"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Mengetahui Ibu Sakit


__ADS_3

Malam menjelang, kumandang adzan Isya telah diperdengarkan. Sya telah bangun dan dia langsung mencari Papanya. Sebelum Maghrib menjelang, Mas Elang mengirimkan pesan WA, menanyakan Sya. Aku sedikit kecewa sebab Mas Elang hanya menanyakan Sya saja, tidak sekalian aku. Aku merasa sedih tidak dipedulikan Mas Elang.



"Bunda... Papa mana?" Sya bertanya sambil berkaca-kaca. Aku beri tahu Sya bahwa Papanya sedang ada urusan sebentar. Kemudian Sya ku ajak ke bawah untuk makan malam siapa tahu Mas Elang sebentar lagi pulang.



Selesai makan malam, aku kembali ke atas dan berharap Mas Elang segera datang, namun deru mesin mobilnya saja belum terdengar. Sya, langsung kusuruh ke kamar mandi dulu untuk membersihkan diri dan gosok gigi. Setelah itu Sya Ku ajak ke ranjang untuk kutidurkan. Namun karena tadi bangunnya sekitar jam 7 an, Sya jadi susah cepat tidur walaupun sudah aku Nina bobokan dengan sebuah cerita. Hal ini aku pakai untuk bertanya tentang ke mana Sya dan Mas Elang kemarin.



"Sya... kemarin pulang sekolah Sya ke mana dulu, dan Sya sama Papa tidur di mana?" tanyaku pelan-pelan. Sya sejenak diam, namun tidak berapa lama bercerita.



"Kemarin Papa ke RS, Bunda... nenek sakit dan pingsan. Papa sangat sedihhhh... sekali sampai Papa menangis," jelas Sya sambil badannya memperagakan orang sedang sakit. Sontak aku terkejut dan langsung merasa berdosa.



"Keadaan Nene saat itu bagaimana, Sya?" tanyaku khawatir.


"Saat Papa sama Sya datang, nenek sedang terbaring dan memakai selang infus," jawab Sya, yang membuat aku semakin terkejut. Dadaku seketika seakan sesak.


"Ya Allah, sehatkanlah ibu. Kalau terjadi apa-apa sama ibu, aku orang yang paling merasa berdosa karena telah zolim pada ibu," batinku berdoa dengan sedih.


Bayang-bayang ibu sedang berbaring di RS seakan-akan menari-nari di kepalaku. Aku sedih dan benar-benar merasa berdosa. Biar bagaimanapun kami sering tidak akur, namun mendengar berita ibu sedang sakit aku ikut sedih. Walaupun aku dalam keadaan sedih, namun aku harus segera menidurkan Sya, karena waktu semakin merangkak malam.



"Apakah Mas Elang akan menginap di RS atau pulang?" benakku bertanya-tanya. Kemudian aku mencoba menelpon HP Mas Elang, namun Mas Elang tidak mengangkatnya.



Tidak berapa lama Syapun tidur, setelah aku ceritakan satu dongeng sebelum tidur lagi untuknya. Jam 10 malam lebih 10 menit deru mesin mobil Mas Elang sayup-sayup terdengar. Aku sengaja menunggunya dan tidak berpura-pura tidur lagi, semoga saja Mas Elang langsung masuk kamar ini bukan ke kamar Sya.

__ADS_1



Harapanku tidak sia-sia, Mas Elang ternyata masuk ke kamar kami. Dia seakan terkejut melihat aku yang masih duduk di bibir ranjang dan lampu masih menyala.



"Kamu belum tidur, Sya bagaimana, dia tidak mencari aku?" tanyanya dengan raut wajah sendu dan lelah. Aku menghampirinya dan menyalami tangan Mas Elang lalu membawanya ke dalam pelukanku.



"Sya sudah tidur Mas, dia tadi merengek menanyakan kamu," jawabku.



"Aku mandi dulu, badanku lengket dan gerah. Kita tidur bersama lagi, di sini," ucapnya seraya mengurai pelukanku. Ada rasa bahagia yang mendera saat Mas Elang bilang 'kita tidur bersama lagi, di sini', itu artinya malam ini kami akan tidur bersama lagi. Alangkah senang hatiku.



Selesai dari kamar mandi dan menggunakan baju piyama yang telah aku siapkan, Mas Elang segera mematikan lampu kemudian mengganti dengan lampu meja yang biasa tiap malam menerangi kami remang-remang. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang saat Mas Elang mulai menaiki ranjang yang kini sedikit bergoyang. Tiba-tiba aku merasa seakan-akan ini malam. pertama bagi kami, padahal aku tidak tahu apa yang akan Mas Elang lakukan setelah naik ranjang ini.




Mas Elang masih bergerilya melancarkan serangan-serangannya dengan semangat, dan aku menerimanya dengan sukacita terlebih aku juga menginginkannya. Dan akhirnya pertautan kami berakhir dengan tubuh Mas Elang yang terkulai lemas dengan wajah yang masih berkabut kenikmatan.



"Ayo... tidur, Mas sangat lelah. Cuppp....!" ucapnya sambil mendaratkan ciuman panjang di bibirku sebelum melabuhkan sekujur tubuhnya di atas ranjang. Kamipun tidur bersama. lagi dengan tubuh yang sangat rapat dan kembali berbagi kehangatan seperti sebelum-sebelumnya. Niat aku ingin menanyakan ibu juga terlupakan karena ulah kami berdua yang sama-sama dimabuk gairah.



Subuh menjelang, aku berusaha bangkit dari pelukan erat Mas Elang. Namun Mas Elang ikut terbangun. Rupanya ada yang ikut terbangun bersamanya. Lalu tanpa dikompromi terlebih dahulu serangan fajar di subuh hari telah Mas Elang lancarkan.


__ADS_1


"Mas kangen kamu sayang, sekali saja sebelum mandi subuh!" mohonnya tanpa menunggu persetujuan dariku. Meraup bibirku lalu memberikan rasa hangat seperti yang dilakukannya semalam. Kali ini Mas Elang melakukannya lebih santai dan lembut, namun sama-sama membuat melayang.



Pagi menjelang, suara burung bercicit saling bersahutan. Mas Elang sudah bersantai di balkon dengan asap rokok yang berterbangan di angkasa, susul-menyusul saling berebut ingin segera menjulang di angkasa. Aku sedikit miris dan kecewa, sebab hati aku tidak ikhlas Mas Elang merokok sebanyak itu. Gelagat tidak baik ini dia lakukan sejak kepergian aku ke Jogja. Kadang timbul rasa sedih, gara-gara aku Mas Elang malah bergaya hidup tidak sehat. Asap rokok kan tidak baik buat perokok pasif terlebih buat aku yang kini....



Aku segera ke kamar Sya berniat membangunkan Sya. Namun di dalam kamar Sya sudah ada Bi Ijah mempersiapkan baju Sya. Kebetulan hari ini Sya tidak sekolah karena hari ini Sabtu, dan Sya libur. Mungkin tadi Bi Ijah sudah dibukakan kunci kamar Sya oleh Mas Elang, sehingga Bi Ijah bisa masuk kamar Sya.



"Bundaaa... Sya sudah mandi... kita tengok Nenek yuk!" celoteh Sya sembari melihat ke arahku dengan girang. Aku menyambut ajakan Sya dengan anggukan. Padahal Mas Elang tidak berkata apa-apa semalam.



"Ayo Bunda, kita ajak Papa....!" tariknya seraya menarik lenganku menuju kamar aku dan Mas Elang. Saat masuk aku masih melihat Mas Elang di balkon dengan melemparkan puntung rokok terakhir yang masih berada di tangannya.



Sya berlari ke arah balkon dan membuka pintu balkon lalu menghampiri Mas Elang. Mas Elang sedikit terkejut melihat Sya berlari ke arahnya. Lalu merangkulnya.


"Papa... ayo kita nengok Nene, Bunda juga mau nengok Nene," celoteh Sya tanpa bisa aku cegah. Mas Elang nampak terkejut mendengar Sya berceloteh barusan.


"Ayo masuk....!" ajaknya menggiring kami masuk ke dalam kamar dan tiba-tiba berjongkok di hadapan Sya. "Sya... pergi turun dulu bersama Bi Ijah yang, Papa mau sia-sia. Kita sarapan dulu sebelum kita menengok nene. Ok, Sya!" bujuk Mas. Elang yang tidak dibantah Sya lagi, lalu Sya diantar keluar kamar.


"Bi Ijah... bawa Sya ke bawah dulu!" teriak Mas Elang. Tidak berapa lama Bi Ijah datang dan membawa Sya ke bawah.


Di dalam kamar kini ada aku dan Mas Elang, Mas Elang mengajakku duduk di ranjang.


"Kamu pasti mau menanyakan hal yang disebutkan Sya tadi kan?" Aku mengangguk.


"Mama memang sedang sakit dan kini di rawat di RS. Aku tidak kasih tahu kamu karena buat kamu bukan hal penting. Aku tahu di hati kamu masih ada luka karena perbuatan Mama, jadi aku tidak ada niat memberi tahu Mama sedang sakit," jelas Mas Elang sembari menarik nafasnya dalam seakan menahan beban berat.


"Tega banget Mas Elang menilai Nada sekejam itu Mas, Nada juga punya hati dan perasaan. Walaupun ibu pernah menorehkan luka pada Nada, namun Nada tidak sejahat itu tidak peduli mendengar ibu sakit. Sekarang bawa Nada menjenguk ibu. Nada ingin melihatnya," ujarku meminta dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1



"Baiklah, aku akan bawa kamu. Tapi dengan syarat kamu harus terima meskipun sikap Mama belum baik sama kamu," himbau Mas Elang memberiku peringatan. Aku mengangguk tanda siap dengan apapun yang akan ibu berikan dengan sikapnya.


__ADS_2