"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Kedatangan Elang


__ADS_3

PPV 3 (Author)


Elang berdiri di emper bengkel sambil menatap kebersamaan istrinya dan seorang pria muda. Pria muda yang pernah dia jumpai di pernikahan koleganya seminggu yang lalu. Elang menjadi panas dan berkobar cemburu, sudah hampir 3 kali istrinya kedapatan bertemu dengan pria muda, yang diakui Nada sebagai teman masa kecilnya.


Sya yang melihat Bunda sambungnya, langsung berteriak dan merangsek ke dalam dekapan Nada. Nada serentak kaget, dan tidak menyangka akan kedatangan Elang dan Sya anak sambungnya.


"Sya ... Mas Elang!" cicitnya kaget. Nadie yang melihat siapa orang yang datang, lantas menyiapkan diri untuk pergi. Bagaimanapun dia sudah tahu Nada telah bersuami, meskipun hatinya sangat menyayangkan karena dia tidak bisa memiliki Nada.


"Kakak pergi ya, salam buat Bapak!" pamit Nadie sembari menatap ke arah Elang dengan ujung matanya. Elang melihat nyalang ke arah Nadie, ada rasa kesal dan cemburu yang menyeruak dalam dadanya. Nada mengangguk memberi kode pada Nadie.



Elang masih berdiri di emper bengkel, tangan yang satunya dia masukkan ke dalam saku celana. Baru saja meninggalkan rumah, Nada sudah berdekatan dengan lelaki lain begitu akrabnya. Kemarahan dan rasa cemburu kini begitu menguasai Elang.



"Bapak mana?" Elang bertanya sembari masuk ke dalam bengkel dan mendekati Nada.


"Bapak, di samping bengkel sedang melayani pelanggannya," sahut Nada tanpa menoleh Elang, dia lebih senang menciumi pipi Sya dengan gemas.


"Aku mau ajak kamu periksa kandungan. Di daerah sini saja. Mungkin malam ini kami nginap di sini." Elang berkata sambil melihat isi dalam toko di bengkel mertuanya ini. Elang nampak senang dengan kemajuan bengkel milik mertuanya, bagaimana tidak, karena Elanglah bengkel mertuanya bisa maju seperti ini.

__ADS_1



"Ehh ... Nak Elang, kapan datang ....?" Pak Zakaria menghampiri anak dan menantu serta cucu sambungnya dengan suka cita. Elang dengan cepat menyalami tangan mertuanya, diikuti Sya yang dibisikkan Nada di telinganya.



"Pak, bagaimana kabarnya?"


"Baik, Nak Elang. Seperti inilah keadaannya. Sekarang Alhamdulillah selalu ada saja yang mampir ke bengkel Bapak," ujar Pak Zakaria senang dan tersenyum gembira.


"Sya, cucu Kakek ... sini Kakek pangku. Kakek kangen banget sama Sya. Malam ini nginap di sini ya" Pak Zakaria merangkul tubuh Sya yang sudah siap merentangkan tangannya ke arah Pak Zakaria diakhiri sebuah permintaan. Sya bergelayut manja dan akrab pada Pak Zakaria, antara keduanya sudah sangat dekat.



"Ayo, Sya!" ajak Elang sembari meraih tubuh Sya dari Pak Zakaria.


Nada mau tidak mau ikut pulang ke rumah bapaknya mengikuti Elang, padahal dia masih betah di bengkel bapaknya ini.


"Ayo pulang!" ajak Elang seraya menggiring Nada dari belakangnya.


"Kami pulang ya, Pak!" Elang berpamitan yang disambut anggukan Pak Zakaria.

__ADS_1



Mobil Elang tiba di depan rumah Pak Zakaria lalu memarkirkan dengan benar. Semua turun dan memasuki rumah yang berukuran sedang itu. Rumah yang penampakannya kini asri dan resik itu, tidak memperlihatkan kesan kotor dan kumuh seperti yang Bu Sri katakan.



"Bunda ... Om Nadly di mana?" Sya langsung mencari Nadly ke kamarnya, namun kosong.


"Om Nadly belum pulang sekolah, Sya. Paling sebentar lagi," sahut Nada sembari masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tidak berapa lama Nadly pulang, suara motor maticnya terdengar di depan rumah. Sya langsung berlari menghampiri ke depan, seperti seorang adik pada kakaknya, Sya menyambut kedatangan Nadly dengan gembira.



"Om Nadly ....!" teriak Sya sembari menghampiri Nadly yang sedang membuka helmnya.


"Sya ....!" balas Nadly sembari menerima uluran tangan Sya. Mereka berangkulan menumpahkan rasa kerinduan.


"Sya, kapan ke sini....?" belum juga dijawab, Elang sudah memotong pertanyaan Nadly.


"Nadly ... baru pulang, Nad?" tanya Elang memotong.

__ADS_1


"Eh... Kak Elang ... Iya nih Kak." Nadly menyambut Kakak iparnya lalu menyalami tangan Elang.


__ADS_2