"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Bukti Cinta


__ADS_3

Nada masih terpuruk di atas ranjang, sementara Elang berlalu dan keluar dari kamar. Hatinya sakit diperlakukan kasar oleh Elang. Apa buktinya jika Elang memang benar-benar mencintainya? Hanya karena dia menyebut nama mantan istrinya saja, Elang semarah itu.



Nada berdiri dari kasur dan menuju kamar mandi, rasa sakit hati atas perlakuan Elang masih begitu terasa sehingga saat di kamar mandipun dia masih meratap sedih. Setengah jam berlalu, Nada keluar dari kamar mandi. Dia berdiri di depan cermin menatap dirinya yang menyedihkan. Sembab dan pucat. Hatinya berbisik jika Ibu dan Sonia melihatnya seperti ini maka mereka akan girang, lantas Nada duduk di depan meja rias memperbaiki tampilannya yang pucat dan sembab.



Beberapa saat Nada merenung, ingin rasanya nekad pergi selamanya meninggalkan suaminya. Namun, kesalahan Elang apa yang menjadi alasan dia harus pergi? Ini rumah suaminya, dan Nada tidak tinggal di rumah Ibu mertua yang seperti Nenek sihir itu. Lantas kenapa pula dia harus pergi dan menjauh dari rumah ini? Jikapun dia pergi, harus kemana dia pergi? Ke rumah bapaknya di kampung rasanya takut. Takut keadaan rumah tangga yang selalu direcoki Ibu mertuanya diketahui bapaknya. Dan Nada takut itu menjadi beban pikiran buat bapaknya.


POV Author End


Selesai memoles wajahku yang sembab dan pucat, aku berjalan menuju kamar Sya, sejak tadi bocah itu belum sempat aku lihat. Dan rupanya Sya masih tidur. Aneh, bocah ini selalu saja tidur saat kedua orang tuanya lagi perang dingin atau ribut. Mungkin Sya tidak boleh melihat pertengkaran antara kedua orang tuanya. Maksudnya pertengkaran antara Aku dan Mas Elang. Aku bersyukur dalam hati.



Aku kembali ke kamar kami, tiba-tiba aku rindu bapak dan ingin rasanya menelpon bapak. Laku aku mencoba menelpon bapak di kampung. Saat aku mencoba memanggil, bapak langsung mengangkatnya.



"Assalamu'alaikum Pak!" salamku. Bapak membalas salamku dengan suara yang bahagia.


"Wa'alaikumussalam, Nak! Apakabar kamu di sana?


Perbincangan aku dengan bapak mengalir bagaikan air. Dengan seketika aku mampu melupakan sejenak kesedihanku karena Ibu maupun Mas Elang. Bahkan saat aku berbincang dengan Nadli adikku, aku mampu ketawa-ketawa bahagia. Nadli bercerita tentang sekolahnya dan juga tentang Mas Elang yang suka memberi uang jajan padanya yang dititipkan ke bapak.


Sejenak aku terhenyak mendengar penuturan Nadli yang selalu diberi uang jajan oleh Mas Elang, sebegitu perhatiannya Mas Elang pada keluargaku di kampung. Inikah bukti rasa cintanya padaku, dengan bantuan yang selalu diberikannya pada keluarga kecilku?


__ADS_1


Diujung penghabisan perbincangan kami tiba-tiba bapak berkata.


" Nada, bilang sama suami kamu Nak Elang. Jangan mengirimkan uang pada bapak setiap bulan, usaha kelontong dan tambal ban bapak sudah lumayan bagus dan rame sekarang. Kiriman uang yang Nak Elang berikan sudah lebih dari cukup. Tolong Nak, bilang Nak Elang jangan lagi kirim bapak uang. Bapak sangat berterimakasih sama Nak Elang. Kalau kamu bicara mungkin saja didengar. Bapak malu terus-terusan menerima kiriman uang dari Nak Elang," papar bapak panjang lebar.


Aku termenung sejenak memikirkan semua yang dibicarakan bapak. Betulkah Mas Elang sebaik itu dan benar-benar mencintai aku? Semua pertanyaan itu kini bermuara di dalam otakku.



Hari berganti malam, jam makan malampun tiba. Dengan hati yang masih merasa sakit, aku membawa Sya ke bawah menuju meja makan. Disini aku dituntut harus tetap memberikan kasih sayang pada Sya tanpa membawa-bawa perasaan marah terhadap Mas Elang. Aku bisa, sebab aku memang menyayangi Sya.



Mas Elang yang pulang saat kumandang Adzan Isya tadi, langsung membersihkan diri dan bersiap makan malam yang biasa kami lakukan seperti biasa. Sementara Nenek Sihir dan Mak Lampir tidak nampak batang hidungnya. Aku rasa mereka berdua tidak jadi menginap disini karena kejadian penghinaan Ibu terhadapku tadi.. Mungkin Ibu merasa malu atau Sonia merasa tidak nyaman, entahlah.



Sekilas aku melihat Mas Elang mencuri-curi ke arahku yang sibuk menyiapkan makan ke piring Sya. Aku tidak berinisiatif untuk menuangkan apapun pada piring Mas Elang seperti yang biasa aku lakukan, aku memang kecewa pada Mas Elang. Sehingga makan malam hari ini terasa berbeda, sepi dan mencekam.




"Nada....!" Langkahku terhenti sejenak, lalu dengan cepat Mas Elang sudah berdiri di sampingku. "Sya... naiklah dulu, Papa mau bicara sebentar sama Bunda," perintah Mas Elang yang langsung dipatuhi Sya.



"Aku minta maaf, atas sikap kasarku tadi," jelas terdengar di telingaku permintaan maaf itu. Namun bagiku terasa sumbang. Tanpa menoleh aku berlari kecil menyusul Sya ke kamarnya. Aku sama sekali tidak ingin menatap wajah Mas Elang.


__ADS_1


Aku berhasil menidurkan Sya setelah beberapa saat aku menceritakan sebuah cerita untuknya. Saat itu juga aku ikut berbaring di sisinya dan mulai merangkai nganguk. Namun belum juga aku terlelap, tiba-tiba Mas Elang meraih pinggangku dan memelukku dari belakang.



Aku diam tak bergeming, aku tidak memberi respon atas reaksi Mas Elang, rasa marahku sisa tadi siang benar-benar masih membekas.


"Pindahlah... aku merindukanmu!" bisiknya membuat bulu kudukku mereka. "Ayolah Nada, aku minta maaf atas sikapku tadi. Aku sebetulnya tidak ingin kasar padamu," ucapnya seraya mencium keningku.


"Ayolah... akan aku buktikan, jika aku menikahimu bukan karena untuk pemuas ranjangku saja seperti apa yang selama ini Ibu bilang. Tapi aku benar-benar mencintai kamu," desak Mas Elang lagi seraya mengangkatku dan membawaku ke kamar kami.



Di kamar itu suasana romantis yang biasa aku rasakan, kini tiada lagi. Hanya rasa kecewa dan sedih yang semakin terasa, Mas Elang egois hanya memengingkan hasratnya saja. Aku seger meraih gelas yang masih ada air dan bermaksud meminum pil KB yang biasa aku minum. Namun secepat kilat sudah disambar Mas Elang, dia merebutnya dari tanganku. Apa maksudnya aku tidak paham.



"Tidak lagi kamu minum ini, aku akan buktikan bahwa aku menikahimu bukan karena kamu pemuas ranjangku, melainkan...."



"Tidak Mas, sayangnya Nada sudah tidak berminat lagi memiliki anak darimu....!" Mas Elang terbelalak mendengar ucapanku barusan.


"Apa maksudmu?" Mas Elang menatapku dibalik cahaya remang lampu meja.


"Nada belum mau punya anak seperti yang selalu Mas Elang minta," tandasku seraya merebut kembali pil KB yang berada digenggaman tangan Mas Elang.



"Apa yang kamu pikirkan Nada, aku benar-benar sudah memikirkan matang-matang bahwa aku ingin memiliki anak darimu," balasnya meninggi.

__ADS_1


Lalu dengan kasar Mas Elang kembali mengulang perbuatannya, memaksaku dalam keadaan hati dan pikiranku sedang kalut dan tidak ingin melayaninya. Aku hanya bisa mencucurkan air mata tanpa bisa menikmati permainannya.


__ADS_2