
Setelah berhasil mengusir Mbak Mayang, Mas Elang kembali dari belakang restoran dengan muka yang masih kusut dan rasa marah. Dia duduk seraya menatap ke arah aku dan Sya, tatapan yang risau dan kalut hadir disana.
"Papa... akhirnya Papa datang juga, ayo kita makan lagi. Kenapa Papa pergi dengan Ibu tadi? padahal Sya menunggu Papa sejak tadi," ucap Sya dengan nada manja dan selalu menggemaskan.
"Ayo... sayang, lanjut makan ya, Papa kan sudah kembali!" bujukku tersenyum, mengalihkan kekalutan yang masih ada dalam diri Mas Elang.
"Mas... makanlah, Sya menunggu kamu sejak tadi. Jangan bikin dia kecewa!" ucapku mencoba mempengaruhi Mas Elang supaya fokus ke makan siang kami bersama Sya, karena ini momen merayakan kelulusan Sya dari TK Bahagia.
"Sebentar ya, bunda ke toilet dulu. Sya dengan Papa dulu ya...! Mas, Nada ke toilet sebentar ya....!" ijinku menatap Mas Elang. Mas Elang hanya mengangguk.
Aku berjalan menuju toilet dengan perasaan was-was.
Dimuka pintu toilet aku menemukan orang suruhanku. Salah seorang pegawai restoran milik Mas Elang ini berhasil kumintai bantuan untuk merekam saat Mas Elang membawa Mbak Mayang ke belakang dengan marah. Orang itu segera memperlihatkan HPnya padaku, lalu bukti rekaman tadi dia kirim ke HPku. Dan rekaman itu terkirim. "Terimakasih, Mas!" ucapku seraya memberi beberapa uang lembaran merah tanda terimakasih. Awalnya orang itu menolak, namun karena aku paksa akhirnya dia menerima.
Sejenak aku lihat rekaman itu dan hasilnya sangat mengagetkan, Mbak Mayang yang mengajak Mas Elang kembali merajut masa kebersamaannya dulu, cukup membuatku terkejut. Aku memejamkan mata, merasa sesak mendengarnya, rasa takut itu langsung menyergapku. Aku takut Mas Elang kembali dengan Ibu kandung Sya, perempuan itu nampak ambisius. Jadi pantas aku merasa takut, hal nekad apa saja bisa Mbak Mayang lakukan demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Ya Allah, jangan sampai Mas Elang kembali dengan Mbak Mayang, Mas Elang milikku dan Mbak Mayang juga milik orang lain," batinku berdoa pada Sang Maha Kuasa.
Aku kembali ke meja makan tadi dengan perasaan biasa seperti tadi. "Sya... hebat makannya sudah hampir habis," pujiku saat aku mulai menjatuhkan tubuhku di kursi. Sya menatapku sambil tersenyum. "Iya dong Bunda, kan makannya sama Papa....!" sahutnya menggemaskan sebab mulutnya belepotan oleh saus tomat. "Mulut Sya belepotan," ujarku seraya mengambil tisu dan menyusut saus di mulut Sya.
__ADS_1
Mas Elang menyudahi makan siangnya, aku dan Sya juga demikian. Mas Elang meminta makanan yang masih tersisa banyak ini dibungkus untuk dibawa pulang, makanan itu masih bersih dan bukan sisa pengacakan kami, sehingga masih sangat layak untuk kami makan atau dimakan oleh pegawai di rumah.
"Ayok....!" Mas Elang mengajak kami kembali ke rumah dengan perasaan yang masih terlihat kusut, namun berusaha dibuat tersenyum saat menghadapi Sya. Mungkin bisa dikatakan, kami kenyang dengan hati yang kusut, aku dengan pikiranku dan Mas Elang dengan pikirannya juga membawa rasa kalut pulang ke rumah. Hanya Sya yang terlihat riang, aku bersyukur kejadian tadi saat Mbak Mayang menepis tanganku tidak membuat Sya kepikiran terus.
Tiba di rumah, Sya langsung ku ajak ke kamarnya, saat bertemu Bi Narti di muka pintu aku menyapanya. "Bi, ambil makanan di mobil ya!" titahku yang langsung dipatuhi Bi Narti. Sementara Mas Elang langsung naik ke atas dan menuju kamar kami.
Sya nampak ngantuk. Saat di kamar dia langsung ingin berbaring di kasur, namun aku segera membawanya ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Tidak berapa lama, Sya memang nampak kelelahan dan ngantuk. Aku bawa dia ke ranjang kemudian seperti biasa dikelon. Kali ini tidak ada acara menceritakan sebuah dongeng, Sya langsung terlelap dengan sedikit dengkuran.
"Anak bunda lelah rupanya," kulabuhkan kecupan sayang di dahinya, lalu ku selimuti tubuhnya kecuali muka.
Aku beranjak menuju pintu penghubung, sebelum ku buka rupanya ada yang mendorong duluan. Rupanya aku dan Mas Elang bersamaan ingin membuka pintu, seolah satu hati satu rasa. Aku memundurkan tubuhku sampai menyembul badan Mas Elang.
Gairah itu semakin terasa, saat Mas Elang menyentuh wajahku dengan tangan kirinya, dielusnya pipiku yang kini merah merona. Lalu dengan perlahan Mas Elang menyatukan bibir kami dengan penuh gelora. Aku menjadi berdebar mendapat perlakuan manis dan bergelora seperti ini.
Setelah melepaskan pertautan bibir kami, lalu Mas Elang memberi kode mengajakku segera menapaki kenikmatan yang tiada tara. Biasanya hal ini bisa meredam segala kekalutan dan gundah yang dirasakan Mas Elang. Semoga saja kejadian tadi di restoran bisa membuat mood Mas Elang kembali baik, dan biasanya ini ampuh.
__ADS_1
Mas Elang melepaskan pertautan kami dengan rasa lega, lalu dia mencium wajahku bertubi-tubi. Setelah itu, kami berbaring bersama melepas lelah setelah pertautan indah itu.
"Mas... tadi... saat Mbak Mayang diajak ke belakang restoran, apa saja yang sempat kalian bicarakan?" Aku bertanya walau ada sedikit ragu.
"Mayang punya ambisi ingin mendapatkan Sya," ucap Mas Elang itu saja, padahal aku hanya ingin tahu yang lebih detailnya seperti apa yang aku dapat dari rekaman tadi.
"Apa Mbak Mayang menginginkan Mas kembali," ucapku tanpa rasa ragu seraya memainkan dada bidang Mas Elang yang ditumbihi sedikit bulu. "Kenapa sih tanya itu, Mas tidak mau membahas lagi dia, apalagi kamu bertanya yang ngawur seperti itu?" tepis Mas Elang seperti tidak suka.
"Kenapa tidak mencoba membangun hubungan lebih baik sih Mas, supaya Sya tidak melihat lagi aksi Mbak Mayang yang tidak pantas dilihat Sya, contohnya biarkan saja Mbak Mayang bertemu Sya secara baik-baik," ujarku.
"Tapi sayangnya dia tidak pernah meminta ingin bertemu Sya secara baik-baik, dia hanya ingin menguasai Sya dan dia masih punya ambisi ingin menguasai harta, dengan dalih dia mengasuh Sya," ucap Mas Elang sembari mengeratkan pelukannya di tubuhku.
"Seandainya Sya ingin kalian bersatu, apakah Mas akan kembali demi keinginan Sya?" ucapku sambil berurai air mata yang tiba-tiba saja tidak bisa kutahan. "Apa sih, kamu bicaranya makin ngelantur. Walaupun Sya meminta, Mas tidak akan rela Mas kembali pada pengkhianat," ucapnya serius. "Tapi, Nada takut itu terjadi....!" ucapku diiringi isak.
"Nggak dong sayang, aku sekarang memiliki kamu yang jauh segalanya lebih baik dari dia. Sudahlah jangan bikin mood kembali buruk. Atau kamu ingin Mas hukum lagi, ronde kedua kita belum lho." Sontak aku menahan tubuh Mas Elang yang mulai menyerang. Lalu aku jauhkan tubuhku darinya, sebetulnya aku pengen, namun aku betul-betul ngantuk terlebih yang diucapkan Mas Elang barusan membuat hatiku berbunga.
Mas Elang mengejarku lalu menghimpit tubuhku yang masih polos. Sentuhan-sentuhan itu dilancarkan kembali sambil menautkan kembali bibir kami.
__ADS_1
"Elang... Elang... Mama datang... kemana sih kamu... sepi amat," teriakan Ibu mampu menghentikan niat kami yang mau melanjutkan ronde kedua.
"Ck....!" decak Mas Elang sambil mencubit hidungku kecil.