
"Mas pergi dulu ya, sayang!" pamit Mas Elang seraya mencium keningku lalu berjingkat dan berlalu menyusul Sya yang sudah di meja makan. Namun baru dua langkah, Mas Elang tiba-tiba membalikkan badannya dan kembali lagi menghampiriku.
"Kenapa Mas?"
"Ada yang ketinggalan," alasannya.
"Apa....!" Mas Elang sudah membungkam bibirku dengan cepat. Lembut dan lama.
"Mas kangen... kapan Mas boleh berkelana lagi mengarungi surga dunia? Sejak kamu pergi dan keguguran Mas harus rela menahan hasrat itu."
"Maafkan Nada Mas, tapi kata Dokter tunggu satu bulan sampai rahim Nada benar-benar kering dan sembuh."
"Ihhh... Mas tidak sabar... kenapa harus menunggu selama itu?"
"Kan cuma sebulan Mas!"
"Kangen banget sayang... habisnya kamu setelah sakit ini makin cantik dan membuat Mas tidak mau jauh-jauh dari kamu," ucapnya merayu penuh hasrat lalu mencium bibirku lagi.
"Cuppp.... !" ciuman itu sebagai ganti hasrat Mas Elang yang tidak bisa disalurkan. "Mas cinta banget sama kamu... kamu jangan nakal ya NADA IRAMA!" peringatnya sembari mencolek hidung bangirku dan menekankan kata Nada Irama seolah-olah aku ini memang suka nakal. Ciuman itupun berakhir seiring suara Sya yang memanggil Mas Elang dari bawah.
Mas Elang benar-benar beranjak dan menuruni tangga. Harum parfumnya yang menguar di udara membuat indera penciumanku menghidu lebih lama. Dan saat Mas Elang pergi keluar dari pintu bersama Syapun, wangi parfum itu masih tercium.
Hari ini Sya sudah bisa bersekolah walau kadang kakinya masih terlihat tertatih. Dengan penuh semangat, Sya tadi berpamitan dan tidak lupa mencium kedua pipiku. Kedua lelaki kesayanganku itu saat jalan bersama persis *twins* namun beda generasi. Tampan dan sama-sama memiliki pesona yang kuat. Sya, bocah imut nan cerdas itu memang selalu menggemaskan dan selalu membuat hatiku gembira.
"Ayo Non, sarapan dulu." Tiba-tiba Bi Narti datang dan membawakan sarapan pagiku. Untuk seminggu kedepan aku harus beristirahat total, terpaksa makan saja harus diantar ke kamar oleh Bi Narti. Kalau aku memaksakan, maka aku akan kena marah Mas Elang. Mas Elang memang over protek setelah aku keguguran ini.
"Terimakasih Bi!" ucapku sembari duduk di sofa. "Ngomong-ngomong, Bi Narti sudah sarapan?"
"Sudah, Non... Bibi dari tadi sudah sarapan. Non Nada mau Bi Narti suapkan atau sendiri saja?"
" Sendiri saja Bi, ini sudah tidak lemas lagi seperti kemarin. Hanya saja rasa nyut-nyutan di perut kadang masih terasa."
"Sabar... Non... namanya keguguran pasti pemulihannya paling sebentar satu bulan. Setelah itu Non Nada pasti sudah normal kembali.
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya Non. Masih ada yang mau Bi Narti kerjakan." Bi Narti pamit dan segera beranjak.
"Bi... kalau pekerjaan sudah beres, Bi Narti istirahat saja. Ruangan tengah sama belakang rumah tidak perlu Bibi pel tiap hari, sapuin saja."
"Non Nada jangan khawatirkan Bibi, Bibi sudah biasa Non," sergah Bi Narti sambil tersenyum.
"Maksud saya kalau siang sudah beres pekerjaan, Bibi istirahat saja. Tiduran kek, jangan merasa tidak enak dengan saya!"
"Iya, Non. Bibi paham. Bibi permisi ya!" Bi Narti pergi keluar kamar.
__ADS_1
Setelah Bi Narti pergi, aku segera menyantap sesuap demi sesuap bubur buatan Bi Narti yang rasanya enak. Untuk sementara makananku selama proses penyembuhan adalah bubur. Aku patuhi kata Dokter, lagipula aku ingin segera sembuh dan tidak ingin *bed rest* lama-lama.
Sekitar jam 10 pagi, bel rumah kami berbunyi tanda ada tamu yang datang. Dan bunyi bel itu berhenti seiring terdengar suara orang yang mendekat ke dalam rumah.
"Assalamualaikum....!"
Terdengar suara salam seorang lelaki yang sepertinya aku kenal. "Seperti suara bapak!" gumanku senang.
Tidak berapa lama Bi Narti datang dan memberitahukan bahwa ada tamu. Tamunya ternyata bapak. Aku senang dan kegirangan sampai aku berdiri dan ingin beranjak menemui bapak di bawah.
"Non... jangan.... !" cegah Bi Narti. Seketika perutku mengalami keram kembali. Aku duduk kembali untuk meredakan sakit akibat keram di perut.
"Sshhh....!" desisku menahan rasa sakit dari perutku.
"Tuh kan kata Bibi juga, Non Nada jangan beranjak dari kamar, jadi keramnya terasa lagi," peringat Bi Narti merasa jengkel dengan aku yang ngeyel.
"Iya, Bi. Terimakasih banyak. Kalau boleh minta tolong, bapak suruh ke kamar saya saja Bi. Lagian bapak ke sini pasti ingin menemui saya."
"Baik, Non. Ditunggu ya." Bi Narti kembali ke bawah dan sepertinya menyuruh bapak naik ke atas.
Tidak berapa lama Bapakpun muncul dan langsung aku sambut dengan gembira dan terharu. "Bapak.... !" pekikku seraya memeluk Bapak yang mendekat dengan kedua tangan direntangkan.
"Sudah Nak... Bapak senang kamu sudah pulang dan kembali ke rumah suamimu, sekarang yang lebih penting kamu harus fokus sama kesehatanmu!" Ujar Bapak mencoba menenangkanku.
Tangisku sudah mulai reda, dan kepalaku mulai mendongak. "Bapak sehat? Kenapa Bapak sendiri, Nadly tidak ikut?" tanyaku.
"Bapak sehat. Nadly adikmu sekolah, dia sedang ada ulangan harian di sekolahnya. Jadi dia akhir-akhir ini sibuk dengan sekolahnya," terang Bapak.
"Bagaimana keadaanmu, Nak? Yang sabar ya, Bapak tidak mau kamu banyak pikiran. Sekarang kamu harus fokus dulu sama kesehatan kamu, dan jangan mikirin hal-hal yang bisa membuat pikiran jadi sedih dan kecewa," peringat Bapak mencoba menenangkan.
"Nada akan fokus dengan kesehatan Nada, Pak! Doakan Nada supaya cepat pulih dan rahim Nada benar-benar normal kembali."
"Mulai sekarang jangan pergi meninggalkan rumah jika kalian bertengkar, selesaikan masalah kalian secara baik-baik dan kepala dingin, jangan saling egois. Selama suami kamu tidak berselingkuh dan main tangan, maka Bapak ingatkan jangan keluar rumah suamimu!" peringat Bapak keras dan mengena.
"Iya Pak, Nada akan berusaha menekan ego Nada. Terimakasih Bapak sudah datang menjenguk Nada dan menasihati Nada," ujarku seraya meraih tangan Bapak dan bergelayut manja.
Dua jam kemudian tiba-tiba ibu datang. Ibu langsung naik ke atas dan menuju kamar kami. Saat masuk, Ibu sudah tidak terkejut lagi melihat Bapak. Bapak langsung berdiri dan hendak menyalami Ibu, namun Ibu tidak menyambut uluran tangan Bapak. Bapak duduk kembali dan menyembunyikan rasa malunya atas sikap tidak acuh Ibu.
"Ibu.... !?" cicitku seraya mendongak dan menyalami Ibu. Ibu menerima uluran tanganku namun dengan cepat dilepaskannya padahal baru saja sampai di bibirku.
__ADS_1
"Bagaimana kabarnya, Bu Sri?" Bapak bertanya dengan nada sopan.
"Saya kabar baik, itu makanya saya bisa datang ke sini menengok anakmu. Jika tidak ditengok, nanti malah saya disalahkan anak saya, nanti dikiranya saya sudah tidak mau menengok istri dari anak saya," jawab Ibu ketus. Jawaban ketus Ibu barusan membuat hatiku terasa sakit, namun aku berusaha menegarkan hatiku, 'jangan baper Nada'."
Aku menatap Bapak yang kebetulan sedang menatapku, aku memberi kode dengan tatapan sendu atas sikap Ibu, namun Bapak mengedipkan mata memberi kode supaya aku jangan terbawa emosi.
"Bagaimana Nada keadaan kamu?" tanya Ibu masih dengan mode judes.
"Masih terasa nyeri di perut dan keram, Bu!"
"Itu makanya, kalau suami marah jangan sok-sokan kabur dari rumah. Jadinya begini, kehamilanmu akhirnya jadi korban. Keguguran deh!" timpalnya tanpa perasaan.
"Mungkin ini sudah takdir, Bu Sri. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang baik buat anak dan mantu kita," sergah Bapak membalas ucapan ketus Ibu.
Tidak berapa lama, Mas Elang dan Sya pulang. Aku senang mendengar Mas Elang pulang, seperti mendapat angin segar setelah tadi menerima angin topan dari Ibu. Mas Elang dan Sya langsung masuk ke kamar yang masih ada Bapak dan Ibu.
Sya langsung menghambur ke arah Bapak, bocah tampan itu sepertinya rindu dengan Bapak.
"Kakek....!" ujarnya seraya memeluk Bapak yang sudah siap merangkul Sya.
Mas Elang yang melihat Ibu dan Bapak, langsung menghampiri Ibu dan menyalami tangan ibu, kemudian menghampiri Bapak dan menyalami tangan Bapak dengan takzim.
"Pak, kapan datang?"
"Tadi pagi Nak Elang, sekitar jam 10 pagi," sahut Bapak sambil digelayuti Sya yang manja.
"Sya... ke Nenek tidak salam, ya?" Tiba-tiba Ibu menyela, lalu Sya langsung turun dan menghampiri Ibu lalu mencium tangannya.
"Sya, cepat ganti baju ya. Minta tolong Bi Narti untuk menyiapkan bajunya, setelah itu langsung turun ke bawah, kita makan siang bersama Kakek dan Nenek!" titah Mas Elang yang langsung dipatuhi Sya.
"Ok, Papa!" Sya beranjak ke kamarnya tidak lupa menyalami aku yang duduk menyandar di ranjang. Aku tersenyum bangga melihat Sya begitu patuh dan menggemaskan itu.
"Ma... kapan datang?" Kini giliran Mas Elang menyapa Ibu.
"Tadi El, sekitar satu jam yang lalu. Mama bawakan puding buat istrimu. Nanti biar Narti yang potongin buat istrimu," ujar Ibu memperlihatkan perhatiannya yang kurasa tumben.
"Iya, Ma. Makasih," balas Mas Elang.
"Ayo, Pak. Sebaiknya kita makan siang dulu. Kebetulan Elang sudah lapar nih. Ma, ayo!" Ajak Mas Elang pada Ibu dan Bapak. Bapak mengikuti ajakan Mas Elang, mereka turun dan menuju meja makan. Sementara Ibu belakangan. Setelah Bapak dan Mas Elang sudah turun, Ibu perlahan mendekatiku dan berkata.
"Tuh lihat anakku, dia saja bisa bersikap baik sama bapakmu! Tapi kamu, tidak bisa bersikap baik sama aku," tandas Ibu seraya keluar dari kamar meninggalkan aku yang tiba-tiba sesak dan sakit hati lagi. Lagi-Lagi Ibu membuat hatiku sakit dan belum ikhlas menerimaku. Ibu tadi hanya bersikap baik di depan Mas Elang saja. Namun di belakangnya beda lagi.
__ADS_1
Aku berusaha mengusap dada yang sesak dan menghibur diri yang sedih. Seperti yang Bapak bilang dan yang pernah tante Mirna katakan, selama Mas Elang tidak berselingkuh dan main tangan maka aku harus berusaha bertahan. Semoga aku kuat. Dan deraian air mata ini tidak tertahan saat ingat sikap ibu tadi.