"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Pertengkaran Elang dan Bu Sri


__ADS_3

POV 3 (Author)


Jam dua siang Elang pulang dari menjemput Sya. Rencananya hari ini dia akan mengantar Nada periksa kandungan, setelah kemarin gagal akibat ulah ibunya yang minta pulang karena kebelet BAB.


Tiba di kamar, Elang tidak menjumpai istrinya. Di kamar Sya, juga tidak ada. Di taman belakang, tempat dimana Nada sering menghabiskan waktu, juga tidak ada. Bertanya pada Bi Narti maupun Bi Ijah juga tidak ada.



"El ... kami cari siapa sih, dari tadi hilir mudik depan belakang sampai Mama bingung lihatnya?" Bu Sri bertanya sembari geleng-geleng kepala.


"El, mencari Nada, Ma. Apakah Mama tadi melihatnya?" Bu Sri mengkerutkan keningnya heran. Sejak tadi dia memang tidak melihat Nada. Dan sejak pulang dari Bidan Dina yang urung itu, Bu Sri tengah di terapi oleh Susternya di taman belakang. Jadi dia pikir Nada ada di kamar. Terlebih Bu Sri tidak peduli sama sekali tentang Nada, dan lagi ngapain Nada di kamarnya.


"Sudahlah El, jangan pikirkan si Nada. Paling dia merajuk dan pergi. Cemen, begitu saja main pergi. Kalau perlu, pergi saja sekalian dan jangan kembali lagi!" tukas Bu Sri terdengar gemas.


"Mama ... apa-apaan sih, bicara seenaknya dengan istri Elang. Dia itu sedang hamil muda Ma. Kalau bukan karena Mama yang selalu ngerecoki Nada, Nada juga tidak akan pergi dari rumah ini," balas Elang sedikit meninggi, tidak senang dengan ucapan Mamanya yang seakan meremehkan keadaan Nada.


"Elang lagi kalut sekarang ini, jadi tolong jangan perkeruh masalah Elang dengan kebencian Mama terhadap Nada," tukas Elang sembari berlalu meninggalkan Bu Sri yang diam terbengong.



Elang menaiki tangga lalu masuk ke kamar Sya. "Bi Ijah, bawa Sya makan siang, setelah itu siapkan dia untuk saya ajak pergi!" perintah Elang tanpa basa-basi. Bi Ijah dengan cepat menuruti perintah Elang, membawa Sya makan dan menyiapkannya untuk dibawa sama Elang.



"Memangnya Bi Ijah tidak melihat istri saya pergi?"


"Tidak Den, mungkin saat Non Nada pergi, saya sedang di kamar Den Sya." Bi Ijah menjawab sambil menyiapkan Sya.


"Ayo Sya, kita jemput Bunda," ajak Elang seraya menuntun lengan Sya dan menuruni tangga.

__ADS_1


"Memangnya Bunda ke mana, Pah?"


"Bunda ingin bermalam di rumah Kakek Zakaria."


"Kita ke rumah Kakek Zakaria, Pah? Asikkk ... kita nginap lagi di rumah Kakek Zakaria," sorak Sya gembira.


"Buat apa kamu nginap di rumah bapak tua itu, El? Rumah kumuh dan kotor seperti itu tidak nyaman buat kamu dan Sya. Jangan cari penyakit deh El," sergah Bu Sri sengit. Elang melongo mendengar ucapan Bu Sri barusan. Kata-katanya penuh nada hinaan dan meremehkan.



"Tapi rumah bapak mertua El nyaman buat El dan Sya, tidak panas seperti rumah El sekarang!" sangkal Elang berkobar.



"Demi si wanita ranjang kamu bela-belain ingin nginap di rumah bapak tua itu, dan sekarang kamu mau ninggalin Mama, kamu memang tidak punya hati El, kamu menyebalkan!"


"Stop Ma, jangan hina terus Nada dengan sebutan wanita ranjang lagi. Dia istri Elang dan wajib Elang bela. Karena selama ini rupanya Mama yang selalu membuat Nada sakit hati dan kecewa!" serang Elang tidak suka.



"Elang tahu kenapa Mama benci dan tidak menyukai Nada, karena Nada perempuan biasa dan tidak bisa Mama banggain. Tapi justru orang yang pernah Mama banggain malah mengkhianati Elang. Mayang pergi dengan lelaki lain dan membawa banyak harta Elang, dan Sonia yang Mama agungkan justru bersekongkol dengan Mayang dan mencuri sertifikat tanah PerkaSya Restoran. Apakah yang seperti itu yang Mama banggakan?" tunjuk Elang pada Bu Sri. Baru kali ini Elang berani berkata-kata tinggi seperti itu pada Bu Sri. Apakah Elang sudah terlanjur kecewa oleh Bu Sri?



Bu Sri tersentak dan melongo untuk sesaat, mencerna omongan Elang baru saja. Dia tidak percaya anak lelaki semata semata wayangnya berani bicara meninggi seperti itu. Elang biasanya tidak pernah sama sekali berbicara seperti itu, jangankan membentak, melawan saja tidak pernah. Tapi kini di hadapannya dia berani berbicara tinggi seperti itu.



"Apa yang membuatmu berubah El, selama ini kamu belum pernah berani bicara meninggi seperti itu pada Mama. Apakah pengaruh perempuan ranj ....!"

__ADS_1



"Nada maksud Mama?" potong Elang cepat sembari melotot. Bu Sri tersentak melihat Elang bereaksi seperti itu.


"Mama itu sedang sakit Ma, apakah sakit Mama tidak membuat Mama sadar? Lama-lama Mama bukannya menjadikan Elang berbakti sama Mama, tapi justru Mama menjerumuskan Elang untuk durhaka sama Mama," lanjut Elang masih meninggi dengan dada yang bergemuruh.


Bu Sri diam tidak bersuara, baru kali ini anaknya berani seperti ini, bicara meninggi di hadapannya. Elang beranjak meninggalkan Bu Sri yang mematung, dan memanggil Bi Ijah untuk membawa Sya ke dalam mobil.



"Bi Ijah ... bawa Sya ke dalam mobil!" titahnya sembari memasang jaket kulitnya sambil berjalan dan meninggalkan kediamannya.


"Ellll ... tega kamu El....!" rintih Bu Sri menatap jauh kepergian Elang sang anak.


Mobil Pajira yang ditumpangi Elang dan Sya, kini melaju sedang di jalanan kota itu, menuju kota kediaman bapaknya Nada. Elang masih kepikiran dengan pertengkaran dengan mamanya tadi. Ada rasa bersalah dalam dirinya. Selama ini Elang belum pernah berkata meninggi seperti itu.



"Papa ... kita jadi kan pergi ke Kakek Zakaria?" Tiba-tiba Sya bersuara dan menanyakan Kakek Zakaria, bapaknya Nada.


" Jadi dong Sya, ini kan menuju ke rumah Kakek Zakaria," jawab Elang seraya fokus dengan kemudinya.


"Asikkk ... Sya bisa main dengan Kakek Zakaria," soraknya bahagia. Elang tersenyum melihat Sya begitu bahagia diajak ke rumah bapak mertuanya.


Sementara itu, Nada yang baru sampai di kediaman Pak Zakaria, disambut baik dan heran oleh Pak Zakaria.


"Nada ... dengan siapa kamu datang, Nak? Mana suamimu?" tanya Pak Zakaria heran. Nada termenung, bingung untuk memberi jawaban.


"Mas Elang sudah tahu Nada akan ke sini kok, Pak," jawab Nada terpaksa berbohong. Namun Nada yakin Elang sudah diberitahu oleh Usep.

__ADS_1


"Syukurkah kalau begitu. Bapak cuma takut kedatangan kamu kesini adalah karena sebuah pertengkaran."


"Deghhh ... , " jantung Nada tiba-tiba berdegup sangat kencang seakan pertanyaan Pak Zakaria menebak semua yang sedang dialami Nada.


__ADS_2