"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Saat Menatap Wajah Sendu Nada


__ADS_3

Seperginya Mayang dan Tuan Zul, Elang segera membawa Nada ke meja *food court* mereka makan tadi. Di sana, Sya tengah menunggu ditemani seorang Pelayan *food court*.



"Terimakasih, Mas, sudah menjaga anak saya," ucap Elang sembari menyodorkan uang tips buat Pelayan Food court tersebut.


"Sama-sama, Pak!" sahutnya sembari beranjak meninggalkan meja yang di tempati Elang.


"Bunda, akhirnya Bunda sudah datang. Ayo, kita jalan-jalan mengelilingi mall ini mencari mainan untuk Sya," ajaknya. Elang dan Nada saling pandang. Sebetulnya Elang rencananya mau langsung pulang, karena insiden tadi diserang Mayang, akhirnya Elang berubah pikiran. Elang khawatir dengan keadaan Nada yang sempat shock gara-gara Mayang yang menjenggut rambut Nada.



Nada memberi kode pada Elang supaya mengikuti kemauan Sya. "Mas, Nada tidak apa-apa, ikuti saja kemauan, Sya," bisik Nada lembut. Elang setuju, akhirnya dia mengikuti kemauan Sya atas bujukan Nada.



Satu jam Elang memberi waktu untuk Sya berkeliling mall untuk mencari barang kesukaannya.


"Sya, mainannya ada lagi yang ingin Sya, beli?" Sya diam seakan berpikir.


"Tidak, Pah. Sudah cukup," jawab Sya. Elang lega, akhirnya Sya menyudahi petualangannya mencari mainan yang dia inginkan.


Sepanjang perjalanan, Nada hanya diam. Elang merasa heran. Namun dia tidak mau mengungkit dulu masalah tadi di lorong mall. Terlalu menyakitkan buat diingat. Apalagi jika mengingat Mayang, Elang akan sangat emosional dan sakit hati.



Sebelum menuju rumah, Elang mampir ke Cafe miliknya. Menemui Feri orang kepercayaannya di Cafe. Elang turun sejenak sembari memberikan sebuah map kepada Feri.


"Fer, buat laporan keuangannya, nanti segera beri tahu saya!" titahnya. Kemudian Elang segera beranjak dan kembali menuju mobil. Di dalam mobil, nampak Nada seperti tidak enak badan, memijit-mijit pelipisnya dengan mata terpejam. Sedangkan Sya, masih anteng dengan mainannya tanpa peduli sekitar.


"Sayang, kenapa? Apakah kamu sakit?"

__ADS_1


"Iya, Mas. Nada sakit kepala," sahutnya seraya masih memijit-mijit kepalanya. Elang khawatir, pasti sakit kepala yang diderita Nada adalah akibat jenggutan Mayang tadi.


"Mayang ini, kurang ajar. Awas saja jika dia masih berada di sini, maka aku tidak segan-segan membuat dia mati segan, hidup pun tidak mau. Tunggu saja Mayang!" monolognya dalam hati dengan amarah yang memuncak.


Melihat Nada nampak kurang sehat seperti itu, Elang segera melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, dia khawatir dengan Nada.


"Sayang, mampir ke RS dulu ya, kita periksa sakit kepala kamu!" saran Elang perhatian.


"Tidak, Mas. Tidak perlu. Nada sakit kepala biasa gara-gara dijambak Mbak Mayang tadi. Lagipula, Nada malas harus minum obat terus kalau ke RS," tolak Nada seraya menyenderkan badannya ke jok kursi.


"Mas khawatir, Sayang."


"Tidak, Mas. Nada tidak mau." Nada tetap menolak. Akhirnya karena Nada tidak mau diajak ke RS, Elang melesatkan Pajiranya menuju rumah.


"Sya, lagi apa, anteng banget?" Di sela menyetir, Elang masih memperhatikan Sya yang anteng main lego robot yang dibelinya tadi.


"Sya, lagi menyusun lego, Papa," jawab Sya tanpa menoleh ke arah Elang.


Sya tidak menyahut dia asik main lego. Tiba-tiba Elang merasa iba dengan Sya, yang memiliki seorang ibu seperti Mayang. Mau bagaimanapun, suatu saat nanti ketika Sya dewasa, Sya harus tahu siapa ibu kandungnya.


Tapi, melihat kejadian tadi akan kebrutalan Mayang saat menjenggut rambut Nada, Elang jadi takut untuk memberi tahu siapa ibu kandungnya Sya.



Pajira yang dijalankan Elang tiba dengan selamat di depan pintu gerbang rumahnya. Pak Nanang segera membuka gerbang dengan sikap yang hormat.



Tiba di dalam rumah, Elang mendapati Mamanya sedang dalam proses terapi. Sang Terapis yang sudah Elang kenal menyambut Elang dengan senyuman ramah. Wanita 45 tahun itu menghampiri.


__ADS_1


"Pak Elang, Ibu Anda satu bulan ini ada perubahan yang lebih baik. Tangannya sudah bisa digerakkan sedikit demi sedikit. Kakinya juga, tapi masih lima persen, perkembangan tangan lebih cepat daripada kaki. Tapi jangan khawatir, ini Insya Allah akan ada perubahan yang lebih baik, sebab tekad ibu Anda sangat kuat untuk sembuh. Berdoalah secepatnya bisa kembali normal," jelas Bu Nurul sang Terapis dengan telaten menjelaskan.



"Alhamdulillah, perkembanganya baik. Semoga saja bisa secepatnya disembuhkan, ya, Bu," harap Elang.


"Aamiinnn."


"Baiklah Bu Nurul, saya ke atas dulu ya. Ma, Elang ke atas dulu." Elang berpamitan pada Bu Nurul dan Mamanya. Elang langsung menuju kamarnya. Namun saat di sana dia mendapati Nada sedang terbaring, rasa khawatir yang tadi sempat ada, kini hadir lagi dalam diri Elang.



"Sayang, masih sakit?" Nada tidak menyahut, sakit kepala yang dirasakannya tadi, kini malah membuat dia ngantuk.


"Sayang!" tegurnya lagi. Tidak ada jawaban, Elang mendekati Nada lalu meraba keningnya, tapi tidak panas. Elang memperhatikan wajah Nada yang terlelap. Baru disadarinya ternyata Nada tidur.


Ditatapnya lelap wajah Nada yang sendu. Di sana nampak kesedihan dan lelah yang bergelayut. Elang meraba wajah itu sembari berkata, "aku minta maaf belum bisa menjadi yang terbaik untukmu, dan belum bisa sepenuhnya memahami keadaanmu. Aku hanya selalu menyusahkan hatimu."



Hari berganti malam. Saat semua orang sedang terlelap dalam tidurnya, Nada tiba-tiba terbangun dan perutnya terasa sangat lapar. Saat terbangun, Elang rupanya tidak ada di sampingnya. Kemanakah Elang? Nada mencoba mencari ke balkon, namun tidak ada. Nada mencari ke kamar Sya, sama juga di kamar Sya Sya tidak ada.



"Kemana Mas Elang?" gumannya heran. Lantas Nada baru ingat, ruangan yang selalu Elang kunjungi adalah ruang kerjanya. Nada berjalan menuju ruang kerja Elang perlahan. Di depan pintu, Nada berdiri tidak berani membuka pintu itu. Sesaat kemudian Nada mendengar sebuah suara benda terjatuh. Nada memberanikan diri membuka pintu ruangan kerja Elang dengan perlahan sehingga cukup menyisakan celah yang lumayan bisa mengintip ke dalam.



Di sana jelas terlihat Elang tengah memungut sesuatu dari lantai, kemudian diletakkan kembali ke atas meja. Rupanya sebuah asbak rokok. Memang kebiasaan Elang, jika sedang banyak pikiran dan mumet, ruang kerja selalu jadi sasaran melampiaskan mumetnya dengan menghabiskan rokok banyak-banyak. Padahal ada balkon yang bisa membawa asapnya langsung terbang ke udara, tapi kenapa Elang betah merokok di dalam ruangan kerjanya.


__ADS_1


Nada kembali menutup dengan pelan pintu ruangan kerja Elang, lalu berdiri di baliknya. Nada berpikir, pikiran mumet apa yang kini sedang melanda suaminya? Karena rasa lapar yang menderita, Nada tidak bermaksud menyusul atau menggertak Elang. Nada menuju tangga dan menuruninya, lalu ke dapur mencari sesuatu untuk dimakan.


__ADS_2