"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Meyakinkan Tuan Lalim


__ADS_3

"Maaf, Tuan! Apa maksud Anda?" tanyaku tidak paham. Tuan Zul menatapku sinis, kemudian tersenyum penuh misteri.


"Anda jangan berlagak polos, Nona. Setiap orang yang datang kesini pasti membawa siasat dan bernegosiasi dalam kebohongan. Maka, bersiap-siaplah Anda menyerahkan bagian tubuh Anda yang mana yang akan segera saya korbankan!" tekannya sangat menyeramkan.


Jantungku tiba-tiba berdebar kencang penuh ketakutan, keringat dingin mulai bercucuran. Namun aku harus kuat, demi menyampaikan maksud dan tujuanku datang ke kediaman megah Tuan Zulfikar ini.


"Saya datang kesini tidak dalam bersiasat atau bernegosiasi dalam kebohongan, Tuan. Saya datang kesini dengan maksud dan tujuan yang jelas."



"Perempuan muda seperti Anda saya yakin hanya punya maksud terselubung. Anda pasti akan mengandalkan tubuh Anda untuk bernegosiasi," tuduhnya sangat kejam. Bagai disambar petir, seluruh badanku terasa tak bernyawa. Tuduhannya sangat tidak masuk akal, apakah aku nampak seperti perempuan tidak benar atau wajahku kelihatan sedang menyimpan maksud terselubung? Ingin marah, namun aku punya tujuan yang belum tercapai, yaitu mengambil kembali Sya dari tangan Mbak Mayang.



Ku atur nafasku supaya tenang dan teratur. Lalu aku mulai mengumpulkan tenaga. Sesekali aku meringis merasakan sakit di pelipisku yang kembali terasa sakit. "Ya... Tuhan, kuatkan aku!" batinku berdoa.



"Anda salah menilai saya sekejam itu, Tuan. Apakah saya di mata Anda nampak seperti perempuan yang tidak punya harga diri yang rela menjajakan tubuhnya demi suatu maksud?" ucapku bergetar, air mata yang menggenang susah payah aku tahan, namun satu persatu tumbang.



"Lantas, apa tujuanmu datang kemari. Tujuan jelas apa yang Anda maksud, Nona? Saya hanya akan memperingatkan sekali ini saja, jika Anda punya maksud terselubung dan bersiasat serta ingin bernegosiasi dalam kebohongan, maka tidak segan-segan saat keluar dari istana ini, saya pastikan anggota tubuhmu berkurang satu," ancamnya serius. Untuk beberapa saat aku terhenyak, dan tubuhku seakan lemas tidak bertulang.



Setelah tenagaku terkumpul, kali ini aku beranikan diri menceritakan maksud dan tujuanku pada Tuan Lalim di hadapanku ini. Kalau tidak segera aku ceritakan, maka akan semakin alot dan berbelok-belok pembicaraannya, belum lagi tuduhan tidak benarnya.



"Tuan, ijinkan saya bicara sebentar! Untuk mengutarakan maksud dan tujuan saya datang ke kediaman Tuan ini." Aku berkata dengan penuh permohonan.



"Sepenting apakah tujuan Anda datang kemari, Nona? Jangan sampai tujuanmu hanya menyita waktuku yang berharga ini demi mendengar omong kosongmu!" ucapnya setengah berteriak. Aku sontak terkejut, sangat kaget dibuatnya.


__ADS_1


"Saya mohon, kembalikan anak sambung saya yang diambil paksa istri Anda, Nyonya Mayang!" ucapku langsung pada inti masalahnya. Tuan Zul diam, keningnya mengerut dia seakan tidak yakin apa yang aku ucapkan barusan.



"Apa maksud Anda, Nona? Istri saya mengambil paksa anak sambung Anda? Bicara itu yang jelas, jangan membuat otak jadi pusing."



"Iya, istri Anda Nyonya Mayang mengambil paksa anak kandungnya dengan cara yang kurang baik," ujarku lagi memperjelas. Tuan Zul tertawa sinis menganggap yang aku bicarakan bohong belaka.



"Itu tidak mungkin, istri saya tidak mungkin melakukan perbuatan yang tidak berkelas. Saya mengijinkan istri saya untuk selalu menemui anak kandungnya, dan saya tahu itu. Sebab istri saya selalu minta ijin saya jika dia ingin menemui anaknya," jelasnya membela istrinya. Aku harus persiapkan tenaga dan mental lagi untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya. Padahal aku sudah tidak sabar mengungkapnya.



"Itu tidak benar, Tuan," sangkalku pendek.


"Apa yang tidak benar menurutmu, Nona? Apakah seorang ibu yang selama 9 bulan susah payah mengandung tidak boleh menemui anaknya dan selalu dihalang-halangi?"



"Jangan berpendapat yang memojokkan seolah istri saya salah, yang salah itu adalah mantan suaminya. Bahkan istri saya bilang, mantan suaminya menginginkan dia kembali lagi bersamanya. Jika itu terjadi, maka langkahi dulu mayat saya," ancamnya serius. Aku menggeleng untuk menyangkal semua yang dikatakan Tuan Zulfikar.



"Itu tidak benar, Tuan. Saya disini tidak bermaksud memojokkan istri Anda, tapi saya ingin agar Anda tahu sebenarnya yang istri Anda lakukan adalah salah," tandasku hampir putus asa.



"Anda masih muda, Nona. Dan ucapan Anda kadang suka berlebihan bahkan dikurangkan." Aku hanya bisa memejamkan mata atas sikap tidak percayanya Tuan Zul terhadap Mbak Mayang. Okelah mungkin ini saatnya aku tunjukan siapa Mbak Mayang sebenarnya.



"Baiklah, sebelum Anda benar-benar tidak mempercayai saya. Maka ijinkan saya memperlihatkan sesuatu pada Anda," ucapku yang hanya mendapat cibiran dari wajah Tuan Zul.


Perlahan ku buka galeri foto dan memperlihatkan vidio rekaman yang baru beberapa jam terjadi.

__ADS_1


"Silahkan Tuan, Anda bisa lihat dengan seksama kejadian tadi siang di rumah kami," Aku sodorkan HPku lalu aku perlihatkan rekaman tadi. Tuan Zul menatap layar HP yang kini sudah berada di tangannya. Raut wajahnya kadang kesal, tidak jarang mengerutkan kening.



Tuan Zul berhenti sejenak melihat rekaman itu, lalu aku berusaha memperlihatkan satu video lagi saat Mbak Mayang menyusul ke PerkaSya Restoran siang itu.


Tuan Zulfikar tercenung saat melihat vidio yang kejadiannya agak lama ini. Mimik mukanya berubah-ubah, kesal, dan rasa tidak percaya bercampur baru disana.


"Jadi, apa yang harus saya lakukan?" Tuan Zul bertanya tentang apa yang harus dia lakukan?


"Saya mohon, perintahkan istri Anda untuk mengembalikan Sya anak sambung saya kepada saya. Saya mohon, Tuan!" mohonku lagi.


"Saya tidak bermaksud memojokkan istri Anda, Saya hanya ingin kembalikan anak sambung saya. Dan jika istri Anda merindukan anaknya, maka bisa dibicarakan baik-baik tanpa kemarahan dan emosi," lanjutku.



Tuan Zul berdiri, lalu dia melangkahkan kakinya menuju ruangan yang tadi pertama kali keluar menemuiku. Beberapa saat kemudian Tuan Zul keluar dengan raut muka yang tidak bahagia.



Hanya butuh waktu setengah jam, tiba-tiba orang yang kunantikan kehadirannya untuk mengembalikan Sya datang. "Mbak Mayang....!" pekikku. Mbak Mayang berjalan namun tidak bersama Sya. Dia melangkah melewatiku dan menatapku bengis.



"Sayang.... sudah menunggu lama?" sapanya sembari mencium tangan Tuan Zul dengan takzim. "Siapa dia? Kenapa ada gembel masuk istana kita, sayang?" tanyanya dengan tangan menunjuk ke arahku.



"Mbak Mayang....!" seruku.


"Apa... Mbak Mayang?" pekiknya tidak senang. Aku terbelalak melihat tingkah Mbak Mayang yang sombong.


"Mbak Mayang, Sya di mana? Tolong kembalikan Sya!" pintaku.


"Sya, aku tidak bersama Sya," sangkalnya sembari berdiri dengan angkuh di samping Tuan Zul.


"Mayang, duduklah....?" titah Tuan Zul dengan muka yang penuh amarah. Mbak Mayang yang tadi angkuh, kini sedikit menunduk dan duduk dengan raut yang takut.

__ADS_1


__ADS_2