"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Ke Rumah Ibu


__ADS_3

"Bundaa....!" Sya berteriak dan menghampiriku yang baru keluar dari kamar mandi. Aku segera membalas tangan Sya yang sudah mengambang di udara.



"Ayo.... kita ganti baju," ajakku seraya melangkah menuju kamar Sya. Mas Elang tidak mengikutiku, dia masih di dalam kamar kami.



"Bunda... Sya di sekolah tadi bercerita kepada teman-teman bahwa Sya kemarin telah diculik penjahat....!" Sejenak aku mengerutkan kening, belum paham apa yang dimaksud bocah imut itu.



"Apa, Sya? Bunda belum paham?" tanyaku masih belum konek.


"Tadi, Sya bercerita pada teman-teman bahwa Sya kemarin diculik penjahat, bahkan penjahatnya ada perempuannya," cerita Sya sekali lagi. Aku seketika terlongo dan mulai paham maksud bocah menggemaskan itu.


"Sya... besok-besok jangan cerita penjahat itu lagi ya, soalnya penjahatnya sudah baik lagi. Tidak jahat karena mereka takut sama Allah," ujarku memberi pengertian.


"Sudah baik penjahatnya, Bunda?"


"Sudah dong, dan sekarang mereka sudah tidak jahat lagi," jelasku seraya membantu mengambilkan baju buat Sya.

__ADS_1


"Ayo... kalau sudah, kita turun dan kita makan siang....!" ajakku seraya menuntun tangan Sya. Sya patuh, dengan senyum khasnya dia berjalan mensejajarkan denganku.



Saat di meja makan, aku belum menemukan Mas Elang. Terpaksa aku dan Sya menunggunya. Aneh, Mas Elang tidak biasanya berlama-lama di kamar. "*Sedang apa ya*?"



Namun beberapa menit kemudian, Mas Elang muncul dengan wajah yang tidak bersemangat. Aku sedikit merasa bersalah sebab bisa jadi sikap yang ditunjukkan Mas Elang itu karena aku yang menolak pemberian cincin berlian dari Mas Elang kemarin.



Mas Elang duduk di tempat biasanya, aku berdiri berniat mengambilkan makanan untuk Mas Elang, namun Mas Elang mengangkat tangannya tanda menolak bantuanku. Aku tidak berani protes, lantas aku segera mengambilkan makanan untuk Sya. Akhirnya kami makan tanpa bersuara, hanya suara piring dan sendok yang saling bersentuhan meramaikan suasana makan siang kami.




"Kenapa harus nginap di rumah Ibu, Mas?" tanyaku heran.


"Sekali-sekali apa salahnya, itu kan Mama kandung aku. Lagipula selama ini kita belum pernah nginap di rumah Mama, kan?" Apa yang dikatakan Mas Elang memang benar. Namun alasan kenapa kita belum pernah nginap di rumah Ibu selama hampir satu tahun pernikahan ini, itu karena sikap Ibu yang belum mau menerima aku.

__ADS_1


"Tapi, Mas... Ibu kan tidak suka dengan Nada, bukannya kehadiran kita terutama Nada hanya akan membuat Ibu semakin tidak senang?" debatku.


"Justru itu, Mas ingin membuat kalian berdamai dan akur. Mas tidak ingin mendengar kalian saling sindir dan saling berdebat lagi," ujar Mas Elang berargumen.


"Mas Elang tidak salah apa, saling sindir? Bukankah selama ini yang selalu menyindir aku, adalah Ibu? Perasaan aku tidak pernah memulai dan menyindir Ibu." Aku berguman dalam hati dengan perasaan yang tidak karuan. Kalau boleh memilih, aku rasanya ingin menolak ajakan Mas Elang untuk menginap di rumah Ibu.


"Ayo....!" Mas Elang sudah memberi kode dengan melambaikan tangannya mengajak aku untuk mengikutinya.


"Ayo Sya... , kita ke rumah Nene....!" ajak Mas Elang pada Sya yang sudah siap.


"Asikkk... ke rumah Nenek." Sya nampak bahagia. Sementara aku merasa setengah hati. Bukan apa-apa, seperti yang sudah aku ketahui sikap Ibu kepadaku dari awal memang tidak hangat dan welcome.


Mobil yang kami tumpangi perlahan meninggalkan kediaman rumah Mas Elang dengan gagahnya. Aku mengikuti saja kemauannya dan tidak berani membantah.


Sya yang duduk di kursi belakang, rupanya sudah tertidur. Dia begitu cepat tidur karena memang biasanya siang ini jatah tidur siangnya.


"Mas, kenapa Ibu tidak di rumah kita saja. Padahal ibu biasa ke rumah kita, kan?" tanyaku bernada protes.


"Kamu masih belum paham maksudku, ya? Aku hanya ingin mendekatkan kalian berdua, aku ingin kalian akur dan tidak saling bermusuhan lagi. Lagipula, Mama kemarin sudah terlihat menyesali perbuatannya, dan meminta maaf sama kamu. Jadi, tolonglah untuk kali ini kamu berusaha berdamai dengan Mama," ucap Mas Elang seperti sebuah permohonan.


"Tapi Mas, Nada tidak yakin Ibu bisa langsung baik sama Nada, buktinya kemarin saja Ibu meminta maaf, tapi seakan tidak tulus," sergahku membuat Mas Elang menghentikan laju mobilnya.

__ADS_1


"Kalau Mama masih bersikap dingin dan tidak menerimamu, maka kamu harus bersikap sebaliknya," balas Mas Elang menatapku tajam seperti sebuah tuntutan.


__ADS_2