
Elang telah mempersiapkan diri dan orang-orangnya untuk tetap waspada. Di sini di depan pintu gerbang Tuan Zulfikar, Elang berdiri dan berpikir keras untuk bisa merangsek masuk ke dalam. Namun dia tidak ingin gegabah, dalam. hal. ini Tuan Zulfikar memiliki anak buah yang lumayan banyak dan terkenal sangar.
Bagaimana bisa, dulu saat Nada mencari Sya dengan mudah masuk ke dalam pintu gerbang kokoh ini. Seperti tidak ada hambatan dan pulang dalam keadaan selamat. Elang berpikir keras, tidak mungkin di sini dia melakukan kekerasan dan memaksa penjaga untuk membuka gerbangnya.
Elang mengangkat tangan, memberi kode supaya anak buahnya tetap diam di tempat dan waspada. Dia tidak ingin membuat keonaran terlebih dahulu. Dia akan menunggu beberapa saat sebelum batas kesabaran itu hilang.
Elang mencoba mengetuk pintu gerbang dengan kunci mobilnya. Tanpa sepengetahuan Elang, sebetulnya di dalam sana seseorang telah memperhatikan dengan seksama gerak-gerik Elang beserta konconya. Tidak ada hal brutal atau serangan yang dilakukan kelompok Elang. Sehingga seseorang bermata tegas setegas Srigala lapar itu mengangguk-anggukan kepalanya serta mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke atas meja. Entah apa yang dipikirkannya.
Elang lelah mengetuk, mencari bel atau alarm untuk bertandang saja tidak ada. "Masa iya, orang terkenal kekayaannya dan kelalimannya tidak memiliki bel untuk orang bertamu, atau tidak memiliki penjaga? Terlampau pelit Anda, Tuan Lalim. Menyusahkan saja!" Elang menggerutu pelan.
Tanpa Elang sadari, sebetulnya hanya dengan sentuhan kulit, pintu gerbang itu bisa memberitahukan tuan rumah, bahwa di depan gerbang ada orang yang akan bertandang.
Tuan Zulfikar mencoba menguji kesabaran Elang dan konco. Sampai di mana kesabaran atau kebrutalan Elang dan konco di depan sana. Tuan
Zulfikar tertawa senang dengan permainannya.
"Kau lagi Elang, ada apa dia datang dengan membawa pasukan yang tidak seberapa itu, apakah dia ingin cari mati?" Ejek Tuan Zulfikar meremehkan.
"Ini pasti ada hubungannya dengan Mayang, istriku? Andai saja aku bisa memberinya keturunan, dia tidak akan berontak dan mengejar-ngejar anak kecil itu lagi. Saatnya aku bertindak tegas pada Mayang," sungutnya dengan mata masih menatap tajam pada CCTV yang menampilkan Elang dan kawan-kawan.
"Buka gerbangnya, beri dia jalan! Hanya Elang saja dan satu orang kepercayaannya," titahnya menggema memenuhi seluruh ruangan itu.
Di luar gerbang, Elang yang hampir prustasi mengetuk pintu gerbang berharap penjaga membukakan pintu untuknya, namun nihil sampai hampir hilang batas kesabarannya. Namun ketika Elang benar-benar ingin menyerah, tiba-tiba pintu gerbang dibuka secara otomatis. Elang melihat dengan tatapan tidak menduga dan hatinya sedikit lega.
__ADS_1
Pintu gerbang terbuka, di sana berdiri seorang Pengawal berpenampilan sangar dan menakutkan. Namun Elang tidak merasa takut, karena dia punya tujuan yang jelas.
"Aku ingin menemui Tuanmu, maka ijinkan aku beserta anak buahku masuk dengan selamat. Aku datang bukan niat menantang, akan tetapi ada hal penting yang akan aku sampaikan pada Tuanmu," ujar Elang memohon dengan tegas.
"Baiklah, Tuan kami sudah memberi ijin. Namun hanya dua orang yang diijinkan masuk. Hanya kamu dan satu orang kepercayaanmu, yang lain menunggu dan jangan buat rusuh!" perintah penjaga itu dengan tegas.
"Baiklah aku setuju, dan memang maksud kedatanganku kemari bukan untuk merusuh," ucap Elang memberi penegasan.
Penjaga itu memberi jalan, hanya Elang dan salah satu orang kepercayaannya yang masuk, sembari tidak lupa membawa CCTV bukti keterlibatan Mayang di kediaman Elang.
Elang dan satu orang kepercayaannya berjalan mengikuti orang kepercayaan Tuan Zul. Sebuah mansion yang megah dan mewah dia masuki. Elang biasa-biasa saja masuk ke sebuah hunian megah seperti ini, sebab tema-teman Elang banyak dari kalangan yang sama sepadan dengan Tuan Zulfikar.
"Bagus, kamu datang dengan gentleman dan tanpa rasa takut, Elang. Apa tujuan utamamu?" Tanpa ingin membuang waktu percuma, Elang memberi kode pada anak buahnya untuk memberikan bukti CCTV keterlibatan Mayang. Dalam hal ini perbuatan yang tidak menyenangkan yaitu pengrusakan dan kegaduhan.
Tuan Zulfikar melalui anak buahnya menerima bukti itu. Kemudian dengan tidak menunda lama dia memerintahkan untuk segera membuka bukti itu. Dan ....
Terang benderang bukti CCTV itu. Tuan Zulfikar membelalakan matanya tidak percaya, bahwa Mayang akan melakukan lagi perbuatan yang tidak menyenangkan pada pihak Elang, padahal sebelumnya dia sudah memperingatkan Mayang untuk berhenti mengganggu keluarga mantan suaminya itu. Tuan Zulfikar menggebrak meja sehingga Elang dan yang ada di situ terkejut.
__ADS_1
"Brakkkk!"
"Kurang ajar Mayang, aku tidak akan diam untuk kali ini," gumannya, namun masih bisa didengar Elang dan yang lainnya.
"Aku datang ke sini bukan untuk melihat kemarahanmu terhadap Mayang, namun aku ingin melihat keseriusanmu Zul untuk membuat dia jera. Aku selama ini tidak pernah mengganggunya. Dan jika dia ingin melihat anaknya, mengapa harus dengan cara arogan." Elang tidak kuasa menahan amarahnya di depan Tuan Zul dengan menumpahkan segala kesalnya terhadap Mayang.
"Aku sudah membuat laporan terhadap Polisi, mungkin saja Mayang beserta kedua pengawalnya sudah tertangkap, dan aku tidak akan melepaskannya. Aku harap kamu paham dengan sikap yang aku ambil Tuan Zul," tekan Elang tanpa rasa takut.
Tuan Zul menatap Elang dengan sorot yang tajam, kali ini dia hanya mampu diam dan menyimpan amarahnya dalam hati. Ini sudah sangat jelas kesalahan Mayang.
"Ada dua pilihan yang masih ringan untuk kamu lakukan Zul. Ceraikan Mayang dan buat dia sengsara, atau bawa jauh-jauh dia dari sini sehingga tidak pernah mengganggu kehidupanku lagi. Atau kalau kau sudah tidak mencintainya maka, biarkan dia membusuk di penjara," tegas Elang. Bagi Zul ini bukan pilihan yang sulit. Karena dia memang masih mencintai Mayang, maka keputusan yang akan diambil jelas akan dapat dengan mudah Elang tebak.
"Cabut laporanmu, Elang. Aku pastikan Mayang tidak akan pernah menemui atau mengganggumu lagi. Dan enyahlah dari harapanku," putus Tuan Zul dengan sangat emosional. Elang paham dengan maksud Tuan Zul, dengan meminta mencabut laporan pada pihak Kepolisian, itu artinya Tuan Zul lebih memilih membawa Mayang pergi jauh dan tidak akan pernah mengganggu Elang lagi sesuai. permintaan Elang.
"Deal, aku tahu kamu bisa bersikap bijak Tuan Zul. Maka dari itu tunaikan janjimu. Segera bawa jauh istri tercintamu. Dan ingat, jangan mengingkari janji!" peringata Elang tegas.
Tuan Zul menatap Elang dengan sorot mata serigalanya. Kali ini dia benar-benar harus melakukan tindakan tegas terhadap Mayang. Maka dari itu, sesuai janjinya terhadap Elang dia akan membawa Mayang jauh dari sini, dan itu harus segera dilaksanakan. Sebab jika tidak, Elang tidak akan memberi kesempatan dua kali untuk mencabut laporannya pada pihak Kepolisian.
Elang beserta orang-orang kepercayaannya keluar dari kawasan Mension kediaman Tuan Zul. dengan membawa satu keputusan dan kesepakatan antara dirinya dan tuan Zul.
"Halo, cabut semua laporan tentang Mayang. Lepaskan dia, biarkan Zulfikar menjemputnya dengan sukarela. Dan para pengawalnya, jebloskan ke penjara buat mereka jera," perintah Elang tegas di balik. sambungan telpon. dengan seseorang.
__ADS_1
Elang menghidupkan mesin mobil dan segera meninggalkan kediaman Tuan Zulfikar dengan hati sedikit lega. "Sayang, tunggu aku tidak malam ini. Aku pulang dan kembali dengan selamat atas doamu. Aku mencintaimu Nada Irama," bisik hati. Elang bahagia, menyebut nama Nada sebagai tahta utama di dalam hatinya.
Jangan lupa besok hari Senin, Votenya kasih Author ya. Terimakasih....