"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Hasrat Dalam Mimpi


__ADS_3

Saat aku melewati kamar Sya, rupanya Sya ada disana. Hari ini Sya sedang bersiap untuk bersekolah. Aku pikir Sya tidak akan masuk sekolah akibat kejadian semalam. Namun rupanya bocah yang sudah duduk di kelas 1 SD ini tidak mau absen masuk sekolahnya. Sya memang anak yang disiplin dan mandiri, juga tidak manja. Sekolah dia tidak pernah malas-malasan, kecuali sakit Sya baru tidak sekolah.



"Sya... , hari ini sekolah?" tanyaku sambil menatap wajah tampan Sya.


"Iya, Bunda...." jawabnya bersemangat. Aku membantunya membawakan tas yang sudah disiapkannya. Lalu tiba-tiba Sya memelukku erat.


"Bunda... Sya sayang Bunda. Terimakasih telah menjaga Sya selama ini," ucapnya seperti orang yang sudah dewasa. Aku terharu mendengarnya, sehingga mataku berkaca-kaca.


"Muach... muach....!" Sya mencium pipiku dua kali. Bocah 6 tahun itu sangat pandai dan bikin gemas siapapun yang melihat.



Tiba-tiba pintu penghubung kamar terbuka dan muncullah Mas Elang. Mas Elang menghampiri kami, aku dan Sya menatap Mas Elang, namun aku segera memalingkan muka dan berdiri menuju pintu keluar kamar Sya. "Tunggu...." Mas Elang mencengkram tanganku dan aku tertahan.



"Ikutlah mengantar Sya....!"


"Tidak Mas, Nada tiba-tiba pusing," ujarku seraya beranjak. Sikap dinginku ini disadari Mas Elang, dia nampak kecewa. Tidak lama dari itu Mas Elang pergi mengantar Sya sekolah. Sayup-sayup aku mendengar suara Sya berpamitan.


"Bundaaa... Sya berangkat....!" Kemudian bocah kecil itu pergi bersama Mas Elang yang masih sangat aku cinta.


Aku menuruni tangga dan mencari Bi Narti.


"Bi... Bi Narti....!" Namun Bi Narti yang aku cari rupanya tidak ada.


"Bi Narti tidak ada, dia pergi ke pasar di antar gojek!" Suara Ibu terdengar dan menyahut dari arah ruang tengah. Aku sedikit terperangah melihat Ibu masih ada di rumah Mas Elang.


"Nada... bagaimana pelipis kamu?"


"Kenapa, Bu?" Aku balik bertanya sembari mengaduk Teh Jahe hangat kesukaanku untuk menghilangkan rasa pusingku yang tiba-tiba muncul lagi akibat pelipisku yang masih sakit.


Ibu duduk di hadapanku yang sedang mengaduk Teh Jahe Hangat di meja makan sambil sesekali dikulum dan dikeluarkan kembali sendok pengaduknya.

__ADS_1



"Nada, aku minta maaf sudah membuatmu terpojok waktu itu," ucap Ibu tiba-tiba. Aku seakan tidak peduli dan terus asik mengaduk Teh Jahe Hangatku tanpa menoleh ke arah Ibu.


"Maaf, Bu. Nada ke atas dulu ya. Kepala Nada tiba-tiba sakit gara-gara pelipis yang kena benturan tangga akibat sikutan mantan menantu kesayangan Ibu," ucapku seraya berjingkat.


"Nada... kamu menyindir aku?" seru Ibu terdengar tidak suka.


"Oh ya Bu, selamat ya! Rupanya... calon menantu yang Ibu idamkan telah sukses membuat Mas Elang geram dan memenjarakannya di balik jeruji besi, Nada ke atas dulu....!" pamitku dan beranjak dari meja makan.


"Nada....!" teriaknya tanpa aku gubris. Aku berjalan menuju tangga dan masuk ke kamar yang aku tempati bersama Mas Elang. Kepalaku rasanya semakin nyut-nyutan. Aku mencoba bersandar di ranjang dan menikmati rasa sakit di kepala ini. Kalau ini masih sakit, aku harus periksa ke Dokter untuk memastikan sakit kepala yang aku rasa karena apa? Setelah beberapa menit aku sandarkan, rasa sakit itu sedikit demi sedikit menghilang dan memang benar-benar menghilang. Dan aku benar-benar tertidur.



Aku keluar dari kamar mandi, saat itu aku sangat terkejut karena Mas Elang sudah berada di dalam kamar dan bertelanjang dada dan bercelana boxer. Lampu kamar berubah menjadi lampu meja yang temaram, semua gorden ditutupnya dan pintu dikunci rapat-rapat. Waktu masih jam 10 pagi. Suasana dalam kamar berubah syahdu dan nampak romantis



"Ada apa ini?" Aku bertanya dalam hati penuh rasa heran.


"Ini ada apa Mas, kenapa gordennya ditutup?" tanyaku menghindar dari rasa paham. Padahal firasatku mengatakan Mas Elang tengah merencanakan sesuatu untuk menciptakan suasana romantis.


"Kemarilah....!" ujarnya seraya menangkap pinggangku dengan sempurna. Aku mencoba berontak, namun Mas Elang sudah menelusupkan kepalanya di leherku.



Mas Elang membisikkan kata-kata mesra di telingaku lalu mencium leherku sehingga aku menggelinjang kegelian.


"Mas, hentikan!" ucapku diiringi *******.


"Ayo... kita hentikan di ranjang itu."


Mas Elang membawa tubuhku sekali angkat dan membaringkan tubuhku di ranjang dan menindihnya.


Percuma aku berontak sebab tubuhku sudah terkunci, bibirku dibungkamnya dengan ciuman lembut yang terus memaksaku larut dalam gairahnya. Dan benar saja, aku larut dalam gairahnya. Aku pasrah tubuhku digerayangi Mas Elang, sebab akupun meresponnya dengan baik dan membalasnya. Lagi-lagi aku luluh, padahal aku masih ingin melanjutkan rasa kesalku pada Mas Elang.

__ADS_1



"Sayang... kamu sangat cantik hari ini," ungkapnya dengan mendesah. "Aku merasa bersyukur memilikimu, karena kamu sangat menyayangi Sya," ucapnya dan lagi-lagi ciuman lembut itu didaratkan lagi dibibir ini tanpa memberiku kesempatan untuk bicara.



Dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja aku baru menyadari tubuhku dan tubuh Mas Elang sama-sama polos. Dan kami menyatukan hasrat kerinduan kami yang menggebu-gebu dalam suasana kamar yang temaran dan romantis di pagi hari menjelang siang ini.



Ternyata pesona Mas Elang tidak mampu aku tolak, ketampanannya saat aku menatapnya dalam, mampu meluluhkan hatiku yang merajuk dan kesal menjadi cinta yang mendamba. Kemudian aku membalas setiap sentuhan yang diberikan Mas Elang. Mas Elang memang perkasa dan mampu memberikan sebuah rasa yang membuat aku melayang di udara.



"Sayang... kamu sungguh hebat. Jangan pernah tinggalkan Mas ya. Mas sangat mencintai kamu," ucapnya sambil mengecup pipi, hidung, kening, dan bibirku lama.



Setelah pergulatan hebat itu berakhir, Mas Elang tidak melepaskan aku. Aku malah diajaknya tidur dan melepas lelah. "Temani Mas tidur sampai nanti Mas pergi menjemput Sya," pintanya. Akupun tidak menolak, terlebih pergulatan tadi membuatku sangat lelah dan ngantuk.



Aku terbangun ketika Mas Elang menggoyang bahuku. "Hoam....!" Rasa kantuk itu masih terasa sehingga aku masih betah menutup mata sambil menahan selimut supaya tidak terlepas dari tubuhku yang polos.


"Sayang... kamu masih ngantuk....?" Suara Mas Elang lamat-lamat menyadarkanku dan perlahan aku membuka mata.


"Mas, kok sudah bangun? Tadi kan kita....!" ucapanku terputus setelah melihat sekujur tubuhku masih utuh dengan baju yang sejak tadi pagi aku pakai. Aku melihat kesekitar kamar. lampu meja yang temaram dan gorden yang tertutup sudah kembali seperti semula. Bukankah tadi kami melakukannya?



"*Ya ampun... jadi, yang tadi itu mimpi*? *Benarkah? Rasanya seperti nyata*," lamunku mengingat-ingat kejadian tadi setelah pergi tidak mempedulikan Ibu, aku langsung ke kamar karena pelipisku nyeri lagi dan kepalaku ikut sakit. Lalu aku tertidur pulas. Benar-benar pulas, sampai Mas Elang pulang dari menjemput Sya sekolah.



"Kenapa... Mas kan dari Subuh tadi sudah bangun?" Mas Elang sedikit heran. Aku tidak menjawab, aku langsung ngeloyor ke kamar mandi membersihkan muka dan gosok gigi.

__ADS_1


__ADS_2