
Keluar dari gerbang sebuah Mension, langkah kakiku sedikit lunglai. Tubuh Sya yang sejak tadi aku pangku kini terasa berat, pundakku rasanya mau patah. Ditambah luka di pelipisku terasa nyut-nyutan dan sedikit mengeluarkan darah, karena kena tekanan kepala Sya.
Aku berhenti sejenak di pinggir jalan setelah tadi berjalan kaki beberapa meter dari Mansion Tuan Zul. Rasa lelah menggelayuti tubuhku, dan kakiku mulai kaku dan lemas. Sementara Sya malah tertidur dalam pelukanku. Tangannya melingkar di leherku begitu erat.
"Seandainya ada bangku di sekitar sini, aku akan mengistirahatkan sejenak lelahku," harapku disela lelah yang sangat mendera. Ingin aku rengkuh HPku di saku rok, namun susah terjangkau sebab Sya yang tidak mungkin aku turunkan.
Aku menangis dalam diam, air mataku mengucur deras, namun aku tahan agar tidak bersuara. Aku kembali berjalan untuk menuju jalan utama yang ramai oleh kendaraan. Bayangan tubuhku terlihat terseok-seok dipantulkan cahaya lampu jalan di malam ini. Aku tidak tahu ini jam berapa, yang jelas Mension Tuan Zul agak jauh dari jalan utama.
Beberapa menit kemudian aku tiba di jalan utama yang ramai akan kendaraan. Tangisku yang kutahan tidak bersuara, kini ikut reda. Ada sedikit bahagia merasuk dada, setidaknya aku bisa mencegat Taksi argo yang akan mengantarkan aku ke rumah suamiku, Mas Elang. Aku masih berjalan menyusuri bahu jalan untuk mencapai bangku di depan sana. Sebuah bangku yang teronggok kosong, biasanya siang hari dipakai penjual bensin.
"Hahhhhh... hahhhh....!" deru nafas lelahku terdengar. Akhirnya aku bisa sampai di bangku ini dan bisa beristirahat sejenak, melepas lelah yang sejak tadi mendera. "Ya... Tuhan... bantu aku!" batinku berdoa. Aku memejamkan mata, tidak takut bahwa ini adalah malam hari, yang biasanya paling aku takuti. Bukan takut karena hantu, melainkan takut akan orang jahat.
"Tid... tid....!"
Tiba-tiba bunyi klakson mobil berbunyi dua kali, aku sontak membuka mata saking terkejut. Di depan sana ada sebuah mobil, tepatnya taksi. Pucuk dicintai ulam tiba, seakan gayung bersambut, doaku rupanya dikabulkan Yang Maha Kuasa. Aku segera berdiri menyambut taksi argo itu dan berniat mencegatnya. Supir taksi itu dengan cepat keluar dari taksinya, lalu menghampiriku.
__ADS_1
"Neng... rupanya Eneng! Ayo, saya antar pulang ini sudah jam 9 malam," ujarnya terkejut, seraya menggamit tanganku dan mengarahkan aku ke pintu penumpang. Raut wajahnya begitu khawatir.
Dia Pak Darma, supir taksi yang tadi sore mengantarkan aku ke Mansion Tuan Zul.
Seketika aku sangat bahagia, seakan mendapatkan durian runtuh. Aku bersyukur, Pak Darma datang tepat waktu saat aku merasa tidak sanggup lagi berjalan.
"Pak Darma....!" pekikku terkejut plus bahagia.
"Ayo, masuk dulu!" perintahnya. Aku patuh dan duduk di kursi penumpang. Rasanya lelahku sedikit terobati. Kaki pegalku yang sakit kini bisa diistirahatkan di dalam taksi Pak Darma. Sya yang aku baringkan menggeliat perlahan. Namun kembali tertidur.
"Tadi bagaimana, apakah Tuan Zul mudah ditaklukkan?" tanya Pak Darma sambil memasang sabuk pengaman di pinggangnya.
"Lumayan alot, Pak. Kedatangan saya malah disalah artikan oleh Tuan Zul, saya dianggap perempuan yang bisa mengandalkan tubuh dan bersiasat. Untungnya... saya memiliki bukti vidio rekaman saat istrinya memaksa mengambil anak kandungnya secara paksa." Aku menjeda sejenak bicaraku.
"Lho... kok bisa?"
"Iya, Pak. Mantan istri dari suami saya rupanya bekerjasama dengan orang terdekat ibu mertua saya. Kebetulan orang terdekat ibu mertua saya sering berkunjung bahkan nginap di rumah. Nah kesempatan ini digunakan mantan istri suami saya untuk mendekati teman dekat ibu mertua saya, untuk dijadikan alat membantu niat jahatnya," beberku. Pak Darma nampak mengangguk paham akan maksudku.
"Alhamdulillah, sekarang Neng Nada bisa kembali bersama dengan anak sambungnya. Kelihatannya Neng Nada sayang banget dengan anak sambungnya. Saya merasa sangat terharu," ujar Pak Darma terharu.
"Iya, Pak. Ini juga tidak luput atas bantuan Pak Darma yang mengantarkan saya ke kediaman Tuan Zul, dan sedikit memberi bocoran tentang watak Tuan Zul."
"Saya hanya Supir taksi yang kebetulan lewat dan dicegat Neng Nada. Dan kebetulan tujuan Eneng ke kediaman Tuan Zul. Saya hanya sedikit tahu watak Tuan Zul dari mulut ke mulut. Sebetulnya dia adalah orang yang baik. Hanya lalim pada orang-orang yang mau mengkhianatinya saja," jabar Pak Darma.
__ADS_1
"Lho kok berhenti, Pak?" Aku terkejut saat taksi. Pak Darma tiba-tiba berhenti di dekat warung-warung tenda.
"Kita makan dulu, Neng Nada sepertinya belum makan." Pak Darma seolah tahu kalau sejak tadi sore aku memang belum makan sama sekali, bahkan minum saja tidak. Tadi di kediaman Tuan Zul, tidak sama sekali disuguhi apa-apa.
"Tapi ini sudah malam, Pak. Dan saya tidak sedang lapar. Lagipula ini anak saya sedang tidur," ucapku setengah menolak. Pak Darma sekilas melihat ke arah Sya dan merasa sedikit kecewa karena tidak berhasil mengajakku makan. Mungkin melihat Sya tertidur, dan kasihan juga kalau dibangunkan. Namun Pak Darma malah turun dari taksi dan menghampiri salah satu warung tenda. Beberapa menit kemudian Pak Darma kembali dengan membawa dia bungkus nasi dan lauknya serta teh jeruk hangat.
"Makanlah dulu, saya tahu Eneng belum makan. Makanlah di dalam taksi ini. Tidak apa-apa, santai saja. Ayo, dimakan. Kalau anak Eneng biarkan saja dulu, kalaupun dibangunkan saya takut dia menangis karena trauma atas kejadian yang menimpanya." Pak Darma begitu pengertian banget, seakan paham akan keadaan aku dan Sya.
"Saya jadi merepotkan Pak Darma. Dan selama ini saya belum pernah membalas kebaikan Bapak, " ucapku merasa malu dan sungkan.
"Tidak usah sungkan dan membalas perbuatan saya yang tidak seberapa. Kita sesama manusia wajib saling menolong yang kesusahan, dan kebetulan Eneng membutuhkan pertolongan. Jadi, santai saja. Anggap kebaikan saya dari seorang bapak kandung yang selalu menyayangi anak-anaknya," ucap Pak Darma tulus. Akhirnya terpaksa aku makan nasi yang sudah dipesankan Pak Darma di dalam taksinya. Sementara Pak Darma menunggu di luar sembari merokok.
Beberapa menit kemudian aku selesai makan dan memang aku lapar, buktinya makanan yang diberikan Pak Darma habis. Serta air jeruk hangatnya juga habis dan cukup membuat lemas dan sakit kepalaku benar-benar hilang.
"Makasih banyak, Pak! Bapak begitu baik terhadap saya. Saya tidak bisa membalasnya. Hanya Tuhanlah yang akan membalas suatu saat," ucapku diiringi tangis.
__ADS_1
"Sudah Neng, jangan dipikirkan. Saya tidak masalah. Sekarang alangkah baiknya saya segera menganatarkan Eneng pulang. Waktu juga sekarang sudah larut malam." Pak Darma segera menyalakan mesin mobilnya, lalu kembali melajukan taksinya menuju rumah Mas Elang.
Lamat-lamat aku tertidur dalam sandaran jok mobil, sampai aku tidak sadar bahwa taksi Pak Darma sebentar lagi akan tiba di rumah Mas Elang.