"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Kepercayaan buat Nada


__ADS_3

POV Author


Di kota lain. Elang tiba di PerkaSya Restoran saat waktu masih menunjukkan pukul 7.30 WIB. Dia segera turun disambut para pekerja kuli bangunan yang sedang menyelesaikan pembangunan di sebelah PerkaSya Restoran. Salah satu Mandor menghampiri.


"Silahkan Pak Elang, bisa dilihat dulu proses pengerjaan kami. Untuk gedung studio tinggal finishing saja, ngecat, sama memasang wallpaper," ujar salah seorang Mandor di proyek ini dengan penuh semangat.



Elang berjalan melewati rangkai bangunan PerkaSya Restoran. Saat ini Elang sedang membangun dua buah bangunan untuk perluasan PerkaSya Restoran dan studio foto. Studio foto yang dimaksud sang Mandor jaraknya terhalang satu atap bangunan PerkaSya Restoran.



Sebetulnya, pengerjaan kedua bangunan itu dilakukan secara bersamaan, namun gedung studio bisa lebih cepat selesai karena dalam pengerjaannya tidak banyak dirombak, terlebih gedung studio tidak seluas PerkaSya Restoran.



"Kira-kira proses finishing studio ini berapa lama sampai dia bisa potong pita untuk launching?"


"Insya Allah prosesnya seminggu, Pak. Dengan segala ***** bengek di dalamnya, tahu jadi dan siap," ujar sang Mandor. Elang manggut-manggut.


"Kalau PerkaSya Restoran?"


"Ini bisa sampai total sebulan, Pak. Kemarin ada perombakan seperti yang Pak Elang mau, dan sekarang Mushola letaknya di atas sesuai permintaan Pak Elang," terang Mandor membuat Elang manggut-manggut.


"Ok, Pak. Kerjakan dengan sebaik-baiknya. Semua saya serahkan sama Bapak dan kru. Untuk launching studio foto, Insya Allah akan saya barengkan dengan PerkaSya Restoran. Sekarang saya dikejar waktu mau ke Bali, untuk proyek *home stay and cafe* di sana," ujar Elang seraya membalikkan badan menuju parkiran PerkaSya Restoran.



Elang menatap jam di tangannya, waktu masih terlalu pagi untuk dia ke bandara. Elang memutuskan untuk ngopi dan sarapan pagi, sebab dari rumah tidak sempat sarapan, hanya kopi hitam buatan Nada yang sempat dia teguk. Cukup membuat perjalanannya cerah dan tidak ngantuk.



Elang duduk di salah satu kursi. Salah seorang Pelayan menghampiri seraya menanyakan pesanan Elang.


"Pak Elang, Bapak mau minum dan sarapan apa?"


"Eh, iya, Man, saya pesan nasi goreng ayam dikasih sayuran sama jus mangga, buahnya pisang, ya!" titah Elang yang segera diangguki Rahman salah satu Pelayan di sana.


Saat masih menunggu pesanannya, Elang membuka Hp dan bermaksud vidio call dengan Nada. Namun tidak diangkat oleh Nada, kedua kalinya sama tidak diangkat juga. "Kemana sih kamu itu, Sayang?" gerutu Elang nampak kesal. Elang berhenti memanggil saat Rahman telah menyajikan pesanannya.



"Terimakasih, Man. Oh ya, Bi Neri masih ada di Villa atau pergi ke pasar?"


"Bi Neri, masih ke pasar, Pak. Mungkin setengah jam lagi dia datang," sahut Rahman sembari meletakkan jus mangga di meja.


"Saya permisi dulu, Pak!" pamit Rahman hormat dan kembali ke pekerjaannya.

__ADS_1


Pagi ini pengunjung restoran masih bisa dihitung jari, dan saat paling sibuk adalah pada jam istirahat. Para Pelayan dan Juru Masak restoran sangat disibukkan dengan para pelanggan maupun pembeli baru. Restoran Elang ini termasuk restoran yang ramai, mulai dari kalangan bawah sampai atas memburu makanan di restorannya. Harga yang terjangkau dengan berbagai pilihan menu, tidak bikin minder bagi kantong kuli bangunan atau buruh lainnya.



"Dua jam lagi." Elang berguman sembari membuka kembali Hpnya. Kini dia membuka galeri foto. Foto-foto Nada saat masih belum nikah sampai dinikahinya ada tersimpan di sana. Satu per satu dibukanya galeri foto itu. Saat menemukan salah satu foto pengantinnya, Elang menghentikan membuka galeri. Tangannya diam di situ. Ditatapnya foto Nada begitu dalam.



"Kamu sangat cantik, Sayang. Kamu tahu, betapa aku sangat mencintaimu. Tapi, kadang kamu tidak pernah percaya kalau aku sangat mencintaimu. Padahal apapun akan kuberikan, asalkan kamu setia selamanya bersamaku sampai menua."



"Aku memang punya trauma, dan itu adalah ketakutanku. Jika aku berikan segalanya untukmu, bisakah kamu setia padaku dan tidak pergi berkhianat padaku?" Elang berbisik dalam hatinya seraya mengusap foto Nada yang sedang tersenyum dengan wajah yang tiba-tiba sendu.



Tiba-tiba, Hp Elang berbunyi. Panggilan masuk dari Pak Walikota tertera di sana. Elang segera mengangkatnya.



"Assalamu'alaikum, El. Tunggu aku setengah jam lagi di restoranmu." Telpon langsung ditutup tanpa salam terlebih dahulu, mungkin saking terburu-burunya. Yang dimaksud Pak Walikota di sini adalah sahabat Elang, yaitu Bintang Negara.



Setengah jam kemudian sang sahabat muncul, pria dewasa, berperawakan tinggi, berkulit bersih, memarkirkan Pajeronya di depan PerkaSya Restoran. Ketika sampai di hadapan Elang, Bintang membuka kacamata hitamnya. Nampaklah wajah tampan rupawan yang berkharisma.




"Masih ada waktu El ke bandara. Kita santai dulu setengah jam di sini," ujar Bintang Negara seraya meminta kopi tamalatte kepada Pelayan.



"Bagaimana pembangunan studio dan resto ini sudah sampai tahap mana, El?"


"Studio sudah mulai rampung, dalam waktu seminggu lagi sudah bisa launching, tapi aku maunya launching bersamaan PerkaSya Restoran."


"Yang di Tabanan, Bali, bagaimana kabarnya, El?" tanya Bintang Negara sambil menyeruput kopi tamalatte yang sudah dihidangkan tadi oleh Pelayan.



"Itu juga Alhamdulillah, pengerjaannya sudah 50 persen, 50 persen lagi diperkirakan satu bulan paling cepat akan beres," sahut Elang.



"Hebat kamu, El. Usahamu makin melaju pesat, itu karena kegigihanmu setelah terpuruk karena mantan istrimu."

__ADS_1



"Plisss, jangan bahas nama dia!" cegah Elang tidak suka. Bintang Negara tersenyum paham.


"Apakah dengan yang sekarang kamu yakin, El?"


"Tadinya tidak yakin, Mas. Aku takutnya kejadian yang lalu terulang, dan aku kecewa dua kali."



"Jangan terlalu memikirkan trauma, El, perempuan tidak sama semua. Bukankah istrimu yang sekarang tidak gila akan harta?"


"Sepertinya tidak, tapi untuk kali ini aku akan memberi kepercayaan sama dia."


"Baguslah, El, berikan kepercayaan. Jangan terlalu dikekang," sergah Bintang Negara.


"Aku tidak mengekang namun memberi batasan. Dan itu masih wajar, bagaimanapun aku lelaki yang harus selalu dipatuhi, kecuali kalau aku tidak baik, maka masuk akal jika dia membangkang."


"Bagus itu Bro. Dan yang terpenting menjadi lelaki harus bisa mendidik dan mengarahkan namun bukan berarti egois, jadinya istrimu merajuk dan pergi, hahahaha .... "



"Jadi apa bedanya dong Mayang dengan Nada, Nada saja sering meninggalkanmu, El?" lanjut Bintang.


"Ada bedanya, Mas. Jika Mayang pergi dan tak kembali. Nada pergi, tapi untuk kembali. Dia hanya merajuk dan mencari perhatianku saja."


"Makanya kamu jangan terlalu egois El, bisa kabur dia," timpal Bintang sembari terkekeh.


"Nada beda, kalau dia kabur akan aku susul, dan dia akan kembali dengan perasaan cintanya yang lebih besar."


"Jangan terlalu percaya diri El, jika Nada pergi untuk selamanya, kamu akan kecewa dua kali."


"Tidak akan aku biarkan, Mas. Aku tidak ingin kehilangan dia." Elang mengakhiri perdebatan antara dirinya dengan Bintang, sebab waktu keberangkatan ke Bandara Soeta sudah tiba. Bintang menanggapinya dengan senyuman, saat Elang kini di mode kesal.


"Wah tidak terasa, El. Sudah waktunya. Ayo ....!"


Bintang Negara dan Elang bergegas menuju mobil Bintang dengan disopiri Sopir pribadinya menuju Bandara Soeta. Sebentar lagi jadwal penerbangan pesawat yang mereka tumpangi akan segera take off.


Perjalanan udara Bandara Soeta-Ngurah Rai, Bali hanya membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam. Elang dan Bintang Negara dijemput seseorang menuju kota Tabanan, Bali. Bintang dan Elang sama-sama memiliki proyek di Bali, melebarkan sayap bisnisnya di bidang kuliner dan *home stay* *n cafe*.



Elang turun dari Pajero yang sudah mengantarkan dirinya dengan Bintang ke tempat tujuan dengan selamat.


"Di sinilah kita membangun bisnis kita, El. Kota Tabanan ini alamnya masih sangat bagus, jika kita membangun home stay di sini, alangkah keren viewnya," ujar Bintang penuh takjub. Kemudian keduanya melangkah memasuki bangunan setengah jadi.


Elang memasuki bangunan setengah jadi miliknya, dan Bintangpun memasuki bangunan setengah jadi miliknya yang letaknya bersebrangan dengan milik Elang.

__ADS_1



Elang menatap bangunan itu dengan binar bahagia. Saat masuk ke ruangan resepsionis yang hampir selesai, di situ tertulis jelas '***Nada Irama*** ***Home Stay n Cafe***'. Kali ini Elang memantapkan hatinya memberikan sebuah hadiah kecil buat Nada, sebagai bentuk kepercayaannya pada Nada.


__ADS_2