"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Nada Masuk Klinik


__ADS_3

POV 3 (Author)


Elang terbangun tepat jam wekernya berbunyi. Saatnya mengantar Sya sekolah. Bergegas dia ke kamar mandi, membersihkan diri, dan segera berpakaian yang rapi. Hari ini dia akan mengantar Sya sekolah dan langsung ke restoran.


Elang menuruni tangga dengan tergesa, dia menduga sudah ditunggu Sya di meja makan. Sebelum ke meja makan, Elang menyempatkan diri melihat Ibunya di kamar. Bu Sri telah duduk di tepi ranjang dengan sisa setengah mangkok bubur yang tadi disantapnya.



Bu Sri sudah wangi dan cantik, sebab telah dimandikan Perawat.


"Pagi, Ma!" ucap Elang seraya mencium kening Bu Sri. Bu Sri tersenyum.


"El, mana istri kamu?" tanya Bu Sri berbisik. dan keadaan ini terasa tumben bagi Elang. Sejenak Elang mengerutkan keningnya. Dia heran kenapa Mamanya tiba-tiba menanyakan Nada istrinya yang pagi ini belum kelihatan.


"El, belum bertemu pagi ini, Ma. Kayaknya Nada di taman belakang sedang melihat bunga-bunga kesayangannya," jawab Elang menduga-duga.


"El, pergi dulu ya, Ma. El, mau antar Sya sekolah dan ke restoran sebentar." Elang kembali mencium kening Bu Sri dan berpamitan. Bu Sri mengangguk.


Keadaan Bu Sri sampai saat ini masih belum normal, hanya bicara yang sudah seperti biasa. Kaki dan tangan kanannya masih belum bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Perlu terapi yang rutin untuk bisa sembuh kembali. Setiap jam 10 pagi, Elang menghadirkan seorang Terapis yang sengaja didatangkan ke rumah, seminggu 3 kali.



Elang menuju meja makan, di sana sudah ada Sya dengan seragam sekolahnya. "Pagi sayang," sapanya seraya mencium kening Sya.


"Pagi, Papa," balas Sya dengan manis.


Elang duduk dengan mata yang bergulir mencari sosok istri yang dicarinya. Elang menyadari seminggu ini dia terlampau sibuk mengurus usahanya dan fokus ke Mamanya. Sehingga kesempatan bersama Nada begitu kecil. Saat malam, Elang sudah mendapati Nada tertidur pulas, dan dia tidak mau mengganggunya.



Malam tadi dia menunggu Bu Sri sampai tertidur. Sudah tiga hari Bu Sri selalu meminta ditemani Elang sampai menjelang malam, padahal Perawat selalu siap sedia membantu keperluan Bu Sri. Namun Bu Sri keukeuh pengen ditemani Elang. Sehingga tiba di kamar, Elang sudah benar-benar lelah tanpa bisa bercengkrama lagi dengan Nada, yang kini sangat dirinduinya.

__ADS_1



"Bunda, di mana, Sya?" Elang bertanya sambil menatap Sya yang pagi ini begitu tampan dan manis membuat Elang gemas dan semakin sayang.


"Sya, belum melihat Bunda, Pah," jawab Sya. Elang termenung. Dia merasa heran.


"Bi Ijah, kemana Bi Narti?" Elang bertanya pada Bi Ijah saat Bi Ijah menyiapkan sarapan pagi.


"Bi Narti mengantar Non Nada ke Klinik Sejati, Den," jawab Bi Ijah.


"Klinik Sejati, untuk apa?" heran Elang.


"Non Nada, tadi pagi terkapar lemas di lantai kamar, Den. Bi Narti dan Usep membawanya ke Klinik. Tadi, Bi Narti bilang mau dibawa ke Klinik Sejati," tandas Bi Ijah yang sukses membuat Elang mengkerutkan keningnya dalam.



"Ada apa dengan istri saya, Bi?"


"Ayo Sya, cepat sarapannya!"


"Bunda kenapa, Pah?"


"Bunda sakit. Ayo, habiskan sarapannya. Setelah mengantar Sya sekolah, Papa mau menemui Bunda di Klinik Sejati." Elang nampak sangat cemas dan khawatir akan keselamatan Nada dan janin yang dikandung istrinya.


Setelah menghabiskan sarapannya, Elang mengajak Sya naik mobil dengan tergesa-gesa. "Ayo, Sya."


"Papa, jangan tergesa-gesa menyetirnya. Sya, takut kita kecelakaan!" peringat Sya menohok ulu hati Elang. Benar sekali peringatan Sya, kalau dia tergesa-gesa maka ditakutkan terjadi kecelakaan. Elang patuh dengan peringatan Sya. Dia sadar tergesa-gesa dan rasa panik itu tidak baik.


Sya tiba di sekolah, Elang segera melajukan Pajiranya menuju Klinik Sejati yang disebutkan Bi Ijah tadi. Klinik Sejati tidak asing lagi bagi Elang, sebab di klinik itu Bidan Dina bekerja, setelah kemarin berhenti dari Rumah Sakit Harapan Kita.


__ADS_1


Hp Elang tiba-tiba berbunyi, rupanya orang dari PerkaSya Restoran yang menghubungi. "*Ada apa* *ini*?" batin Elang heran sekaligus kesal. Elang segera mengangkat panggilan tersebut. Dan rupanya panggilan itu dari Asistennya.



Terpaksa Elang mengurangkan niatnya menuju Klinik Sejati, mobil Pajiranya dia belokkan ke arah kanan di mana arah PerkaSya Restoran berada. Ada masalah yang harus ditangani langsung olehnya tanpa perantara orang lain, yaitu penandatanganan kerjasama dengan pihak Investor.



Pikiran Elang kalut, memikirkan Nada yang kini berada di Klinik Sejati, entah bagaimana keadaannya, dia belum tahu. Elang melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi, hari ini ada tiga hal yang harus bisa dia kejar, menandatangani kerjasama PerkaSya Restoran dengan pihak Investor, menjemput Sya, serta menemui Nada di Klinik Sejati.



Satu jam kemudian dengan kecepatan yang tinggi, mobil Elang sampai di PerkaSya Restoran. Elang segera turun dan memburu Investor yang sudah menunggu kehadirannya. Kerjasama pun dimulai, kedua belah pihak sama-sama menandatangi surat kesepakatan kerjasama. Elang bernafas lega dan kini bisa kembali dengan tenang.


Klinik Sejati


Nada terbaring lemah di Klinik Sejati dengan selang infus di tangannya. Nada harus diinfus karena keadaannya sangat lemah dan sudah kekurangan cairan, serta makanan yang masuk dalam perutnya tidak ada. Bidan Dina bilang sangat bahaya bagi bayi karena tidak ada asupan makanan dengan gizi yang seimbang, maka dari itu Nada sangat lemah. Beruntung janin dalam kandungannya masih bisa selamat.


Menurut Bidan Dina, Nada harus dirawat dulu paling cepat setengah hari dan paling lama sampai besok. Fungsi infus kali ini untuk menguatkan keadaan Nada yang lemah dan hampir kekurangan cairan. Nada masih bisa bernafas lega janinnya tidak kenapa-kenapa. Namun jika asupan gizi masih kurang, maka dikhawatirkan janin yang dikandung Nada akan kurang berat badan dan kekurangan gizi. Akibatnya bisa lahir prematur.



Siangnya Nada sudah terlihat seger dan bernyawa, Bidan Dina menghampiri seraya mengganti labu infus yang hampir habis dengan labu yang baru.


"Ini tinggal satu labu lagi, jika ini sudah habis maka Mbak Nada sudah boleh pulang. Bisa hari ini atau besok tergantung labunya habis," jelas Bidan Dina ramah.


"Kehamilan di trimester pertama memang banyak dialami sebagian ibu hamil. Namun tingkat mual muntahnya berbeda-beda, ada yang parah dan ada yang biasa-biasa saja. Yang terjadi pada Mbak Nada, termasuk yang sedang namun mendekati parah. Nah yang begini ini perlu kerjasamanya dengan pasangan, saling memperhatikan makannya, minum susunya. Jadi tidak hanya pihak istri saja yang inisiatif melakukan. Bapaknya yang buat juga harus perhatian pada istri. Sayangnya Pak Elang tidak ada di sini," ujar Bidan Dina panjang lebar, disela-sela mengganti labu infus pada tangan Nada.



"Terimakasih banyak, Bidan," ucap Nada masih lemah. Bidan Dina tersenyum bersamaan dengan selesai dipasangnya infusan di tangan Nada.

__ADS_1


__ADS_2