"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Terkuak


__ADS_3

"Assalamu'alaikum....!" ulangnya.


"Mbak Marisa....!" teriakku seraya menuju pembatas tangga dan melihat ke bawah. Benar saja, Mbak Marisa datang dengan senyum di wajahnya.


Aku menuruni tangga meninggalkan Sya dan Mas Elang dengan tergesa-gesa, saking senangnya melihat sepupu Mas Elang datang. Yang ada di kepalaku hanyalah, bahwa kedatangan Mbak Marisa bisa menguak siapa dalang dibalik hilangnya sertifikat PerkaSya Restoran.



"Ya ampun Nada... hati- hati lho!" peringat Mbak Marisa yang saat itu melihat aku sedikit oleng. Mas Elang menatap dari atas tangga kaget, sambil menuntun Sya akhirnya Mas Elang ikut menuruni tangga.



"Sya... Tante kangen....!" teriak Mbak Marisa merentangkan tangannya menyambut Sya yang kini sudah siap memeluk Mbak Marisa. Mereka saling peluk dan bahagia. Lalu Mbak Marisa menyodorkan satu buah kresek besar yang isinya berbagai snack kesukaan Sya.



"Terimakasih Tante cemilannya, Sya suka!" ucap Sya berterimakasih.


"Sekarang, Sya ke ruang bermain dulu ya. Minta temanin Bi Narti. Tante mau ngobrol dulu sama Papa dan Bunda," titah Mbak Marisa yang langsung dipatuhi Sya.


"Kak... bagaimana ceritanya sertifikat itu bisa hilang?" Mbak Marisa langsung pada inti masalah yang saat ini sedang dihadapi Mas Elang, setelah Sya aman di ruang bermain. Sejenak Mas Elang menatap ke arahku lalu ke arah Mbak Marisa secara bergantian. Mas Elang tahu pasti akulah yang sudah bercerita pada Mbak Marisa.



"Kenapa? Apa kamu bisa bantu Kakak untuk menemukan pencurinya?" tanya Mas Elang dengan nada datar, Mas Elang seakan meremehkan Mbak Marisa.


"Bahkan memenjarakannya!" tekan Mbak Marisa di depan wajah Mas Elang. Mas Elang mengerutkan keningnya.


"Risa tahu siapa pencurinya, dan ini kemungkinan besar orang-orang yang sering datang kesini," duga Mbak Marisa yakin.


"Apa yang kamu yakini Mar, jangan gegabah menduga. Yang sering datang kesini kan Mama dan Sonia. Apa mungkin Mama melakukan itu? Kakak rasa Mama tidak mungkin," elak Mas Elang membela ibu.


"Risa bukan menuding Uwa, tapi orang yang sekarang disanjung Uwa untuk dijadikan menantu kesayangannya adalah pelakunya," cetus Mbak Marisa sambil tertawa sinis.



"Kamu jangan menuding, belum tentu Sonia. Kakak juga tidak percaya dia bisa melakukan itu."


"Kalau Kak Elang melihat rekaman ini, apakah mau ngelak lagi. Aduhh Kak Elang... Kakak ini menutup mata sih, tidak curiga sedikitpun saat Marisa tempo hari pernah cerita bahwa Risa pernah memergoki Mbak Mayang sama Sonia di Kafe Venus, mereka akrab banget. Jangan-jangan mereka bersekongkol. Iya, kan?" tandas Mbak Marisa sembari memperlihatkan sebuah vidio hasil rekamannya tiga hari yang lalu.


"Jangan ambil keputusan yang tergesa-gesa, Kakak belum menyelidikinya."

__ADS_1


"Lihat dulu bukti rekaman ini," Mbak Marisa menyodorkan HPnya ke tangan Mas Elang.


Mas Elang nampak heran dan mencoba meyakinkan dengan matanya bahwa yang dilihatnya benar-benar Mayang dan Sonia.



"Dari mana kamu dapatkan rekaman ini?"


"Mas Rasya, tiga hari yang lalu tidak sengaja melihat mereka di sebuah food court Tanza Mall, sebab Mas Rasya pernah mendengar cerita Risa tentang mantan Kak Elang, maka dengan keponya Mas Rasya berhasil merekam adegan kebersamaan Mayang sama Sonia."


"Coba perhatikan deh, apa yang Mayang kasih ke Sonia? Seperti sebuah amplop, kan? Dan Sonia seperti memberikan sebuah map. Tapi disini tidak jelas amplop warna apa," lanjut Mbak Marisa menjelaskan bukti rekaman itu.



"Sonia... Mayang... benarkah mereka bersekongkol?" Mas Elang mengepalkan tangannya penuh kemarahan.



"Bisa jadi Sonia yang melakukan pencurian itu, mungkin saat Nada pergi menemui Risa," duga Mbak Marisa lagi. Mas Elang geleng-geleng kepala.


"Kalau semua ini benar, aku tidak akan pernah biarkan pengkhianat itu bisa lolos," tandas Mas Elang geram.


"Bisa jadi Sonia berhasil masuk kamar kalian saat melihat Uwa lengah, dan Sonia berhasil mencuri Sertifikat PerkaSya Restoran," simpul Mbak Marisa sangat yakin.



"Nada sudah mengunci pintu kamar kita dan Sya, Mas! Jadi tidak mungkin Nada yang teledor atau lengah," potongku cepat, tidak ingin Mas Elang berspekulasi dan menundingku lupa mengunci pintu atau bla bla bla.



"Aku tidak menuding kamu... hanya saja, kok bisa Sonia membuka pintu sedangkan kunci cadangan disimpan di tempat yang tidak mungkin terjamah siapapun?"



"Itu mungkin saja Kak, Uwa itu kan dekat dan percaya banget sama Sonia, terlebih Uwa itu sangat menyayangi Sonia, menantu idaman yang ketahuan mencuri. Dari situ bisa saja Sonia berusaha mencari kunci cadangan saat Uwa lengah."



"Aku tidak sangka Sonia bisa melakukan itu."


"Modal muka polos dan cantik doang, tapi pencuri dan pengkhianat. Itu yang dibanggakan sama Uwa untuk jadi menantu??" cibir Mbak Marisa gemas.

__ADS_1


"Mar... jaga ucapanmu, kamu lagi hamil muda lho," peringat Mas Elang.


"Alah... memang betul kok Uwa kayak gitu, lihat saja Uwa akan menyesal jika melihat kenyataan pahit di depan mata." Lagi-lagi Mbak Marisa merasa puas banget jika ibu melihat kenyataan ini.


"Kakak akan selidiki dan benar-benar membuktikan bahwa Mayang dan Sonia pelakunya." Tandas Mas Elang geram.



"Udah ahh... Risa pulang dulu. Kelamaan disini malah gerah. Nada... aku pulang dulu ya! Jaga kesehatanmu untuk menghadapi Monster Lampir....!" pamit Mbak Marisa sembari melengos membalikkan tubuhnya menuju pintu keluar.



"Mar... apaan sih? Siapa yang kamu sebut Monster Lampir?" Mas Elang nampak kesal dan sebetulnya paham untuk siapa sebutan Monster Lampir tersebut.



"Ya Uwalah... siapa lagi," ujarnya sambil berlalu. "Hati-hati Mbak....!" balasku sedikit berteriak.



Mas Elang menggeleng-gelengkan kepalanya menatap kepergian Mbak Marisa adik sepupunya, yang selalu tidak akur dengan ibu.



Setelah kepergian Mbak Marisa, aku segera beranjak dan menaiki tangga tanpa menoleh Mas Elang.


"Nada....!" panggilnya. Aku pura-pura tidak mendengarkan dan terus menaiki tangga. Ada rasa kesal setelah bukti keterlibatan Mbak Sonia terkuak. Kesal sama ibu yang kini semakin sakit jika diingat, yang menuduh aku sebagai musuh dalam selimut atas hilangnya sertifikat PerkaSya Restoran, dan Mas Elang tidak membelaku.


Aku segera berlari menaiki tangga dan meraih handle pintu. Saat tubuhku mulai memasuki kamar dan akan menutup pintu kamar, Mas Elang dengan cepat sudah memasuki kamar dan menutupnya lalu menguncinya.



"Nada... Mas minta maaf....!" ucapnya seraya meraih tanganku dan berhasil merangkul tubuhku dari belakang.


"Untuk apa, Mas?" tanyaku datar.


"Untuk semua perlakuan Mama sama kamu." Aku membalikkan tubuhku dan menatap Mas Elang lekat.


"Nada rasa tidak perlu, walau sekejam apapun Ibu menghina atau mengejek Nada, Mas Elang tidak perlu minta maaf sama Nada. Sebab Nada hanya orang lain yang kebetulan jadi istri Mas Elang," ucapku sembari keluar dari kamar dan menuruni tangga. Mas Elang nampak prustasi dan menyusulku ke bawah.


__ADS_1


"Nada....!" panggilannya menghilang saat bunyi telpon terdengar berdering.


__ADS_2