"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Bali


__ADS_3

Nada penasaran dengan apa yang dikatakan Elang tadi. Katanya Elang akan memberi kabar gembira. Kabar gembira apa? Nada belum tahu. Yang jelas saat mandi dan berdandan pikirannya sedang jalan-jalan memikirkan omongan Elang. "*Kabar* *gembira apa, ya, kira-kira*?" Hati Nada bertanya-tanya.



Nada sudah cantik dengan *short dress* longgar, bertali yang lengan pendek. Warna kuning cerah kulit pisang, semakin menambah kecantikannya. Perut buncitnya membuat dia bertambah mempesona. Elang semakin kesengsem dan tidak betah di luar rumah lama-lama.



"Masya Allah, cantiknya istri Mas ini. Tidak sabar rasanya memberi kabar gembira ini, dan kita bisa bulan madu sepuasnya sebelum kamu melahirkan."


"Apaan sih, Mas? Kok bulan madu yang dipikirkan. Katanya mau kasih kabar gembira. Tapi malah bicara bulan madu," komplennya tidak suka. Baru saja mandi dan bersih-bersih, Elang sudah membicarakan bulan madu.


"Itu dia, kabar gembiranya berkaitan dengan tempat bulan madu," seloroh Elang. Nada mengerutkan keningnya masih belum paham.


"Maksud, Mas Elang?" Nada minta penjelasan.


"Begini maksud Mas, minggu besok kita akan liburan sambil bulan madu ke Bali."


"Bali, benaran, Mas?" Nada ternganga tidak percaya. Mengingat sejak dulu dia hanya puas membayangkan Bali lewat berita di aplikasi.


"Benar, Sayang." Elang mencoba meyakinkan.


"Dalam rangka apa sih, Mas? Tidak mungkin alasan bulan madu, kita nikah saja mau dua tahun. Kalau bulan madu, sudah lewat dong Mas," sanggahnya masih tidak percaya.


"Ini lihat tiketnya, Mas sudah beli tiket buat tiga orang." Elang memperlihatkan tiket pesawat pada Nada dengan mata berbinar.


Nada terbelalak tidak percaya sampai dia berani melonjak saking bahagianya.


"Stop, stop, stop, Sayang, jangan melonjak. Kamu sedang hamil, apakah kamu tidak takut lonjakan kamu bisa membahayakan bayi kita?" cegah Elang sangat khawatir.


"Maaf, Mas, Nada lupa," ucapnya sambil menunduk merasa bersalah.


"Jadi betulan, kita ke Bali?" Nada bertanya mencoba memastikan lagi.


"Iya, Sayang. Tidak percaya banget sih," ujarnya meyakinkan kembali.


"Asikkkkk." Nada bersorak seraya kakinya berjinjit dan mencium pipi Elang, pelukan tangannya begitu erat.


"Betapa bahagianya kamu sayang, sampai antusias begini. Aku menyesal tidak dari awal membuat kamu bahagia seperti ini. Ketakutan aku begitu besar, sampai aku mengabaikan kebahagiaan kamu, aku minta maaf Nada." bisik hati Elang penuh penyesalan. Elang mengeratkan pelukan Nada sehingga keduanya tidak bisa dipisahkan.

__ADS_1


"Tapi, bagaimana dengan Ibu?" Tiba-tiba Nada melepaskan pelukan Elang dan menatap wajah Elang mempertanyakan keadaan Bu Sri jika nanti mereka tinggal.



"Mas, bukan tidak mau ngajak. Tapi, mas tidak bisa membawanya karena Mama masih belum sehat betul," alasan Elang.


"Tapi, rasanya tidak enak Mas, jika kita pergi senang-senang ke Bali sementara Ibu ditinggal di sini bersama ART, alangkah teganya kita." Nada menunjukkan sikap perhatiannya dengan merasa tidak enak dan cemas.


Elang kembali merangkul Nada. Ia bahagia, Nada sepertinya mulai berpikir dewasa, dan menunjukkan sikap yang perhatian pada Mamanya. Elang terharu, seiring makin besar kandungan Nada, terlihat sikap yang makin bijak dan dewasa. Dia juga terlihat lebih luwes dalam menghadapi Bu Sri.



Mungkin inilah yang disebut di balik musibah ada hikmah, di balik sakit Ibunya ada hikmah kebaikan. Nada yang mulai merubah sikapnya lebih bijak dan perhatian. Sehingga menimbulkan perasaan sayang yang timbul dalam Bu Sri walaupun belum berani secara terang-terangan menunjukkan rasa sayang itu, alias masih malu-malu.


"Beruntung aku memiliki kamu, Sayang. Dan lebih beruntung lagi, saat kamu pergi, kamu tidak benar-benar lelah, sehingga kamu masih mau kembali padaku dengan segala kekuranganku dan keegoisanku. Aku sangat mencintaimu Nada Irama," batinnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Jika dia seorang perempuan, maka dipastikan sudah cengeng dan mencucurkan air mata.


"Mas, *cancel* saja kepergian kita ke Bali. Nada tidak tega meninggalkan Ibu," ujar Nada serius.


"Sayangggg, ini tidak bisa. Ini bukan masalah senang-senang atau bulan madu seperti yang Mas bicarakan diawal. Tapi, masalah bisnis yang memang harus dihadiri kamu secara langsung," ujar Elang, secara tidak langsung memberitahukan bahwa keberangkatan ke Bali nanti adalah urusan bisnis bukan senang-senang semata.


"Kenapa harus dihadiri Nada, sepertinya ini penting, Mas?"


Mendekati sehari sebelum keberangkatan, Elang terlihat membujuk dan memberitahu Bu Sri bahwa dia akan berangkat ke Bali besok bersama Nada dan Sya.



"Berangkatlah, El. Mama di sini tidak apa-apa. Mama ada yang mengurus dan menjaga. Lagipula kepergian kamu bukan semata untuk bersenang-senang, kamu melakukan perjalanan bisnis. Mama hanya bisa mendoakan semoga kalian selamat, bisnisnya sukses dan lancar," tutur Bu Sri bijak. Tidak ada lagi nada kemarahan atau merajuk yang biasa ditunjukkan jika Elang pergi keluar kota. Tidak ada lagi rengekan meminta oleh-oleh seperti dahulu. Bu Sri benar-benar berubah.



Mendengar kata-kata Mamanya sangat pengertian, Elang merasa bersyukur dan sedikit lega untuk meninggalkan Mamanya besok dalam perjalanan bisnis ke Bali. Walaupun sebetulnya, sambil menyelam minum air. Bisnis sambil mengajak anak istri bersenang-senang. Mamanya kini mulai berubah.



Dan yang lebih heboh saat diberitahu akan ke Bali, adalah Sya. Sya sangat antusias melebihi Nada. Dia berlonjak kegirangan, bahagia tiada terkira. Kebetulan besok hari Sabtu, jadi ijin tidak masuk sekolahnya hanya hari Senin dan Selasa saja.



"*Sama halnya dengan Nada, Sya bahagia dan* *antusias saat akan diajak ke Bali. Nada begitu* *bahagia hanya sekedar diajak ke Bali, bukan ke* *negara yang jauh di sana seperti yang pernah aku* *lakukan pada orang yang terdahulu dari Nada*. *Kenapa aku telat memberikannya? Padahal Nada* *benar-benar tulus*," Elang berkata-kata lagi dalam hatinya dengan tatapan mata yang jauh entah kemana.

__ADS_1



"Mas, kenapa matanya berkaca-kaca?" Nada melihat Elang yang matanya berembun.


"Papa menangis ya, kenapa Papa menangis?" Sya ikut heboh dan merasa cemas melihat Papanya menangis.


"Tidakkkk, kalian salah. Papa bukan menangis, tapi Papa tadi nguap dan keluar air mata," tepis Elang berusaha menyembunyikan kesedihannya.



Besoknya, keberangkatan Elang, Nada, dan Sya akhirnya tiba. Rupanya saat di bandara, Elang telah janjian dengan Bintang Negara, sahabatnya yang sama-sama melakukan perjalanan ke Bali untuk meninjau proyek di sana. Kebetulan Bintang membawa anak laki-lakinya berumur 10 tahun. Sehingga perjalanan Sya kali ini, ada teman yang masih sepantaran, walaupun anaknya Bintang empat tahun lebih tua dari Sya.



"Kak Bintang, apakabar? Kak Citra tidak ikut?" Nada berbasa-basi dengan Bintang, seraya mengatupkan tangan di depan dadanya. Juga mengulurkan tangan untuk anaknya Bintang, yaitu Rafa.



"Alhamdulillah baik, istri saya kebetulan sedang ada bisnis yang tidak bisa ditinggalkan. Jadi dia tidak bisa membersamai kami," sahut Bintang seraya meraih Sya dan menyalaminya.


"Sya, apakabar tampan? Nanti ada temannya sama Kak Rafa, ya. Kenalan dulu dong sama Kak Rafa." Bintang membawa Rafa, anaknya ke hadapan Sya, lalu kedua bocah beda usia itu bersalaman dan nampak senang meskipun Rafa lebih tua dari Sya.


Elang, Nada, dan Bintang melihat ke arah Sya dan Rafa. Interaksi keduanya cukup baik untuk ukuran bocah yang baru kenalan dan ketemu.



Akhirnya penerbangan pesawat Jakarta-Bali sebentar lagi *take off*. Keluarga Elang dan Bintang telah menaiki pesawat dan menduduki ruang *first* *class* , yang tentunya nyaman dan privaci terjamin. Dan tepat pukul 9.00 WIB pesawat *take off*.



Tiga jam kemudian pesawat yang ditumpangi Elang dan kawan-kawan, *landing* dengan sempurna di Bandara Ngurah Rai, Bali, tepat jam 13.00 WITA waktu setempat.



Elang dan kawan-kawan akhirnya sampai di daerah Tabanan, Bali. Dijemput seseorang kepercayaan Bintang. Mereka diantar dengan ke sebuah penginapan sekitar Tabanan, Bali.


Bersambung....


Jangan lupa untuk hari Senin, votenya kasih Author ya, trmksh....

__ADS_1


__ADS_2