"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Kerinduan Mas Elang


__ADS_3

Grab yang ditumpangi Nadly meninggalkan gerbang rumah Mas Elang, kemudian mobil Mas Elang memasuki gerbang. Mobil diparkir dengan benar, Mas Elang keluar lalu membunyikan alarm mobil pertanda mobil telah dikunci.



Saat Mas Elang mendekat, jantungku berdebar lebih cepat. Aku sudah mempersiapkan diri untuk menyambut Mas Elang, namun jantung ini rasanya tidak mau kompromi. Masih berdebar sampai Mas Elang mendekat.



"Mas!" seruku sambil meraih tangannya lalu aku cium. Mas Elang merangkul dan memelukku erat. Seperti ada kerinduan di sana.



"Akhirnya kamu pulang, Sayang," ucapnya penuh rasa rindu. Dekapannya semakin erat sehingga aku sulit untuk bergerak. "Ayo, ini masih pagi, kita ke atas. Apakah Sya belum bangun?" ajaknya seraya menarik lenganku menuju kamar kami.



"Tadi belum, Mas. Mas, bagaimana kabar ibu, Apakah sudah baikan?" jawabku, lalu bertanya tentang kabar ibu. Mas Elang tidak menjawab sampai kami tiba di kamar.



"Trek," suara pintu terdengar dikunci. Aku semakin berdebar. Mas Elang mendekat lalu meraih pinggangku di hadapkan dengannya. Tanganku sontak menahan dada bidangnya, ku tatap penuh malu wajah tampan pria dewasa di hadapanku ini, masih tetap mempesona dan mampu menggetarkan jiwa.



"Malu-malu ya, Mas jadi tidak sabar," ucapnya serak penuh damba. Aku semakin menundukkan kepalaku benar-benar merasa malu.



Mas Elang dengan cepat merengkuh tengkukku semakin dekat, lalu ciuman itu didaratkan tepat di bibirku. Sebuah hasrat yang memuncak kini sedang bergejolak dalam dada Mas Elang, seakan tiada tertahan. Mas Elang melepaskan pautan bibir kami, lalu menatap lekat ke arahku, dia berbicara dengan suara yang serak seperti tadi.



"Akhirnya kamu pulang, aku sangat merindukanmu. Dua hari tidak berjumpa rasanya setahun," ucapnya seraya membawa tubuhku ke atas ranjang. Tidak salah bayanganku, Mas Elang menumpahkan segala hasratnya saat itu juga penuh kerinduan. Aku tidak bisa menolak, pesona Mas Elang sungguh tidak bisa dielakkan, terlebih aku juga sangat merindukannya.



Tubuhku bergelinjang saat Mas Elang mencoba memberi sentuhan nakal di bagian tubuhku. Namun aku berusaha menghindar sebab gerakan Mas Elang takut mengenai perutku. Mas Elang paham, gerakan diperhalus tidak seagresif pertama. "Aku menginginkannya, aku sudah tidak tahan lagi," ucapnya menahan sesuatu yang seakan ingin segera dituntaskan. Beberapa menit kemudian ....


__ADS_1


Dan pertautan itu kini terjadi, aku dan Mas Elang menumpahkan segala hasrat yang sama-sama terpendam. Betul kata Mas Elang, dua hari tidak bertemu seakan setahun rasanya. Aku membalasnya dengan rasa bahagia.



"Mas, jangan terlalu kasar!" cegahku was-was, saat pergerakan Mas Elang mulai beringas. Was-was akan menyakiti janin yang ada dalam perutku. Sejenak Mas Elang menghentikan pergerakannya, lalu menatap mataku lekat. Tatapan mata sendu yang sangat mendamba.



"Ini tidak akan menyakiti janin kita, Sayang. Mas hanya akan menengok janinnya. Aku sangat merindukanmu, apakah kamu tahu itu?"



Tidak berapa lama, Mas Elang meraup kedua bibirku dan dibungkamnya dengan rakus dengan hasrat yang semakin menggebu. Aku terbuai dan terbawa oleh permainan Mas Elang yang membawaku seakan melayang di udara.



Pertautan itu berakhir dengan kemenangan kedua belah pihak. Mas Elang terlihat puas, sebelum benar-benar melepaskan pertautan kami, dia mencium kening dan bibirku sekilas lalu menjauh dari tubuhku dan terkulai lemas di sampingku dengan tangan yang masih melingkar di pinggangku.



Aku perlahan bangkit dan melepaskan tangan kekar Mas Elang lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Di dalam kamar mandi, setelah menyudahi mandiku, tiba-tiba aku merasakan perutku keram. Mungkin akibat perbuatan kami tadi yang cukup panas, perutku menjadi keram. Aku menjadi takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan pada janinku. Namun tidak berapa lama rasa keram itu hilang. Aku segera keluar kamar mandi.




Aku menuju kamar Sya, rupanya Sya sudah mandi dan disiapkan Bi Ijah. Sya sudah tampan dengan baju seragam yang melekat di badannya.



"Non," sapa Bi Ijah lalu meninggalkan kamar Sya, karena merasa sudah selesai menyiapkan Sya.



"Sya .... !" pekikku penuh kerinduan seraya menghampiri Sya dan merangkulnya. Sya membalas rangkulanku erat, dia seakan rindu berat padaku.



"Bunda. Bunda jangan pergi-pergi lagi ya. Bunda, jangan tinggalkan Sya!" ucapnya memohon diiringi isak tangis. Dalam keadaan seperti ini, aku tiba-tiba sangat merasa bersalah. Kepergianku rupanya membuat Sya terluka, dan dia begitu mengharapkan aku selalu ada di rumah ini. Sya memang tidak paham apa yang aku rasakan, dia hanya tahu aku adalah ibunya yang harus selalu berada di sampingnya.

__ADS_1



Aku urai rangkulanku pada tubuh Sya, lalu Ku tatap mata Sya lekat. "Bunda, jangan tinggalkan Sya. Sya tidak mau Bunda pergi. Sya tidak punya siapa-siapa lagi selain Papa dan Bunda," mohonnya dan tangisnya pecah. Aku menggerakkan bibirku, menahan tangis dengan gerakan bibirku. Aku tidak mau Sya melihat aku menangis, sebab ini akan membuatnya semakin sedih.



"Bunda janji, Bunda tidak akan lagi tinggalkan Sya!" pintanya memohon. Sebuah permohonan dari seorang bocah kecil yang rasanya tidak bisa aku tolak. Lagipula mulai detik ini atau bahkan sejak di rumah Bapak, aku bertekad akan menebalkan kuping dan hati, apabila ibu memperlakukan aku tidak baik lagi.



"Sayang ... Bunda janji Bunda tidak akan pergi meninggalkan Sya, Bunda akan tetap bersama Sya."


"Sama aku, kamu tidak akan berjanji?" Tiba-tiba Mas Elang muncul dan menimpali, membuat aku terkejut dan sontak tersipu malu.


"Iya, Mas. Nada berjanji tidak akan meninggalkan kalian, selama Mas Elang masih menginginkan Nada di sini," ujarku menunduk.


"Aku selalu menginginkan kamu di sini, di sampingku. Dan aku tidak mau kehilangan kamu lagi," tandasnya seraya meraih tubuhku dan merangkulnya. Pagi-pagi begini Mas Elang sudah memperlihatkan sikap romantis, memeluk dan sepertinya ingin nyosor menciumku, namun karena ada Sya, Mas Elang urung.


"Papa ... , mentang-mentang Bunda sudah pulang, Papa lupa sama Sya." Sya merengut seraya berlalu menuju jendela dan diam di sana, Sya rupanya merajuk. Aku dan Mas Elang beranjak menghampiri Sya dan kompak merengkuh bahu Sya. Rupanya bocah enam tahun itu cemburu melihat Mas Elang lebih dulu menegur aku daripada dia.



"Sya ... kok merajuk sih. Papa tetap ingat Sya, barusan Papa menegur Bunda duluan karena Bunda lebih dekat dengan daun pintu. Sayang banget kalau Bunda tidak ditegur dulu. 'Kan bisa-bisa Bunda pergi lagi meninggalkan kita. Sya tidak mau 'kan Bunda pergi lagi?" Mas Elang beralasan dengan menyindir kepergian aku. Aku jadi tertunduk lagi gara-gara sindiran Mas Elang.



"Ayo sini, kita sarapan pagi bersama dulu. Sekarang 'kan sudah ada Bunda, kita sarapan sama Bunda lagi." Mas Elang membujuk Sya yang masih merajuk. Namun akhirnya Sya mau diajak sarapan karena diiming-imingi akan diajak ke RS karena akan memeriksakan dede bayi.



"Benaran, Pah? Kita ke RS memeriksa dede bayi di perut Bunda?"


"Iya ... lalu setelah itu menengok Nene sebelum pulang," ujar Mas Elang.


"Asikkk ... kita ke RS memeriksa dede bayi," soraknya girang.


"Eits ... tapi Sya harus sekolah dulu, ke RSnya nanti setelah pulang dari sekolah."


"Tapi benaran, ya, Pah?" yakin Sya takut dibohongi Mas Elang. Mas Elang mengangguk yakin sembari merengkuh Sya dan membawanya menuju meja makan untuk sarapan pagi. Kami berjalan beriringan menuju meja meja makan.

__ADS_1


__ADS_2