
Bu Sri sedikit menunduk menyembunyikan rasa malunya karena merasa telah dinyinyiri salah satu teman arisannya yang mulutnya memang suka berkomentar. "*Malu aku ketahuan tidak disegani* *lagi sama menantuku, Nada. Hilang deh harga diri* *ini gara-gara si Nada tidak menegurku. Atau* *jangan-jangan si Nada memang tidak melihat aku*," guman Bu Sri termenung.
Setelah membuang rasa tidak nyaman di kantung kemihnya, Nada segera meninggalkan toilet. Lagi-lagi untuk menuju meja yang ditempatinya tadi bersama Elang dan Sya, harus melewati kerumunan ibu mertuanya. Namun Nada ada ide, kebetulan tadi dia merasa mual. Nada berbelok ke arah kanan menuju stand es krim dan sop buah. Kebetulan sekali saat merasa mual ada makanan yang bisa menekan rasa mualnya.
"*Es krim dan sop buah ini penyelamatku untuk* *tidak ketemu* *langsung dengan ibu*," batin Nada seraya menuju stand es krim. "Ahhh... lumayan segar," bisiknya saat es krim sudah menuju kerongkongannya.
"Nada....!" kejut seseorang saat Nada sedang asik menyuapkan es krim di mulutnya. Benar-benar segar di mulut dan kerongkongannya saat es krim itu memasuki mulutnya.
Nada langsung menoleh dan menyelidik siapa gerangan yang mengejutkannya tadi. Saat Nada berbalik dan melihat ke arah orang itu, Nada tidak langsung mengenali pria muda itu. Diperkirakan usia pria muda itu 3 tahun lebih tua darinya.
Rapi, tampan, dan wangi, kesan yang Nada tangkap. Seperti kenal, namun Nada tidak ingat. "Siapa ya?" tanya hati Nada.
"Kamu Nada Irama, kan?" tanya lelaki muda itu mencoba mengingatkan ingatan Nada.
"Iya....!" serunya, sembari mengingat-ingat siapa lelaki muda di hadapannya.
"Kamu sudah tidak kenal aku, ya?" Sekali lagi lelaki di depan Nada mencoba mengingatkan Nada tentang siapa dirinya.
"Ingat tidak, saat kita kecil? Kamu punya teman masa kecil dan dia pernah menyatakan cintanya sama kamu, tapi kita harus berpisah karena aku ikut pindah ke Sulawesi bersama orang tuaku, dan aku harus kuliah ke Singapura," terangnya mencoba mengingatkan Nada kembali.
"Kak Nadie....!" seru Nada sedikit terlonjak. Ada rasa gembira saat bertemu teman masa kecilnya itu. Pria muda yang tampan itu mengangguk dan tersenyum gembira seraya memegang jemari Nada. Nada yang menyadarinya langsung menepis pelan. Pria muda bernama Nadie itu sedikit heran dan nampak gurat kecewa di wajah tampannya.
Nadie merupakan teman masa kecil Nada. Mereka dulu bertetangga. Karena sering main bersama dan namanya hampir sama, oleh teman-teman sepermainannya sering dijodoh-jodohkan. "Nadie Nadaaa, Nadie Nadaaa....!" begitulah dahulu mereka selalu dijodoh-jodohkan. Bahkan saking seringnya melihat Nadie mengajak Nada bareng ke sekolah, oleh teman-temannya dijuluki pasangan Romeo dan Juliet. Padahal pergi ke sekolahnya tidak berdua, melainkan bersama dengan yang lainnya.
Walaupun mereka beda sekolah, namun jarak sekolahnya berdekatan. Nada masih SMP kelas 3, dan Nadie sudah SMA kelas 3 juga. Nama sekolahnya juga sama karena mereka sekolah di SMP dan SMA Negeri di bawah naungan pemerintah.
__ADS_1
Nadie yang saat itu sudah remaja pernah nembak Nada dan menyatakan cinta pada Nada yang masih SMP. Walaupun Nada tidak pernah mengatakan iya, namun gerak tubuhnya menyiratkan cinta. Cinta anak sekolahan yang bagi Nada buat penyemangat saat belajar. Nada merasa masih malu saat diketahui teman-temannya bahwa mereka telah jadian.
Namun kisah cinta monyet mereka tidak lama, karena jarak yang harus memisahkan. Saat Nadie lulus sekolah, Nadie langsung kuliah di Singapura dan ikut pindah bersama orang tuanya ke Sulawesi. Saat itu Nada begitu sedih, karena harus kehilangan teman masa kecilnya.
"Gimana... sudah ingat, kan?" Nadie mencoba membuyarkan lamunan Nada, yang sedang mengingat memori beberapa tahun yang lalu.
"Iya, Nada sudah ingat sekarang. Kak Nadie kenapa bisa berada di Jakarta? Pernikahan ini, apakah Kakak termasuk tamu undangan juga?" Nada bertanya penuh penasaran.
"Iya jelas dong, aku kan sepupu dari pengantin prianya," jawabnya membuat Nada terkejut.
"Apa....?" Nada seakan masih tidak percaya.
"Iya... aku sepupu sama Kak Rudi. Kak Rudi merupakan anak dari Uwak aku yang ada di Bandung," jelas Nadie sambil menikmati es krim yang ada di stand. Sesekali Nadie mengambilkan es krim buat Nada. Seolah-olah kembali ke masa lalu, Nadie remaja selalu membelikan es buah yang beku di warung tetangganya jika dia pulang sekolah, dan Nada menyukainya terutama es buah yang isinya rasa rujak.
"Kamu masih suka es buah beku rasa rujak itu kan?" Nadie menggugah kembali memori Nada di masa lalu yang suka sekali dengan es buah beku yang rasa rujak.
"Iya, Kak... Nada suka," jawab Nada.
"Yang mana Kak?" Nada penasaran.
"Saat kita jadian, aku ingin mengulangnya lagi. Dan kita kembali menjadi sepasang kekasih," ungkapnya dengan matanya yang menerawang jauh.
"Uhuk, uhuk, uhuk....!" tiba-tiba Nada terbatuk seakan keselek sesuatu. Nadie begitu panik lalu dengan cepat dia mengambilkan Nada air mineral.
"Ini minumlah," sodor Nadie yang segera diraih Nada lalu diminumnya.
Nada menarik nafasnya dalam dan mengaturnya, rasa keselek tadi benar-benar menyiksanya. Padahal cuma menelan es krim yang teksturnya lembut dan tidak keras. Mukanya memerah dan air matanya keluar. "Ya ampun, Nada!" Nadie mengambilkan tisu buat Nada.
"Kenapa, kok keselek?" tanya Nadie heran.
"Tidak kenapa-napa Kak. Nggak tahu nih tiba-tiba saja keselek. Terimakasih ya tadi air mineralnya," ucap Nada berterimakasih.
"Iya, sama-sama. Eh ngomong-ngomong tentang masa lalu kita, apakah masih ada kesempatan untuk aku kembali lagi?"
__ADS_1
Nada diam tidak menjawab, Nadie tidak tahu penyebab Nada tadi keselek itu karena pertanyaannya yang mengungkit masa lalu dan Nadie ingin kembali. Bagi Nada jelas tidak bisa, sebab dia kini sudah menjadi milik orang.
"Kenapa kamu tidak menjawabnya?" desaknya lagi penasaran. Bagi Nada ini saatnya berterus terang.
"Sebenarnya, Nada sudah....!"
"Bunda....!" Teriakan seorang bocah membuyarkan ucapan Nada yang terpaksa menggantung. Nadie sontak menatap heran ke arah Sya dan Elang yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
"Siapa, mereka??" tanya Nadie.
"Sya... Mas Elang!" kejutnya seraya meraih tangan Sya.
"Ayo pulang....!" Elang menarik tangan Nada perlahan namun tekanan dipergelangan tangannya terasa kuat sehingga membuat Nada sedikit kesakitan. Raut muka Elang beda, tidak ramah lagi seperti tadi, seakan menyimpan kemarahan.
Elang berhenti sejenak lalu berjongkok dan memangku Sya. "Ikuti aku, dan kita pulang!" titahnya tegas sembari melangkah panjang meninggalkan pesta pernikahan yang masih menyisakan banyak tetamu.
Nada mengikuti Elang dari belakang, pikirannya kembali ke beberapa bulan ke belakang. Kejadian ini hampir mirip dengan saat kejadian itu di pernikahan Marisa. Nada yang habis dari toilet, tidak sengaja bertemu Ramdan dan Romi, teman saat Nada masih bekerja di Supermarket dulu. Karena lama tidak bertemu, mereka keasikan ngobrol, lalu ketahuan Elang yang sengaja mencari Nada. Ini seakan dejavu bagi Nada. Nada sudah menduga Elang bakal marah lagi padanya, dan menduga Nada yang tidak-tidak.
"Masuk....!" sentaknya pelan. Walau pelan namun tekanannya terasa ke ulu hati Nada. "Sya duduk di belakang ya. Jangan protes!" titahnya tegas. Sya patuh dan cuma diam saja. Mungkin Sya sudah mengantuk saking kekenyangan saat makan tadi.
Mobil keluar dari gedung tempat dihelatnya pesta pernikahan koleganya Elang. Lalu mobil Elang membelah jalanan ibu kota yang mulai disesaki pengendara motor maupun mobil. Elang menyetir dengan fokus dengan raut wajah tegas dan menyimpan amarah.
30 menit kemudian, mobil Elang sampai di depan gerbang rumah yang langsung mendapat sambutan oleh si penjaga rumah, yaitu Usep. Pintu gerbang terbuka dan Elang langsung memasukkan mobilnya ke dalam.
Elang segera keluar mobil, setelah mobil terparkir dengan benar. Sya yang sudah tertidur diangkat dan dipangkunya, lalu dibawa Elang ke dalam kamar Sya. Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh malam, itu artinya Sya tidur lebih cepat dari biasanya.
Elang menyusul Nada yang telah masuk duluan ke kamar, lalu menutup pintu rapat-rapat. Entah apa yang akan dilakukan Elang. Sementara Nada sedang berada di dalam kamar mandi membersihkan diri.
__ADS_1
Elang kembali lagi keluar memberi kesempatan Nada di kamar mandi. Lima menit kemudian Elang kembali ke kamar, lalu keluar menuju balkon, menyalakan rokok, lalu mengisapnya. Kepulan asap itu menandakan kemarahan Elang yang masih tertahan. Ada apa dengan Elang, apa yang membuat Elang marah?