
POV 1 (Nada)
Tiba di halaman rumah bapak, aku langsung turun dari taksi dan membayar ongkosnya. Aku berjalan menuju pintu depan rumah bapak yang kini nampak bagus dan kokoh. Rumah yang sudah diperbaiki atas inisiatif Mas Elang.
"Assalamualaikum ....!" salamku lantang, yang langsung dapat sambutan dari Bapak. Bapak muncul tergopoh dari arah belakang dengan membawa alat-alat bengkel.
"Wa'alaikumussalam ... Nada ...! Dengan siapa kamu datang Nak? Mana suami kamu?" jawab Bapak diimbuhi pertanyaan.
"Nada sendiri, Pak. Mas Elang tidak ikut, " jawabku. Bapak langsungi ko heran dan penasaran.
"Kamu datang ke sini tidak sedang bertengkar kan, Nak? Bapak tidak suka, jika kamu datang ke sini karena sedang bertengkar dengan suami kamu," Todong Bapak, membuat aku bingung harus jawab apa.
"Tidak, Pak. Mas Elang juga sudah tahu Nada di sini, di rumah Bapak," jawabku.
"Syukurlah ....!" sahut Bapak nampak gembira.
"Bapak mau ke bengkel dulu, adik kamu sekolah. Baik-baik di rumah ya. Kunci saja dari depan pintunya ya!" perintah Bapak sembari beranjak dan pergi hendak ke bengkel.
Setelah Bapak pergi, aku langsung menuju kamar yang biasa aku tempati jika aku sedang datang ke sini. Aku termenung sejenak dan duduk di pinggir kasur. Seketika bayangan Mas Elang dan Sya berkelebat dalam benakku. Mas Elang terlihat khawatir dan sedih akan kepergianku.
Aku merogoh HPku yang sejak tadi aku simpan di dalam tas. Saat kubuka aplikasi WA ada pesan masuk dari Mas Elang yang memberitahu bahwa mengantar aku ke Doktetr Gilangnya siang saja, sebab setelah mengantar Sya ke sekolah, Mas Elang langsung meluncur ke restoran.
Perlahan aku baringkan tubuhku yang terasa lelah, lama-lama aku merasa ngantuk dan tertidur. Suara kumandang azan Lohor membangunkan tidurku. Bergegas aku ke kamar mandi dan membersihkan diri untuk menghadap Illahi Robbi.
Rasa lapar langsung menyerang perutku, aku langsung ke dapur mencari sesuatu yang bisa aku makan. Di meja makan aku mendapati sayur asam dan goreng telur. Tanpa babibu kuisi perutku yang lapar dengan lauk seadanya.
"Alhamdulillah ....!" ucapku bersyukur dengan perut yang sudah kenyang.
Saat waktu menunjukkan pukul 12.45 menit, aku merasa suntuk dan bingung apa yang mau aku kerjakan. Di rumah sendiri, Nadly adikku masih belum pulang dari sekolah, akhirnya demi membunuh suntuk, aku pergi ke bengkel bapak untuk sekedar mengusir rasa bosan. Aku bersyukur kehamilanku kali ini tidak terlalu parah, padahal usia kehamilan masih kurang lebih satu bulan.
__ADS_1
Tiba di bengkel, Bapak sedang sibuk banget. Dua pegawai Bapak juga sibuk. Aku yang melihat berinisiatif untuk membantu.
"Kenapa kamu ke sini, Nak?" Tanya Bapak heran.
"Nada suntuk di rumah, Pak."
"Sudah makan, belum?"
"Sudah, Pak. Tadi di rumah makan sayur asam sama goreng telur buatan Bapak," jawabku.
"Duduk saja di sana, kamu tidak perlu bantu Bapak," peringat Bapak sambil menunjuk ke arah sebuah kursi di dalam bengkel itu.
Aku memilih duduk di dalam bengkel sambil membaca Novel online karya Novelis ternama.
"Mbak, Primaxo 4 liter satu jerigen," suruh seorang pembeli seraya menyodorkan uang 150 rb. Aku yang lagi fokus dengan bacaanku, tiba-tiba tetkejut dan menoleh menanyakan apa yang mau dibeli orang itu.
"Iya, Mas, tadi apa yang mau dibeli?" tanyaku.
"Primaxo 4 liter satu jerigen," jawabnya.
"Sebentar ya," ucapku sambil mencari oli yang dimaksud pembeli tersebut. Dengan susah payah menaiki kursi plastik, akhirnya aku mendapatkan apa yang diminta pembeli itu.
"Makasih Mbak," ucapnya yang kubalas dengan senyuman.
"Mbak, Xelix ...!" seru seorang pembeli menyebutkan merek salah satu oli mobil. Aku segera mencari merek oli yang dimaksud pembeli tadi. Rupanya letaknya di atas lagi seperti oli motor yang dibeli pembeli pertama. Aku jadi bingung, sebab merek oli yang disebut pembeli banyak warna jerigennya.
"Nah ... itu Mbak, yang kuning!" tunjuknya tanpa ku toleh. Aku mengambil oli yang dimaksud pembeli tadi.
"Ini, Mas!" sodorku. Aku kaget seketika saat melihat siapa orang tersebut.
"Kak Nadie ....?"
"Nada ....?" Rupanya orang yang jadi pembeli itu adalah Kak Nadie. Aku jadi heran kenapa Kak Nadie ada di sekitar sini. Apakah kebetulan lewat atau memang ada bisnis di sini? Kami sama-sama terkejut dan tidak menyangka akan bertemu di sini.
"Lho ... kenapa kamu berada di sini, kemarin bukankah kamu ada di Lenteng?"
"Iya, Kak, Nada sedang berada di rumah Bapak. Dan ini kebetulan bengkel milik bapak," jelasku.
__ADS_1
"Bapak? Di mana, Bapak?" Kak Nadie terkejut seraya mengedarkan pandangannya mencari bapak.
"Bapak sedang sibuk, Kak. Mungkin berada di samping bengkel melayani pelanggan lain," ucapku.
"Kakak pengen ketemu Bapak."
"Nanti juga Bapak ke sini, Kak," sergahku.
"Jadi, Bapak pindah juga ke kota ini?"
"Iya ....!"
"Jadi benaran yang kemarin itu suami kamu? Sayang ya, Kakak keduluan orang lain," ucap Kak Nadie seakan menyesalkan.
"Itu, Bapak!" seruku membuyarkan lamunan Kak Nadie.
"Bapak....!" seru Kak Nadie menghampiri Bapak dengan senangnya. Bapak yang dihampiri nampak kaget dan heran sembari mengamati Kak Nadie.
"Nak Nadie ...!" seru Bapak seraya bersalaman dan saling rangkul menumpahkan kerinduan. Bagaimana tidak, Bapak dan Kak Nadie sangat dekat. Kami ketika di Bandung bertetangga dan kami sudah sangat akrab. Bahkan Bapak. sudah menganggap Kak Nadie seperti anak sendiri.
"Nak Nadie ... tidak sangka kita bisa berjumpa di sini, padahal kita dulu sama-sama di Bandung, kemudian kita berpisah karena Nak Nadie harus ikut pindah ke Sulawesi bersama kedua orang tua," ucap Bapak mengenang kembali masa-masa dahulu saat Kak Nadie bersama kedua orangtuanya di Bandung.
"Bagaimana kabar ibu dan bapaknya Nak Nadie? Mereka sehat?"
"Alhamdulillah keadaan ayah dan ibu sehat walafiat Pak," sahut Kak Nadie.
"Sebentar, Bapak tinggal dulu. Ada pelanggan yang mencari Bapak," sergah Bapak sambil bergegas menuju samping bengkel. Tinggallah kami berdua terlibat obrolan seru tentang masa kecil hingga masa sekarang.
"Bunda .... !" tiba-tiba saat aku dan Kak Nadie masih asyik dengan berbagai obrolan, teriakan seorang anak kecil memecah fokus kami masing-masing.
"Sya ....!" kejutku seraya menatap ke arah Sya. Yang lebih membuatku terkejut adalah keberadaan Mas Elang yang langsung nampak tidak suka melihat aku berdekatan dengan lelaki lain.
"Ayo ... kita ke rumah bapak!" ajak Mas Elang sembari menatap tidak suka terhadap Kak Nadie.
"Nada, harus pamit dulu sama Bapak." Bergegas aku menuju bengkel samping. Kak Nadie menatap interaksi aku dan Mas Elang.
__ADS_1
"Nad ... Kakak balik dulu ya, kebetulan ini sudah siang. Salamkan buat Bapak, Kakak pamit," ucapnya seakan terburu-buru. Sementara Mas Elang melihat nyalang kepergian Kak Nadie masih dengan raut muka tidak suka.
Bersambung....