
Aku dan Sya terlongo sejenak. Namun setelah beberapa detik, sekonyong-konyong Sya menghambur ke arah Mas Elang, aku yang melihat sungguh merasa takut nampan yang dipegang Mas Elang jatuh dan tumpah. Namun dengan sigap Mas Elang mundur sembari mengangkat tinggi nampan yang berisi dua piring nasi goreng buatan Mas Elang.
"Sya... jangan peluk Papa!" tahannya. Sya yang sedikit lagi sampai dengan Mas Elang, langkahnya tertahan dan berdiri terpaku disitu. Aku merasa lega, sebab Sya tidak berhasil memeluk Mas Elang. Tanpa sadar aku mengusap-usap dada tanda lega, yang tidak luput dari perhatian Mas Elang.
"Papa sedang bawa nasi buat Sya dan Bunda. Jadi kalau Sya peluk Papa, nanti nasinya tumpah. Ayo... duduklah di sofa itu sama Bunda," titahnya menunjuk sofa yang berada dalam kamar Sya. Sya patuh, dengan manisnya dia duduk di sofa, tidak lupa meraih tanganku. Kami duduk berdampingan. Dan Mas Elang menghampiri kami.
Aku tidak sedikitpun berkata-kata dengan Mas Elang. Dudukku juga terasa tidak nyaman, aku merasa bagaikan orang lain dihadapan Mas Elang, sejak Mas Elang menyuruhku keluar dan mencari Sya tanpa peduli keselamatanku.
"Makan dulu ya, ini buat Sya, dan ini buat kamu, sayang," ucapnya kembali lembut seperti sedang tidak terjadi kejadian apa-apa sebelumnya. Sya dengan senyumnya yang ceria segera meraih piring itu ke pahanya, lalu Mas Elang duduk di sampingku dan bermaksud menyuapiku. Namun aku mengangkat tangan dan menggeleng.
Mas Elang heran dan bertanya, "kenapa, sayang....?"
"Nada belum mau sarapan," ucapku seraya berdiri dan menghampiri pintu keluar kamar. Aku membukanya dan keluar dari kamar itu. Sementara Sya, masih makan dengan lahap terlebih sejak berhasil diserahkan oleh orang-orangnya Mbak Mayang, Sya belum makan sama sekali. Dan baru pagi ini, aku melihat Sya makan lagi. Mas Elang nampak kecewa melihat aku pergi.
Aku menuruni tangga dan tidak mempedulikan Mas Elang yang sempat memanggilku. Mungkin karena Sya sedang makan, Mas Elang tidak menyusulku dan membiarkan aku pergi.
Aku langsung menuju dapur yang di sana sudah ada Bi Narti. Bi Narti menyambutku ramah seraya keheranan. "Ehh... Non Nada... mau Bibi bikinkan apa? Tadi, Den Elang membuat nasi goreng sendiri, katanya sih ingin membuat nasi goreng spesial buat Den Sya dan Non Nada," ucap Bi Narti.
"Mas Elang bela-belain membuat nasi goreng buatku dan Sya, pasti hanya merayu dan merasa bersalah saja, setelahnya aku yakin tidak akan bisa membelaku saat ibu menghinaku."
"Saya mau bikin mie saja, Bi?" ucapku seraya mempersiapkan panci dan menyalakan kompor. Bi Narti nampak keheranan namun tidak berani protes. Aku meletakkan panci yang sudah ku isi air, di atas kompor.
"Non, biar Bi Narti saja yang masakin buat Non Nada. Non tunggu saja di meja makan," ujar Bi Narti menawarkan diri.
"Tidak, Bi. Biar saya saja yang buat sendiri," tolakku. Bi Narti akhirnya mengalah, namun dia tetap membantuku menyiapkan mangkuk dan garpu.
Akhirnya mie kuah yang aku buat sudah jadi, tinggal tuang ke mangkuk. Mie dengan campuran telor, sayuran, dan cabe, sudah siap di mangkuk, tinggal aduk dan jadi. Lantas aku membawanya ke meja makan dengan asap yang mengepul dan wangi yang menguar di udara, semakin menambah selera.
__ADS_1
"Non... ini minumnya." Bi Narti membawakan aku air putih hangat, lalu kembali ke wastafel untuk mencuci bekas masak mie yang baru aku pakai.
"Terimakasih banyak, Bi!" ucapku.
"Sama-sama, Non."
"Non... bagaimana pelipisnya, apakah masih sakit?" tanya Bi Narti disela-sela kesibukannya mencuci panci.
"Masih terasa nyut-nyutan, Bi. Dan kadang saya merasa sakit kepala yang tiba-tiba," jawabku sambil menyeruput mie kuah soto yang ku buat tadi.
"Non Nada hebat banget ya, bisa membawa kembali den Sya tanpa menunggu satu hari. Sebetulnya, Non Nada mendapatkan Den Sya di mana? Bukankah Bu Mayang sudah pergi duluan bersama dua bodyguard yang tinggi besar itu?" Bi Narti bertanya penuh rasa penasaran.
"Saya menjumpai suaminya Mbak Mayang, Bi."
"Apa, Non? Tidak salah? Kok bisa Non, memangnya dari mana Non Nada tahu kediaman suaminya Bu Mayang yang terkenal lalim itu?" tanya Bi Narti tidak percaya.
"Ada Supir taksi yang baik yang mengantarkan saya ke sana."
"Ohh ya....?"
"Dan... suaminya Mbak Mayang rupanya tidak lalim seperti apa yang orang-orang pikirkan," tepisku.
Mas Elang nampak geleng-geleng kepala sambil berkata, "kamu benar-benar marah sama Mas, sampai-sampai tidak mau memakan nasi goreng buatan Mas, dan malah masak mie sendiri, " protesnya kecut. Aku sama sekali tidak menjawab. Setelah lama tidak mendapat respon dariku, Mas Elang berbicara lagi.
"Benar, kamu mendatangi rumah Tuan Zulfikar?" Mas Elang bertanya dan menatap mataku sempurna. Aku mengangguk tanpa mau menjawab. "Sudah, letakkan mangkuk itu di meja, biar Bi Narti yang membersihkan." Larang Mas Elang seraya meraih tanganku yang hendak membawa mangkuk bekas makanku ke wastafel, dan menariknya perlahan menuju tangga.
Aku mengikuti Mas Elang dengan sikap yang datar. Mas Elang membawaku masuk kedalam kamar lalu di kuncinya kamar itu dari dalam dua kali.
"Mas Elang ini apa-apaan sih, mengunci pintu segala," gerutuku dalam hati.
Mas Elang membawaku duduk di ranjang lalu memelukku. "Mas ingin mengucapkan terimakasih padamu sayang, karena sudah membawa Sya dengan selamat. Sebagai rasa terimakasih Mas padamu, Mas membawakan sebuah hadiah untukmu," ucapnya sembari memberikan sebuah kotak perhiasan ke hadapanku. Aku tidak begitu antusias dengan hadiah yang diberikan Mas Elang.
__ADS_1
"Bukalah... dan pakailah....!" titahnya.
"Apa ini, Mas?"
"Bukalah....!" perintahnya lagi. Dengan berat hati aku membuka kotak perhiasan itu. Dan sebuah cincin berlian yang memancarkan cahaya yang menyilaukan mata teronggok disana.
"Buat apa ini, Mas?" tanyaku keheranan.
"Buat kamu, sayang. Aku memberikan ini sebagai tanda terimakasihku untukmu."
"Tidak perlu berterimakasih Mas, dan Nada tidak perlu hadiah atas semua yang Nada lakukan," tolakku datar.
"Sayang... kenapa sih sikapnya hambar begitu?" Mas Elang nampak kecewa.
"Nada tidak perlu hadiah itu Mas, lagipula kalau Nada menerima hadiah cincin emas berlian itu,
Nada tidak ingin dikatakan bahwa menikah dengan Mas Elang, Nada hanya gila akan hartanya," sergahku. Mas Elang nampak prustasi atas jawabanku.
"Oh ya satu lagi, Mas minta maaf telah membiarkanmu pergi mencari Sya, saat itu Mas merasa marah karena Sonia dan Mayanglah dibalik hilangnya sertifikat PerkaSya Restoran. Dan malam itu, Mas berhasil membawa Sonia ke dalam penjara. Namun Mayang masih diburu Polisi karena dia berhasil melarikan diri. Dan, mungkin saja dia minta perlindungan dari suaminya," ucap Mas Elang panjang.
"Aww... aduh....!" tiba-tiba pelipisku terasa sakit lagi dan kepalaku juga ikut nyut-nyutan.
"Sayang, pelipisnya berdarah lagi." Mas Elang panik, namun segera memanggil Bi Narti untuk mengambil peralatan untuk mengobati lukaku.
Mas Elang membaringkan tubuhku dengan nyaman. "Tahan ya... . Mas buka dulu perban yang lama biar Mas ganti yang baru." Aku tidak menyahut hanya bisa pasrah atas apa yang Mas Elang lakukan padaku.
Tidak lama dari itu Bi Narti datang, namun diikuti seseorang yang sangat aku kenal dan sangat membenciku. Dialah Ibu. Aku tidak tahu, seperti apa reaksi Ibu setelah ini, setelah mengetahui calon mantu kesayangannya berani berbuat curang.
Mas Elang segera mengganti perban di pelipisku, setelah membersihkannya dengan alkohol lalu diberi betadin dan diperban kembali dengan rapi dan baik. Rasa sakit dan nyut-nyutan tadi kini sedikit hilang.
"Sudah Mas ganti, besok pasti akan segera kering lukanya," ujarnya. Lalu aku bangkit, dan Mas Elang membantu aku bangkit.
"El... gimana istri kamu?" tiba-tiba Ibu bertanya tentangku, mungkin sekedar basa-basi.
"Lumayan, Ma."
__ADS_1
"El, tentang Sonia... Mama mau minta maaf." Ibu terdengar meminta maaf sambil menunduk dengan rasa bersalah. Bersamaan dengan itu aku berdiri dan beranjak melewati Ibu dan Mas Elang, lalu keluar melalui pintu penghubung kamar Sya. Aku keluar lewat pintu kamar Sya dan lebih baik membiarkan Mas Elang dan Ibu berbicara apa saja sesukanya.