
Besoknya sekitar jam dua siang, Mas Elang pulang dengan raut lelah juga bahagia. Kepulangan yang melelahkan itu langsung disambut senyum manis menggemaskan Sya. Tiba-tiba Ibu dan Mbak Sonia yang kebetulan masih di rumah ini, berdatangan menyambut kepulangan Mas Elang.
"Papa....!" sambut Sya seraya merentangkan tangannya menyambut Mas Elang. Mas Elang merangkul Sya penuh kerinduan.
Ibu yang menghampiri ikut nimbrung, di sebelahnya Mbak Sonia juga ikut-ikutan nimbrung. Aku menatap tidak senang dengan Mbak Sonia, yang sok-sok an perhatian ingin meraih Sya dari pangkuan Mas Elang.
Jujur saja sejak Mbak Marisa membeberkan penemuan dan kecurigaannya terhadap Mbak Sonia, aku jadi sedikit kesal setiap menatapnya, biasanya aku berusaha ramah, namun kini aku seakan segan. Namun persekongkolan yang dicurigai Mbak Marisa belum terbukti dan semoga saja tidak benar.
"El, mana oleh-oleh buat kami?" tanya Ibu sambil menunjuk dirinya dan Mbak Sonia setengah merengek.
"Maaf Ma, El bukannya plesir. El ada kerjaan di luar kota," tepis Mas Elang dengan wajah sangat lelah.
"Ah kamu ini El, tidak ingat sama Mama dan Sonia," rajuk Mama kecewa.
"Maafkan El, Ma! El benar-benar tidak sempat beli oleh-oleh. Tadi sebetulnya El mau belikan Mama dress, tapi El takut Mama tidak suka, sebab El tidak tahu selera Mama," sesal Mas Elang seraya menepis tangan Mbak Sonia yang berusaha meraih Sya dari pelukan Mas Elang.
"Alasan... buat istri kamu pasti ada. Pilih kasih kamu El....!" Ibu semakin merajuk seraya berjingkat. Mas Elang nampak gusar dan merasa tidak enak dengan sikap Ibu, dia menatap Ibu yang berjingkat diikuti Mbak Sonia.
"Nanti kalau El sengaja liburan atau keluar kota lagi, El janji bawakan Mama oleh-oleh. El, minta maaf ya Ma untuk hari ini," ucap Mas Elang sungguh-sungguh seraya menatap Ibu yang berlalu. Ibu berjingkat tanpa menggubris ucapan maaf dari Mas Elang.
Mas Elang membawa Sya menuju tangga dan menaikinya. Kami berjalan beriringan lalu memasuki kamar Sya. "Ayo Sya, kita bobo siang bareng. Papa sudah ngantuk banget dan sangat lelah. Siang ini Papa tidur di kamar Sya, ya?" pintanya seraya meletakkan Sya di ranjang yang biasa Sya tiduri.
"Asikkk... Sya bobo sama Papa," ujarny girang mendahului Mas Elang menjatuhkan tubuh di kasur.
"Sayang, aku ngantuk dan lelah banget. Siang ini Mas ingin tidur di kamar Sya saja. Kita tidur siang disini saja," ujarnya seraya membaringkan tubuhnya di samping Sya. Mas Elang nampak ngantuk banget, sehingga dia lupa belum membersihkan badan.
"Mas, jangan dulu baring. Kamu belum membersihkan diri dan ganti baju. Harusnya Mas mandi dulu supaya segar," cegahku. Mas Elang ogah-ogahan dengan muka malasnya.
__ADS_1
Aku menarik tangan Mas Elang dan membawanya ke kamar mandi. Dengan malas Mas Elang mengikutiku lalu masuk kamar mandi. Tidak berapa lama Mas Elang sudah keluar kamar mandi, dan mengganti bajunya dengan baju ganti yang sudah aku siapkan.
Dengan muka yang sangat lelah Mas Elang langsung memburu ranjang dan terbaring di sebelah kanan Sya, aku terpaksa memutar arah dan berbaring di samping kiri Sya. Sya biasanya pengen dipeluk kalau tidur siang. Sekarang tugasku menidurkan Sya, sementara Mas Elang sudah ke alam mimpi. Aku menatap wajah tampan Mas Elang haru, wajah yang penuh lelah itu begitu lelap. Mungkin saking lelahnya.
Haripun bergulir menuju malam, setelah kami termasuk Ibu dan Mbak Sonia makan malam bersama, kami masuk kamar masing-masing. Ibu dan Sonia juga sudah masuk dan mereka menempati kamar tamu masing-masing yang sudah dipersiapkan. Kamar tamu di rumah ini memang ada dua, jadi saat Ibu dan Sonia nginap maka mereka tidur di kamar tamu masing-masing.
"Tidurkan dulu Sya, setelah itu cepatlah masuk. Mas ada sesuatu untukmu," bisik Mas Elang sedikit misterius dan menyeramkan.
Aku ke kamar Sya dan membawa bocah imut itu untuk tidur.
"Ayo Sya, bobo. Sudah malam. Besok kan Sya sekolah," peringatku membuat Sya menghentikan permainan mobil- mobilannya.
"Bunda... tapi cerita dulu," titahnya seperti biasa.
Sesuai bisikan misterius dari Mas Elang tadi, setelah Sya terlelap, aku bergegas meninggalkan Sya dan keluar dari pintu penghubung menuju kamar kami. Disitu Mas Elang sudah menyambut dengan seringai yang buas. Jantungku seketika berdebar kencang. Sudah pasti pertempuran Baratayuda itu akan kembali terulang. Untuk kali ini, Mas Elang nampak sangat beringas seraya menatapku tidak sabar.
Perlahan ku buka kotak kado itu dengan hati yang berdebar, saat isinya mulai sedikit demi sedikit kelihatan, ternyata... isinya membuat aku ternganga. Sebuah lingerie berbahan satin, berwarna hijau sage, dan sangat tipis, yang sukses membuatku terperangah.
"Tidak salah nih?" batinku.
"Kenapa bengong, cobalah sayang! Itu hadiah plus oleh-oleh buat kamu," ucap Mas Elang sembari berjingkat menuju saklar lampu. Dan lampu dimatikan.
"Trekkk....!"
Jantungku semakin berdebar saja. Apa yang harus aku lakukan, biasanya juga kalau ingin begitu, cukup dengan baju tidur seadanya saja. Ini kali pertama aku gugup saat mau diajak hubungan suami istri.
"Mas... buat apa ini?" tanyaku jadi ragu. Mas Elang menatapku sambil tersenyum menggoda membuatku sungguh-sungguh tidak ingin dilihat oleh Mas Elang.
__ADS_1
"Kenapa sih malu-malu? Itu pakaian dinas kamu malam ini. Bukankah hijau sage warna kesukaan kamu? Pakailah, Mas tunggu 10 menit," titahnya tidak sabar. Aku perlahan berjingkat ke kamar mandi hendak memakai pakaian dinas yang dibilang Mas Elang tadi.
"Memalukan....!" umpatku di dalam kamar mandi. Saat aku melihat diriku di depan cermin, aku seakan bukan aku. Aku seakan bermetamorfosis menjadi perempuan \*\*\*\*\*\* dengan pakaian kurang bahannya.
"Sayang... cepatlah....!" Mas Elang berteriak tidak sabar. Dengan langkah yang gugup aku paksa kaki ini melangkah dan keluar dari kamar mandi dengan gaya. yang berubah 180 derajat.
Dibalik remang cahaya lampu meja, Mas Elang terpana melihat perubahanku. Tangannya merentang menyambut kedatanganku kepangkuannya. Lalu dengan cepat Mas Elang sudah menangkap kedua pinggangku.
"Sayang... alangkah cantik dan menggodanya istri Mas. Mas sudah tidak sabar...." bisiknya mendesah seraya meraup bibir manisku. Aku terbuai, dan lama kelamaan rasa rinduku juga semakin menggebu, kami mempertemukan hati dan pikiran serta tubuh yang menyatu dalam sebuah kerinduan. Malam ini benar-benar malam yang sangat romantis dan indah bagi kami. Terlebih Mas Elang sangat bersemangat...
Perang Baratayuda selesai dengan kemenangan kedua belah pihak. Mas Elang mencium bibirku lama sebelum kami melanjutkan ke alam mimpi. Aku merasa tersanjung terlebih Mas Elang memperlakukanku malam ini sangat romantis.
"Terimakasih untuk malam ini sayang," ucapnya lalu mencium keningku, setelah itu kami betul-betul larut dalam mimpi yang indah.
Besoknya, saat Mas Elang telah pulang dari mengantar Sya sekolah. Aku bersantai sembari menikmati Teh jahe dan camilan oleh-oleh yang dibawa Mas Elang dari luar kota. Tiba-tiba WAku. bunyi yang langsung aku buka.
Aku terbelalak tidak percaya dengan apa yang kulihat. "Rupanya kamu bohongi Nada Mas....!" pekikku saat Mas Elang tiba dikamar. Mas Elang berusaha mengejarku yang menahan tanganku.
Sebuah foto yang sangat mesra antara Mas Elang dan mantan istrinya aku perlihatkan dengan marah, lalu aku tarik kembali HP itu dan segera aku masukkan ke dalam tas. Aku berjingkat penuh amarah. Sementara Mas Elang pura-pura tidak mengerti dan berlagak bingung.
Istri mana yang sudi dibohongi. Mas Elang pamitnya keluar kota tapi buktinya kedalam pelukan mantan istri. Sakit... hati ini. Lebih baik pergi.
Baru tadi malam serasa disanjung, namun pagi ini bagaikan dihempas ke jurang yang dalam dan terjal.
"Jangan halangi Nada....!" Aku pergi meninggalkan rumah dengan rasa kecewa yang begitu dalam. Ibu dan Mbak Sonia yang melihat, nampak senang melihat aku menangis berlatkt keluar rumah.
__ADS_1
"Nada... tunggu... dengarkan dulu penjelasan Mas. Nada... jangan berani pergi tanpa seijinku. Dengarkan aku dulu... ini tidak seperti yang kamu pikirkan! Nada....!" teriakan Mas Elang tidak aku gubris, aku pergi dengan derai air mata dan luka.