"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Arwana dan Hantu Cantik


__ADS_3

Nada makan dengan lahap, entah kenapa di usia kandungan empat bulan ini, Nada mulai merasakan enak makan dan tidak mual muntah lagi. Nasi yang biasanya terasa bau, kini bisa lagi dilahapnya tanpa merasakan bau.



Menyudahi makannya, Nada sejenak duduk di kursi makan. Kini dia menikmati teh hangat seduhannya. Rasa lapar tadi melupakan sejenak kesedihan Nada karena sikap dingin Elang.



Sambil menikmati teh hangat, Nada meraba perutnya yang mulai buncit. Rasa bahagia kini menyeruak, dia bahagia bisa mengandung dan memiliki anak dari Elang. Awalnya Nada ragu bisa cepat hamil, sebab dulu selama belum genap setahun pernikahannya, Elang selalu mewanti-wanti tidak ingin Nada cepat hamil. Oleh karena itu, setiap mereka akan hubungan, Elang selalu mengingatkan Nada untuk minum pil KB.



Kini, sikap penolakan Elang terhadap kehamilannya tidak ada lagi.Nada mulai yakin bahwa Elang mencintainya. "*Tapi, Mas Elang* *sangat menginginkan bayi ini perempuan. Namun* *jika bukan perempuan, apakah Mas Elang masih* *akan menyayanginya*?" Nada berbicara dalam hatinya. Jika memikirkan ini, Nada menjadi galau. Namun, Nada berharap apapun jenis kelaminnya, Nada akan menyayangi bayinya sepenuh hati, begitu juga dengan Elang.



Nada berdiri hendak menyudahi keberadaannya di meja makan. Langkah kakinya kini menuju kamar kembali. Namun rasa kantuk sudah tidak ada lagi. Akhirnya Nada membelokkan kakinya ke arah ruang tengah. Niatnya ingin menghilangkan galau dalam hatinya.



Suara gemericik air aquarium terdengar, Nada semakin mendekati ruang tengah yang hanya temaram disinari cahaya lampu dari taman. Biasanya kalau malam, lampu ruang tengah selalu dimatikan. Baru saja Nada membuka pintu ruang tengah, tiba-tiba secara mengejutkan terdengar suara sesuatu yang menurutnya aneh dan cukup membuat bulu kuduknya berdiri.


"Seperti suara sesuatu yang menimpa air, kecebur." Nada berpikir. Bulu kuduk yang tadi berdiri kini disertai perasaan merinding dan muncul rasa takut. Sehingga handle pintu ruang tengah yang tadi sudah dia pegang, kini diurungkan untuk dibuka. Secara tergesa Nada kembali ke kamarnya. Dadanya kini turun naik, rasa terkejut tadi karena mendengar sesuatu yang aneh membuat Nada ketakutan.


Langkah kakinya dipercepat lagi, kini detak jantungnya semakin memburu. Sehingga tidak sadar, Nada telah menabrak seseorang saat beberapa meter lagi tubuhnya menjangkau pintu.



"Aduhhhh!" serunya menahan rasa sakit karena sikunya terantuk tembok tapi tubuhnya sudah dalam pelukan seseorang.


"Nada, kamu dari mana?" Rupanya yang bertabrakan dengan dirinya adalah Elang, suaminya. Sehingga tidak segan-segan Nada memeluk Elang.


"Mas, Nada takut," ujarnya dalam pelukan Elang. Elang membukakan pintu dan membawa Nada ke dalam kamar kembali.


Nada didudukkan Elang di ranjang. "Kamu habis dari mana? Makan? Tadi saat aku terbangun, kamu sudah tidak ada, lalu aku hendak mencarimu karena khawatir. Tapi di dapur sudah tidak ada, hanya ada gelas bekas minum yang masih hangat. Aku yakin itu bekas kamu."


"Iya, Mas, itu bekas Nada," sahut Nada seraya berjingkat hendak ke kamar mandi ingin membuang sakit di kantung kemihnya. Elang melihat Nada gemas, pagi ini rasa dalam jiwanya tergugah, rasa yang biasa dia rasakan.

__ADS_1



Nada masih di dalam kamar mandi, dia menjadi segan di hadapan Elang, karena sikap Elang yang masih terlihat dingin. Sehingga Nada ragu kembali ke kamar. Padahal Nada sangat merindukan Elang, berharap tabrakan tadi membuat suaminya berubah hangat. Namun Elang malah membiarkan dia berjingkat ke kamar mandi tanpa menghiraukannya lagi.



Untuk menghilangkan rasa canggung, Nada meraih odol dan sikat gigi, lalu menyikat giginya sampai bersih dan tidak bersisa sisa makanan tadi. "*Siapa tahu nanti kami berciuman*," bisik hati Nada sampai membayangkan terjadi ciuman.


Setelah menggosok gigi, perlahan Nada memasuki kamar, dan mulai menuju ranjang yang kosong. "Kemana Mas Elang?" Hati Nada bertanya-tanya.


Saat Nada mendongak, rupanya Elang berada di balkon. Terlihat asap rokok yang mengepul di udara. Entah kenapa Nada sangat merindukan Elang, dan wangi rokok Elang seperti candu serta rasa manis di bibir Elang bekas rokok seakan terbayang-bayang.



Saat Nada masih melamunkan Elang, tanpa disadarinya Elang sudah berada di atas ranjang dengan bertelanjang dada dan celana kolor pendek. Nada seketika terkejut, belum hilang rasa terkejut tadi saat mendengar suara sesuatu kecebur, kini terkejut oleh Elang yang tiba-tiba muncul.



"Mas!" serunya seraya memegangi dadanya. "Kamu kenapa?" Elang bertanya seraya menatap Nada yang terlihat terkejut. Nada menggeleng lalu membaringkan tubuhnya. Suasana yang berubah kaku begini sangat tidak mengenakkan bagi Nada. Elang pun kembali menaiki ranjang dan berselimut yang sama.




Selimut yang dipakai berdua itu sedikit ditarik Elang dan Nada merasakan hawa dingin dari AC menerpa kulit kakinya. Kemudian dia menarik kembali selimut itu, namun susah karena dihimpit oleh kaki Elang.



Terpaksa Nada tidurnya mendekati Elang, merapatkan tubuhnya di tubuh Elang karena rasa dingin mulai menjalar tubuhnya. Entah keberanian dari mana tiba-tiba muncul dalam kepalanya untuk menggoda Elang. Nada tiba-tiba memeluk Elang dari belakang tubuhnya, lalu menjepitnya dengan kaki Nada yang bertumpu pada salah satu bokong Elang. Sehingga membuat Elang melakukan pergerakan.



Elang yang tidurnya menyamping dan membelakangi Nada, kini merubah posisinya menjadi tengadah sehingga kaki Nada otomatis tertindih olehnya. Sontak Nada berontak karena pahanya tertindih Elang.



"Kenapa kamu gelisah, kamu merindukan aku ya?" Sapuan nafas Elang menyerbu wajah Nada, begitu dekat dan sontak harum rokok itu tercium oleh hidung Nada. Nada tidak menjawab, gestur tubuhnya bisa Elang duga bahwa Nada butuh belaiannya, terbukti Nada begitu menempel erat ditubuhnya, sehingga tonjolan kembar itu menyentuh lengan Elang, tidak sabar ingin Elang sentuh. Elang menyeringai puas dan paham akan reaksi tubuh Nada.

__ADS_1



Dengan cepat Elang menyambar bibir ranum Nada yang sedikit terbuka. Nada sontak membalasnya dengan menggebu-gebu. Bahkan piyama atasnya sudah sejak tadi sengaja talinya terbuka. "Kamu rupanya menantang aku, Sayang? Lihat, apa yang akan aku perbuat, dan kamu akan terkapar tidak berdaya." Elang mengancam sambil melucuti penutup bagian bawahnya. Entah kenapa Nada juga merasakan rasa menggebu-gebu yang sama seperti yang Elang rasakan saat ini.



Satu persatu terlucut sudah kain yang dikenakan Nada termasuk segitiga bermudanya. Nada kini seakan pasrah dengan bibirnya menyesap kuat bibir Elang yang terasa manis. Elang tersenyum puas melihat Nada sangat agresif dan menantang. Tidak diragukan lagi subuh ini dia akan merasakan kepuasan yang berkali-kali lipat melihat Nada seagresif ini. Dan pertautan yang panjang itu terjadi. Keduanya terbuai dalam emosinya masing-masing. Nada dan Elang saling melampiaskan kemarahan semalam dengan serangan kenikmatan yang semakin menggebu.



Elang menikmati setiap jengkal tubuh Nada dengan kepuasan yang tiada tara. Nada baginya belum pernah mengecewakan, selalu membuatnya menggebu-gebu. Elang menyeringai puas setelah keduanya sama-sama mendapatkan puncak pelepasan. Elang menatap wajah Nada yang berseri dan mendamba.



"Nanti kita ulang lagi, kita istirahat sejenak," ucapnya seraya mengecup bibir Nada sekilas.


Azan subuh berkumandang dan mereka masih bergelung dengan selimut yang menutupi tubuh keduanya.


Elang memberi kode untuk mengulang kenikmatan tadi sebelum ke kamar mandi untuk mandi besar. Keduanya pun kini mengulang pertautan itu dengan rasa menggebu yang sama. "Aku mencintaimu," ungkap Elang seraya mengecup dalam bibir Nada.



"Mas, tadi saat Nada mau ke ruang tengah, Nada mendengar suara sesuatu kecebur. Nada jadi takut dan kembali ke kamar, lalu bertabrakan dengan Mas Elang, itu apa ya, Mas?" cerita Nada penasaran. Elang tersenyum sembari mencubit kecil hidung Nada.



"Kamu ini penakut rupanya, itu tadi suara ikan Arwana yang berebut makanan sama temannya di aquarium," jawab Elang.


"Oh, ya? Nada pikir .... "


"Hantu? Disini mana ada hantu. Hantunya justru kamu yang datang merayu aku, sehingga kita melakukan ini dua kali," tuding Elang seraya merangsek memeluk tubuh Nada gemas.


"Mas Elang, masa Nada dikatain hantu. Mas Elang jahat," rajuknya sembari menganjurkan bibirnya sehingga semakin lucu dilihat oleh Elang.



"Iya dong, kan kamu hantu cantiknya. Ayo, Sayang, jangan goda lagi aku untuk menerkam kamu sampai siang. Kita mandi wajib, ini sudah mau setengah enam, kita belum sholat subuh." Elang mengangkat tubuh Nada ke dalam kamar mandi. Mereka mandi berdua dengan suara gemericik air yang tidak beraturan.

__ADS_1


Semoga terhibur di Minggu pagi yang cerah ini....


Bersambung....


__ADS_2