"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Rasa Bersalah


__ADS_3

Hanya perasaan sedih, kecewa, serta penyesalan yang kini dirasakan Elang. Seandainya saja pertengkaran malam itu tidak terjadi, mungkin saja Nada tidak akan pergi dan tidak mengalami keguguran seperti ini. Kehamilan yang diharapkan Elang supaya bisa membawa kembali Nada ke sisinya. Namun kehamilan itu justru hadir atas ketidaktahuannya.



"Nada... maafkan Mas sayang. Mas menyesal membuatmu pergi malam itu. Mas tidak tahu kamu sedang hamil saat itu. Mas sungguh menyesal. Maafkan suamimu ini Nada....!" ucapan lirih itu keluar seiring air matanya yang bercucuran.



Saat Elang merasa sangat terpuruk, tiba-tiba dari arah luar pintu, Ibu Sri masuk bersama Marisa. Dengan raut muka sedih, Bu Sri menghampiri Elang lalu mengusap pundaknya.


"El... kenapa dengan istrimu?" Elang tersadar, tubuhnya yang tadi merunduk kini mendongak saat sentuhan tangan Bu Sri menyentuh pundaknya.


"Buat apa Mama datang ke sini, untuk menertawakan Nada? Atau untuk mencemoohnya dan menyebarkan kejadian yang menimpanya pada teman-teman arisan Mama? Lihatlah, Ma! Dia pergi malam itu karena kami bertengkar karena keegoisan Elang membawa Nada ke rumah Mama hanya ingin mendamaikan ketegangan kalian. Namun apa, Mama terlalu egois dan terlanjur benci sama Nada sehingga tanpa sengaja kami mendengar Mama masih saja mencemooh Nada di depan orang lain di belakang kami. Mama sungguh keterlaluan!" ucap Elang meninggi sambil berdiri dan menatap tajam ke arah Bu Sri.



"Sudah berapa kali Elang memberikan Mama kesempatan dan membiarkan Mama supaya menyadari kesalahan Mama, namun dengan cara Elang seperti itu tidak membuat Mama sadar juga. Sekarang Elang menyerah dan terserah Mama, mau ngetawain Nada atau mau mencemooh Nada di depan teman-teman Mama, silakan!" tandas Elang seakan sudah pasrah dengan sikap Bu Sri yang selama ini memang tidak menyukai Nada.



Bu Sri beberapa saat terdiam kaget, melihat reaksi Elang keras seperti itu dan tidak biasanya. Marisa yang berada tidak jauh dari Bu Sri ikut tersentak juga. "Kak Elang... sabar Kak?" Marisa mencoba menenangkan amarah Elang.



"Kak... apa yang terjadi dengan Nada? Kenapa dia berada di rumah sakit? Dan kapan Nada pulang? Bukankah Kakak bilang Nada belum mau pulang?" cecar Marisa, walau Elang dalam keadaan panik dan marah. Elang diam merunduk dengan perasaan yang semakin sedih dan kembali meremas jemari Nada.



Elang menarik nafas dalam, lalu mendongak. "Nada siang tadi tiba-tiba pulang dan memeluk Sya dan Kakak dari belakang. Namun saat Kakak dan Sya berbalik, tubuh Nada merosot dan akan jatuh. Namun Kakak berhasil menangkap pinggangnya sehingga tidak jatuh ke lantai. Lantas saat itu juga Kakak melihat darah dari paha Nada, Kakak pikir Nada datang bulan dan banjir. Dan saat itu juga Nada tidak sadarkan diri." Elang bercerita dengan isakan tangis. Isakan tangis yang hampir tidak pernah Elang cucurkan selama ini.



"Jadi, Nada hamil? Apakah Kakak tidak tahu Nada hamil?"


"Kakak gak tahu Mar, kalau tahu pasti Kakak cegah dia pergi apalagi hamil muda." Marisa menarik nafasnya dalam-dalam.


"Sabar ya Kak. Sekarang Kakak fokus dulu untuk kesembuhan Nada dan mengembalikan keceriaan Nada," ucap Marisa membesarkan hati Elang.

__ADS_1


"Kakak bingung, apakah Kakak perlu memberitahu bapaknya Nada bahwa Nada sekarang sedang dirawat di RS?"


"Kasih tahulah Kak, kan waktu Nada pergi Kakak sempat ke rumah bapaknya Nada, mencari tahu. Sekarang Nada sudah pulang, Kakak harus kasih kabar ke bapaknya Nada," usul Marisa. Elang setuju dan mengangguki usulan Marisa.


"Tapi... Kakak akan kasih kabar bapak nanti saja Mar setelah Nada pulang ke rumah dan sudah sehat."


"Ya sudah, itu terserah Kakak. Bagaimana baiknya Kakak deh."


Bu Sri yang sejak tadi masih berada di dalam kamar rawat Nada, hanya mampu menyaksikan anak dan keponakannya berbincang-bincang. Rasa sedih itu tiba-tiba muncul, sedih karena sikap Elang yang berubah padanya.



"El.... kamu berubah. Dan Mama tidak mau kamu seperti itu," bisiknya dalam hati. Perlahan Bu Sri keluar kamar dan meninggalkan kamar tanpa pamit. Sementara Elang dan Marisa masih berbincang, tanpa sadar Bu Sri sudah pergi dari kamar itu.



Satu jam setelah Nada dipindahkan ke ruang rawat, jemari Nada bergerak yang langsung dirasakan Elang. Sejak tadi Elang tidak melepaskan tangan Nada sedetikpun.


"Nada....!" desis Elang.


"Kenapa Kak?" Marisa yang masih di situ ikut terkejut dan penasaran.


"Nada....!" sebut Elang lembut.


"Dimana ini....?" Suara Nada lemah dan pelan.


"Sayang... kamu sekarang berada di rumah sakit," jawab Elang.


"Mbak Ma-risa....!" sapa Nada lemah saat melihat Marisa di samping Elang.


"Iya, Nad... ! Sudah jangan banyak gerak dulu, kamu masih lemah dan masih dalam pengaruh anastesi," peringat Marisa.


"Memangnya kenapa dengan Nada, Mbak?" tanya Nada penasaran.


"Kamu... keguguran Sayang....!" jawab Elang memberanikan diri.


"A-pa? Keguguran? Jadi... Nada hamil?" tanya Nada dengan nafas turun naik dan tersendat.

__ADS_1


Elang meremas jemari Nada yang seakan ingin berontak, mencoba menenangkan.


"Jadi... Nada hamil dan ke-guguran?" tanyanya kembali diiringi isakan dan tangisnya kini pecah. Ini menunjukkan bahwa Nada tidak mengetahui dirinya hamil saat itu. Elang mengangguk pelan seraya mengusap dahi Nada yang berkeringat. Melihat hal itu Marisa tidak kuasa menahan air mata, diapun sangat sedih dengan keadaan yang dialami Nada.



"Kenapa ini harus terjadi pada Nada?" sebuah pertanyaan lirih keluar dari mulut Nada yang tidak mampu Elang maupun Marisa jawab. Dan tangisan itu kini memenuhi seluruh ruangan rawat VIP. Nada meraung dan memukul-mukul tangan Elang spontan. Sesekali jemarinya meraba perut ratanya dengan rasa sesal yang dalam.


"Maafkan Bunda, Nak. Bunda terlambat menyadari kehadiranmu di rahim Bunda. Bunda sangat bodoh," jeritnya dalam hati penuh penyesalan.


"Ini semua salah Bunda. Bunda tidak cepat menyadarimu!" Nada masih menyalahkan dirinya sendiri seraya meraung-raung .



Elang merendahkan tubuhnya dan merengkuh tubuh Nada sembari memberikan usapan-usapan yang memenangkan.


"Sayang... sabar ya... nanti Allah pasti akan memberikan kita kepercayaan lagi. Ini sudah takdir, maka jangan sedih lagi ya. Mas mohon!" Elang memberikan ucapan motivasi di dekat telinga Nada. Namun Nada masih belum berhenti menangis.


"Kak... biarkan dulu Nada menangis, biarkan semua unek-uneknya keluar lewat tangisannya. Nanti juga Nada akan plong setelah puas menangis," ujar Marisa menenangkan Elang.



Elang mendongakkan tubuhnya dan bangkit. Rasa sesak di dadanya kian bertambah melihat Nada masih menangis pilu dan merasa menyesal. Dirinya juga merasa sangat bersalah, sebab saat pertengkaran itu Nada pergi, dan ternyata Nada sedang hamil. Elang kini merasa bersalah dan merasa dirinya jadi suami yang tidak berguna.



"*Semua ini tidak terlepas dari sikap aku, yang* *tidak pernah memahami perasaan Nada*." Elang lagi-lagi mengakui di dalam hatinya bahwa semua yang menimpa pada diri Nada adalah akibat keegoisannya yang tidak mampu memahami dan meraba perasaan Nada.



"Kak... kebetulan ini menjelang sore, Marisa harus pulang dulu. Sebentar lagi Mas Ilham pulang, Marisa pamit ya. Nada, aku pamit ya!" Marisa mendekat ke arah Nada sembari mengusap lembut tangan Nada untuk berpamitan. Nada menatap lemah dan mengedipkan matanya sebagai jawaban atas pamitnya Marisa.



"Cepat sembuh dan cepat pulang... setelah itu kamu bisa minta adonan lagi sama Kak Elang." Dalam keadaan begitu saja Marisa masih menyelipkan kata-kata guyonan, padahal Nada masih terbaring lemah. Elang mendelik, paham maksud Marisa sepupunya yang kadang koslet dan bawel itu.


__ADS_1


"Terimakasih Mbak Risa....!" balas Nada menatap lemah Marisa yang kini mulai menghilang di balik pintu kamar rawat VIP.


__ADS_2