
Tiba di sebuah penginapan di kawasan Tabanan, Bali. Suasananya lumayan indah dengan view pedesaan. Di sisi kanan kiri jalan masih ada sawah yang subur. Walau keadaan Bali yang panas, namun saat itu hawanya terasa dingin. Mungkin karena cuaca mau hujan, sehingga cuaca di kota Tabanan ini tidak terlalu panas.
"Ok, kita beristirahat dulu di sini." Bintang memberi intruksi, dan semua setuju. Bintang bergegas menuju penginapannya bersama Rafa. Sedangkan Elang membawa Sya dan Nada ke penginapan yang terletak di sebelah kamar Bintang.
"Sayang, mas dengan Kak Bintang mau pergi sebentar. Kalian, dan Rafa ditinggal dulu. Ini tidak lama, kok. Mas dan Kak Bintang ada pertemuan bisnis sebentar. Kalian bersiap-siaplah. Nanti malam ada acara besar."
"Acara besar apa, Mas? Kita ditinggal di sini apakah Mas Elang tidak akan lama?" Nada penasaran.
"Paling lama satu jam. Kalian mau berjalan-jalan di sekitar desa ini juga tidak masalah," ucap Elang memberi kepastian.
"Ok deh Mas, pergilah. Hati-hati ya!" Elang mencium pipi Nada sebelum dia pergi. Bersamaan dengan itu Rafa masuk ke penginapan yang di tempati Nada dan Sya.
"Assalamu'alaikum!" Rafa mengucapkan salam dengan sopan. Anak 10 tahun itu sama ramah dan sopannya seperti Bintang Negara. Wajahnya tampan perpaduan antara Bintang dan Citra, keduanya ada di wajah Rafa, tidak ada yang lebih menonjol dari salah satunya.
"Waalaikumsalam, masuk Sayang."
"Tante, boleh aku main sama Sya? Kata Papa, aku disuruh ke sini dulu. Tadi Papa mau ke sini, tapi Papa tidak keburu karena buru-buru." Rafa berbicara dengan sopan meminta dirinya bermain di penginapan yang ditempati Nada.
"Boleh, Sayang. Sya juga senang bisa main sama Kak Rafa. Ayo, masuklah!" Rafa masuk setelah dipersilahkan. Sya menyambut kedatangan Rafa dengan suka cita, kemudian mereka berdua bermain bersama menunggu kedatangan Elang dan Bintang.
Setengah jam kemudian, Nada merasa bosan diam di penginapan. Akhirnya dia ada ide untuk pergi jalan-jalan, keluar di sekitar desa ini. Melihat pemandangan desa yang masih subur dan hijau oleh tanaman padi.
"Anak-anak, bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar yuk, sambil menunggu Papa kalian
datang. Bunda di penginapan bosan," ujar Nada mengajak Sya dan Rafa. Kedua bocah beda umur itu sontak menghentikan permainannya, mereka seakan senang saat mendengar kata jalan-jalan.
"Ayo Bunda, kita jalan-jalan saja, mungpung Papa belum datang."
"Bagaimana, Kak Rafa mau, tidak, jalan-jalan sebentar ke sekitar desa ini?"
"Aku ikut Tante. Aku juga bosan di penginapan." Kedua anak itu senang bisa diajak jalan-jalan sama Nada.
"Ayo, kita jalan-jalan di sekitar sini saja." Nada menggiring keduanya menuju jalan raya sekitar desa itu, yang tidak ramai dengan kendaraan lalu lalang. Jadi tidak khawatir jika melepaskan anak bermain di jalan. Hanya sesekali saja motor atau mobil lewat, dan itupun pelan.
Hamparan padi yang masih muda, menghijau sepanjang jalan desa ini. Rasanya setiap melihat, membuat mata dan pikiran menjadi segar. Tiba-tiba saat Nada dan kedua bocah sedang asik menikmati pemandangan padi yang menghampar, Nada bertemu dengan teman masa SMPnya ketika di Bandung.
"Nada, kamu Nada, bukan?" Perempuan muda seumur Nada itu bertanya sembari melihat ke arah Nada mencoba meyakinkan bahwa itu benar-benar Nada. Sejenak dia menepikan motor Scoopunya, dan turun.
__ADS_1
Saat mata keduanya bertemu, tiba-tiba Nada dan perempuan muda itu saling bersorak dan berpelukan seakan menumpahkan segala kerinduan yang lama terpendam.
"Ni Luh, kamu Ni Luh, kan?" Nada bertanya mencoba meyakinkan perempuan muda seumuran dengannya. Kulitnya coklat eksotis, rambut panjang tergerai. Dengan wajah yang manis dan menarik dengan riasan tipis minimalis, menegaskan bahwa dia benar-benar gadis Bali yang eksotik.
"Luhhh, senang ketemu kamu. Rupanya kamu kembali ke kampung halaman kamu. Terus sekarang kamu tinggal di mana?"
"Jangan nanya-nanya dulu, aku justru penasaran dengan kamu. Kenapa kamu ada di Bali, dalam rangka apa? Apakah kamu nikah sama orang bule di sini?" sergah Ni Luh antusias.
"Aku tidak nikah sama orang bule, Luh. Aku ke sini karena ikut suami aku yang kebetulan ada bisnis, di sini," sahut Nada.
"Benarkah? Berarti suami kamu orang kaya dong?"
"Bukan orang kaya, Luh. Tapi beruang," kelit Nada diakhiri senyum.
"Beruang Tedy, wkwkkwkw," Ni Luh tertawa lepas tanpa beban membalas candaan Nada.
"Suami aku orang Jakarta, Luh. Aku sekarang tinggal di Jakarta. Aku sudah nikah kurang dari dua tahun. Sekarang aku lagi hamil 6 bulan. Dan, itu yang kecil anak sambung aku, dan satunya lagi anak sahabat suami aku," tunjuk Nada menjelaskan. Ni Luh mengangguk-angguk memahami penjelasan Nada.
"Aku pikir, kamu di sini karena nikah sama orang bule. Jadiii, kamu sedang hamil nih?" Ni Luh meraba perut Nada. Nada mengangguk.
"Mampir dong Luh, ke penginapan aku. Dekat kok dari sini," ucap Nada menunjuk penginapan tempatnya nginap.
"Penginapan itu ya? Kebetulan banget nanti malam akan ada launching *Homestay n Cafe* di dekat sini, kayaknya yang punya orang Jakarta deh."
"Kamu tinggalnya di mana, Luh?" sambung Nada.
"Dekat sini kok, kebetulan aku punya homestay di sini. Aku bersama suami aku bikin homestay n cafe yang kebetulan dekat dengan rumah huni, di sini."
"Rumah kamu dekat sini? Terus kamu nikah sama Bli atau Blue?" candanya diimbuhi tawa.
"Aku nikah sama Blue alias Bule. Saat keluar SMA, aku langsung pindah ke sini, kuliah 3 tahun ngambil jurusan bahasa Inggris. Karena aku sedikit-sedikit lancar ngomong bahasa Inggris, akhirnya ada bule yang nyantol karena kebetulan aku jadi Tour Guide waktu itu."
"Oh ya, jadi ceritanya sekarang kamu seorang Nyonya Bule?"
"Bukan Nyonya Bule, Nad. Tapi Nyonya Smith Gordon."
"Syukur deh, Luh. Artinya, keinginan kamu dulu pengen nikah sama bule kesampaian. Berarti kamu kaya dong, Luh."
"Tadinya aku pikir dia orang kaya, tapi biasa saja. Dia hanya bule yang bekerja di sini dan kebetulan posisi dia bagus sebagai Manager hotel berbintang di Nusa Dua."
"Syukuri saja Luh, yang penting suami bule kamu beruang, bukan pengangguran."
"Benar juga kata kamu, Nad. Suami bule aku beruang, dan bersyukur sih dia bisa buatin usaha homestay buat aku di dekat sini."
"Alhamdulillah, aku ikut senang," ujar Nada.
__ADS_1
"Nad, aku pikir kamu nikah sama Kak Nadie kakak kelas yang dulu sering berangkat bareng sama kamu. Terus kalau dia tidak nikah sama kamu, apakabarnya, ya, dia sekarang? Padahal dia itu ganteng dan naksir berat sama kamu. Pokoknya dia cocok banget sama kamu waktu itu. Dia perhatian banget sama kamu. Tapi kenapa kalian tidak berjodoh, padahal kalian teman masa kecil dan tetanggaan, kan?" cerocos Ni Luh, hampir tidak ada jeda.
"Kami bukan jodoh, Luh. Namanya jodoh tidak ada yang tahu. Dia dulu perhatian, tapi belum tentu jodoh di masa depan." Nada menginterupsi.
"Iya, kamu benar, Nad. Tapi, sayang banget ya, Kak Nadie tidak jadi sama kamu, habisnya dia baik dan ganteng."
"Kenapa tidak kamu saja yang nikah sama Kak Nadie, kalau begitu?" serang Nada diakhiri tawa.
"Ihhhh, kamu ini malah memutar balikkan keadaan, aku ini udah nikah, dan lelaki tipe aku adalah cowok bule," balas Ni Luh menjulurkan lidahnya.
"Tuh, kan, artinya kamu juga bukan jodohnya Kak Nadie."
"Iya, deh, iya, kamu menang. Ya sudah deh Nad, kalau gitu aku pergi dulu. Nanti calling saja biar kamu bisa mampir ke rumah aku. Mana nomer HP kamu biar aku telpon? Nanti simpan nomer aku, jangan lupa kasih nama Nyonya Gordon," ujar Ni Luh lengkap.
"Ohhh, ok, Luh. Nomernya dengarkan ya. 0856218686\*\*. Jangan lupa kasih nama Nyonya Elang, ya."
"E-L-A-NG ... wihhh mirip burung Elang, dong. Aku suka seram kalau lihat burung Elang, menakutkan dan kesannya galak. Tapi, kayaknya kalau Elang milik kamu tidak galak-galak ,kan? Ujung-ujungnya pasti kamu jatuh dalam pelukan sang Elang," oceh Ni Luh menggoda Nada.
"Apaan sih, Luh, goda melulu?" kelit Nada malu-malu.
"Ngomong-ngomong, pastinya Elang suamimu ganteng banget, ya, sampai-sampai seorang Nada Irama bisa jatuh ke dalam pelukannya." Ni Luh masih saja menggoda Nada.
"Sudah, deh, Luh. Katanya tadi kamu mau pulang, kenapa masih di sini?" Nada berusaha mengusir Ni Luh yang masih senang menggoda Nada.
"Ok, deh, aku pulang. Daripada melihat kamu menangis gara-gara aku godain. Aku pulang ya. Anak-anak, aku tante pulang," pamit Ni Luh memanggil Sya dan Rafa. Sya dan Rafa yang masih asing dengan Ni Luh, hanya menatap ragu. Ni Luh tidak ambil pusing, setelah dia berpamitan bergegas dia pergi melajukan Scoopunya menuju ke rumahnya.
"Bunda, kita pulang saja, yuk! Siapa tahu Papa dan Om Bintang sudah datang." Sya meraih jemari Nada dan memegangnya lalu berjalan menuju penginapan.
"Ayo, Kak Rafa!" Nada dan dua bocah itupun berjalan beriringan menuju penginapan tempat mereka menginap. Tiba di sana, rupanya Elang dan Bintang belum datang.
"Ayo, kita masuk dulu. Biar nunggu Papanya di dalam saja." Nada mengajak kedua bocah itu masuk. Saat berada di dalam, pelayan di penginapan telah menyiapkan sebuah hidangan makan siang. Kebetulan Nada sudah merasakan lapar. Namun Elang belum datang. Tapi melihat kedua bocah di depannya nampak lapar. Akhirnya Nada mengajak mereka makan siang.
"*Mas Elang bisa jadi datangnya lebih siang*, *daripada melihat anak- anak lapar, alangkah* *baiknya mereka makan dulu*." Nada berbicara di dalam hatinya.
"Ayo, anak-anak kita makan!" Akhirnya mereka makan siang tanpa menunggu Elang.
__ADS_1