"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Nasihat Bapak


__ADS_3

"Ayo ... bangkitlah, Nak. Kamu sedang hamil, jika sedih begini akan berpengaruh pada janin yang dikandung. Perempuan hamil tidak boleh stress dan berpikiran negatif," bujuk Pak Zakaria sembari memegang bahu Nada memberi kekuatan. Nada mendongak, wajahnya sembab dan matanya sedikit bengkak.



"Sekarang yang harus kamu lakukan adalah berpikiran positif dan berusaha untuk bahagia," ucap Pak Zakaria memberikan dorongan.



"Bahagia bagaimana, Pak? Sementara di sana Nada selalu kecewa dengan sikap ibu," tepis Nada menampakan kekesalannya.



Pak Zakaria menatap lekat anak perempuannya seperti ada rasa yang tidak setuju. "Kebahagiaan seorang istri terletak pada suaminya. Jika di dalam rumah tangga kita ada pihak lain yang ikut merecoki, anggap dan yakini itu adalah bagian dari ujian kita dalam berumah tangga." Pak Zakaria diam sejenak.



"Jika yang merecokinya adalah ibu mertua sendiri. Anggaplah dia seperti ibu kandung sendiri yang sedang memarahi kita. Jika perkataannya menyakitkan dan tidak mengenakkan hati, diamkan saja. Karena jika didiamkan, maka dia akan diam juga dan bosan merecoki kita. Bapak yakin kamu bisa melewati ini, apalagi ibu mertuamu tidak tiap hari datang ke rumah. Bapak rasa, ibunya Nak Elang cuma kesepian dan mencari perhatian di rumah kalian," ucap Pak Zakaria panjang lebar.



"Memang prakteknya tidak mudah apalagi jika menghadapi mertua yang bawel dan kita selalu salah di matanya, namun jika kita bisa melewatinya, maka akan jadi pahala buat kita. Anggap saja kebawelan dan sikap mertuamu yang menyakitkan itu adalah untuk menguji kesabaran kamu, Nak. Dan Bapak tekankan sekali lagi, selama Nak Elang tidak main tangan dan tidak menduakan kita, maka jangan pernah tinggalkan dia. Tetap bersabar dan bertahanlah di sampingnya," pungkas Pak Zakaria panjang lebar.


__ADS_1


Nada menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Semua omongan Bapaknya seakan duri mawar yang melukai kulitnya, saat disentuh pasti akan terasa sakit dan menyakiti. Perkara dengan mertuanya tidak mudah dihadapi, kecuali Bu Sri yang mau merubah sikapnya.



"Mas Elang memang tidak pernah kasar, Pak. Namun, Mas Elang selalu meminta Nada untuk selalu mengertiin dia, tanpa pernah membuat ibunya mengerti atau berhenti menghina Nada, Nada jadi lelah dan ingin pergi jauh."



"Suami kamu sudah bersikap baik dan sewajarnya, Nak. Dia melakukan yang dianggapnya baik. Kamu masih muda dan dianggapnya akan lebih memahami orang tua, maka itulah Nak Elang meminta kamu lebih mengertiin dia. Terlebih Nak Elang seorang anak lelaki yang harus tetap menghormati ibunya, jika dia bersikap kasar pada seorang ibu, maka dosa baginya. Bapak cukup respek dengan sikap suamimu, dia tetap hormat meskipun ibunya bersikap kurang baik padamu," bela Pak Zakaria.



"Bukan kurang baik, Pak, tapi memang tidak baik. Dari awal kami nikah sikap ibunya Mas Elang sudah memperlihatkan sikap tidak suka pada Nada, terlebih melihat kita yang berasal dari keluarga biasa. Ibu tidak suka sebab tidak ada yang bisa dibanggakan dari Nada sebagai menantu. Apakah Bapak tidak sakit hati saat sikap ibunya Mas Elang sinis dan dingin? Nada sakit hati, Pak, terlebih melihat sikap ibunya Mas Elang tidak menganggap Bapak."




"Bapak merasa banyak berhutang budi, kan sama Mas Elang makanya Bapak bicara seperti itu?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Nada, tanpa merasa beban. Pak Zakaria diam sejenak seakan masih mencerna tudingan anaknya.



"Bapak tidak merasa punya hutang budi, semua itu Nak Elang yang memberikan dengan tanpa paksaan. Bapak sudah berulang kali menolaknya, namun Nak Elang memaksa. Dia berkata bahwa pemberiannya adalah 'bakti dia sebagai seorang anak' kepada orang tuanya. Jadi Bapak menolakpun tidak ada gunanya."

__ADS_1



"Rumah ini dan kios yang di sana, Nak Elang perbaiki tanpa kompromi dari Bapak terlebih dahulu, tiba-tiba sudah ada tukang dan menyuruh Bapak mengosongkan tempatnya untuk diperbaiki. Dari awal Bapak sudah menolak dan tidak mau. Jadi Bapak mohon jangan menuding Bapak merasa punya hutang budi lantas Bapak membelanya. Nak Elang memang lelaki baik, lelaki yang mampu mengagungkan ibunya di atas segalanya dia adalah sebaik-baiknya lelaki di dunia ini, sebab dia selalu berbakti pada ibunya," tandas Pak Zakaria. Nada terdiam mendengar perkataan Bapaknya baru saja. Dia merasa perkataan Pak Zakaria ada benarnya.



Lagi-lagi Nada menghembuskan nafasnya dalam-dalam guna mengusir rasa sesak dalam dadanya.


Perlahan Nada berdiri kemudian berjingkat bermaksud ke dalam kamarnya.


"Nak, Maafkan Bapak! Bapak tidak bermaksud membela suamimu atau mengguruimu. Tapi ... alangkah baiknya sikap suamimu ditiru, dia menganggap Bapak seperti Bapaknya sendiri, dan menganggap semua pemberiannya adalah bakti dia pada orangtuanya," ucap Bapak menahan langkah Nada.



Setelah langkahnya sejenak terhenti, Nada melangkahkan kakinya memasuki kamar, meninggalkan Pak Zakaria yang masih duduk di kursi ruang tengah. Tiba di dalam kamar, Nada menghempaskan tubuhnya yang kini seakan lelah.


Namun belum sampai tubuhnya tiba di kasur, tiba-tiba bunyi pesan WA masuk ke HPnya.


"Assalamualaikum, Nad! Kamu di mana? Tadi aku ke rumah, tapi kamu tidak ada." [Marisa]


"Saat aku ke sana, Uwa Sri sudah pingsan dan segera dilarikan ke RS oleh Kak Elang. Kamu ada di mana Nad? Pulanglah!" [Marisa]


Nada terhenyak membaca pesan WA barusan dari Marisa. Dia seketika merasa bersalah akan sikapnya mempertahankan untuk tidak pulang. Nada jadi bingung bagaimana dia harus bersikap?

__ADS_1


__ADS_2