
POV 1 (Nada)
Kami kembali dari Taman Bahagia sebelum azan Maghrib berkumandang. Rasa lelah, kecewa, dan marah menyatu menjadi satu. Terlihat jelas di wajah Mas Elang. Bak ironis, Taman Bahagia yang seharusnya membawa kebahagiaan ketika pulang, kini menghadirkan wajah kecewa yang teramat dalam bagi Mas Elang.
Mangurungkan niat ke Danau Cinta dan memilih ke Taman Bahagia demi menghindari sebuah kenangan pahit, bak bumerang yang nyata bagi Mas Elang. Dibayar tunai oleh sebuah takdir yang tidak bisa dicegah. Seketika Mas Elang seakan terpuruk, dia langsung menuju balkon dan menyulut batang rokok. Sudah bisa ku bayangkan berapa banyak puntung rokok yang berhasil Mas Elang bakar.
Azan Magrib berkumandang, aku sejenak ke kamar Sya, melihat Sya sedang melakukan apa. Rupanya Bi Ijah sudah berada di kamar Sya.
"Bi Ijah ... nanti Sya bawa langsung ke bawah untuk makan malam ya," ujarku.
"Bunda!" panggil Sya sebelum aku beranjak dari muka pintu kamar Sya. Langkahku terhenti, lalu tubuhku memutar ke arah Sya.
"Iya, Sya?"
"Nanti bobonya pengen sama Bunda," ujarnya meminta. Tidak biasanya Sya memintaku tidur bersamanya.
__ADS_1
"Ok, nanti sehabis makan malam ya," janjiku sambil tersenyum. Sya membalas senyumanku dengan manis.
"Bunda, Papa di mana?"
"Papa sedang di balkon kamar Sya, tapi Sya tidak boleh ke sana, sebab di sana banyak asap rokok, asap rokoknya banyak," kelasku sambil menghampiri Sya dan mengusap rambut Sya.
Aku kembali ke kamar hendak bersih-bersih dan ambil wudhu. Sekilas aku menoleh ke arah balkon, Mas Elang masih di sana dengan rokok di tangannya. Mulut dan tangannya saling bersahutan menerima sebatang rokok yang terselip di celah jemarinya.
Setelah menyudahi sholatku, aku berniat ke bawah melihat ibu dan makan malam, namun sebelum beranjak, sejenak ku toleh Mas Elang yang masin memegang sebatang rokok. Aku geleng-geleng kepala dengan keadaan Mas Elang yang nampak prustasi.
Demi hormatku, aku mengesampingkan rasa sakit hati, dan melangkah menuju kamar Ibu. Saat aku sampai, Ibu sedang makan malam disuapin Mbak Vera, Perawat yang disewa Mas Elang.
__ADS_1
Aku menghampiri Ibu dan menyapanya. "Bu ....!" Ibu menoleh dan mengernyitkan keningnya.
"Bu, sedang makan malam, ya?" tanyaku basa-basi, karena aku tahu Ibu pasti tidak akan ramah atau menjawab tanyaku.
"Elang mana?" Ibu balik bertanya.
"Mas Elang masih di atas, Bu. Nanti juga segera ke bawah untuk makan. Nada ke dapur dulu, ya, Bu, mau menemani Sya makan," ujarku sembari berbalik badan.
"Nada ....!" Tiba-tiba suara Ibu terdengar memanggil dan aku sangat heran. Aku segera berbalik menghadap Ibu.
"Ya, Bu," sahutku. Ibu diam dan hanya menatap lantai kamar. Aku menghampiri Ibu lalu mengusap pundaknya. Kalau mengingat sikapnya selama ini yang buruk terhadapku, rasanya aku ingin bersikap yang sama, yakni bersikap judes dan jahat, namun aku bukan tipe pedendam, jadi walaupun sakit hati namun aku masih bisa menyimpan rasa sakit itu dalam-dalam.
"Kenapa, Bu?" tanyaku lagi. Namun lagi-lagi Ibu diam. "Ibu mau tambah makanannya lagi?" tanyaku penasaran. Ibu menggeleng.
"Pergilah!" usir Ibu seraya melambai memberi kode supaya aku keluar.
"Iya, Bu. Jika Ibu butuh sesuatu katakan saja." Ibu menggeleng dan menghempaskan tangannya menyuruhku keluar. Akupun keluar dengan hati bertanya-tanya. "Ada apa dengan Ibu?"
__ADS_1