"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Menjemput Nada


__ADS_3

POV Author


Elang terhenyak sekaligus bahagia mendengar berita yang tidak disangka-sangka itu. Bintang Sang sahabat secara tidak sengaja bertemu dengan Nada di daerah Pasar Klewer. Namun Nada terlihat buru-buru dan hanya sekilas menyapanya. Bintang pikir Nada memang sedang ke Yogyakarta bersama Elang. Sehingga dia langsung menelpon Elang.


Titik terang mulai terlihat jelas, Elang yakin Nada tinggal bersama tantenya yang berada di Yogyakarta. Rasa bahagia kini menyelimuti dirinya, Elang bertekad akan menjemput Nada segera setelah Sya pulang dan pulih.


"Ternyata dirimu di sana, sayang. Tunggu Mas jemput kamu ya." Elang bermonolog dengan rasa bahagia di wajahnya. Beruntung Sya besok sudah boleh pulang dan diberi waktu untuk istirahat di rumah untuk memulihkan rasa sakit di kakinya karena keseleo.


"Tunggu aku, sayang....!" lirihnya seraya menyandarkan kepalanya di sofa RS.


Besok menjelang, seperti yang telah Dokter katakan bahwa hari ini Sya sudah diperbolehkan pulang, kondisi Syapun membaik. Luka di pelipis juga cepat mengering. Dan kaki keseleo Sya harus coba dilatih supaya benar-benar kuat lagi.


"Hari ini Ananda Sya boleh pulang, ini resep obat yang harus ditebus. Semoga lekas sembuh!" ucap Dokter ramah seraya mengusap kepala Sya. Elang tersenyum bahagia menerima resep obat dan ucapan selamat Dokter itu. Di pelupuk matanya kebahagiaan bertemu Nada sudah di depan mata. Sehingga Elang tersenyum bahagia membuat Sya merasa heran melihatnya.


"Papa... kenapa Bunda belum jemput Sya?"Tiba-tiba saja Sya bertanya tentang Nada. Mungkin dia juga merasakan rindu berat terhadap ibu sambungnya itu. Sya memang dekat dengan Nada, dia nampak nyaman jika bersama Nada.


" Bunda masih ada urusan, Sayang. Bunda akan Papa bawa jika Sya benar-benar telah sehat."


"Benar Pah?" Sya bertanya meminta keyakinan.


"Iya, benar!" Sya nampak bahagia dan sedikit ceria.


......................

__ADS_1


Mobil Elang keluar dari kawasan Rumah Sakit Harapan Kita, menuju kediamannya. Di sepanjang jalan Elang merasa bahagia. Sya pulang ke rumah, dan sebentar lagi dia akan membawa Nada pulang ke rumah. Itu keyakinannya.


Malam harinya Marisa bersama suaminya datang menjenguk Sya sambil membawa makanan. Sya bahagia dijenguk tante kesayangannya yang selalu memanjakannya.


"Kok bisa sih Kak, Mayang sudah lepas lagi dari penjara, aturan dia setahun mendekam di penjara. Setelah keluar dia bukannya insyaf tapi malah lebih gila," kesal Marisa.


"Ini tidak lepas dari campur tangan suaminya, Mar. Suaminya pasti yang jaminkan."


"Gila ya itu wanita, tidak insyaf-insyafnya. Padahal jika dia mau baik-baik ketemu Sya, pasti Kakak juga tidak marah kan, Kak? Huhh... dasarnya saja dia wanita bar-bar, tidak ada sopan santunnya," gerutu Marisa kesal banget, padahal di sebelahnya suaminya sudah memberi kode supaya jangan berbicara berlebihan.


"Sayang... sudah... jangan menggerutu terus, nanti debaynya kaget lho!" tegur suami Marisa berbisik lembut, Marisa sampai geli dibuatnya. Marisa membalas dengan cubitan kecil di lengan suaminya, untuk menghentikan sapuan nafas suaminya yang membuat Marisa kegelian. Elang tersenyum tipis melihat keromantisan pasangan suam istri yang masih hangat itu. Pikiran Elang langsung tertuju pada Nada, dia dan Nada juga masih bisa terbilang baru dan masih pengantin baru.


"Itulah Mar, Kakak saja sudah pusing dengan kelakuan Mayang. Hal ini juga harus Kakak selesaikan dulu secara hukum. Mayang kayaknya tidak mudah menyerah untuk menghancurkan atau mengganggu Kakak."


"Sabar ya Kak. Belum lagi kabar Nada yang sampai sekarang belum ada rimbanya. Jangan-jangan Nada sudah menemukan duda pengganti Kaka, he he he....!"


"Sampai kapan Kak? Buktikan dong!"


"Akan Kakak buktikan nanti, secepatnya! Ikbal... bawa pulanglah istrimu ini. Kalian bawa ke kamar dan kurung dia di kamar supaya tidak berkata-kata yang bisa mengacaukan mood seseorang." Elang mengusir sepupunya yang selalu menggodanya sehingga moodnya tidak baik.


"Ya sudah deh, aku pulang ya. Sampaikan salamku sama Sya." Marisa dan Ikbal suaminya berpamitan setelah beberapa jam bertamu ke rumah Elang.


Elang mengantar kepergian Marisa dan suaminya di depan pintu dengan tatapan mata dan lambaian tangan. Elang masuk dan menutup pintu setelah Marisa benar-benar pergi.

__ADS_1


"Papa ada urusan penting dulu ya sayang. Sya bersama Bi Narti dulu dan Mang Usep dan Pak Nanang. Mereka semua akan menjaga Sya dengan baik," bujuk Elang pada Sya yang tidak mau ditinggalkan.


"Papa janji, akan bawa Bunda ke rumah ini setelah pulang dari urusan Papa ini," bujuk Elang lagi saat Sya masih tidak mau membiarkan dirinya pergi.


"Benar, Papa janji ya!" tekan Sya penuh permohonan. Dan ini diyakini Elang sebagai sebuah syarat, oleh karena itu Elang diijinkan pergi oleh Sya, walaupun Sya masih kurang ikhlas.


Dua hari kemudian, setelah berhasil membujuk Sya untuk tetap menunggu di rumah bersama Bi Narti, Elang melakukan perjalanan udara dari Jakarta menuju Yogyakarta. Tidak terasa perjalanan itu sudah tiba. Dari bandara Elang langsung menuju kawasan Malioboro dan menyewa hotel selama dia berada di Yogyakarta.


Alamat tantenya Nada, yaitu tante Mirna sebetulnya tidak jauh dari hotel yang Elang sewa, namun Elang tidak mau merepotkan mereka dengan datang siang hari dan mengejutkan Nada. Elang akan mengatur siasat. Untuk itu dia perlu menemui dulu Om dan Tantenya Nada saat Nada tidak sedang berada di rumah. Elang akan ke rumah Tantenya dengan melihat situasi dan kondisi, dimana Nada harus sedang tidak ada di rumah, diajak pergi mungkin oleh salah satu anak dari tantenya itu.


"Elang... apa kabar....?" Om Zainal suami dari tante Mirna menyambut Elang dengan suka cita, tidak ada rasa marah dari raut mukanya, diikuti Tante Mirna di belakangnya.


"Saya baik Om, tante," sahut Elang sambil mengalami kedua orang yang kini di hadapannya.


"Nada datang kesini sendirian, awalnya saya pikir bertiga bersama anak kamu. Namun melihat Nada sendirian saya kok jadi curiga dan heran. Akhirnya karena merasa saya desak, Nada bercerita dan berterus terang dengan semua yang terjadi." Tante Mirna tidak sabar berbicara seakan tidak ingin dinantikan lagi.


"Iya tante, kedatangan Elang kesini juga sekaligus mau minta maaf pada kalian semua, karena telah dengan senang hati menerima Nada di sini. Untuk itu saya minta maaf jika Nada selama di sini merepotkan kalian," ucap Elang sungguh-sungguh.


"Kami senang dan tidak keberatan Nada tinggal di sini sesukanya, lagipula dia orangnya sangat mudah dekat dengan adik-adiknya di sini. Tapi... saya mohon Elang... perbaiki komunikasi antara kalian. Masalah kalian hanya di komunikasi. Dan... mengenai hubungan Nada sama ibu kamu, tapi Tante mohon maaf sebelumnya bukan mau ikut campur, alangkah baiknya mereka jangan dipaksa dipertemukan dulu. Masalah Nada sebetulnya di situ. Semoga kamu mampu mencerna omongan saya, kalau mau dijabarin juga, kalianlah yang paling tahu apa yang terjadi," ucap Tante Mirna panjang lebar.


Elang cukup paham dan mencerna semua omongan Tante Mirna, dia sadar dialah yang egois disini, demi bakti dan tidak mau menyakiti hati ibunya rela mengorbankan perasaan istri sendiri dan tidak mau meraba.


"Elang paham disini Tante, Om... Elang memang yang salah selalu memaksakan Nada supaya memahami keadaan Elang demi bakti kepada Mama Elang."

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu sudah paham dan mampu mencerna maksud Tante. Mudah-mudahan setelah ini, kalian bisa saling memahami dan menghargai perasaan masing-masing. Tidak ada rumah tangga yang tidak ada masalah, Elang. Jadi berusahalah masalah itu diatasi."


Semua ucapan Tante Mirna, Elang jadikan acuan buat dirinya agar bisa lebih baik dalam bersikap terhadap Nada, tidak egois dalam mempertahankan pendapat dalam dirinya sendiri. Setelah itu, Elang meminta Tante Mirna dan Om Zainal membantunya dalam mengatur pertemuan Elang dan Nada...


__ADS_2