
Aku perlahan melangkahkan kaki menuju pintu gerbang yang lumayan tinggi itu dengan langkah yang ragu. Aku memejamkan mata sambil berdoa sejenak dalam hati meminta kekuatan Sang Maha Kuasa. Tekadku bulat, membawa Sya kembali dengan menyodorkan bukti-bukti yang kuat, bukti bahwa cara Mbak Mayang yang memaksa ingin merebut hati anak kandungnya sendiri. Namun caranya tidak dilakukan dengan baik-baik.
Bel terdengar berbunyi saat aku berhasil memencetnya. Tidak berapa lama pintu gerbang itu terdengar seakan dibuka. Dan muncullah sebuah tubuh kekar tinggi besar dengan muka yang terlihat sangar. Aku mendadak ciut melihatnya, namun langkahku sudah sampai di sini, aku tidak mungkin kembali dengan tangan kosong.
"Siapa? Dan apa tujuan Anda kemari, Nona?" tanyanya menyeramkan. Aku langsung bergidik namun aku berusaha membuang rasa takutku karena tujuanku harus tercapai.
"Emmm... saya ingin bertemu Tuan Zulfikar Direja, apakah Tuan Zulnya ada di tempat?" sahutku dibuat setenang mungkin. Lelaki tinggi besar itu menatapku tidak yakin, dengan wajah penuh curiga.
"Apakah Anda sudah membuat janji, Nona?" tanyanya tegas dan masih menyeramkan. Aku tidak langsung menyahut namun berpikir, apa yang harus aku katakan pada lelaki tinggi besar yang ada di hadapanku ini.
"Saya belum ada janji, namun Tuan Zulfikar pasti akan menemui saya, sebab ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada beliau," ucapku berharap lelaki berbadan tinggi besar ini mengabulkan permintaanku.
Kenapa aku tidak berbohong saja sudah ada janji dengan Tuan Zulfikar, dengan begitu pasti penjaga bertubuh tinggal besar ini akan membiarkanku masuk tanpa hambatan. Namun itu semua tidak boleh aku lakukan, sebab yang paling aku takutkan adalah ketika kebohonganku terbongkar.
"Anda tidak bisa masuk, Nona!" Lelaki tinggi besar itu berkata dengan tegas seraya menepis tanganku. Sekali tepis tubuhku sedikit bergoyang apalagi kalau lelaki ini memukuliku, pasti aku sudah KO dan babak belur.
"Saya mohon ijinkan saya menemui Tuan Zul, Pak Pengawal!" mohonku seraya menunduk pada lelaki berbadan tinggi besar ini. Entah dia seorang Pengawal atau Penjaga yang jelas kedua-duanya pantas disematkan padanya, sebab badannya tinggi besar dan menyeramkan.
"Tolong, saya mohon. Saya meminta kebaikan Anda mengabulkan permintaan saya. Tolong Pak Pengawal!" mohonku sekali lagi.
__ADS_1
"Anda tidak bisa masuk Nona, sebab Anda tidak ada janji dengan Tuan kami. Ayo bangkitlah, dan pergi dari depan gerbang ini!" usirnya bersungut-sungut dan kini memperlihatkan perlakuan yang sedikit kasar. Aku sedikit ciut, bagaimana kalau lelaki ini menyakitiku dan membanting tubuhku yang kecil dibandingkan dirinya.
Aku bersimpuh dengan air mata yang sudah mengalir, demi Sya aku jatuhkan harga diriku di depan orang yang tidak aku kenal ini.
"Saya mohon Pak, berikan kebaikan hati Bapak sedikit saja. Saya ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Tuan Anda. Saya mohon!" ucapku memohon seraya bersimpuh dan mengatupkan tangan.
"Pergilah... dan jangan memaksakan kehendak, Nona!" ucapnya seraya berbalik dan menutup celah pintu gerbang. Aku putus asa dan tidak ada harapan lagi. Pintu besi itu ditutup dan kini aku menangis dalam kegagalanku meluluhkan lelaki tinggi besar itu.
Aku belum mau beranjak dari depan pintu gerbang itu. Tangisku pecah di sana mengingat akan keberadaan Sya. Aku tahu Sya tidak nyaman dengan ibu kandungnya. Aku melihat gurat ketakutan saat tadi dia memanggilku. "Bunda... Bunda....!" Terngiang-ngiang kembali jeritannya.
Bersamaan dengan itu pesan WA ke Hpku masuk, aku langsung membukanya. Rupanya Bi Narti mengirimkan pesan.
Selang satu menit setelah aku membaca isi WA dari Bi Narti. Tiba-tiba telpon VCku berbunyi, nama Mas Elang tertera disana. Namun aku tidak berniat lagi mengangkat telepon itu. Rasa kecewaku pada Mas Elang terlampau besar. Telpon itu berhenti namun beberapa detik kemudian pesan WA masuk dari Mas Elang.
"Sayang... kamu dimana? Pulanglah, biar aku yang mencari keberadaan Sya. Pulanglah aku khawatir!" Isi pesan itu cukup ku baca dan tidak ku balas.
"Mas Elang mengkhawatirkanku?" gumanku sambil tertawa miris.
Sejenak aku beralih pada vidio rekaman yang berhasil direkam Bi Narti dan dikirimkan padaku, yang kini berada dalam genggamanku. Kulihat sejenak, sangat jelas disini kedatangan Mbak Mayang benar-benar tidak baik. Bahkan vidio ketika Mbak Mayang menyikutku sampai aku terhempas dan pelipisku membentur pagar tangga, sangat jelas dan nyata. Aku harus bisa meyakinkan kembali Pengawal itu supaya aku dibiarkan masuk dan berbicara pada Tuan Zulfikar.
Akan aku coba lagi memohon pada Pengawal itu, hasilnya aku serahkan pada kehendak yang Maha Kuasa, yang penting aku sudah berusaha.
Bel kembali aku tekan dan suaranya seketika terdengar kembali sampai luar gerbang. Aku berdoa dan harap-harap cemas menanti pintu gerbang itu dibuka kembali.
__ADS_1
Mungkin saja karena doaku, dengan berbunyi deritan khas pintu gerbang, akhirnya pintu gerbang samping itu dibuka. Perlahan aku mendongak dan bangkit.
"Rupanya Anda belum menyerah Nona? Kali ini Tuan kami berbaik hati mengijinkan Anda masuk. Tapi sebelumnya, bersihkan pakaian Anda. Sebab Tuan tidak suka melihat baju yang kotor dan lusuh seperti yang terlihat pada diri Anda," ketusnya sembari menatapku sangar. Aku segera menepuk-nepuk bajuku yang tadi mengenai tanah. Hatiku sedikit lega dengan apa yang dikatakan Pengawal tadi.
"Ayolah, Tuan kami tidak menyukai orang lelet seperti Anda ini." Aku mendengus kesal sembari mengikuti langkah panjang Sang Pengawal. Saat memasuki garasi mobil, mobil-mobil mahal yang harganya milyaran terpampang nyata dari arah utara sampai selatan. Aku masih terus mengikuti Pengawal itu naik tangga, dan naik tangga lagi.
Tidak bisa aku katakan ini bangunan rumah apa, Mansion atau apa yang jelas rumah ini besar dan megah serta bertingkat-tingkat, dengan isi dalam rumah yang mewah dan megah juga. Aku masih mengikuti Pengawal itu, sampai di sebuah lift kami berhenti sejenak lalu Pengawal itu menekan salah satu tombol dan terbukalah lift tersebut.
Kami masuk lift secara beriringan, aku memojokkan diri dipojokan ruangan lift, bagaimanapun juga aku merasa takut dengan Pengawal tinggi besar ini. Tidak lama lift seakan terdiam lalu pintunya terbuka. Aku masih mengikuti Pengawal itu dan pada sebuah pintu kami berhenti. Pengawal itu langsung membuka pintu dan memberi kode supaya aku langsung masuk. Ada ragu dalam dadaku saat akan masuk, namun dengan sorot mata yang mengintimidasi, Pengawal itu kembali memberikan kode lewat tangannya supaya aku masuk.
Aku masuk dengan hati berdebar, lalu pintu itu tiba-tiba tertutup otomatis. Aku semakin berdebar dan rasa takut itu kembali menyerang. Untuk beberapa saat aku hanya bisa berdiri terpaku. Ruangan itu begitu mewah dan mengagumkan.
Apa yang harus aku lakukan, berdiri saja sambil pingak-pinguk? Yang jelas aku hanya bisa berdiri dengan jantung yang berdebar. Beberapa saat kemudian, sebuah pintu otomatis terbuka dan muncullah dari sana seseorang. Seseorang yang membuat mata ini sedikit terpana. Seorang lelaki berumur 45 tahunan dengan mata elang yang menatap tajam.
Walaupun dilihat dari usianya matang, namun ketampanannya masih terpancar. Aku menundukkan pandanganku, bagaimanapun tatapannya terasa menusuk dan dingin. Kekagumanku secepat kilat hilang. Bukankah aku datang kesini untuk memperjuangkan Sya supaya kembali pada pelukan Mas Elang.
"Apakah Anda tidak pegal berdiri disana, Nona? Duduklah... !" titahnya tegas. Aku mengikutinya dengan hati yang benar-benar ciut.
"Jadi... bagian tubuh Anda yang mana yang akan Anda serahkan padaku, Nona?" tanyanya dengan wajah sengit. Aku langsung terkesima dan ternganga. Apa maksud Tuan Zulfikar?
Yang ada dalam otakku kini, Tuan Zulfikar telah salah paham menilai maksud kedatanganku ke mensionnya ini.
__ADS_1