
Usia kandungan Nada kini memasuki usia delapan bulan, perutnya semakin buncit, dan nampaknya Nada sudah mulai merasakan engap. Sekarang tiap pagi Nada selalu ikut mengantar Sya pergi sekolah, setelah mengantar Sya sampai sekolah, Elang sengaja membawa Nada ke taman kota untuk Nada berjalan-jalan di sana sambil menghirup udara pagi yang masih segar.
"Sayang, pagi ini sebaiknya jangan ikut kita ke sekolah, Mas khawatir dengan perut kamu. Jarak rumah ke sekolah lebih jauh daripada ke taman kota, lebih baik nanti aku pulang dulu ke rumah menjemput kamu dan kita ke taman kota dari rumah." Elang memberikan saran sebab sangat khawatir dengan keadaan perut Nada yang semakin buncit. Elang takut terjadi goncangan saat mobil bergerak.
"Tidak apa-apa Mas, Nada kuat kok. Cuma jarak 1000 meter ke sekolah Sya, itu kecil bagi Nada," tepisnya.
"Kamu jangan keras kepala, usia kandungan kamu sudah besar begini, Mas takut terjadi guncangan. Apalagi pagi-pagi begini macet banyak kendaraan berebut," cegah Elang lagi. Nada tiba-tiba merengut.
"Jangan marah, itu demi kebaikan kamu dan bayi kita. Alangkah baiknya kalau kamu kuat, kita ke taman kota berjalan kaki saja, jarak rumah ke taman kota cuma 500 meter. Bagaimana, mau pilih yang mana? Yang beresiko atau yang alami tapi sedikit resiko dan kamu dijamin sehat?" ucap Elang memberikan pilihan yang menurutnya lebih baik daripada harus naik mobil ikut ke sekolah mengantar Sya.
Nada nampak berpikir, dia sejenak menimbang-nimbang. "Emmm, gimana ya Mas. Baiklah, Nada mau jalan kaki ke taman kota dari rumah saja, tapi sama Mas Elang, ya!" Setelah berpikir agak lama, akhirnya Nada menyetujui saran Elang yang kedua, yaitu jalan kaki dari rumah ke taman kota.
"Iya dong, Sayang, sama aku jalan kakinya. Masa kamu aku biarkan sendiri berjalan kaki ke taman kota."
"Nada pikir Mas Elang akan membiarkan Nada jalan kaki sendiri dan Mas Elang naik mobil," Nada merengut dan mendilakkan matanya membuat Elang gemas. Ada-ada saja pemikiran Nada akhir-akhir ini, lebih manja, dan sering merajuk tapi akhirnya kalau dirayu patuh juga.
"Masa iya sih, Mas membiarkan istri Mas yang cantik dan menggemaskan ini jalan sendiri. Bisa mati berdiri nanti jika Mas melihat kamu dilirik lelaki lain." Kini giliran Elang merengut.
"Papa, Bunda, ayoooo, jangan berdebat terus, Sya sudah siap nih!" Tiba-tiba Sya nongol dan menghentikan perdebatan kecil antara Nada dan Elang.
"Ayo, Sya! Tapi kali ini Bunda tidak bisa ikut, soalnya perut Bunda makin besar dan tidak boleh terlalu sering kena guncangan saat naik mobil," ujar Elang.
"Kok, Bunda tidak ikut? Nanti, Sya, di mobil tidak seru dong," protesnya merengut.
"Syaaa, Bunda semakin besar kandungannya, jadi tidak boleh terlalu sering kena guncangan. Papa takut dede bayi dalam perut Bunda kenapa-kenapa. Sya tidak mau, kan dede bayinya kenapa-kenapa?" bujuk Elang memberi pengertian untuk Sya. Sya diam tidak menjawab.
"Tapi, Bunda seru kalau ada di mobil. Kalau Bunda tidak ikut, nanti sepi, Pah." Sya masih tidak terima kalau Nada tidak ikut antar dia ke sekolah."
"Sayang, sebentar lagi Sya akan punya adik, supaya adiknya keluar dari perut Bunda sehat dan dalam keadaan baik-baik saja, maka Bunda mulai sekarang jangan terlalu sering naik mobil. Di jalan raya, kan banyak mobil besar yang saling berebut, Papa takut mobil Papa kena tubruk dan itu bahaya buat kita terutama buat Bunda dan dede bayi." Elang masih berusaha membujuk Sya supaya Nada tidak ikut mengantar ke sekolah. Sya diam. saja, dia merengut dan kesal.
Tidak ingin memperpanjang perdebatan, Elang akhirnya berinisiatif langsung meraih tangan Sya dan membawanya keluar menuju mobil.
"Ayo, waktu sudah semakin siang. Sya bisa telat masuk sekolah." Sya masih merengut dan kesal. Namun mengikuti Elang dari belakang.
Dua puluh menit kemudian, Elang tiba di rumah dan mengajak Nada untuk jalan-jalan ke taman kota. "Ayo, Sayang!" ajaknya seraya meraih tangan Nada yang sudah siap dengan baju olahraga hamilnya.
"Masuklah!"
"Lho, katanya mau jalan kaki dari rumah?" Nada protes karena Elang menyuruhnya masuk mobil tidak sesuai janji tadi sebelum pergi mengantar Sya.
"Sekarang, Mas berubah pikiran. Pak Nandang tidak bisa nyambi dulu, pos kosong. Tadi Mas sudah hubungi Usep, tapi Usep lagi dalam perjalanan pulang ke sini, dia kemarin pulang dulu ke Garut."
"Ohhh, ya sudah, ayo, Mas!" akhirnya Nada tidak banyak protes dan sepertinya senang saja naik mobil. Mungkin Nada malas jalan kaki dari rumah ke taman kota.
"Kenapa, kayaknya kamu senang banget naik mobil, bukankah jalan kaki lebih bagus buat ibu hamil seperti kamu?"
"Nada bukan tidak mau jalan kaki, tapi Nada malas dengan udara pagi di jalanan, sebab kotor dan banyak debu masuk mata," alasannya dan nampaknya kali ini masuk akal.
"Tapi, nanti kalau di taman kota kamu harus jalan-jalan ya, tidak boleh malas," peringat Elang sambil meraba perut buncit Nada gemas.
"Aduhhh, kok nendang sih?" Elang mengangkat tangannya saat mendapatkan tendangan dari perut Nada. Nada tersenyum.
"Dia sudah tidak sabar ketemu Papanya, mungkin Mas," seloroh Nada.
__ADS_1
"Iya, betul sekali. Papanya kan sekarang jarang banget jengukin dede bayi. Habisnya, kamu suka ngeluh keram perut kalau Mas jengukin tiap hari."
"Ihhh, Mas Elang, bukan itu maksud Nada. Tapi, dede bayinya kayaknya sudah pengen ketemu langsung dengan Papanya yang mesum di dunia nyata," protesnya sebal seraya memukul kecil lengan Elang. Elang tersenyum mendapat protes manja dari Nada yang semakin menggemaskan.
Tidak terasa, akhirnya mobil Elang tiba di taman kota. Nada turun dari mobil disambut tangan Elang.
"Ayo Mas, kita mulai dari sini!" Nada meraih tangan Elang untuk berjalan bersamaan di taman yang udaranya masih terasa sejuk.
Setengah jam kemudian, Nada merasa sangat lelah, lantas dia mengajak Elang untuk istirahat dulu di kursi taman itu.
"Mas, kita istirahat dulu. Itu kebetulan ada kursi yang masih kosong," ajaknya seraya menuju kursi kosong di taman itu.
"Ayo!" Nada dan Elang duduk untuk mengistirahatkan sejenis tubuhnya yang banyak peluh. "Sayang, Mas ke warung kecil dulu di sana ya, mas mau beli minuman dingin. Kamu mau beli minuman apa?"
"Air mineral saja Mas." Elang beranjak meninggalkan Nada sejenak. Saat Nada ditinggalkan Elang untuk membeli minuman. Dari jarak beberapa meter terlihat sepasang suami istri dengan dua anak. Yang satu seumuran Sya dan satunya bayi dalam roda yang didorong oleh ayahnya.
"Bunda, kita duduk dulu di kursi taman itu!" tunjuk anak lelaki yang ditaksir seumur Sya.
"Ayo, Sayang." Wanita muda yang hampir seumuran dengan Nada itu tersenyum ke arah Nada dan melewati Nada menuju kursi taman yang masih kosong. Dan suaminya mengikuti dari belakang.
Tidak lama dari itu, Elang muncul membawa kresek di tangannya. "Sayang, ini minumnya." Elang menyodorkan minuman ke arah Nada.
"Makasih Mas!" ucap Nada sembari meraih air mineral yang sudah dibuka Elang.
"Mas juga beli rujak di sana. Coba nih," sodornya sambil menyodorkan rujak untuk Nada. Elang duduk di samping Nada seraya meneguk minumannya. Saat Elang menatap ke arah timur, Elang seakan mengenali seseorang.
Bertemu Sakti -Nafa (Jangan Sebut Aku Pelakor)
"Sakti!" teriaknya sambil berdiri dan menatap ke arah laki-laki yang dipanggilnya Sakti. Laki-laki yang dipanggil Sakti itu menoleh dan menatap Elang. Sepertinya laki-laki yang bernama Sakti itu mengenali Elang. Dia menatap sambil tersenyum dan menghampiri Elang beserta roda bayi yang didorongnya.
"Mas Elang, apakabar Mas?" tanyanya dengan gembira.
"Kabar baik, Bro. Bagaimana sebaliknya kabar kamu?"
"Sama istri," tunjuknya pada Nada yang sedang menikmati rujak buahnya. "Sayang, ada teman, Mas nih." Elang memanggil Nada yang sontak terkejut, karena merasa dikejutkan oleh Elang, suaminya.
"Iya, Mas?" Nada mendongak dan menatap Elang. "Kenapa, Mas?" ulang Nada heran. Nada terkejut saat di dekatnya ada lelaki lain yang sedang mendorong bayi di dalam kereta dorong.
"Ini, kenalkan teman, Mas. Teman di dunia kuliner."
"Nada," ucap Nada memperkenalkan diri dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Sakti," balas Sakti mengatupkan keduanya tangannya juga.
"Ehhh ada dede bayi di roda ya." Nada langsung gemas saat melihat ada bayi di roda yang didorong Sakti. Bayi cantik yang sangat lucu. "/Hai, Sayang! Siapa namanya?" Nada asik menyapa bayi yang belum apa-apa itu
Sementara Elang dan Sakti terlibat obrolan yang serius dan santai.
Tidak berapa lama seorang anak kecil dan wanita muda seumur Nada menghampiri ke arah Sakti.
"Sayang, ini ada teman Mas," berita laki-laki yang bernama Sakti kepada istrinya yang kira-kira seumuran dengan Nada. Nada mengalihkan fokusnya ke arah wanita yang dipanggil oleh Sakti tadi.
Nada berdiri dan hendak menyalami perempuan muda yang cantik itu. Nada dan perempuan yang masih asing itu saling tatap untuk memberikan sinyal bahwa mereka akan bersalaman. Dengan kompak keduanya menjulurkan tangan.
"Nada."
"Nafa." ujar keduanya kompak sehingga keduanya sama-sama menyebutkan nama berbarengan. Nada tersenyum menyambut perkenalan yang baru saja terjadi. Di samping wanita yang bernama Nafa, nampak anak laki-laki seumur Sya bergelayut di tangannya. "Pasti ini seumuran Sya," guman Nada sembari menatap ke arah anak laki-laki itu. Nada tersenyum saat anak lelaki itu menatap ke arahnya.
"Kalau kalian sudah berkenalan begini, rasanya pertemanan kita akan lengkap ya, Bro," ucap Elang pada Sakti yang sejak tadi asik ngobrol. Sakti tersenyum menyetujui perkataan Elang.
"Ini bayinya ya Mbak? Duhhhh cantiknya ... gemas banget deh." Nada benar-benar gemas saat melihat bayi di dalam roda itu.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Ini baru empat bulan. Kayaknya Mbak Nada juga sedang mengandung ya?" tanya perempuan bernama Nafa itu menatap perut Nada.
"Iya, betul Mbak. Ini sudah menginjak bulan ke-8, sebulan lagi Insya Allah brojol," sahut Nada.
"Wah, sebentar lagi dong."
"Iya," ucap Nada sembari masih asik menggoda bayi kecil yang sedang di roda.
"Halo, namanya siapa pretty girl?" Nada bertanya pada bayi yang belum paham itu.
"Namanya Tifana Bimantara, Tante," Nafa menjawab sembari ikut menundukkan tubuhnya melihat bayi perempuannya.
"Nama yang indah," puji Nada sembari memegang pipi gembil sang bayi.
"Cantik, mirip Mama dan Papanya," perempuan yang bernama Nafa tersenyum seraya menatap. bayinya.
"Sayang, kayaknya kita harus pulang duluan deh, masih ada urusan lain setelah dari taman ini." Elang berbicara kepada Nada, sepertinya dia sudah mengakhiri perbincangannya dengan temannya yang bernama Sakti.
"Waduhh, Bro. Kok sebentar banget kita berjumpa. Padahal sudah lama kita tidak ngobrol seperti ini." Sakti sangat menyayangkan perjumpaan dengan Elang yang sebentar ini.
"Lain kali kita sambung, Bro. Atau kalau kamu ingin ngobrol mampirlah ke Cafe PerkaSya. Calling, calling jika ingin berjumpa, kita ngobrol santai di sana," ucap Elang mengakhiri perjumpaan tidak sengajanya dengan teman sesama Pebisnis di dunia kuliner.
"Oh, ok, Bro." Elang dan Sakti teman Elang, bersalaman mengakhiri kebersamaan mereka yang tidak disengaja.
Dengan terpaksa Nada juga harus berpamitan sama Nafa teman baru yang baru berkenalan dengannya di taman kota ini.
"Ok, Naf, saya pamit dulu ya. Tante juga pamit ya baby Tifani dan itu siapa, Kakaknya ya? Tante Nada pamit ya, sayang." Nada berpamitan sama semua termasuk pada Sakti teman Elang.
Elang dan Nada berjalan berpergangan menyusuri jalan bebatuan di taman itu menuju parkiran mobil.
"Sayang, kenapa?" Elang cemas saat melihat Nada nampak meringis kesakitan menahan perutnya.
"Awww," Nada meringis, namun perlahan-lahan mengatur nafasnya dalam-dalam.
"Perutnya kenapa?" Elang semakin cemas dan meraih pundak Nada untuk menenangkan.
"Perut Nada keram, Mas. Tadi bayinya nendang-nendang, setelah itu jadi keram," ujarnya masih meringis. Elang cepat-cepat membukakan pintu mobil dan memapah Nada menuju pintu mobil. Nada duduk dengan kakinya masih terjulur keluar pintu mobil. Elang dengan sigap memberikan air minum mineral yang masih tersisa tadi untuk diminum oleh Nada.
"Minum dulu, Sayang dan tenangkan dulu dirimu dan rilekskan tubuhmu, tarik lagi nafasmu dalam-dalam dan lepaskan." Elang memberikan aba-aba.
Nada mengikuti arahan Elang. Untuk beberapa menit dia masih duduk terjulur seperti tadi dan Elang masih sabar menunggu.
"Sayang, bagaimana? Apakah keramnya masih terasa?"
"Sudah hilang Mas, ini mulai enakan lagi," ujar Nada sembari membenarkan posisi duduknya. Kaki Nada kini sudah masuk dan duduk dengan posisi yang sudah di dalam mobil.
Elang memutar menuju pintu kemudi. "Kalau kamu sering keram begini, alamat Mas tidak bisa menjenguk dede bayi nanti malam," ujar Elang kecewa.
"Mas Elangggg," pekik Nada memukul lengan Elang yang kini sedang memegang kemudi.
"Aduh Sayang, sakit!" ujarnya pura-pura. Nada merengut dan memalingkan mukanya ke luar jendela. Elang mesem-mesem setelah merasa berhasil mengerjai Nada.
"Elang memutar dan memundurkan mobilnya keluar dari parkiran taman kota. Mobil kini melaju menuju Cafe PerkaSya, Elang membawa Nada untuk sarapan pagi di sana.
"Kita ke Cafe PerkaSya dulu ya, Sayang. Kita sarapan. Menunya sekarang ada seblak dan lotek kesukaan kamu lho." Nada yang masih merengut, tiba-tiba menoleh ke arah Elang dengan binar bahagia.
"Benarkah, Mas, ada seblak? Asikkk, Nada bisa makan seblak sepuasnya," ujar Nada gembira.
"Tapi, jangan pedas-pedas, Sayang," peringat Elang.
"Iya, Mas." Nada kembali tersenyum bahagia mendengar akan makan seblak di cafe PerkaSya. Mobil Elang pun melaju membelah jalanan ibu kota menuju Cafe PerkaSya.
OTW tamat guys.... dukung terus ya.... trmksh...
__ADS_1