
Setelah selesai membersihkan luka di pelipisku, Bi Narti permisi keluar kamar. Lalu Mas Elang menghampiri. Derap langkahnya semakin mendekat. Aku memejamkan mata dan tidak mau membuka mata dan bertemu tatap dengan lelaki itu. Rasa kesalku padanya kini muncul kembali. Dan rasa sakit hati yang ditimbulkan ibu semakin terasa.
Mas Elang duduk ditepi ranjang seraya mengusap bahuku.
"Aku minta maaf atas yang terjadi hari ini, semua diluar rencanaku. Aku tidak tahu Mama akan berbicara seperti itu." Kata-kata maafnya seakan percuma, toh hatiku sudah sakit. Sakit oleh kata-kata ibu juga sakit hati atas sikap Mas Elang yang sok sok an ingin mendamaikan disaat hatiku belum lega. Dan buktinya apa, ibu yang dianggap telah berubah dan mau menerima aku dengan baik, tapi di belakang kami masih menyimpan benci dan tidak ikhlas menerimaku.
Aku masih diam dan enggan menyahut Mas Elang yang seolah-olah sedang membujukku.
"Bangunlah, kita makan malam dulu. Kalau kamu masih sakit kepala biar Mas yang suapkan," bujuknya seraya meraih bahuku yang berbaring membelakanginya. Aku masa tidak menyahut, kini air mataku malah jatuh. Terbayang kembali ucapan ibu di depan Bi Inah yang membicarakan aku dengan sebutan "wanita ranjang".
Rasanya tidak pantas seorang ibu mertua membicarakan urusan ranjang anak menantunya pada orang lain, terlebih ini pada Bi Inah ART di rumah ibu. Seakan-akan perbuatan kami itu merupakan sebuah aib.
Bahuku sedikit berguncang seiring tangis yang aku tahan, dan Mas Elang menyadarinya. Dia berusaha membawa tubuhku kedalam dekapannya, namun aku menahannya.
__ADS_1
"Sudah dong sayang, aku sudah minta maaf sama kamu atas perlakuan Mama. Dan aku juga tidak suka Mama memcemooh kamu di depan orang lain."
Ku tepis tangan Mas Elang yang berusaha menarik bahuku ke dekapannya, aku bangkit dan duduk di atas ranjang. Tatapanku berembun menahan bulir air mata yang siap turun.
"Pergilah Mas, biarkan Nada sendiri! Nada tidak butuh lagi kata maaf dari Mas Elang atas perlakuan ibu. Biarkan Nada selamanya sakit hati karena ulah ibu," tandasku bercucuran air mata.
"Aku minta maaf, sudah aku bilang maafkan aku. Aku tidak tahu bahwa Mama itu masih belum ikhlas menerima kamu dan masih tidak suka sama kamu. Mas hanya berusaha, dan Mas tidak menyangka akan seperti ini jadinya."
"Aku tahu aku salah dan aku belum bisa membuat Mama berubah dan berhenti mencemooh kamu. Tapi, aku mohon lupakan dulu soal sikap Mama. Sekarang ada aku dan kamu. Aku meminta maaf sama kamu dan kamu adalah istriku yang sepatutnya bisa lebih memahami aku sebagai suamimu. Disini juga aku menjadi serba salah, mama tetap ibuku, dan kamu istriku. Aku tidak bisa pilih salah satunya. Keduanya bagi aku penting, dan aku tidak ingin berkata kasar sama Mama walaupun Mama salah. Biarkan ini menjadi pelajaran buat Mama, aku lebih baik membiarkan Mama berpikir dengan semua kesalahannya daripada berkata kasar," ungkap Mas Elang panjang lebar dan semua penjelasannya sungguh sangat menyakitkan hatiku. Dia benar-benar tidak meraba perasaanku, yang dia pikirkan adalah baktinya pada ibu dengan mengabaikan perasaanku.
"Nada paham dengan semua yang Mas Elang katakan. Karena bakti kepada ibu, Mas mengabaikan perasaan Nada. Sudah berapa kali ibu berbuat seperti itu. Berulang-ulang Mas! Dan Mas Elang berkali-kali memaafkan ibu dengan alasan bakti dan membiarkan perasaan Nada hancur dengan dipermalukan ibu di depan teman-temannya, dan sekarang di depan Bi Inah. Apakah Mas Elang masih mau menutup mata dan lupa? Ohhhh.... atau Mas Elang senang jika Nada dipermalukan di depan orang-orang dan dicaci maki oleh ibu. Demi bakti pada ibu, membiarkan mulut ibu berkata-kata kotor tentang menantunya di depan orang lain." Aku menjeda ucapanku sejenak mengatur nafas yang turun naik karena emosi yang meluap.
"Kalau seperti ini terus, dan tidak ada ketegasan dari Mas Elang terhadap sikap ibu, maka... Nada pastikan Nada sudah lelah Mas menjalani rumah tangga dengan lelaki yang tidak tegas seperti ini. Setiap kali ibu mencemooh, Mas Elang tidak pernah benar-benar membuat ibu menyesali perbuatannya. Nada bukan ingin Mas Elang durhaka pada ibu, tapi sedikitnya raba perasaan Nada. Nada selama ini hanya disuruh memahami dan memaklumi perlakuan ibu, tapi Mas Elang tidak ada usaha membuat ibu menyesali perbuatannya," sambungku dengan nada bergetar.
__ADS_1
Puas sudah rasanya aku menumpahkan segala unek-unek yang ada dalam dada aku selama ini. Sikap Mas Elang yang tidak mau tegas akan perlakuan ibu yang selalu mencemooh aku di depan teman-temannya, membuat aku lelah hati. Iya, Mas Elang memang baik dan perhatian. Namun, dia tidak pernah sekalipun mengerti perasaanku yang tersakiti oleh sikap ibu.
"Jadi... selama ini kamu lelah hidup berumah tangga sama aku? Dan apa yang tercatat dilayar HP ini, itu artinya benar, kamu lelah hidup sama aku?" ucap Mas Elang seraya meraih HPku dan memperlihatkan sebuah kalimat di layar HPku. Entahlah catatan kecil itu kenapa bisa terbaca oleh Mas Elang, padahal aku saja saat membuka menu utama HP jarang melihat catatan kecil itu di HP itu. Dan sejak kapan Mas Elang mengutak-atik HPku?
"Iya Mas, Nada lelah hidup dengan suami seperti Mas Elang. Nada lelah dengan sikap tidak tegas Mas Elang, dan Nada lelah dengan sikap ibu. Nada ingin menyerah, Mas. Selama setahun Nada menahan rasa sakit akibat penolakan ibu dan cemoohan ibu. Tapi, Nada tetap biarkan. Namun berulang kali ibu melakukan itu, sehingga rasa sakit di hati Nada semakin besar. Dan saat ini sakit hati itu makin tidak tertahan, karena sikap Mas Elang yang sama sekali tidak peduli dengan perasaan Nada," tandasku dengan isak tangis.
Entah keberanian dari mana aku bisa mengungkapkan isi hatiku kali ini. Aku lihat Mas Elang meremas jemarinya, kilatan marah terlihat di wajah tampannya.
"Arghhh....!" Tiba-tiba Mas Elang melempar benda di atas meja riasku dengan marah. Hpku yang tadi disimpan lagi di atasnya ikut terhempas. Aku ternganga tidak percaya, rasa takut kini mulai menyergapku. Aku mencoba bangkit dari ranjang dan berdiri.
"Termasuk lelah mengurus Sya, anakku?" tunjuknya tepat di wajahku.
"Tidak... Nada tidak pernah lelah menjaga atau mengurus Sya. Nada menyayangi Sya," ungkapku jujur. Memang aku tidak merasa lelah dalam menjaga Sya selama ini, lagi pula Sya tidak pernah merepotkan aku. Dia begitu penurut dan patuh.
"Bohong... kamu juga lelah dalam menjaga Sya, kamu pura-pura menyayangi Sya!" teriak Mas Elang menudingku membuat aku sedikit menjauhkan tubuhku.
__ADS_1