
Kumandang azan Maghrib menggema, ketika mobil Elang sampai di depan rumah. Elang sengaja tidak mampir-mampir dulu, sebab melihat Sya yang ngantuk.
Turun dari mobil, Elang melihat pintu depan terbuka lebar. Elang dan Nada serta Sya, segera masuk dan melihat Bu Sri sedang berada di sana. Namun mereka disuguhkan pemandangan yang mencengangkan, keadaan ruang tamu berantakan serta pecahan kaca berserakan.
"Ada apa ini? Apakah ada maling ke rumah ini?" Bi Narti, Bi Ijah serta Perawat Vera yang mendengar teriakan Elang segera menghampiri dengan wajah-wajah yang risau. Elang menatap semua dengan tanda tanya besar.
"El, kalian dari mana? Tadi Mayang datang ke sini untuk mencari Sya. Karena Sya tidak ada, Mayang dan orang-orangnya ngamuk bahkan hampir mencelakai Mama," berita Bu Sri sedih. Bu Sri seketika menangis. Nada yang ikut shock menghampiri Bu Sri, sebisanya dia memberi kekuatan buat mertuanya yang kini tidak lagi menampakkan rasa benci meskipun belum bisa dekat dengannya.
"Ini awal kejadiannya bagaimana?" Elang mencoba mengintrogasi semua penghuni rumah termasuk Pak Nanang yang menjaga pintu gerbang di depan. Bi Narti menceritakan kejadian yang tadi menimpa mereka.
Bi Narti menceritakan kronologis kejadian yang baru beberapa jam yang lalu terjadi di rumah ini. Dari awal Mayang datang beserta dua orang lelaki, menggedor pintu dan merangsek masuk ke dalam rumah. Berteriak-teriak memanggil Sya. Namun ketika Sya tidak didapatinya, Mayang ngamuk dan menghancurkan barang-barang yang ada.
Ketika Mayang melihat Bu Sri berada di kamar bawah, Mayang datang dan berbicara kasar serta menghina Bu Sri. Juga hampir saja mencelakia Bu Sri, yang sengaja ingin dijatuhkan dari kursi roda, beruntung ada Perawat Vera yang berusaha menghalangi.
Dua pengawalnya juga tidak lepas dari perbuatan yang tidak menyenangkan. Menghancurkan barang yang ada dan mengancam semua penghuni rumah.
Elang meremat kasar rambutnya dengan rasa prustasi. Dia tidak habis pikir kenapa Mayang mendatangi rumahnya dengan cara yang arogan. Elang memanggil Pak Nanang yang berjaga, Pak Nanang segera menghampiri dengan wajah menunduk, terlihat di pelipisnya luka sobekan benda tajam yang darahnya mulai mengering.
Pak Nanang bercerita, saat dirinya mempertahan pintu gerbang agar tidak terbuka, kedua pengawal Mayang mengancam dengan pisau sehingga melukai pelipis kiri Pak Nanang.
"Saya minta maaf, Den. Tidak bisa melindungi keluarga Den Elang serta saya sendiri. Saya tidak berguna," ujar Pak Nanang penuh sesak, mengakhiri ceritanya. Elang mengepalkan tangannya geram. Dia marah dan emosinya mulai naik ubub-ubun.
__ADS_1
"Siapkan CCTV depan juga CCTV dalam rumah, ini akan jadi bukti laporan untuk Polisi," titah Elang pada Pak Nanang. Pak Nanang sigap dan segera melaksanakan tugasnya. Sejenak Elang menghubungi seseorang yang kelihatannya sangat berpengaruh. Elang bergerak secepat mungkin untuk menangani kasus perbuatan tidak menyenangkan ini dan melaporkannya pada pihak Kepolisian.
"Sayang, bawalah Sya ke atas, naiklah dan masuk kamar," titah Elang pada Nada. Nada melepaskan usapan tangannya pada Bu Sri, lantas mengikuti Bi Ijah yang duluan telah membawa Sya.
Bu Sri dibawa Perawat Vera ke dalam kamar dan ditenangkan di sana. Elang sedih melihat kejadian ini. Mayang yang dulu sangat disayang Mamanya kini menghina menghina dan ngelunjak menginjak-injak harga diri Mamanya dan dirinya.
"Ma, Elang pergi dulu. Mama baik-baik saja ya. Tidak usah khawatir, Elang sudah meminta perlindungan dari orang-orang kepercayaan Elang. Rumah ini biarkan seperti ini dulu untuk bukti pada pihak Kepolisian," ujar Elang tergesa seakan tidak sabar ingin segera memburu keberadaan Mayang dan dua pengawalnya. Bu Sri menatap sedih anaknya, dalam wajahnya terdapat rasa khawatir yang dalam.
Elang memasuki kamarnya untuk menyiapkan sesuatu. Si dalam ia mendapati Nada yang baru masuk dari kamar Sya.
"Mas, bagaimana ini? Kami takut di dalam rumah," Nada menghampiri Elang dan memeluknya.
Elang membuka lemari rahasianya yang jarang disentuhnya, bahkan Nada tidak tahu ada lemari rahasia di dalam lemari itu, karena letaknya masih di dalam lemari, namun masuk ke dalam dinding yang sengaja dibuat seperti sebuah kotak penyimpanan. Elang mengambil sesuatu dari sana dan memasukkannya ke dalam saku dalam jaket kulitnya.
"Mas!" sejenak Elang terkejut melihat Nada sudah berada di belakangnya. "Apa yang disembunyikan itu? Jangan katakan itu sebuah pistol." Nada mencoba menyelidik dengan khawatir di wajahnya. Elang mengusap keningnya, tanda menyesal karena ia ketahuan Nada menyembunyikan pistol ke dalam saku jaket kulitnya. Untung saja tadi dia sudah menutup kembali lemari itu.
Elang merangkul Nada dan menatap dalam wajah itu. "Mas harus pergi, ini hanya sebuah antisipasi jika Mas terdesak, dan harus melindungi diri. Mas akan hati-hati. Kalian baik-baik ya," ucapnya mencoba menenangkan Nada yang nampak khawatir dan sedih. Kemudian dirangkumnya wajah itu memberi kekuatan dengan sebuah ciuman yang dalam.
__ADS_1
Elang melepaskan ciuman itu dengan rasa sedikit lega. Setidaknya ini sebuah semangat sebelum berangkat berperang. "Titip Sya dan dia," ucapnya lagi seraya mengusap lembut perut Nada yang masih belum buncit.
"Hati-hati, Mas. Kami selalu mengharapkan keselamatanmu. Semoga Yang Maha Kuasa selalu melindungi Mas Elang," rangkul. Nada sembari menangis di bahu Elang.
"Sayang, sudah ya. Tenangkan dirimu. Mas harus pergi. Kalian makan malamlah duluan. Tunggu Bi Narti memanggil kalian baru turun ke bawah." Elang memberi aba-aba sebelum dia melepaskan Nada dan pergi meninggalkan istri tercintanya.
Elang berjalan penuh ambisi menuruni tangga. Tekadnya dia akan mendatangi Zulfikar untuk meminta pertanggungjawaban atas perbuatan Mayang. Sementara laporan Polisi telah ia buat dan bukti CCTV telah ia kantongi sebagai bukti kuat perbuatan tidak menyenangkan Mayang.
"Siapkan semua dengan rapi, aku OTW. Kita bertemu di persimpangan," ujar Elang menghubungi seseorang. Nada melihat was-was dari atas balkon, hatinya bergemuruh dengan rasa khawatir dan takut. Takut keselamatan Elang terancam. Yang dia mampu kini hanyalah mendoakan Elang supaya selalu dalam perlindungan-Nya.
*
*
Dengan gerak cepat, pengejaran Polisi telah dilakukan. Elang meminta bantuan teman-temannya dari pihak Kepolisian, mereka tentu saja sigap membantu Elang. Tidak butuh lama, Mayang yang saat itu sedang berada di sebuah diskotek berhasil diamankan dan dibawa ke kantor Polisi beserta dua Pengawalnya yang berwajah sangar.
"Lepaskan, apa yang kalian lakukan! Mardiiii, Mardaaaa, bantu aku! Lepaskan aku dari orang-orang tengik ini!" teriak Mayang memanggil kedua Pengawalnya yang kini telah berhasil diringkus.
Sementara itu, Elang masih melajukan Pajiranya dengan kecepatan yang tinggi, membelah jalanan menuju kediaman Tuan Zul. Di belakangnya, Elang dikawal orang-orang kepercayaannya yang mengawal Elang menyertai perjalanan beresiko kali ini, menuju Mension Tuan Zulfikar yang katanya terkenal lalim itu.
__ADS_1
Elang menghentikan mobilnya di depan sebuah pintu gerbang yang berdiri kokoh. Dari jauh, sudah kelihatan bangunan tinggi mirip sebuah kerajaan.
Elang menatap pantang menyerah ke depan pintu gerbang kokoh itu. Disini akan dimulai perjuangan dia untuk meminta pertanggungjawaban perbuatan Mayang pada Tuan Zulfikar. Meskipun kendala masih harus dia hadapi.