Ibu.


"Ma... ini Elang, Ma," tegurnya. Ibu langsung merespon dan menatap wajah Mas Elang.


"El....!" serunya lemah.


"El, datang sama Nada, Ma," ucap Mas Elang memberitahu. Aku segera menghampiri Ibu dan bermaksud menyalami Ibu, namun tangan kiri Ibu segera berpindah ke atas perutnya seakan menepis. Aku sedikit terkesima melihat reaksi Ibu yang dingin begitu. Namun aku tidak habis akal untuk memberi perhatian sama Ibu setidaknya ini sedang sakit, masa iya aku ikut jutek juga.

__ADS_1


"Bu... bagaimana keadaannya sekarang?" tanyaku dan berharap dijawab oleh Ibu dengan baik. Namun Ibu belum menjawab, aku berpikir mungkinkah Ibu memang tidak bisa bicara seperti sebagian orang-orang yang terkena stroke parah? Mas Elang menatapku, seakan memberiku pengertian bahwa Ibu tidak mau bicara.



"El... di ma-na Sya?" tanya Ibu pelan tapi bukan terbata. Aku tiba-tiba tersentak, rupanya Ibu bisa bicara walau kedengarannya sedikit tidak bertenaga. Tadi saat aku tanya Ibu tidak menjawab, tapi kini dia bertanya tentang Sya. Mas Elang terlihat mengucap syukur, mungkin karena Ibu bisa bicara seperti biasanya, walaupun masih pelan.



"Sya, di taman Rumah Sakit, Ma. Dia diajak Bi Inah jalan-jalan melihat ikan di kolam, dan lagi Sya tidak tidak boleh dibawa ke dalam ruangan pasien," jawab Mas Elang.



"Nafas Mama sesak El, harusnya Perawat sudah memberikan obat untuk siang ini, apakah tadi saat Mama tidur ada Perawat yang datang?"


"Ada, Ma. Perawat memberikan obat ini yang sudah dibuka dari bungkusnya," jelas Elang.


"Nanti setelah makan siang, Mama akan meminumnya," Ujar Mama seraya membetulkan tangan yang diinfusnya. Aku merasa tidak enak dijadikan patung seperti ini. Lalu aku permisi pamit keluar bermaksud ingin menghampiri Sya. Biarlah di dalam ruangan ini Mas Elang yang ngobrol sama Ibu.



Tiba-tiba rasa mual di dalam perutku terasa lagi dan aku sepertinya tidak tahan dan ingin memuntahkannya. Aku segera menutup mulutku dan berlari kecil seperti tadi ke kamar mandi.


"Owek... owek....!" beberapa kali ingin aku keluarkan isi dalam perutku namun keukeuh tidak ada isi yang keluar, hanya cairan bening dan kini ditambah cairan kuning yang rasanya pahit.


"Apa jangan-jangan hasil tespek itu benar-benar akurat, dan aku sekarang hamil?" batinku bertanya-tanya.


Untuk sejenak aku termenung di dalam kamar mandi pasien, sambil membasuh mulutku yang tadi terasa pahit.


"El... Mama ingin dirawat di rumah kamu saja. Di rumah Mama tidak ada orang, Mama ingin tinggal di rumah kamu selama Mama belum sembuh benar," pinta Ibu memohon pada Mas Elang dengan suara yang masih pelan.



Seketika debaran jantung di dadaku entah kenapa tiba-tiba menjadi kencang. Hanya mendengar permintaan Ibu seperti itu saja, apalagi kalau yang lainnya. Dasar hatiku seakan tidak terima jika Ibu harus di rawat di rumah kami. Tepatnya rumah Mas Elang, aku kan hanya ikut numpang di rumah Mas Elang.



"Nanti, El bicarakan sama Nada ya, Ma. Sekarang Mama tidak usah memikirkan di mana nanti dirawat. El berharap pulang dari sini Mama langsung sembuh total dan tidak banyak pikiran," bujuk Mas Elang tanpa memberi keputusan dulu perihal permintaan Ibu. Rupanya Mas Elang masih membutuhkan pendapatku, istrinya. Dan aku masih dihargai sebagai istri.



"Nada di mana sih, Kak? Di kamar mandi kok lama? Ngapain dia?" gerutu Mbak Marisa tentang ketiadaanku di ruangan itu.


"Nada di kamar mandi, tadi dia mual-mual. Tapi sekarang entah apalagi. Aku tadi tidak melihat kenapa-kenapanya," jawab Mas Elang sembari fokus pada Ibu.


"Mual-mual? Wah... jangan-jangan Nada hamil. Tidak salah lagi nih....!" ujar Mbak Marisa kencang, sehingga Mas Elang terdengar memberi peringatan.


"Mar... bicaramu itu, pelankan sedikit! Ini rumah sakit lho dan ini ruangan pasien!"


"Ehehhehe... maaf, Kak. Habisnya Marisa penasaran sama keadaan Nada. Nadaaa....!"

__ADS_1


"Shuuuttt....!" sontak Ibu dan Mas Elang terdengar memberi kode untuk Mbak Marisa diam.



Untuk meredam kehebohan Mbak Marisa, aku segera menampakkan diri di hadapan mereka bertiga seraya tersenyum simpul.


"Mbak Marisa, kapan ke sini?" tanyaku basa-basi pada perempuan cantik dan enerjik di dekatku ini.


"Alhamdulillah, aku baik banget Nad. Lihat perutku tambah mancung. Kata Dokter kurang lebih 3 bulan lagi aku lahiran. Bayi perempuan lho sesuai keinginanku," ujarnya senang.



"Mbak Marisa sendiri?" tanyaku.


"Jelaslah sendiri, suamiku, Mas Ilham kan pekerja kantoran. Tidak seperti suami kamu yang super santai, kerjanya bisa santai," jawab Mbak Marisa seraya mendilakan mata ke arah Mas Elang.


"Kalian mau ngobrol di sini atau menengok Mama sakit, kalau mau ngobrol silakan keluar, kalau mau jenguk orang sakit, silakan tinggal di sini!" tegur Mas Elang pada kami yang sedang asik ngobrol. Sontak kami berdua diam.



"El... bilang sama Dokter Mama tidak mau lama-lama di sini. Mama mau dirawat di rumah saja," rengek Ibu lagi memohon.


"Nanti yang Ma, biar El tanyakan dulu ke Dokter kapan Mama bisa pulang dan boleh rawat jalan, kan kata Dokter kaki dan tangan kanan Mama kena stroke."


"Hahhhh... stroke... benaran, Wak?" kaget Marisa sambil menutup mulutnya.


"Iya, Mar. Mama kena stroke. Tapi masih bisa disembuhkan dengan jalan rajin terapi," akhirnya jawaban Mas Elang membuat semuanya lega termasuk aku. Meskipun kita sering bentrok aku lebih senang melihat Ibu sehat daripada sakit begini.


"Alah... Mar...! Kau ini... paling juga senang mendengar Uwa sakit stroke dan tidak bisa jalan. Iya kan?" tuding Ibu pada Mbak Marisa, walaupun pelan namun sinis.


"Ihhh... Uwa ini suudzon ya? Masa sakit saja masih berpikiran buruk sih!" cibir Mbak Marisa mencebikkan bibir bawahnya kesal.


"Ayo Nad... lebih baik kita keluar saja, daripada di sini, takutnya darah tinggi Uwa Sri kumat!" ajak Mbak Marisa seraya menarik lenganku.



"Mar... kamu mau ajak ke mana Nada? Kami sebentar lagi pulang, kasihan Sya kelamaan di sini," tegur Mas Elang menahan Mbak Marisa.



"Marisa mau ajak Nada ke warung makan, Kak. Di sini perut Marisa malah lapar!" sahut Mbak Marisa seraya menarik tanganku menuju pintu keluar, padahal aku mau pamit dulu ke Ibu dan Mas Elang.



"Nad... benar kamu tadi mual-mual?" tanya Mbak Marisa sambil mengunyah Es Buah yang tadi sempat dibelinya di warung makan depan rumah sakit.


"Iya, Mbak....!"


"Jangan-jangan kamu hamil Nad. Wajah kamu juga kelihatan sedikit pucat lho. Nih... makanlah dulu rujak yang aku beli tadi, pasti enak lho buat menghilangkan mual," ujar Mbak Marisa seraya memberikan streofoam yang berisi rujak. Dan anehnya aku memang ngiler dan ingin segera menyantapnya.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong di mana Sya ya? Kok di taman ini tidak ada?" tanya Mbak Marisa heran. Saat bersamaan Sya dan Bi Inah datang dari arah belakang taman rumah sakit.


__ADS_2