"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Gelagat Ibu


__ADS_3

Sebulan kemudian bersamaan dengan kehamilanku yang menginjak usia 4 minggu, ibu dikabarkan telah bisa berjalan seperti biasanya. Namun tangan kanannya masih mengalami stroke, dan belum normal seperti biasa. Tiap satu minggu sekali Mas Elang selalu mengajak aku dan Sya menengok ibu. Walaupun sikap ibu masih belum welcome terhadapku, namun aku tepikan semua pikiran negatif dari otakku. Terlebih aku kini sedang hamil muda yang tidak boleh banyak pikiran yang negatif-negatif.



"El ... ! Mama ingin nginap di rumah kamu, apakah boleh?" tanya Ibu memohon. Mas Elang mengernyitkan kening pertanda sedang berpikir. Dia sekilas menoleh ke arahku seakan meminta persetujuan. Aku hanya menatapnya sendu dan tidak bisa berkata apa-apa. Itu hak Mas Elang untuk menerima atau menolak Ibu. Tapi jika Mas Elang menolak, apakah tidak akan lebih parah tudingan negatifnya terhadapku?



"Boleh, Ma. Silahkan saja. Tapi ingat, kalian berdua jangan ada bentrokan lagi di rumah El. Karena otomatis kalian berdua akan selalu bertemu," peringat Mas Elang mewanti-wanti aku dan ibu. Aku sih bisa diajak kompromi, tapi entah dengan ibu. Apakah ibu bisa mengikuti aturan Mas Elang?



Hari ini ibu mulai ke rumah, kami menyambut baik kedatangan ibu. Namun sepertinya ibu memang belum mau bersahabat denganku. Jangankan bersahabat, tersenyum saja mahal dan pelit.


__ADS_1


"Mas, nanti ada jadwal pemeriksaan kehamilan Nada lho. Nada tidak mau ke RS, lebih baik ke Bidan Dina yang jaraknya lebih dekat. Dokter Gilang juga menyarankan demikian, biar tidak kejauhan lebih baik ke Bidan Dina," ujarku memberikan dua pilihan.



"Kejauhan gimana? Kan ada aku yang antar. Sudahlah terserah aku saja. Aku ingin yang terbaik buat anak aku," respon Mas Elang tegas.


"Nada hanya tidak mau kejauhan, Mas. Bidan Dina juga tidak diragukan kemampuannya, sama saja resep yang dikasih seperti Dokter Gilang," debatku mempertahankan pendapatku.


"Ya sudah terserah kamu saja," ucap Mas Elang sambil ngeloyor ke bawah. Sementara aku, pergi menuju kamar Sya yang tengah tidur siang. Lebih baik tidur sama bocil satu ini supaya hati sedikit tenang.




"El, El ... antar dulu Mama ke swalayan ya. Mama kehabisan vitamin yang harus Mama minum selama pengobatan!" teriak Ibu menghampiri Mas Elang setengah berlari.

__ADS_1



"Tapi Elang harus antar Nada ke Bidan, Ma. Hari ini jadwalnya Nada diperiksa kehamilan," sergah Mas Elang. Ibu merengut kecewa, namun sepertinya Ibu belum menyerah.


"El ... kita perginya bareng saja. Swalayan yang Mama tuju kan searah dengan Bidan Dina," bujuk Ibu lagi.


"Ma ... Mama diantar Sopir Mama saja ya, Soalnya El buru-buru. Bidan Dina tutupnya jam 5 sore, kalau kita telat maka kita tidak bisa dilayani," tolak Mas Elang lembut.


"Mama tidak mau diantar Supir, Mama maunya diantar kamu!" rengek Mama mulai memperlihatkan wajah sedih. Mas Elang nampak termenung dan berpikir.


"Ok, ok. Elang antar Mama, tapi El antar dulu Nada ke Bidan dulu ya," ujar Mas Elang akhirnya menyanggupi. Ibu nampak senang dan tersenyum gembira. Kamipun segera berangkat menuju Bidan Dina sesuai kesepakatan. Namun sebelum Aku sampai di tempat tujuan, tiba-tiba Ibu berteriak minta diantar pulang. Alasannya Ibu kebelet.



Mas Elang menghentikan mobilnya mendadak dan menatap wajah Ibu bingung.

__ADS_1


__ADS_2