"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Bertemu Nada


__ADS_3

POV 1 (Nada)


"Nad... gimana pusingnya sudah mendingan?" Tante Mirna bertanya, raut wajahnya nampak khawatir.


"Sudah mendingan Tan, ini sudah enak. Tadi malam Bi Nurmi membuatkan teh jahe hangat, dan tadi pagi juga Nada bikin lagi. Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik."


"Kamu sakit kepala kenapa sih Nad? Kok rasanya sering, sejak di sini Tante melihat kamu sudah 3 kali ngeluh dan kamu bilang disertai mual. Apakah kamu tidak sedang hamil?"



Sejenak aku merasa kaget dengan ucapan Tante Mirna, benarkah aku hamil? Aku sampai berpikir keras, mana mungkin aku hamil, dua hari yang lalu saja aku datang bulan, namun datang bulannya hanya sedikit tidak seperti biasanya.



"Tidak mungkin Nada hamil Tante, sebab dua hari yang lalu Nada kan datang bulan. Saat Tante mengingatkan sholat waktu itu, rupanya Nada halangan," sangkalku.


"Iya, ya. Tapi... Tante menjadi khawatir dengan keadaan kamu kalau sakit kepala terus. Kamu periksakan dulu sana ke klinik, siapa tahu darah rendah, biasanya darah rendah efeknya bisa sakit kepala," anjur Tante Mirna. Aku merenung sejenak dan berkata.


"Tidak perlu Tante, paling ini sakit kepala biasa. Nanti juga sembuh sendiri," ucapku menenangkan Tante Mirna yang merasa khawatir.



"Sudahlah kalau begitu, terserah kamu saja Nad, sekarang kalau kamu tidak sibuk, tolong ke pasar depan sebentar. Temani Bi Nurmi belanja, sekalian kamu beli gudeg. Kamu bilang kemarin ingin makan gudeg yang lagi viral di kota ini. Sana, Bi Nurmi sudah bersiap tuh!" tunjuk Tante Mirna ke arah Bi Nurmi yang memang sudah siap di depan rumah. Aku segera beranjak dan menghampiri Bi Nurmi yang akan ke pasar.



"Nada pamit dulu ya, Tante!" pamitku seraya berlalu dengan mengaitkan tanganku ke lengan Bi Nurmi, persis ibu dan anak.



Sepanjang perjalanan aku bersama Bi Nurmi, aku lebih banyak diam. Jarak pasar ke rumah lumayan dekat hanya kurang lebih 500 meter, jadi kalau ke pasar ini enaknya jalan kaki.


Tiba-tiba aku kepikiran perjumpaan tidak sengaja aku dengan Kak Bintang di Pasar Klewer kemarin. Aku sedikit khawatir, keberadaan aku sampai di telinga Mas Elang. Sebab kalau Mas Elang menyusul kesini, aku belum siap untuk pulang. Walaupun beberapa kali, Tante Mirna membujukku untuk pulang.


Pulang dari pasar aku langsung menuju dapur. Rasanya tidak sabar ingin segera makan gudeg yang lagi viral itu, sampai-sampai Bi Nurmi kaget melihat aku yang tergesa-gesa mengambil piring untuk wadah gudeg. Aku makan dengan lahapnya tidak lupa menawari Bi Nurmi. Setelah makan aku bermaksud ke teras depan mencari angin.



Namun saat melewati ruang tamu dan menoleh meja, aku melihat sebuah benda kecil yang keluar api jika diputar oleh jempol. Itu pemantik api. Dan pemantik api itu mengingatkan aku pada Mas Elang. Mas Elang selalu menggunakan pemantik bergambar tengkorak jika dia sedang menyalakan rokoknya. Memang tidak sering, Mas Elang merokok jika sedang mumet atau punya masalah yang menurutnya rumit.


__ADS_1


Pasti pemantik api ini milik Om Zainal. Pikirku yakin. Sebab di sini tidak ada lagi laki-laki dewasa selain Om Zainal. Jika Adi, itu tidak mungkin, sebab Adi masih SMP dan Om Zainal melarang keras Adi merokok karena belum cukup umur.



Aku berlalu dari ruang tamu, hari-hari biasa keadaan rumah sepi. Om Zainal dan Tante Mirna pasti sedang menyortir bahan makanan yang akan dijual nanti sore di halaman belakang. Adi dan Dina pagi sampai siang sekolah, pulangnya masing-masing jam dua dan jam tiga sore. Jadi pagi sampai siang di rumah Om Zainal dan Tante Mirna dipastikan sepi. Aku berjalan menuju ruang belakang, namun saat sudah di ruang belakang Om Zainal dan Tante Mirna tidak ada. Terpaksa aku kembali ke teras depan merasakan angin di siang itu.



"Nad, sebaiknya sore ini kamu tidak usah ke angkringan dulu. Nanti saja tunggu Dina. Dina kan ada tugas kelompok sama temannya, jadi dia mengerjakan tugas kelompok dulu. Pulangnya habis Maghrib. Jika kamu mau ke angkringan, sama Dina saja. Dia selalu pengen sama kamu kalau pergi. Mungpung kamu di sini, Nad. Kalau kamu pulang, kan tidak akan ada yang manja-manja lagi," titah Tante Mirna.



"Iya Tante. Nada Ok, Ok saja," ucapku seraya memberi kode Ok 👌di udara pada Tante Mirna.


Selepas Maghrib, Dinapun pulang. Keadaan menjadi hangat kembali, tadi setelah Om Zainal dan Tante Mirna pergi ke angkringan suasana rumah menjadi sepi.


"Assalamu'alaikum.... Kak Nada....!"


"Wa'alaikumussalam....!" Aku langsung menyahut dan menghampiri Dina.


"Din, nanti habis Isya kita ke angkringan yuk!" ajakku. Dina yang sedang membuka baju seragamnya langsung menyahut dan setuju.


"Iya, Kak. Ngomong-ngomong suami Kakak baik nggak sih Kak?" Tiba-tiba Dina bertanya tentang Mas Elang.


"Cuma nanya saja Kak. Dina kan nanti mau nikah juga kalau sudah gede. Tapi takut punya suami yang galak dan suka mukul," kilah Dina. Aku tersenyum sumbang mendengarkan Dina yang sudah kepikiran menikah, padahal masih sekolah dan baru kelas dua SMA.


"Jangan mikirin nikah dulu, kamu masih sekolah Din. Masih jauh tahu!" peringatku.


"Ihhh... Kak Nada ini salah paham, siapa juga yang mau nikah sekarang? Dina kan cuma nanya suami Kakak itu baik nggak, kalau nggak berarti Dina harus mencari suami yang seumuran atau paling tidak usianya berondong," ujar Dina polos seraya bersiap ke kamar mandi.


Aku ketawa sebelum menyahut Dina. "Hahahaha....!" Dina menatap heran ke arah aku.


"Dina... Dina... baik atau nggaknya seorang suami bukan dinilai dari usia matang atau berondong. Kadang ada yang usia dewasa baik, kadang juga nggak. Udah ah ora usah mikirin bojo, isih enom!" ucapku sembari nyengir kuda. Kadang-kadang Dina ini pikirannya sudah mikirin ke masa depan. Padahal dia masih sekolah.


"Yuk, Kak!" ajaknya seraya mengait lenganku. Kamipun berjalan kaki berdampingan menuju kedai angkringan Tante Mirna yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari rumah.



Tiba di angkringan, pelanggan sangat ramai. Para Pelayan sibuk mengantar makanan ke meja pelanggan. Aku dan Dina berinisiatif mengantar pesanan ke meja pelanggan. Tante Mirna sebetulnya melarang, namun aku tidak peduli dengan larangan Tante Mirna. Aku dan Dina bersemangat diantara para pelayan lain yang juga mengantarkan orderan.


__ADS_1


Jam makin merangkak malam, sementara para pelanggan masih saja berdatangan. Aku masih bersemangat mengantar pesanan pada pelanggan. Sebab kata Tante Mirna kalau sudah jam 10 kesana pelanggan mulai berkurang.



Jam 10 lebih 10 menit pelanggan mulai mereda dan tidak seramai tadi. Aku sedikit lega dan bisa beristirahat dulu sejenak.



"Nada....!" Tiba-tiba Tante Mirna memanggilku. Aku langsung menyahut dan menghampiri Tante Mirna. Tante Mirna langsung memberi intruksi.


"Tolong antarkan pesanan ini ke meja paling ujung, ya!" titah Tante Mirna. Aku dengan senang hati menerima titah itu.


"Baik, Tante!"


Aku segera melangkah hati-hati sembari menenteng nampan, menuju meja paling ujung yang ditunjukkan Tante Mirna. Di sana hanya ada satu orang laki-laki, sedangkan pesanan minumannya ada dua gelas. Aku sedikit heran, namun tidak peduli karena bukan urusanku.



Lelaki itu berpakaian kasual, memakai jaket kulit dan topi yang dilelep ke bawah, sehingga mukanya tidak jelas kelihatan. Dengan cepat aku meletakkan pesanan orang tersebut.



"Silahkan Mas, dinikmati!" ucapku ramah. seraya berdiri dan hendak pergi. Namun belum sampai aku melangkahkan kaki, sebuah tangan kekar menahan lenganku dan mencekal kuat. Aku tersentak dan tiba-tiba sangat kesal dengan lelaki itu yang sangat kurang ajar memegangku.



Aku membalikkan badan dan berusaha melepaskan cekalan tangan kekar itu.


"Jangan kurang ajar ya!" hardikku emosi seraya berusaha menepis tangan lelaki itu. Namun lelaki itu malah semakin kuat menahanku. Ingin berteriak rasanya malu.


"Lepaskan... Anda siapa? Lancang main pegang tangan orang, tidak sopan. Lepaskan!" sentakku kesal.


"Duduk dulu!" titahnya dengan suara berat atau malah sengaja diberat-beratkan supaya suaranya tidak bisa dikenali siapapun, seperti di film mafia-mafia itu. Terpaksa aku mengikuti kemauannya, aku bersiasat jika lelaki asing di hadapanku lengah maka aku akan berlari dan minta tolong.


"Jangan berpikiran untuk pergi....!" Suara berat menyebalkan itu terdengar lagi dengan nada memerintah.


"Apa maunya lelaki ini? Dan apa juga urusannya jika aku pergi?" gerutuku kesal di dalam hati.


Saat lelaki itu lengah, ini kesempatan aku untuk melarikan diri darinya. Aku bangkit dan berdiri. Namun....


"Nada... kembalilah dan duduk!" Langkah kakiku tertahan bak boneka manekin, berdiri kaku dan terhenyak. Sepertinya aku kenal suara itu. Suara seseorang yang sebenarnya sangat aku rindukan.

__ADS_1


Aku benarkan posisi tubuhku dan berdiri sempurna menghadap lelaki itu. Benarkah dia Mas Elang, lelaki yang masih selalu ada di hatiku?


__ADS_2