"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Mencari Sya


__ADS_3

Aku keluar dari rumah itu, dengan jalan tersendat-sendat. Bokongku yang tadi terhempas akibat sikutan Mbak Mayang, terasa sakit saat ku bawa berjalan. Di depan pintu gerbang, Usep menyapaku dengan wajah penuh rasa bersalah.



"Non... saya minta maaf karena tidak bisa mencegah mereka. Bu Mayang membawa bodyguard yang berhasil melumpuhkan pergerakan saya. Saya tadi dipukulinya oleh dua orang berbadan tegap dan besar. Sekali lagi saya minta maaf, Non." Aku meringis mendengar semua permohonan maaf Usep yang terdapat banyak luka di wajah maupun lebam di tangannya. Aku memakluminya, sebab kedatangan Mbak Mayang beserta Bodyguardnya sungguh tidak disangka-sangka dan sangat cepat.



"Non Nada mau kemana?" Usep bertanya dengan raut wajah khawatir.


"Usep, kemana arahnya mobil yang membawa Sya pergi?"


"Ke arah timur, Non," ujar Usep seraya menunjukkan arah timur dengan jempolnya. Aku menarik nafas dalam, aku tidak tahu tempat apa yang dituju Mbak Mayang untuk membawa Sya. Yang aku pikirkan sekarang hanyalah tempat tinggal Mbak Mayang bersama suaminya. Namun aku tidak tahu di mana itu. Yang aku tahu dan sempat mendengar dari perbincangan Mas Elang dengan Kak Bintang Negara di PerkaSya Restoran tempo hari, bahwa suaminya Mbak Mayang yang sekarang adalah Pengusaha kaya di bidang retail terbesar di kota ini.


Kemana aku harus mencari tahu kediaman suami Mbak Mayang. Hanya ini jalan satu-satunya yang bisa mengembalikan Sya ke tanganku, dengan menjumpai Pengusaha itu dan mengatakan sejujurnya yang terjadi. Sukur-sukur dia mau mendengar penjelasanku dan memberi jalan supaya Mbak Mayang mau mengembalikan Sya secara baik-baik padaku.



Sejenak aku menoleh ke belakang, siapa tahu Mas Elang menyusulku dan mengusulkan pergi bersama untuk mencari Sya, sebab keberadaanku belum jauh dari rumah Mas Elang. Namun Mas Elang tidak kelihatan batang hidungnya. Aku mendesah sambil menahan sesak di dada.



Aku mencegat sebuah Taksi argo, yang kebetulan lewat. Dengan sempurna taksi itu berhenti tepat di sampingku. Aku segera masuk ke dalam taksi dan duduk di kursi penumpang.



"Kemana, Mbak?" Supir taksi itu bertanya namun aku belum menemukan jawaban kemana aku menuju. "Mbak....!" gertaknya, sontak membuat aku tersadar.



"Oh... iya Pak. Kemana ya... saya sebetulnya juga bingung," sahutku gugup dan jadi bingung sendiri.


"Lho kok bingung?" Supir taksi itu balik bertanya.


"Kasih saya kesempatan berpikir Pak, sejenak!" pintaku.

__ADS_1


"Sepertinya saya mengenali Mbak. Mbak yang dulu pernah naik taksi saya dan saat mau bayar rupanya dompetnya ketinggalan." Supir taksi itu mencoba mengingatku. Dan saat dia melontarkan ucapannya, aku langsung teringat siapa supir taksi di depanku ini dan aku menjadi malu jika ingat kejadian itu.



"Pak Darma?" Aku yakin Supir taksi ini adalah Pak Darma, Supir taksi yang dulu pernah menggratiskan ongkos taksiku saat aku merajuk karena diusir Mas Elang tempo hari. Dan kini kami dipertemukan kembali dalam suasana hatiku yang kembali mengalami kesedihan.



"Benar sekali Neng, saya Darma. Memangnya Neng mau kemana, sampai bingung tempat tujuannya? Jangan bilang sedang ada masalah keluarga ya, kalau dilihat dari raut wajahnya Neng ini sedang mengalami masalah," tebak Pak Darma.



"Bapak bisa saja menebak saya sedang ada masalah. Tidak kok Pak, saya sedang tidak ada masalah. Saya hanya sedang bingung tadi mau kemana. Dan kebetulan saya mencegat taksi Bapak, saya merasa bersyukur bisa bertemu kembali dengan Pak Darma," sangkalku yang sesekali meringis merasakan sakit di bokongku akibat hempasan Mbak Mayang tadi.



"Tidak ada masalah bagaimana. Pelipis Neng saja habis terluka, pasti kena benturan tuh. Mengeluarkan darah sedikit dan sejak tadi Eneng meringis walau berusaha ditutupi." Mendengar itu aku jadi merasa malu dan hanya bisa menunduk, perlahan air disudut mata luruh satu persatu.




"Maafkan saya, Pak! Saya jadi menghambat waktu Pak Darma," ujarku menyesal.


"Tidak apa-apa, santai saja. Emmm... sekarang kalau boleh tahu, Eneng mau kemana? Kalau sedang ada masalah seperti ini, tidak baik Eneng bepergian. Apalagi pelipis Eneng terluka." Pak Darma merasa iba padaku dan tidak tega melihat aku yang terluka di bagian pelipis.


"Tapi... saya harus pergi Pak, biar masalah ini benar-benar cepat terungkap dan selesai," ucapku masih tersedu.


"Sebenarnya kalau boleh tahu, masalah apa yang sedang Eneng hadapi?" Pak Darma mencoba mencari tahu. Aku masih diam dan bingung apakah harus bercerita pada Pak Darma atau tidak.


"Pak Darma tahu pengusaha retail terbesar di kota ini?" Sejenak Pak Darma mengerutkan keningnya. Aku rasa Pak Darma tidak akan tahu, jadi percuma saja aku tadi bertanya.



"Namanya Pak Zulfikar Direja, tapi dia dikenal dengan panggilan tuan Zul. Dia pengusaha yang terkenal lalim."

__ADS_1


"Lalim....?" sontak nyaliku menciut mendengar kata lalim yang diucapkan Pak Darma tadi. Rupanya Pak Darma tahu banyak tentang Pengusaha retail itu, tidak salah aku bertanya padanya.


"Iya, lalim. Lalim jika lawannya berkhianat atau orang-orang yang bernegosiasi dalam kebohongan, apa saja kebohongannya. Maka dia tidak segan-segan menyingkirkannya," ungkap Pak Darma serius sembari menatap lurus ke depan.



Aku semakin ciut dibuatnya. Tapi aku merasa bukan lawan namun aku ingin berusaha mencari kebenaran dan keadilan. Aku ingin meluruskan masalah Mbak Mayang dan membawa kembali Sya ke hadapan Mas Elang suamiku. Itu tekadku, walau jalannya harus terjal.



"Memang Eneng ada masalah apa sampai menanyakan Tuan Zul?" Pak Darma mencoba menelisik. Akhirnya tanpa ragu aku menceritakan duduk perkara yang menjadi beban pikiranku. Dari sejak Mbak Mayang datang dan merebut paksa Sya dengan cara yang tidak benar. Sampai kemarahan Mas Elang yang kemudian menyuruhku mencari Sya sampai ketemu dengan penuh emosi.



"Harusnya ada bukti yang kuat yang bisa memberatkan istrinya, jika itu tidak ada maka sia-sia!"


"Ada kok, Pak. Bukti rekaman kedatangan istrinya dengan cara tidak pantas sudah saya kantongi, bahkan dua rekaman sekaligus," ujarku lega.


"Bagus itu Neng. Itu bisa dengan mudah diselesaikan sekali ucap oleh Tuan Zul."


"Tapi... jika saya mengungkapkan semua ini pada Tuan Zul, apakah tidak akan membuat istrinya tidak kenapa-kenapa?" tanyaku sedikit ragu dan takut jika setelah mengungkapkan semua ini sesuatu yang kejam bakal terjadi pada Mbak Mayang oleh Tuan Zul, dan aku tidak ingin itu terjadi.



"Itu tidak akan terjadi Neng, Tuan Zul begitu sangat mencintai istrinya. Namun... pastinya Tuan Zul akan memberikan hal lain yang pastinya akan mengejutkan buat istrinya," ucap Pak Darma penuh teka-teki.



"Saya akan antarkan Eneng kesana, tapi saya tidak bisa mengantar Eneng ke dalam. Saya hanya berpesan, katakan apa yang sebenarnya terjadi," pesan Pak Darma mengingatkan.



Perjalanan menuju kediaman Tuan Zul menyita waktu kurang lebih 1 setengah jam. Taksi tiba di sebuah Mansion yang megah dan besar. Dari sinilah perjuanganku dimulai untuk merebut kembali Sya dari tangan Mbak Mayang.


__ADS_1


Aku turun dari taksi diawasi tatapan mata kekhawatiran Pak Darma. Aku berusaha meyakinkan Pak Darma bahwa aku yakin aku bisa meyakinkan ini pada Tuan Zul, dan mengungkap kebenaran.


__ADS_2