
Elang pergi dengan kecewa. Penolakan Nada membuat hatinya benar-benar terombang-ambing diterpa badai kecewa, kesal, dan sedih.
Nada melihat punggung Elang untuk yang terakhir kalinya, yang menghilang di balik pintu ruang rawatnya.
Nada sedikit puas telah mengerjai Elang, melihat Elang kecewa ada rasa plong dalam dadanya. Rasa kesal karena diabaikan Elang, kini sedikit terobati dengan mengerjai Elang. Besoknya Nada punya rencana yang menurutnya bisa membuat Elang naik pitam. Walaupun sesungguhnya Nada tidak benar-benar mengharapkan ditinggal Elang atau tidak dijemput besok, demi suatu misi dia rela melakukan itu.
Besoknya, tidak diduga Nada. Elang datang tepat pukul 6 pagi. Rencana yang telah dia susun jadi berantakan.
"Mas Elang, kok pagi-pagi sekali?" Bukankah Sya harus diantar ke sekolah?" Nada bukan senang kedatangan Elang, karena rencananya yang berantakan, dia tidak bisa melancarkan dramanya kembali.
"Kenapa, kamu tidak senang aku datang lebih awal? Kamu maunya sama orang lain yang jemput? Atau kamu maunya sama lelaki muda yang pernah kamu jumpai itu?" cecar Elang membuat Nada sedikit terhenyak, mendengar lelaki muda disebut sudah pasti itu ditujukan buat Nadie. Tadinya masih merajuk dan rencana mau bikin drama, malah gagal gara-gara Elang yang datang lebih awal.
"Nada tidak pernah menjumpai laki-laki itu, Mas. Kita bertemu secara tidak sengaja, dan kenapa juga Mas Elang datang sepagi ini menjemput Nada, padahal klinik saja bukanya jam 8," sangkal Nada tidak terima.
"Tapi kamu senang 'kan bisa ketemu dia?" tuding Elang mencoba menebak, yang sontak membuat Nada tidak suka. Nada diam, dia menjadi kesal dengan Elang kenapa harus membahas orang lain, padahal Elang datang ke sini niatnya ingin menjemput bukan bahas hal lain.
__ADS_1
Tidak berapa lama Bi Narti datang memecah kesunyian diantara mereka setelah Nada mendiamkan Elang akibat Elang membawa nama orang lain dalam obrolannya.
"Den Elang, sudah datang rupanya!" Bi Narti sedikit kaget melihat Elang sudah berada di ruangan Nada.
"Iya, Bi. Oh ya Bi, Bi Narti sudah sarapan?"
"Kebetulan sudah Den, ini baru pulang dari cari sarapan," jawab Bi Narti
Nada masih diam tanpa memberi selaan saat Elang dan Bi Narti ngobrol. Elang melihat dengan ujung mata, kali ini dia paham kenapa Nada marah dan kesal. Sejak dia tadi membahas tentang laki-laki muda itu, Nada langsung diam dan sepertinya tidak terima.
"Saya mohon kerjasamanya dengan Pak Elang, untuk bisa sedikit memberi perhatian pada istrinya yang mengalami mabuk berat akibat kehamilan di trimester pertama. Di mana, ini merupakan masa sulit bagi ibu hamil di usia kehamilan dua bulan sampai tiga bulan, nah baru bisa enakan saat kehamilan sudah mencapai usia empat bulan. Jadi saya mohon untuk Pak Elang memerhatikan pola makannya Mbak Nada. Saya takut dia tidak mau makan akibat mual muntah, dan orang terdekat harus antisipasi dengan memberikan biskuit, buah-buahan atau makanan kecil lainnya." Bidan Dina menjelaskan panjang lebar.
"Usahakan perutnya tidak kosong, sebab hanya orang terdekatlah yang bisa lebih memahami keadaan Mbak Nada," peringat Bidan Dina sekali lagi. Elang manggut-manggut paham dan dia serius memperhatikan satu persatu ucapan Bidan Dina.
__ADS_1
"Baik, Bu, saya bisa memahami penjelasan Bu Bidan."
"Sekarang Mbak Nada bisa pulang, alat infusnya juga sudah saya buka. Ingat Mbak Nada makan dan makan walau sedikit, jangan lupa susu ibu hamilnya di munim." Bidan Dina mengakhiri perbincangannya dan mempersilahkan Nada dibawa pulang.
Sepanjang perjalanan pulangpun Nada masih diam. Dia diam dan nampak sedih. Perasaan sensitif seperti ini muncul dan dirasakan Nada sejak kehamilan keduanya. Rasanya ingin selalu dimanja dan dipahami oleh Elang, namun agaknya Elang memang tidak peka apa yang Nada rasakan.
Setelah melewati perjalanan kurang lebih 15 menit dari Klinik Sejati, mobil Elang tiba dengan selamat di rumah. Elang membantu menurunkan Nada dengan perlahan dan membawanya ke dalam.
Di depan pintu masuk rupanya sudah ada Bu Sri, yang sedang dijemur di bawah terik matahari pagi hari ini oleh Perawat. Elang berhenti sejenak dan menyapa Mamanya, Nada yang melihat ini mengikuti Elang dan menyalami Bu Sri. Nada tidak peduli lagi mau dianggap atau tidak, yang jelas saat ini dia ingin menjalani kehamilannya dengan tenang dan tanpa beban. Semoga saja Bu Sri bisa membuat suasana nyaman juga dan tidak meledak-ledak, sebab jika tidak darah tingginya bisa bisa kambuh.
"Bu .... " sapa Nada menyalaminya lalu kembali berdiri di samping Elang, dia belum bisa bicara panjang kepada mertuanya, sebab kondisi dia saja psikisnya masih harus dijaga dan tidak boleh mikir yang berat-berat dulu.
Setelah menegur ibu mertuanya, Nada dibawa Elang menuju tangga dan masuk kamar. Di dalam kamar, Nada sudah merasakan rasa kantuk yang sejak tadi dirasakannya di klinik. Seakan tidak tertahan, Nada langsung naik ranjang dan membaringkan tubuhnya di sana, lalu tidak berapa lama tubuh lelah itu tertidur dengan pulas. Bisa jadi ini pengaruh obat pereda mual yang diminumnya tadi di klinik.
Elang menatap penuh rasa iba, dirinya sadar dengan watak yang sedikit keras yang dimilikinya, dia tidak bisa memanjakan Nada dengan sikap yang lembut. Bahkan Nada menganggapnya hanya lembut disaat ada maunya. Namun Elang yakin, rasa cintanya pada Nada mengalahkan perasaan lembut yang tidak dimilikinya.
__ADS_1