"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Kedatangan Mbak Marisa


__ADS_3

"Assalamu'alaikum....!" ucap Mbak Risa diiringi senyuman pada semua orang yang ada.


"Mbak Risa....!" sambutku girang seraya menghampiri dan memeluk penganten baru itu.


"Nada... aku punya kabar gembira....!" ujar Mbak Marisa tidak kalah girang. Semakin bahagia saja pengantin baru, terlebih memang pembawaan Mbak Marisa selalu ceria dan ceplas ceplos.



Semua orang menatap ke arah Mbak Risa, termasuk Mbak Sonia. Namun ada yang beda dari tatapan Mbak Sonia terhadap Mbak Risa, dia menatap namun seperti merasa cemas.


"Kabar bahagia apa sih Mar, kamu ini datang-datang cuma bikin recok saja. Bikin darah tinggi Uwakmu ini kumat," rutuk Ibu kesal.


"Eits... apa? Coba ulang tadi Uwa manggil Marisa apa, apa ayo apa?" Mbak Risa menempelkan tangannya di telinga dengan tubuh sedikit membungkuk. Ibu mendelik tidak suka, lantas berkacak pinggang layaknya Bos.



"Nama Marisa saja pengen dipanggil Risa, sudah jelas dari sananya Marisa, jadi panggilannya ya Mar... Mar....!" ucap Ibu mencibir.



"Ihhh... Uwa ini terlalu deh, tiap ketemu ponakannya mana pernah bersikap baik, selalu saja dibikin BT," komplen Mbak Marisa jengah. Selalu saja tiap bertemu, mereka berdua ada saja yang didebatkan.



"Kamu ini, tidak ada sopan-sopannya sama orang tua, salim kek atau bawa oleh-oleh kek. Ini *slonong girl* kaya anak gadis tidak disekolahin. Entah apa... yang salah saat Martini mengandungmu, sehingga kelakuannya kayak begini....!" ucap Ibu sembari geleng-geleng kepala.



"What... apa Uwa bilang? Kelakuan yang mana? Emang apanya yang salah dalam diri Marisa?" mereka berdua masih saja berdebat mempermasalahkan hal yang tidak jelas, membuat Mas Elang nampak jengah.



"Kalian ini kenapa sih, tiap ketemu selalu berdebat dan berselisih. Aku jengah tahu dengan sikap kalian, sudah pada tua tapi kelakuan seperti anak-anak," semprot Mas Elang kesal.


"Emang apa sih Mar, berita yang mau kamu sampaikan?" tanya Mas Elang penasaran.


"Mar lagi, Mar lagi, Kak Elang sama saja sama Ibunya. Coba deh kalian panggil Marisa dengan panggilan yang sedikit elegan, pasti jatuhnya cantik," gerutu Mbak Marisa kesal.


"Ehhh tunggu dulu... rupanya ada Sonia, ngapain dia disini? Tuh kan lihat, Uwa itu beda banget dalam memperlakukan orang lain. Orang lain disayang-sayang, tapi menantu dan keponakan dicereweti. Tahu rasa kalau nanti kena tulah, biasanya yang begini ini ada udang di balik bakwan," tuding Mbak Marisa ke arah Ibu dan Mbak Sonia. Mbak Sonia nampak mendelik tidak senang.


"Kalau nggak salah lihat, aku pernah melihat Sonia lho jalan bareng Mbak Mayang di Kafe Venus. Akrab banget. Kamu ada hubungan apa sama mantan istri Kak Elang, jangan-jangan kalian....!"

__ADS_1



"Apa sih Mar, aku tidak pernah lho jalan sama mantan istri Mas Elang, kenal saja tidak!" sangkal Mbak Sonia memotong ucapan Mbak Marisa.



"Maksud kamu, Mayang si \*\*\*\*\*\* itu? Tidak mungkin, Sonia perempuan baik-baik. Dia tidak mungkin jalan bareng sama si Mayang," Ibu tiba-tiba menimpali sekaligus menyangkal berita Mbak Marisa. Mas Elang mengkerutkan keningnya seakan berpikir.



"Aku tidak bohong, aku jelas melihat mereka akrab banget," ucap Mbak Marisa meyakinkan.



"Tidak, itu bukan aku Mar. Siapa tahu orang yang mirip aku dan kamu menyama-nyamainnya, kamu kan selama ini tidak pernah suka sama aku, jadi kamu sengaja ngarang cerita untuk fitnah aku. Iya kan?" sangkal Sonia menggebu.



"Kamu itu sedang berbohong Sonia, jelas-jelas aku melihat kamu. Awas ya, kalau kamu datang kesini dengan niat jahat. Maka pengkhianat kayak kamu pantas END!" ancam Mbak Marisa tegas sembari meletakkan tangannya di lehernya dengan gerakan menyembelih. Mbak Sonia nampak bergidik.



"Demi Tuhan, itu bukan aku. Lagipula aku tidak kenal dengan Mbak Mayang mantan istri Mas Elang," sangkalnya lagi meyakinkan.



"Ok... jadi gini..., tuh kan aku jadi lupa tadi mau menyampaikan apa. Ini gara-gara Sonia sih.... !" tuding Mbak Risa seraya merenung sejenak. "Nah sekarang aku sudah ingat. Coba deh kalian dengar berita terhangat dari Marisa. Marisa saat ini sedang hamil... H A M I L....!" ejanya dengan raut bahagia. Aku sontak tidak percaya lalu langsung merangkul Mbak Marisa.


"Benar Mbak...? Selamat ya, akhirnya Mbak Marisa sebentar lagi akan jadi orang tua," ucapku turut bahagia.


"Kamu juga Nada, cepat-cepatlah hamil. Kasih Sya adik yang lucu, biar Sya ada temannya," celetuk Mbak Marisa yang mampu membuatku diam, aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tidak mungkin hamil, karena tiap malam minum pil KB dan itu wajib diminum karena Mas Elang belum menghendaki aku hamil.


"Kehamilanmu usia berapa minggu Mar, cepat banget? Nikah baru sebulan lebih sudah hamil lagi?" tanya Ibu.



"Bidan bilang sih baru dua minggu jalan, Risa cuma kosong satu bulan kok. Uwa pikir Risa ini hamidun apa?" sentak Mbak Marisa tiba-tiba menegang.



"Uwamu ini cuma bertanya, emangnya salah? Tidak seperti si Nada, sampai kini belum hamil-hamil, ya wajar sih. Elang kan menikahi dia cuma sekedar pemuas ranjang, bukan untuk hamil, upss....!" ucapan Ibu sontak membuat semua orang terperangah, termasuk aku.

__ADS_1



"Uwa....!"


"Mama....!" seru Mbak Marisa dan Mas Elang hampir bersamaan. Aku melongo tidak percaya, lagi dan lagi hinaan Ibu terlontar begitu saja didepan orang lain. Tidak ada sama sekali merasa bersalah, hanya bisa menutup mulutnya menutupi kesalahannya. Aku berembun air mata, lalu berlari ke atas tangga dan masuk kamar menenggelamkan diri dalam rasa sakit hati karena Ibu mertua.


POV Author


Saat Nada berjingkat dan berlari ke atas, Elang menatap Ibunya nyalang. Untuk yang kesekian kali dia merasa Ibunya sungguh keterlaluan, menghina istrinya di depan orang lain.


"Mama sangat keterlaluan... sangat tidak pantas menghina istri Elang berkali-kali di depan orang lain, jangan dijadikan kebiasaan dong Ma. Nada bisa sakit hati dan meninggalkan Elang. Kalau Nada meninggalkan Elang, Mama yang harus bertanggung jawab. Lagipula Nada belum hamil itu karena keinginan Elang untuk menunda," ucap Elang membela Nada istrinya.



"Ya ampun Wa, kenapa sih mulutnya lemes banget. Menantu sebaik Nada selalu saja Uwa sakiti. Risa yakin nih kali ini Nada kecewa berat. Lagipula Uwa ini aneh banget kan, masa menantu sendiri disakiti, tapi Sonia yang jelas-jelas orang lain malah Uwa sayang-sayang. Tahu rasa kalau suatu saat Uwa dapat ganjarannya. Bakal memohon sama Nada untuk menjadi menantu."



"Ya ampun Elang... Mama keceplosan lagi. Itu tadi Mama pikir tidak ada Sonia, lagipula Sonia kan bukan orang lain. Sonia sudah Mama anggap anak sendiri. Jadi kenapa harus merasa terhina?" ungkap Bu Sri Ibunya Elang dengan gaya santai.



Elang geleng-geleng kepala dengan tanggapan Ibu Sri, tidak merasa bersalah ataupun menyesal dengan ucapannya tadi pada Nada istrinya.



"Ya ampun Kak Elang, harusnya Kakak marahin dong Uwa. Karena mulutnya sudah sangat keterlaluan, menghina istri di depan orang lain. Jangan-jangan Kak Elang memang menganggap Nada pemuas ranjang saja, begitu? Kak Elang keterlaluan!" cebik Marisa kesal.



"Lantas aku harus usir Mama dengan kasar Mar? Aku ini anak kandungnya, dan kalau aku berbuat kasar, kamu mau nanggung dosaku karena durhaka sama orang tua?"



"Terserah Kak Elanglah, yang jelas Risa tidak suka dengan perlakuan Uwa pada Nada," tekan Marisa seraya bergegas mendekati Uwanya.



"Wa... dengar ya peringatan Risa, sekarang Uwa bisa seenaknya menghina Nada di depan orang lain. Tapi ingat, suatu saat Nada akan merasa Uwa butuhkan, dan pada saat itu Nada tidak akan peduli. Ingat itu!" peringat Marisa seraya berlalu menuju tangga dan menaikinya, bermaksud menemui Nada.


__ADS_1


Sementara Sonia raut wajahnya nampak bahagia dan berseri-seri. Elang berjalan menghampiri Ibunya. "Benar kata Marisa, harusnya Elang marahi Mama. Tapi kali ini Elang masih punya hati dan masih memaafkan Mama. Namun untuk yang selanjutnya, jangan harap Elang bisa memaafkan Mama lagi," ucap Elang dengan Nada penuh ancaman.


Ibu Sri dan Sonia saling menatap seraya tersenyum....


__ADS_2