
Di rumah Nada, Marisa yang tadi berkunjung kini sudah mau pulang. Dia berdiri dengan memegangi perutnya, seakan merasakan si jabang bayi yang makin berat.
"Nad, aku pulang ya. Kayaknya waktu makin siang nih. Aku mau mampir ke kantor suami aku dulu. Kapan-kapan lagi aku mampir ya," ucap Marisa terlihat sedikit meringis.
"Mbak Marisa, nggak kenapa-kenapa, kan?" Nada merasa heran melihat Marisa meringis.
"Nggak, Nad, aku tidak apa-apa, barusan perutku terasa keras saat si jabang bayi menendang. Dia aktif banget sekarang ini," ujarnya seraya berdiri.
"Syukurkah. Senang kayaknya ya, jika jabang bayinya sudah mulai menendang-nendang."
"Ya, begitulah, Nad. Nanti juga kamu bakal merasakannya jika udah usia kandungan 7 bulan keatas kayak aku. Ya udah deh aku balik ya."
"Iya, Mbak. Hati-hati ya!" peringat Nada.
"Iya, Nad. Kalau gitu aku pamit ya," ujar Marisa mulai melangkah.
"Ingat, Nad. Jangan stres ya. Kamu lagi hamil jangan muncul pikiran-pikiran yang bikin hatimu sakit. Kalau Wa Sri bicara yang menyakitkan, lebih baik kamu pergi saja jangan ditanggapi," ucap Marisa tidak henti-henti memberi sarannya pada Nada.
"Iya, Mbak, Insya Allah. Nada akan berusaha," ucap Nada berjanji. Marisa tersenyum lalu ngeloyor menuju kamar Ibu Sri dahulu sebelum benar-benar pergi. Setelah berpamitan sama Ibu Sri, Marisa pulang dijemput grab yang sudah dipesan.
Seperginya Marisa, Nada bermaksud ke kamarnya. Namun, sebelum mencapai tangga, Bu Sri memanggil Nada dengan pelan.
"Nadaaa!" panggilannya terasa lemah, maklum Bu Sri sakit, sejak dia sakit bicaranya yang keras tidak lagi terdengar. Nada menoleh dengan banyak pertanyaan.
Nada menghampiri Ibu yang berada di ruang tengah dengan kursi roda. "Ada apa, Bu?" Nada bertanya seraya memeluk bahu Bu Sri.
"Aku mau jalan-jalan ke taman kota ini," ujarnya, lalu diam. Nada merunduk menunggu kelanjutan ucapan Bu Sri.
"Ohh, iya, Ibu mau jalan-jalan? Biar Nada temani, ya, Bu!" ujar Nada seraya menuju tangga bermaksud mengganti baju.
"Sebentar ya, Bu, Nada mau ganti baju dulu," ujarnya dan segera ke atas.
Tiba di kamar, Nada segera memilih baju untuk ia gunakan, dan celana jeans serta jaket hoody menjadi pilihannya. Setelah selesai Dara duduk sejenak di atas ranjang, sebetulnya saat ini dia merasakan mual, tapi tidak parah. Sebentar dia ke kamar mandi untuk memuntahkan dulu. Namun rupanya hanya muntah cairan bening.
__ADS_1
Sebelum beranjak ke bawah Nada memoles sekujur tubuhnya dengan minyak kayu kencana kesukaannya. Wanginya yang menenangkan khas aroma terapi menjadi pilihannya. Setelah dirasa cukup, tidak lupa Nada bekal minyak kayu kencana serta memasukkan beberapa permen rasa jeruk ke dalam tas sandingnya.
Nada kembali dengan baju yang sudah diganti. Memakai celana jeans dan jaket hoody.
"Ayo, Bu!" ajak Nada sembari jalan duluan, sedangkan Perawat Vera mengikutinya dari belakang sambil mendorong roda Bu Sri.
Di depan rumah, Nada memanggil Pak Udin untuk mengantar ke taman kota yang jarak tempuhnya kurang lebih lima belas menit.
Pak Udin segera mengikuti perintah Nada. Membantu Bu Sri naik ke atas mobil.
Setelah semuanya siap, deru mesin mobil mulai terdengar, kemudian mobil keluar gerbang yang dibuka Usep yang kebetulan jaga siang kali ini.
"Kami pergi dulu, ya, Bi Narti," pamit Nada pada Bi Narti yang kebetulan sedang menyapu di halaman depan rumah.
"Iya, Non. Hati-hati," ujar Bi Narti manggut.
Tidak terasa mobil sudah sampai di parkiran taman kota. Nada dan Perawat Vera turun duluan, kemudian Pak Udin dan Perawat Vera menurunkan Bu Sri dengan dipapahnya dan didudukkannya ke kursi roda.
Perawat Vera mendorong kursi roda Bu Sri ke dalam taman kota, tiba di. sebuah kursi panjang, Perawat Vera menghentikan kursi roda.
"Bu, apakah di sini cukup menenangkan suasana hati Ibu? Kalau belum, kita masih mencari tempat yang nyaman buat Ibu melihat taman ini," tanya Perawat Vera sembari menundukkan bahunya. Taman, merupakan tempat yang disarankan Dokter syaraf yang menangani Bu Sri. Sering diajak ke taman yang masih banyak bunga-bunganya bisa membuat efek menenangkan, itu harapannya.
"Di sini saja, Vera. Di sini cukup bagus melihat bunga-bunganya," sahut Bu Sri setuju dengan tempat yang dipilihkan Perawat Vera. Nada tersenyum mendengar Bu Sri berkata barusan, nada bicaranya lemah tidak sesangar dahulu. Semoga ini awal dari perubahan baik Bu Sri, dan hikmah dari rasa sakit yang dideritanya. Harap Nada tulus. Jauh di lubuk hatinya, Nada berharap Bu Sri cepat sembuh.
Sudah dua jam lebih Bu Sri masih betah dan belum minta pulang. Perawat Vera bekerjasama dengan Nada hari ini berhasil membuat suasana hati Bu Sri *happy*, Bu Sri kadang tertawa sebab dari rumah Perawat Vera membawa buku cerita humor yang sengaja dibawa untuk diceritakan pada Bu Sri. Dan ini rupanya berhasil.
Perawat Vera berinisiatif membawa Bu Sri pulang, karena waktu sudah mau menunjukkan pukul 12 kurang. Perawat Vera takut Bu Sri kepanasan jika terlalu siang. Beberapa langkah Perawat Vera mendorong kursi roda Bu Sri, tiba-tiba dengan tidak diduga orang yang menjadi idaman Bu Sri selama ini muncul. Memang takdir, harus bertemu di taman kota dengan tidak pernah direncanakan.
__ADS_1
"Sonia ...!" seru Bu Sri pelan dan lirih. Sonia sontak melihat ke arah Bu Sri yang tadi memanggilnya. Sonia menatap garang ke arah Bu Sri, sedangkan Nada menatap terkejut karena sangat tidak menyangka bisa bertemu Sonia di sini.
"Tante ... jadi sekarang lumpuh ya?" sinisnya terkejut dengan tatapan yang tidak bersahabat. Nada heran dengan Sonia, bukankah dia kemarin masuk penjara karena kasus pencurian sertifikat yang dilaporkan Elang? Tapi sekarang dia sudah berkeliaran bebas sama halnya Mayang yang sudah bebas diluaran. Nada meyakini baik Mayang maupun Sonia berhasil bebas karena bantuan jaminan dari seseorang.
"Kenapa menatapku seperti itu, Tante? Apakah tante heran kenapa aku berada diluaran dan bukan di penjara?" ujarnya dengan nada sombong. Bu Sri menatap Sonia tidak percaya.
"Sonia ... !" sahut Bu Sri seakan meminta Sonia untuk mendekatinya.
"Kenapa panggil-panggil aku? Masih ingin menjodohkan aku dengan anakmu yang hipersex itu, ihhhh amit-amit. Maaf ya, aku sudah jijik melihat Tante dan kelakuan Si Elang hipersex yang bisa-bisanya mempertontonkan adegan ranjangnya dengan perempuan ini, dua-duanya sama saja, maniak ***," hardik Sonia geram. Nada terbelalak tidak percaya dengan semua kata-kata Sonia. Wajah Nada tiba-tiba memerah. Dia menghampiri Sonia.
"Jaga sedikit ucapan Anda, Mbak Sonia! Jangan pernah kata-katai orang lain seenak lidah tidak bertulang Anda. Anda ini berpendidikan dan katanya punya atitud yang baik, tapi Anda memperlakukan mertua saya dengan tidak hormat, padahal beliau sangat sayang Anda dan mengelu-ekukan Anda. Tapi balasan Anda Anda malah hinaan dan hardikan," balas Nada tidak merasa takut.
"Ehh, wanita ranjang, berani-beraninya kamu bicara keras di hadapanku dan membela tante peot yang sering menyakitimu. Sadarkah dirimu selama ini hanya jadi bahan cemoohan mertua tersayangmu, Tante Sri si peot ini?" umpat Sonia lagi berteriak.
"Hentikan, jangan sebut aku wanita ranjang. Tutup mulut Mbak. Sonia dengan lakban biar disekolahkan lagi," kecam Nada lagi tidak kalah geram.
"Jangan berani-berani panggil aku Mbak, karena aku bukan kakakmu, dasar wanita ranjang, maniak \*\*\*," umpat Sonia lagi, membuat Nada naik pitam. mendengar kata wanita ranjang disebut lagi Sonia.
"Baiklah, menyingkir kau wanita beratitud baik dan tapi pencuri sertifikat orang, kami mau lewat," teriak Nada sengaja dikencangkan volume suaranya supaya didengar orang sekitar. Mendengar itu Sonia mencak-mencak kesal sembari ingin menendang kursi roda yang diduduki Bu Sri, namun Perawat Vera sigap mendorong lebih dulu, sehingga kaki Sonia hanya menendang ruang kosong.
"Awas kalian ya!" teriaknya sambil mengacungkan tinjunya di udara tanda sangat kesal. Sementara Nada dan Perawat Vera segera membawa Bu Sri menuju mobil yang diparkirkan Pak Udin di parkiran taman, dan tidak peduli dengan Sonia hanya yang ngedumel.
__ADS_1