"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Penolakan Nada


__ADS_3

Satu, dua, sampai tiga batang rokok jarcok habis diisap Elang. Biasanya dia mengisap rokok putih yang batangnya kecil. Kini, karena mertuanya, dan yang ada di hadapannya hanya rokok merek itu, jadi Elang tanpa segan merokoknya. Tidak buruk juga menurutnya, malah sensasinya kini terasa beda. Rokok yang biasanya dinilai hanya rokok kakek-kakek, mampu menghilangkan rasa penat dan pusing di kepalanya.



Elang menyudahi merokoknya, lalu beranjak menuju kamar mandi yang melewati kamar adik iparnya, Nadly. Tiba di dekat pintu kamar Nadly, sudah sepi. Elang tidak lagi mendengar celotehan Sya dan Nadly bermain. Sya memang lengket sama Nadly, kalau sudah bertemu, maka Sya akan langsung nempel dan tidak mau lepas.



Elang keluar dari kamar mandi lantas masuk menuju kamar yang kini ditempati bersama Nada. Kamar berukuran sedang itu cukup nyaman bagi Elang. Elang melihat Nada sudah terbaring dengan posisi menyamping. Elang menatap tubuh Nada lekat, ada sebuah kerinduan besar dalam dirinya. "*Nada, Mas merindukan kamu, Sayang*,"



Elang menyusul membaringkan tubuhnya di samping Nada yang sudah tertidur nyenyak. Deru nafasnya terdengar teratur dan meyakinkan. "*Aku* *mencintaimu, Nada, sampai kapanpun! Aku harap* *jangan pernah kamu meninggalkan aku, sebab* *aku sangat mencintaimu*!" ucap Elang pelan namun tegas lalu mendaratkan ciumannya di kening Nada.



Elang membaringkan tubuhnya di samping Nada, lalu memeluk punggung perempuan itu dari belakang. Dengan posisi tidur seperti itu, baginya Nada kini sedang menghindarinya.



Sementara Nada yang rupanya berpura-pura tidur, hatinya sangat sedih dan terharu mendengar Elang berbicara seperti itu, sehingga hatinya merasa teriris-iris. "*Nada juga mencintai kamu*, *Mas*!" balas Nada dalam diam. Kemudian sebuah kecupan mendarat di kening Nada. Ingin rasanya Nada berbalik dan menatap lekat wajah Elang, namun rasa gengsi terlanjur menguasai dirinya. Penolakannya untuk diajak pulang menjadikan Nada harus pura-pura tidur dan cuek.



Pagi menjelang, kediaman Pak Zakaria mendadak ramai dan sedikit riuh. Sya yang sudah bangun menghangatkan suasana. Celotehannya membahana.



"Bunda.... Bunda... !" Sya memanggil Nada sambil menghampiri Nada.


"Ada apa, Sayang?"


"Ayo kita sarapan, tadi Papa bikin nasi goreng lho," celotehnya bahagia.


"Wahhab ... benarkah? Pasti enak ya nasi goreng buatan Papa?" tanya Nada di belakang Sya.


"Tentu, Bunda. Papa bilang ini nasi goreng spesial buat kita semua ....!"


"Wahhh ....!" seru Nada tidak percaya, sejak kapan Elang bisa bikin nasi goreng, selama di rumah saja belum pernah membuat.


Nada yang ditarik tangannya oleh Sya, mengikuti Sya menuju dapur. Di sana sudah ada Pak Zakaria, dan Nadly, serta Elang, yang terlihat bak seorang Chef.

__ADS_1


"Ayo kita sarapan dulu," ajak Elang pada semua. Nada merasa malu mendengar ajakan Elang, sementara dia sebagai perempuan tinggal duduk manis menikmati hidangan yang sudah siap.


"Wahhh ... nasi goreng buatan Nak Elang benar-benar enak, ini rasanya spesial!" puji Pak. Zakaria menikmati nasi goreng buatan Elang. Elang tersenyum malu.


"Betul, nasi gorengnya enak dan mantap," susul Nadly.


"Iya ... Papa pintar buat nasi gorengnya," puji Sya sambil menyuapkan nasi goreng yang tinggal beberapa sendok, lagi di piringnya. Nada hanya tersenyum dan mengakui nasi goreng buatan Elang benar-benar enak.


"Terimakasih Mas Elang, karena telah menghadirkan suka cita di pagi hari ini di rumah Bapak," bisik Nada dalam hati berterimakasih.



Selesai sarapan, Nadly bersiap untuk pergi sekolah, sementara Pak Zakaria masih menyiapkan alat-alat bengkelnya.



"Sya, Om Nadly pamit sekolah dulu ya!" pamitnya pada Sya lalu meraih tangah bocah itu. "Om, nanti pulangnya bermain lagi dengan Sya, ya!" celoteh Sya.


"Ok....!" seru Nadly seraya menuju motor maticnya. Setelah berpamitan pada semua.


*


*.



"Sayang ... aku pulang dulu. Jika kamu belum mau pulang, hati-hati di sini ya!" ucap Elang berpamitan seraya mencari Sya di luar rumah yang tadi sedang bersama mertuanya. Nada ingin membalas ucapan Elang, namun Elang segera bergegas keluar mencari Sya.



"Sya... ayo kita pulang!" ajak Elang seraya meraih Sya dari pangkuan Pak Zakaria.


"Pulang....?"


"Iya.... ayo!" seru Elang menghampiri Sya.


"Sama Bunda, kan, Pah?" Elang diam mendapat pertanyaan dari Sya yang baginya susah untuk dia jawab.


"Tidak, Bunda masih ada urusan dulu di sini, jadi Bunda belum bisa ikut pulang bersama kita," bujuk Elang pada Sya. Sya terlihat sedih, namun Elang berusaha membujuknya. Nada yang sejak tadi mengamati interaksi keduanya, sontak merasa sedih.


__ADS_1


"Maafkan Bunda Sya ....!"



"Pak, saya pamit dulu, titip istri saya," pamit Elang dengan tergesa tanpa menoleh lagi ke arah Nada. Elang segera menuju pintu mobil, membukakan pintu mobil untuk Sya. Lalu dia memutari mobil dan masuk. Suara mesin mobil kini mulai menderu, perlahan-lahan mobil mundur diparkiri oleh Pak Zakaria.



Mobil mulai keluar halaman rumah Pak Zakaria, suara klakson diperdengarkan sebagai tanda pamit.



Ada sepenggal penyesalan dalam diri Nada setelah mobil Elang menjauh. Namun kini percuma, sebab Elang sudah hilang dari pandangannya. "*Maafkan Nada*, *Mas*!" Nada berkaca-kaca. Dia merasa cengeng hari ini.


......................


Setelah mobil Elang benar-benar pergi, Pak Zakaria masuk ke dalam dan bermaksud berbicara dengan Nada, anaknya. Kebetulan Nada memang sudah berada di ruang tengah.


"Nak ... kenapa kamu tidak ikut pulang bersama suamimu?" Pak Zakaria bertanya, padahal dia sudah tahu kenapa Nada belum mau ikut pulang. Pak Zakaria memakluminya dan sangat mengerti dengan perasaan anak perempuannya. Jadi bisa saja keputusan ini diambil untuk menenangkan diri.


"Nada masih betah di sini, Pak. Nada hanya ingin menenangkan diri, terlebih saat ini Nada sedang hamil.... " jawab Nada sambil menunduk.



"Kamu benar Nak, untuk situasi seperti ini kita butuh ketenangan batin, Bapak paham keinginan kamu. Namun... kalau boleh saran, Bapak harap keadaan ini tidak berlangsung lama. Sebab berdosa seorang istri jika sudah membantah suaminya." Bapak menatap lekat wajah Nada.



"Sebab, kamu sudah di bawah tanggungjawab suamimu sepenuhnya, bukan tanggungjawab Bapak lagi. Jadi, jika istri membantah apa yang dikatakan suaminya maka itu berdosa, Nak. Bapak di sini hanya mengingatkan, bukan ingin menggurui kamu, pikir kalah baik-baik, Nak!" lanjut Pak Zakaria.



Nada diam tidak menyahut omongan Pak Zakaria yang mengena di hatinya. Namun dalam keadaan seperti saat ini yang dia butuhkan hanyalah ketenangan. Bapaknya benar dan Nada paham, tapi saat ini sungguh Nada ingin sekali-sekali bersandar di bahu Bapaknya sekedar, menumpahkan rasa kesal dan sedihnya.



B"Bapak tahu kamu sakit hati dengan semua perlakuan ibu mertuamu, tapi di sini yang harus di dipatuhi adalah suamimu, kata hati jangan terlalu diturutkan," peringat Pak Zakaria membuat Nada tidak kuasa dengan tangisnya yang luruh, kemudian menjatuhkan tubuhnya di bahu Pak Zakaria. Nada bersandar dan menangis di sana.



Pak Zakaria cukup paham dengan tangisan yang keluar dari mata Nada. Betapa rapuh anak perempuannya ini. "Menangislah, Nak ... Bapak siap jadi sandaranmu," ucap Pak. Zakaria sambil mengusap kepala Nada penuh rasa rasa kasih sayang.

__ADS_1


Bersambung.... jgn lupa Guys... hari Senin ini bagikan Votenya buat karya saya. Terimakasih....


__ADS_2