
Kami tiba di Taman Bahagia dengan perasaanku yang sedih dan kecewa. Masalah sepele mungkin bagi sebagian orang, tibang jalan-jalan sore di taman biasa saja dipermasalahkan. Bukan masalah jalan-jalannya di tempat biasa, namun perlunya komunikasi dan penjelasan diawal, itu yang lebih penting.
"Ayo, turun, kita sudah sampai!" seru Mas Elang mengajak kami turun. Aku sebetulnya tidak mau turun karena masih kesal. Namun demi menghargainya aku turun sambil menuntun Sya, aku ikuti Mas Elang.
"Kita cari yang sepi ya," ujarnya seraya mencari tempat sedikit sepi. Taman Bahagia merupakan taman yang sudah diketahui orang, jadi kebanyakan orang sering menjadikan tempat kongkow anak muda, orang tua, atau pedagang, semua kumplit di sini. Namun jika sore begini para pengunjung sedikit berkurang.
Beruntungnya kami menemukan tempat yang sepi dan kursi yang kosong. Kami duduk di sana.
"Ayo, Sya. Duduk disini, kita berfoto berempat sama dede bayi," ajak Mas Elang. Sya patuh dan aku juga demikian, Mas Elang menempatkan HPnya di depan kami dengan mode timer , lalu kami berfoto bersama. Mas Elang bergaya genit dengan mencuri ciuman di pipi kiriku, lalu tangan kirinya memegang perutku.
"Mas Elang menganggap kami berfoto ber-4, bersama janin yang aku kandung. Aku yang merajuk, terpaksa tersenyum bahagia di depan kamera HP Mas Elang.
" Ayo, Sya, siap-siap! Kita bersama bilang KELUARGA BAHAGIA ya. Sayang, bilang keluarga bahagia ya!" anjurnya seraya memberikan aba-aba kapan kami mulai mengatakan keluarga bahagia.
Kami mulai beraksi dan mengikuti arahan Mas Elang, sambil meneriakan kalimat KELUARGA BAHAGIA. Ada tiga pose yang diarahkan Mas Elang, lagi-lagi mencium pipi, kepala dan berdiri bersama.
"Sayang, pinginnya aku berfoto dengan pose mencium bibir manis kamu, nanti ya saat pulang kita lakukan berdua," bisik Mas Elang sambil menjawil daguku. Mas Elang kali ini benar-benar berlagak kocak, demi menghindari rajukku yang tadi.
"Duhhh ... rasanya cape benar deh. Papa mau cari minuman sama camilan buat Sya dan Bunda. Papa ke sebrang dulu ya, Sya. Tunggu sama Bunda di sini, Papa cari makanan ke sana dulu," ujar Mas Elang sambil menunjuk ke sebrang sana yang banyak tukang jual makanan.
Aku dan Sya duduk menunggu, sambil bermain lempar bola yang kebetulan ada di taman itu.
"Ayo, Sya, lempar lagi," ujarku sambil menengadahkan kedua tangan untuk menangkap bola. Lagi-lagi jatuh karena Sya kurang jauh melemparnya.
"Wahhhh ... jauh Sya, tumben jauh lemparannya, Sya keren," pujiku seraya mengacungkan jempol. Sya berlari kecil mengejar bola yang jauh lemparannya.
__ADS_1
Langkah kaki Sya terhenti saat seseorang mencoba menghentikannya.
"Bundaaa!" teriakan Sya terdengar ketakutan. Aku langsung menoleh. Aku segera menghampiri Sya yang kini sedang di kungkung seorang wanita dewasa.
"Sya ... kenapa?" Aku segera menghampiri keduanya untuk memastikan siapa perempuan dewasa itu. "Mbak Mayang ....!" desisku ternganga.
Aku segera meraih tangan Sya. Sya langsung bersembunyi di belakangku dengan perasaan takut.
"Bertemu lagi kita di sini, kebetulan aku ingin bertemu dengan anakku yang selama ini selalu dihalang-halangi Elang," ocehnya tidak benar. Wajar saja Mas Elang menghalangi Mbak Mayang untuk bertemu anaknya, cara Mbak Mayang saja selalu urakan dan kadang menyakiti.
"Sya, ini Mama, Sayang. Ayo kemari!" bujuk Mbak Mayang. Sya semakin ketakutan dan memegang ujung rokku.
"Kamu jangan halangi aku untuk bawa anakku, kamu tidak berhak," ucap Mbak Mayang marah. Aku terus berusaha melindungi Sya yang benar-benar makin ketakutan apalagi mendengar suara Mbak Mayang yang menjerit.
"Mbak, tolong bicaranya pelankan, di sini ada anak di bawah umur, yang belum pantas mendengar pembicaraan yang kotor atau kasar," peringatku.
Sepertinya Mbak Mayang bukan cuma ingin sekedar mengambil Sya saja, dia juga sengaja ingin menyakitiku yang tidak pernah punya masalah dengannya. Aku yakin semua kata-kata itu didapatnya dari Mbak Sonia. Mbak Sonia sungguh tega mempermalukan aku di depan orang lain dengan menyebar berita yang tidak benar tentang aku.
"Cukup Mbak, semua kata-kata Mbak tidak benar, dan saya mohon kecilkan volumenya!" peringatku sekali lagi walau perasaanku sudah tidak enak ingin menangis. Menangis karena kata-kata Mbak Mayang mengingatkanku kembali pada semua omongan kotor ibu padaku.
"Menjadi istri Elang tapi rugi banget kamu, aku dulu dikasih segalanya dan disayang sama mertua bodoh itu. Lihatlah kamu, cuma diajak jalan-jalan ke taman umum begini. Dulu aku ke luar negeri dan berbulan madu ke Maldives. Kamu pasti tidak tahu Maldives dimana 'kan?" cerocosnya tidak ingin kalah. Aku semakin tidak kuat mendengar ocehan ngawurnya kepalaku tiba-tiba pusing dan aku mencoba bertahan.
"Ayo, Sya, kita pergi dari sini," ajakku.
"Hei ... jangan pergi," tahannya seraya mengejar Sya dan menangkap tangan Sya. Aku terjengkang seketika sembari berteriak memanggil nama Sya.
__ADS_1
"Sya .... "
"Awww .... !" Aku memekik menahan perut dan tubuhku supaya tidak terjadi hempasan keras pada permukaan tanah.
"Sya, Nada ....!" jeritan Mas Elang seketika terdengar dan derap langkah beberapa orang terdengar menghampiri.
"Jangan kau sentuh Sya, aku haramkan kamu menyentuhnya," teriak Mas Elang kepada Mbak Mayang.
Mas Elang membantuku berdiri yang tadi sempat terhempas, untungnya aku bisa menahan hempasan itu tidak sampai benar-benar menghantam tanah. Lalu Mas Elang menghampiri Mbak Mayang yang kini sudah dicekal Mbak Mayang.
Tiba-tiba dari arah yang tidak diduga, seorang lelaki dewasa yang tidak asing bagiku datang menghampiri kami yang kini dikerumuni pengunjung taman.
"Mayang, ada apa ini?"
"Tuan Zul ....!" desisku pelan.
"Zulfikar," bisik Mas Elang juga.
Mas Elang dan aku terperanjat melihat kedatangan Tuan Zulfikar. Tuan Zulfikar heran melihat kejadian di depan matanya. Dia melihat Mbak Mayang yang sedang mencekal tangan Sya, sementara Sya memberontak kesakitan dan ketakutan.
"Urus istri kesayanganmu, jangan pernah lagi ganggu kehidupan rumah tangga orang lain. Kalau perlu kurung dia. Jika dia berani sekali-kali lagi mengganggu kehidupan rumah tanggaku, maka tidak segan-segan akan aku laporkan lagi pada pihak berwajib. Dan aku pastikan dia bakal membusuk di penjara," tandas Mas Elang penuh nada ancaman.
"Mayang ... lepaskan anak itu!" teriak Tuan Zul menggelegar. Mbak Mayang yang mendengar teriakan Tuan Zul, sontak melepaskan Sya dari cekalannya. Sya menghambur ke arah Mas Elang dan merangkul lalu menangis histeris di pelukan Mas Elang. Aku sedih melihatnya, Sya harus menyaksikan kembali drama orang tua yang ingin mengambil anaknya secara paksa. Kenapa Mbak Mayang tiba berusaha memintanya dengan baik-baik, semua pasti bisa dibicarakan.
Tuan Zulfikar menatap marah ke arah Mbak Mayang, lalu membawa Mbak Mayang pergi dari taman itu. Sebelum pergi, Tuan Zulfikar sempat meminta maaf terhadap Mas Elang.
__ADS_1
"Saya minta maaf dan saya mohon pamit," ucapnya tegas seraya menarik lengan Mbak Mbak Mayang.
Tinggallah kami bertiga menatap satu sama lain. Rasa marah saat tadi tidak jadi ke Danau Cinta kini sirna. Mas Elang menatapku penuh penyesalan karena telah membawa paksa kami ke Taman Bahagia, yang pada akhirnya menemui sebuah kekecewaan dan kemarahan.