
"Gubrak....!" Hantaman tubuh Sya mengenai aspal. Sya terjatuh dari mobil yang dikemudikan Mayang yang baru beberapa meter melaju. Mungkin akibat Sya meronta dan berhasil membuka pintu mobil, akhirnya Sya terjatuh. Elang sontak panik dan kalang kabut. Ingin mengejar Mayang yang melaju dengan pintu belakang mobilnya yang masih terbuka, namun Sya rupanya lebih membutuhkan perhatiannya.
Wajah dan kaki Sya terantuk aspal, sehingga di pelipis kanan dan jidatnya terluka dan mengeluarkan darah.
"Mayang... shitt...!" umpatnya menatap laju mobil yang dijalankan Mayang.
Elang segera meminta bantuan pada orang-orang yang berada di sana. Tubuh Sya diangkat beberapa orang dan dimasukkan ke dalam mobil Elang. Elang segera menjalankan mobilnya menuju Rumah Sakit terdekat. Sementara Sya merintih-rintih kesakitan. Sya dipegangi salah seorang pria paruh baya yang tadi diminta memegangi Sya saat di depan sekolah.
Tiba di sebuah Rumah Sakit, Elang segera memasukkan mobilnya ke dalam parkiran RS dan segera mengeluarkan tubuh Sya dari mobil lalu menggendongnya menuju ruang IGD. Tubuh Sya segera ditangani disambut para Perawat yang sedang bertugas di sana.
"Pak... saya langsung pulang saja ya, tadi saya meninggalkan anak saya di sekolah, takut kelamaan menunggu. Semoga anaknya cepat sembuh," ujar bapak yang ikut membantu Elang tadi tergesa. Elang langsung menyadarinya dan tanpa lama Elang merogoh dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang kertas merah untuk bapak penolong.
"Terimakasih banyak, Pak. Dan ini ongkos naik ojegnya. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak!" ucap Elang lagi seraya memasukkan uang lembaran merah itu ke dalam saku celana bapak penolong.
"Tidak usah Pak, apalagi ini kebanyakan," ujar bapak penolong sambil mengeluarkan uang itu dari sakunya dan hendak diberikan pada Elang namun Elang menolaknya. Elang ambil lagi lalu dimasukkan lagi lebih dalam ke saku celana bapak itu. Walaupun dengan beberapa kali penolakan, akhirnya bapak penolong mengalah dengan menerima pemberian uang dari Elang.
"Kalau begitu, terpaksa saya terima uang ini, padahal saya niat menolong ikhlas. Saya doakan anaknya cepat sembuh," ucap Bapak penolong sambil berpamitan dan pergi.
__ADS_1
Tubuh Sya kini sudah berada dalam ruangan IGD. Dokter dan Perawat sedang menangani luka pada pelipis Sya. Elang tadi ingin masuk, namun Perawat melarangnya. Terpaksa Elang menunggu di luar dengan rasa cemas. Saat menunggu, Elang tidak lupa berdoa meminta kesembuhan pada Yang Maha Kuasa.
Wajah tampan Elang yang kini kusam dan kusut seakan tidak bercahaya. Tubuhnya sedikit mengurus akibat banyak pikiran sejak perginya Nada. Ditambah insiden kecelakaan Sya yang terjatuh dari mobil Mayang, membuat pikirannya semakin mumet dan membuatnya stress. Tidak ada lagi penyemangat, seperti sebelum Nada pergi. Perempuan muda yang dia nikahi baru satu tahun itu, kehadirannya benar-benar membawa arah hidup Elang lebih baik lagi, namun kini dia pergi dan tidak ada lagi penyemangat itu. Akibat dari kesalahannya yang tidak pernah meraba perasaan Nada.
"*Mayang... kenapa dia masih bisa berkeliaran* *dengan bebas, ini pasti ulah Zulfikar yang* *memberinya jaminan pada Polisi. Bedebah*...! *Urusan kita belum selesai, Mayang*!" gumannya mengumpat.
Elang mendesah lelah disela-sela menunggu Sya ditangani Dokter, bertubi-tubi permasalahan datang sejak Nada pergi. Dia seakan tidak siap kehilangan Nada. Elang merogoh Hpnya yang sejak tadi tidak dibukanya. Membuka WA berharap ada pesan masuk dari Nada. Namun dilihatnya tidak ada pesan dari Nada yang ia nantikan. Namun pesannya yang kemarin rupanya telah dibaca Nada. Seketika ada secerah harap, Elang bisa menggenggam kembali Nada kedalam. pelukannya.
Elang baru kepikiran untuk melacak keberadaan Nada dengan GPS, sebab Nada kadang masih mengaktifkan HPnya. Segera dia mengutak-atik Hpnya untuk mencari tahu keberadaan Nada lewat GPS, namun belum sampai dia berselancar, Dokter dan Perawat keluar ruangan IGD.
Dengan cepat Elang memasukkan kembali Hpnya ke dalam saku celananya. Dan berdiri menyambut Dokter dan Perawat dengan raut muka yang cemas.
"Bagaimana, Dok, anak saya?" tanyanya panik. Dokter tersenyum lalu mulai mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Anak Anda tidak mengalami luka yang parah, dia hanya cidera dan luka kecil di pelipis dan jidatnya akibat gesekan dengan benda kasar. Kakinya kesakitan, itu karena keseleo. Tapi sudah kami tangani dengan dipasang gift untuk sementara, supaya menahan kakinya agar saat mendapat tekanan tidak terlalu sakit," jelas Dokter memberikan keterangan. Elang sedikit lega walau hatinya masih dilanda cemas.
Perawat keluar dari ruang IGD mendorong sebuah brangkar yang di atasnya terbaring tubuh Sya. Sya dipindahkan ke ruang perawatan diikuti Elang. Kini Sya telah menempati ruang perawatan VIP. Tubuhnya masih terbaring kaku dengan selang infus ditangannya. Sya masih tertidur karena pengaruh obat bius.
Elang dengan setia menunggu anak yang paling dia sayangi, anak kebanggaan yang selalu patuh dan jarang merepotkan.
Kembali ke POV 1 (Nada)
Sudah kurang lebih satu minggu aku berada di rumah Tante Mirna. Pertama datang ke sini, tante Mirna menyangka aku datang bersama Mas Elang dan Sya. Tante Mirna sempat terkejut dan merasa heran serta bertanya-tanya. Namun setelah aku menceritakan semua masalah yang sedang aku alami, tante Mirna dan Om Zainal mencoba memahaminya, walau tidak jarang mereka menasehatiku supaya baikan dan kembali pada suamiku, Mas Elang.
"Hubungan kamu dan suami kamu masih sangat bisa diperbaiki, ini hanya masalah komunikasi dan sama-sama harus saling menurunkan ego masing-masing," nasihat tante Mirna yang nampak masih muda dan cantik diusianya yang sudah 40 tahun. Tante Mirna dulu saat masih gadis begitu sangat dekat dan menyayangi aku, kemana-mana aku selalu diajaknya naik motor dan dimanjakannya dengan membelikan makanan kesukaanku.
"Selama seorang suami tidak berselingkuh dan main tangan, kamu baiknya jangan meninggalkannya lama-lama, itu tidak baik Nada. Hanya masalah komunikasi, kalian bicarakan kembali baik-baik. Masalah mertua kamu, tante yakin setelah ini minimal dia tidak akan berani sering ke rumah suami kamu. Untuk sementara, hindari dulu pertemuan dengan mertua kamu, demi menghindari sikap arogan dan menyebalkannya." Tante Mirna tidak bosan-bosan memberikan nasehat padaku.
Nasehat Tante Mirna ada benarnya, namun aku belum mau pulang sebelum hatiku benar-benar lega. "Terimakasih nasehatnya Om, Tante. Tapi... untuk beberapa minggu ini, ijinkan Nada tinggal disini untuk sementara. Nada masih ingin menenangkan diri," ujarku memberi alasan yang. masuk akal kenapa aku belum mau kembali pada Mas Elang.
"Kami tidak masalah kamu mau tinggal beberapa lama juga di rumah ini, tapi... untuk saat ini disaat kamu tinggal di rumah kami dengan membawa masalah, kami merasa tidak enak. Kami takut disalahkan oleh suami kamu dan dituduh menahanmu. Sekarang, kamu legakan dulu hati dan pikiranmu. Nanti setelah lega, kamu boleh pulang dan kembali pada suamimu." Tante Mirna tidak bosan-bosannya memberi nasehat padaku.
Aku paham maksud tante Mirna, dia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan masalah yang aku hadapi.
__ADS_1
"Tante, ijinkan Nada paling lama sebulan di sini sampai hati Nada benar-benar lega," ucapku memohon.
"Boleh... selama kamu masih mau." Nada merasa lega setelah mendengar persetujuan Tante Mirna.